Vigonews

Memasuki Purna Tugas, Kades Mainai Balas 'Air Mata' Warga dengan Pantun Unik



BAJAWA - Masyarakat Desa Mainai, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada, punya cara sendiri melepas pemimpinnya yang memasuki purna tugas.  Secara resmi, kepala desa yang baru purna bakti diserahkan kembali kepada keluarga. Masyarakat yang berkumpul di kantor desa setempat, melepas Frumensius Rinu memasuki purna tugas sebagai kepala desa itu, Selasa (17/09/2019).

Frumensius yang didampingi Ny. Rimu dilepas tugas setelah menjabat sebagai Kepala Desa Mainai sejak 10 September 2013  - 10 September 2019. Melepas seseorang memasuki purna bakti dari jabatan kepala desa mungkin kultur baru yang jarang dilakukan di banyak desa, kecuali momen  syukuran setelah terpilih dan dilantik sebagai kepala desa.

Namun suasana melepas Frumen, begitu kepala desa ini biasa disapa, sama meriah dan khidmadnya dengan waktu dilantik sebagai kepala desa ini enam tahun lalu. Di Desa Mainai, kebiasaan yang baik ini terpelihara sebagai tanda syukur dan terima kasih kepada pemimpinnya yang sudah menjalankan tugas pelayanannya selama enam tahun.

Pelepasan Frumen memasuki masa purna tugas dilakukan dalam nuansa budaya desa setempat. Mewakili pemerintah dan masyarakat Desa Mainai, Stefanus Kazu secara khusus menyerahkan kembali Kepala Desa Purna Bakti Frumensius Rimu kepada pihak keluarga, dan menyatakan terima kasih atas jasa dan pengabdian untuk desa Mainai.

Sementara, Mihkael Toda yang mewakili keluarga, pada saat itu kembali menerima Frumensius yang enam tahun lalu diserahkan kepada pemerintah dan masyarakat untuk melayani, setelah memenangkan pemilihan kepala desa Mainai tahun 2013 silam.

Serah terima kepala desa purna tugas yang juga disimbolkan penyerahan seperangkat busana dan perlengkapan budaya kepada Fumen dan Ny. Rimu. Seperangkat busana dan kelengkapan budaya ini bermakna bahwa Frumensius yang memasuki masa purna tugas  akan kembali ke dalam masyarakat dan keluarga.

“Kami menyerahkan kembali  Pa. Frumensius kepada keluarga, dan tetaplah menjadi tokoh yang selalu bijaksana memberi motivasi dan teladan dalam masyarakat,” kata Stefanus.

Usai penyerahan secara resmi kepada keluarga, masyarakat desa Mainai, tua-muda, kecil-besar, satu-persatu memberi ucapan sebagai tanda terima kasih atas jasa-jasa selama menjadi kepala desa kepada Fumensius dan Ny. Rimu. Frumen dan Ny. Rimu dilepas dengan desaian air mata masyarakat. Mereka seperti tak rela Frumen memasuki purna tugas, karena desa ini mencatat kemajuan dan prestasi baik tingkat kecamatan, kabupaten bahkan propvinsi, dan menunjukkan perubahan melalui capaian pembangunan desa itu.

Tidak Kekal

Pada kesempatan itu hadir Camat Wolomeze Kasmin Belo dan Ketua TP. PKK Ny. Nurhayat, mantan anggota DPRD Ngada yang juga mantan kepada desa sebelum Frumen, Para pejabat tingkat kecamatan Wolomeze, para kepala desa, guru, siswa di lingkup Kecamatan Wolomeze.
 
Frumensius dan Ny. Rimu menerima seperangkat busana dan perlengkapan budaya sebagai simbol kembali menjadi masyarakat biasa
Pada sambutan singkatnya, Camat Wolomeze kepada masyarakat yang hadir mengatakan, tidak ada jabatan yang kekal, karena jabatan sudah diatur dengan perundang-undangan. Ada masa waktu dimana saatnya seorang pemimpin harus menerima.

Camat Kasmin memberi apresiasi kepada Frumensius Rimu, kepala desa yang baru saja purna tugas, atas jasa, dan prestasi selama melayani masyarakat. “Jika hari ini masyarakat melepas dengan penuh haru dan seperti enggan melepas, itu karena Pa Frumen dianggap memenuhi syarat dalam kepemimpinan sehingga membawa perubahan di desa Mainai,” urai Kasmin.

Dari sederet prestasi, lanjut Kasmin pemimpin tetaplah manusia yang pasti ada kekurangan. Mungkin banyak yang sudah dicapai dalam memuluskan pembangunan yang mendatangkan kebaikan bagi rakyat, namun tentu masih ada pekerjaan yang masih harus terus berjuang. Tentu saja ini perlu terus diperjuangkan siapapun pemimpin yang nanti dipilih. “Prestasi yang sudah diraih dipertahankan yang belum dicapai mari kita terus berjuang bersama-sama dan bersama-sama berjuang,” pinta Kasmin.

Dia berharap masyarakat dan semua perangkat desa serta semua elemen di desa ini senantiasa bersatu hati dalam berjuang mewujudkan perubahan demi kebaikan. Kasmin pinta, agar terus mencari gagasan-gasan cerdas, kreatif dan inovatif dalam membangun desa ini.

Sementara tokoh masyarakat Mainai, Fridus Teras mengatakan, pemimpin siapapun dia tak pernah lekang dari yang namanya kekurangan. Karena itu dia mengingatkan jangan sampai kekurangan kecil menghapus nilai-nilai positif dan kerja-kerja kreatif yang telah membuahkan prestasi yang sudah ditunjukkan.

“Kadang pemimpin itu lebih jelas  terlihat dari kekurangan dan kelemahannya, ibarat setitik hitam pada lembaran kertas putih. Itu saja yang dilihat.  Jadi saya ajak, mari kita menghargai pemimpin kita dari nilai-nilai kebaikan. Yang tidak baik kita benahi bersama,” kata Fridus.

Rasa Cinta

Kepala Desa purna bakti, Frumensius Rinu dalam sambutannya menyampaikan,  capaian pembangunan yang sudah diraih bersama-sama masyarakat Mainai. “Semua capaian itu adalah buah dari kebersamaan dalam berjuang meniti perubahan. Tanpa kita semua  di sini, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Kita semua yang sudah menopang kepemimpinan saya dalam meraih keberhasilan dan kemudian dinikmati bersama,” beber Frumen.
 
Frumensius Rimu pidato pada acara dilepas memasuki purna tugas
Kata-kata akhir Frumensius memang menyerupai pidato pertanggung jawaban akhir masa jabatan. Kurang lebih sejam  Frumen berpidato, namun tak menyurutkan semangat masyarakat untuk mendengar.

Dikatakan Frumen, rasa cinta bapak-mama sekalian yang telah melecut saya untuk berkorban dan melayani selama enam tahun, dan membuat kerja-kerja nyata menjadi korban bersama. Korban yang lahir dari semangat gotong royong, kesetiaan  penuh kekeluargaan.

Di akhir pidato purna tugasnya, Frumen berpesan agar tetap menjaga persatuan dan kekeluargaan serta kebersamaan sebagai modal sosial dalam menyukseskan pembangunan, dan kondisi sosial tetap terpelihara.

“Mari kita satukan hati dan pikiran serta tenaga kita untuk membangun, mengembangkan desa Mainai menjadi desa yang dinamis tanpa melukai nilai-nilai luhur budaya dan mencederai relasi sosial masyarakat yang sudah terpelihara selama ini.

Harapan besar agar Frumen kembali melangkah dalam pemilihan kepada desa Mainai yang berlangsung serentak tahun depan, seperti dijawab koor oleh para tokoh yang memberi sambutan dan kesan, pun masyarakat.  Untuk wujudkan harapan, ini pantun mereka: “Kalau ada sumur di ladang kita dapat lagi menumpang mandi – kalau umur kita panjang tahun depan kita pasti berjumpa kembali. (edw)***

Baca Lengkap
Vigonews

Umat Kurubhoko Sambut Imam Baru OFM dengan 'Kago Manu'



KURUBHOKO - Paroki Maria Ratu Para Malaikat (MRPM) Kurubhoko mendapat tambahan seorang imam baru OFM yang belum lama ini ditahbiskan di Paroki Karot, Ruteng pada 17 Juli 2019.

Imam baru itu adalah RP. Anicetus Evaristus Jebada, OFM yang kini bergabung dalam Komunitas OFM Kurubhoko. Dengan kedatangan imam yang akrab disapa Pater Faris ini,  maka Komunitas OFM Kurubhoko dilayani tiga imam OFM untuk pelayanan umat sekitar 2.500 jiwa.

Pater Faris, OFM disambut umat Kurubhoko, Sabtu (24/08/2019) petang dengan meriah diiringi tarian ja'i dan ritual adat 'kago manu' – cara menerima tamu terhormat menurut adat setempat. Tiba sekitar  pkl. 18.00 wita dari kampung asalnya Ranggu, Manggarai Barat, Pater Faris diantar dengan empat kendaraan yang ditumpangi sanak keluarga kerabat lebih dari 50 orang.

Usai diterima secara adat, dilanjutkan dengan ibadat sabda dipimpin Pastor Paroki Kurubhoko, Pater Tobias Harman, OFM dan imam selebran Pater. Leon Hambur, OFM, Pater Faris, OFM dan Pater Taucen Hatlan  Girsang, OFM.

Penyambutan Pater Faris, OFM  menandai mulai bertugas di Paroki Kurubhoko hingga mendapat tugas perutusan baru. Anak keempat dari pasangan Karolus Jebada dan Dorotea Maria Fatima Ini kini memperkuat dulu tim pelayanan di Paroki Kurubhoko yang baru dua tahun didefenitif itu bersama Pater Tobias Harman, OFM dan Pater Leon Hambur, OFM untuk melayani tiga wilayah, dua stasi dan satu stasi persiapan.

Sebelum ditahbiskan Juli lalu, ketika masih diakon, RP. Faris, OFM menjalani masa persiapan sebelum menerima tahbisan di paroki Kurubhoko. Mungkin karena itu, umat menyambutnya dengan gembira dan mengucapkan selamat datang kembali.
 
Imam baru OFM, Pater Faris diterima dengan ritual adat  dan kearifan budaya Nginamanu
Dalam khotbah ketika ibadat sabda, Pater Taucan, OFM mengatakan, ia (Pater Faris) datang kembali. Bukan hanya datang dalam komunitas OFM, tetapi datang di tengah kita (umat) dan tinggal bersama kita. 

"Tadi kita lihat Pater Faris diterima dengan ritual adat. Itu artinya dia juga diterima menjadi orang Kurubhoko sesuai dengan budaya setempat. Dan - kago manu - adalah simbol pengorbanan dan cinta dalam memulai pelayanan di tempat ini," kata Pater Taucan OFM.

Sementara wakil keluarga dari Ranggu,  Agus Ambon, usai misa pertama yang dipimpin Pater Faris di paroki ini, dalam sambutan penyerahan Pater Faris kepada komunitas OFM Kurubhoko mengatakan: "kami serahkan anak kami kepada umat Kurubhoko utuk memulai tugas imamatnya di sini."

Karena itu, Agus berharap sebagai 'anak', umat ikut menjaga dan mendoakannya agar tetap teguh dalam panggilan, di tengah tantangan yang tidak mudah. Dia juga beri apresiasi atas penerimaan imam baru yang sangat baik dan meriah. (ed)***

Baca Lengkap
Vigonews

Tim Paskel KAE Ajak Pasutri Paroki Kurubhoko Agar 'Tahu Diri'



Tim Paskel Keuskupan Agung Ende beri pelatihan di Paroki Kurubhoko -- 

KURUBHOKO - Dua pasangan suami-istri (Pasutri) dan seorang pastor dari Pusat Pastoral Keuskupan Agung Ende (KAE), ajak para Pasutri di Paroki Maria Ratu Para Malaikat (MRPM) Kurubhoko agar 'tahu diri'. Dua pasutri dari Komisi Pastoral Keluarga (Paskel) dari KAE itu masing-masing pasutri  Bene-Sever dan Thres-Sedis bersama Ketua Komisi Paskel Romo Frans Djata.

Ajakan itu disampaikan dalam kegiatan pembinaan pasutri ‘Baseta' (bawah sepuluh tahun) yang berlangsung dua hari, 23 -24 Agustus di Kurubhoko. Dan ajakan itu pula menjadi inti materi pelatihan penangan konflik dalam keluarga.

Kegiatan yang mengangkat tema: "Penanganan Konflik dalam Keluarga dan Pengelolaan Ekonomi Rumah Tangga" diiikuti sekitar 15 pasutri muda (di bawah sepuluh tahun) dan peserta perorangan,  dibuka oleh Pastor Paroki MRPM Kurubhoko, Pater Tobias Harman, OFM, Jumat (23/08/2019).

Dalam arahannya Pater Tobias Harman, OFM mengatakan ada banyak soal yang dialami keluarga-keluarga muda hingga gagal atasi konflik yang berujung bubar. Dia katakan, setiap keluarga punya masalah sendiri, namun semua masalah selalu punya cara berbeda untuk mengatasinya. "Karena itu pelatihan dan shering pasutri dari Paskel KAE dapat mebantu para peserta dalam membina rumah tangga Katolik," katanya.

Sementara Ketua Komisi Paskel KAE Romo Frans Djata mengatakan, Paskel Baseta kembali mendapat perhatian karena banyaknya persoalan keluarga muda dalam membangun rumah tangga mereka.
 
Pater Tobias Harman, OFM, memberi gambaran tentang pastoral keluarga di Paroki Kurubhoko
Merawat Perkawinan

Ditegaskan Romo Frans, bahwa membangun keluarga butuh waktu sangat panjang. Memang kalau dilihat tidak seimbang dengan persiapan memasuki tangga perkawinan yang sangat singkat. Sementara membangun keluarga membutuhkan waktu sangat panjang. Karena itu harus disadari bahwa hari pernikahan bukan akhir pernikahan tetapi baru awal dalam membangun rumah tangga yang bahagia.


Mengutip Paus Yohanes Paulus II, Romo  Frans mengemukakan, persiapan tidak hanya sampai saat menikah tetapi seterusnya, karena orang menikah tidak hanya untuk beberapa waktu. Itu sebabnya pernikahan perlu dirawat supaya tumbuh dan berbuah. Pelatihan ini, tambahnya, hanya salah satu kiat agar keluarga Kristiani tetap bertumbuh.

Ditegaskan Romo Frans bahwa tujuan menikah untuk kebaikan berdua - suami/istri dan anak yang dikaruniai Tuhan. Itulah alasan mengapa keluarga harus dirawat. "Kita harus terus berusaha agar perkawinan terawat dan terjaga keutuhannya," katanya.

Orang nikah menurutnya supaya bahagia bukan menderita. Namun mengapa banyak pernikahan tidak bahagia? Karena tidak pernah dirawat dan disiram - dengan air kasih, air kesabaran, air pengampunan, air kelemahlembutan, air pengertian. Jika tak disiram maka yang terjadi  bukan ketenangan dan kesejukan tetapi keributan.

Terkaiit dengan tema kegiatan, Romo Frans menegaskan konflik terjadi bukan hal luar biasa, tetapi hal biasa dalam keluarga. Sebaliknya konflik terjadi lebih karena kita tidak mampu mengenal diri dengan baik. "Kita tidak tau diri. Kalau bisa kenal diri sendiri pasti kenal siapa pasangan kita. Yang satu merasa tidak dihargai maka akan muncul konflik. Jadi mulailah kita belajar tau siapa diri kita ini, dan belajar menghargai pasangan," paparnya.

Perbedaan antara dua orang itu pasti ada, supaya saling melengkapi. Kekuarangan yang satu dilengkapi dengan kelebihan yang lain. "Namun kalau kita tau kepribadian kita maka kita bisa memahami orang lain, karena gaya kepribadian adalah inti dari siapa kita,"  kata Romo Frans.
 
Rm. Frans Djata saat saat memberi materi pelatihan Mengatasi konflik dalam keluarga dan manajemen ekonomi rumah tangga di Paroki Kurubhoko
Karena itu perbedaan antara dua orang tidak jadi alasan untuk mengubah pasangan tetapi untuk mengubah gaya kita sendiri agar selaraa dengan pasangan kita. Jadi menikah adalah kerelaan dari jatuh cinta tetapi selanjutnya kerelaan untuk bangun cinta seumur hidup.

Materi pelatihan yang disampaikan tim Paskel selama dua hari diwarnai shering pengalaman suka-duka membangun rumah tangga dari pasutri Bene-Sever dan Thres-Sedis. Kemudian mendapat peneguhan dari ketua Komisi Paskel  Romo Frans Djata.

Ekonomi Kreatif

Selain shering pengalaman, peserta juga dituntun untuk mengenal gaya kepribadian pasangan, mengenal bahasa cinta pasangan, penanganan konflik dan mengelola ekonomi rumah tangga.

Pasutri Thres-Sedi menyinggung bahwa konflik selain disebabkan oleh soal-soal sepele tetapi juga karena masalah ekonomi rumah tangga. Karena itu pasutri ini mengarahkan peserta agar lebih kreatif berkreasi guna meningkatkan pendapatan untuk meningkatkan income keluarga.
 
Kelompok ekonomi kreatif anyaman ibu-ibu paroki Kurubhoko yang berguyup dalam naungan Komunitas Budaya Tanawolo (KBT)
Misalnya melalui ekonomi kreatif berbasis pertanian, peternakan, kerajinan dan industri kecil, serta kuliner. Intinya harus kreatif. Pekarangan dan halaman jangan dibiarkan kosong tetapi ditanami sayuran dan berbagai kebutuhan dapur sehingga bisa menekan pengeluaran. Baru kemudian bisa dijual yang lebihnya.

Saat menutup kegiatan Pater Tobias Harman mengatakan, banyak keluarga tidak punya orientasi. Hidup begitu-begitu saja. Tidak punya mimpi kemana keluarga akan dibawa. 

Pater Tobias menambahkan bahwa banyak konflik dipicu mulai dari dapur. Karena itu kita mulai menyelesaikan masalah dapur dulu. Itu sebabnya pelatihan ini harus menjadi bekal bagi para Baseta untuk mengubah pola pikir dalam membangun keluarga.

Terkait pelatihan selama dua hari itu, Pater Tobias memberi apresiasi kepada tim Paskel KAE yang telah membuka wawasan dan pengalaman praktis dalam membantu keluarga Kristiani mengatasi masalah rumah tangga.***

Baca Lengkap
Vigonews

HUT Kemerdekaan RI di Kecamatan Wolomeze Ajang Literasi



WOLOMEZE - HUT Kemerdekaan RI tidak  seharusnya menunjukkan ekspresi kegembiraan belaka dalam hingar bingar berbagai kegiatan perlombaan dan melupakan esensi maknanya. Mestinya menjadi ajang literasi dalam mengukur keberhasilan pembangunan dan belajar dari banyak hal yang belum bisa dicapai untuk terus diperjuangkan.

Hal itu diingatkan Camat Wolomeze, Kasmin Belo, pada peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI ke-74 tingkat Kecamatan Wolomeze di Kurubhoko, desa Nginamanu, Jumat (17/08/2019).

HUT Kemerdekaan RI yang selalu diperingati setiap tahun jangan sampai hanya rutinitas dan berlalu begitu saja, tanpa memberi makna dalam kehidupan bermasyarakat. Momen ini harus menjari waktu yang takhtis untuk mengukur capaian dalam pembangunan dan partisipasi serta memberi catatan pada apa yang belum dicapai sehingga diperjuangkan pada waktu mendatang.

Terkait dengan hal itu, Camat Kasmin mengajak semua pihak baik pemerintah, swasta, dan elemen lainnya untuk sama-sama melihat banyak hal di wilayah ini yang perlu terus dikembangkan, sehingga wilayah ini semakin berkembang dan sejajar dengan wilayah lainnya. “Usia kecamatan ini 12 tahun tentu harus direfleksikan untuk terus memberi arah pembangunan menuju hidup lebih baik,” paparnya.
 
Aksi Drumband SMPN Satap 3 Wolomeze
Camat Kasmin mengajak semua potensi agar bersama-sama membangun bersama-sama, karena dalam kebersamaan apapun tantangan akan kita lewati dengan mudah. Wolomeze, kata Kasmin memiliki potensi cukup besar yang bisa dikembangkan. Dia menghimbau para kepala desa agar mendukung pengembangan ekonomi kreatif di wilayah ini, baik dalam bidang kerajinan dan industri kecil, dalam bidang pertanian, peternakan maupun bidang lainnya. Karena, Wolomeze, tambah Kasmin cukup strategis terletak di jalan utama menuju kawasan wisata Riung dan menuju bandar udara di Soa sebagai pintu masuk Kabupaten Ngada.  

“Kalau kita bisa bersatu dan bersinergis terus mengembangkan potensi lokal, maka ekonomi lokal akan bertumbuh. Terkait dengan itu, kita juga harus menjaga lingkungan agar tetap lestari. Kita tidak bisa membangun dengan baik kalau kita tidak menjaga lingkungan,” kata Camat Kasmin.

Dia juga minta perhatian para kepala desa agar dana desa memberi porsi pada pengembangan sumber daya manusia, sehingga harapan mewujudkan manusia unggul dapat tercapai. Camat Kasmin juga menyoroti masalah drop out (DO) di desa-desa. Padahal anak-anak ini masih usia sekolah. Menekankan disiplin, Kasmin minta perhatian para guru di wilayah pimpinannya, karena melalui disiplin dapat menciptakan generasi unggul. Kembangkan pendidikan minat dan bakat bagi para siswa, karena itu bisa menjadi bekal hidup di kemudian hari.
 
Pasukan bendera Drumband SMPN Satap 3 Wolomeze
Penekanan pada pendidikan ini menjadi strategis sebagai upaya mengembangkan SDM yang unggul di masa depan. Kasmin minta tidak boleh ada lagi siswa yang DO, karena sekarang ini perangkat desa saja minimal berpendidikan SMA atau sederajat. Memperhatikan pendidikan berarti sedang menyiapkan generasi yang siap bersaing di era kompetitif.

Camat Kasmin mengajak, ‘Mari kita membangun dengan hati. Mari kita semua bahu membahu, pemerintah, swasta, para tokoh dan pemangku kepentingan membangun demi mencapai kesejahteraan bersama.”

Perayan detik-detik proklamasi di tingkat kecamatan Wolomeze dimeriahkan oleh drumband siswa SMPN Satap 3 Wolomeze. Usai apel bendera, pasukan drumband dari sekolah yang dipimpin kepala Sekolah, Galus Ndona, menunjukkan kepiawaiannya, disaksikan sejumlah pejabat tingkat kecamatan Wolomeze, para siswa, guru, para tokoh dan masyarakat yang hadir.(ed)***

Baca Lengkap
Vigonews

Bupati Ngada Serukan Cegah Stunting, Wolomeze Tawarkan Solusi Pangan Lokal




Pangan lokal tawaran solusi cegah stunting -- 

WOLOMEZE – Bupati Ngada Paulus Soliwoa menyerukan semua elemen dan pemangku kepentingan untuk berupaya keras mencegah terjadinya stunting. Karena stunting merupakan momok bagi perkembangan balita dan merosotnya Sumber Daya Manusia (SDM).

Hal itu dikemukakan Bupati Soliwoa dalam sambutan peringatan detik-detik proklamasi tahun 2019, sebagaimana dibacakan Camat Wolomeze Kasmin Belo ketika memimpin  apel detik-detik Proklamasi tingkat Kecamatan Wolomeze di Kurubhoko, desa Nginamanu (17/08/2019).

Dalam sambutan itu, Bupati Soliwoa juga menyampaikan secara gamblang berbagai capaian pembangunan dan catatan yang masih harus diperjuangkan di masa mendatang.

Lebih lanjut,  Bupati Ngada Paulus Soliwoa menyerukan, untuk  sama-sama mencegah terjadinya stunting di Kabupaten Ngada. Menurut Bupati Soliwoa stunting merupakan momok  bagi perkembangan balita.

Dikatakan stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek – tidak sesuai dengan standar WHO – untuk usianya. Kondisi stunting akan nampak pada anak berusia dua tahun.

Pada tahun 2018, dari  jumlah 8.215 balita, terdapat balita stunting sebanyak 2.690 orang, atau setara dengan 32, 74%. Konvergensi program dan kegiatan baik yang bersifat spesifik maupun yang bersifat sensitif sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya stunting di kabupaten Ngada. Balita sehat dan kuat, akan menjadi modal dasar dalam mewujudkan lahirnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang kreatif, inovatif, unggul dan berdaya saing.

Secara terpisah serangkaian perayaan HUT Kemerdakaan, Camat Kasmin juga memberi catatan-catatan dan capaian pembangunan di kecamatan yang dipimpinnya. Dalam momen ini dihadiri anggota DPRD dari dapil V Yohanes Munde, Sekcam Gerardus Dauk, Ketua TP PKK Kecamatan Wolomeze Ny. Nurhayat S. Belo dan anggota TP PKK, Pastor Rekan Paroki Kurubhoko RP. Leonardus Hambur, OFM, para kepala desa, ketua BPD, para guru dan PNS di lingkup Kecamatan Wolomeze, Kapospol Brigadir Bersadi Kilikily, Babinsa Wolomeze Sertu Mansetus Ninmusu, para tokoh dan masyarakat.

Merespons

Terkait dengan seruan Bupati Paulus Soiwoa tentang kasus stunting, Camat Kasmin menekankan bahwa kecamatan Wolomeze termasuk salah satu kecamatan yang angka stunting-nya cukup tinggi. Data di Puskesmas Natarandang menunjukkan, kasus stunting di kecamatan Wolomeze ada 197 kasus, dalam kategori stunting pendek dan sangat pendek untuk usia 0 -60 bulan.
 
Lomba pangan lokal di Wolomeze oleh PKK salah satu cara cegah stunting
Terkait dengan hal itu, menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-74, kecamatan Wolomeze menaruh perhatian secara khusus pada kasus stunting yang secara angka cukup menonjol di Kabupaten Ngada. Sebagai bentuk sosialisasi dan peringatan kepada masyarakat tentang hal ini, kata Camat Kasmin, digelar lomba pangan lokal dalam mencegah stunting, dan pidato  yang mengikutikan para tim PKK dari berbagai desa.

Kegiatan yang dirangkaian dengan Jambore PKK itu dihadiri langsung oleh Ketua TP PKK Kabupaten Ngada Ny. Kurniaty Soliwoa, Rabu (14/08/2019). Lomba kuliner lokal yang disajikan dalam berbagai menu makan di masing-masing stan pameran itu, menarik perhatian  Ny. Kurniaty Soliwoa.

Pangan lokal, imbuh Ny. Kurniaty, memiliki kandungan gizi yang tinggi sehingga dapat diolah sebagai makanan sehat bagi keluarga dengan melakukan diversifikasi menu. Selain itu, pangan lokal juga mudah diperoleh di kebun keluarga dan lebih murah. Hanya Ny. Kurniaty mengingatkan agal hal ini tidak hanya ada di lomba, tetapi diimplementasikan ke keluarga-keluarga.

Di sela-sela kegiatan, Ny. Kurniaty yang didampingi Ketua TP PKK Kecamatan Wolomeze, Ny. Nurhayat S. Belo, menghimbau para kepala desa agar secara serius memperhatikan kasus stunting yang dinilai dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, dia minta  agar ada alokasi dana desa melalui program yang direncanakan secara baik dan terintegrasi.

Pada kesempatan meninjau pameran pangan lokal, Ny. Kurniaty berharap program pemberian makanan tambahan di setiap desa melalui posyandu yang sudah berjalan perlu diberikan sesering mungkin, misalnya seminggu sekali.

Guna mempercepat pencegahan stunting dan bidang kesehatan serta pendidikan, Ny. Kurniaty mengatakan digagas pembentukan desa model sehingga berbagai program dapat diintegrasikan dan melibatkan peran serta PKK secara intens. PKK, kata dia, tidak bisa dilihat sebelah mata, tetapi berperan besar dalam mengatasi berbagai persoalan baik kesehatan, pendidikan dan ekonomi dalam keluarga. (ed)***

Baca Lengkap
Vigonews

Ini Kegiatan - Mewujudkan SDM Unggul Indonesia Maju - di Kecamatan Wolomeze



WOLOMEZE - Dalam rangka mengusung tema HUT Kemerdekaan RI ke-74  ‘SDM Unggul  Indonesia  Maju,'  Kecamatan Wolomeze gelar sejumlah kegiatan dan lomba.

Setiap tahun biasanya rutin dengan pertandingan sepak bola fan bola voli. Tapi dalam HUT RI kali ini masih diwarnai berbagai kegiatan dan lomba sebagai implementasi dari tema umum 'SDM unggul Indonesia Maju.'

Berbagai kegiatan dan lomba antara lain lomba kuliner berbahan pangan lokal dalam rangka mencegah stunting, pameran stan pangan lokal dan ekonomi kreatif berbasis lokal desa, sosialisasi 'Pola Pengasuhan dan Dampak Kekerasan pada Anak, kelas inspirasi menganyam produk kerajinan berbasis bambu, lomba senam Lansia dan lomba pidato mengangkat isu stunting.

Camat Wolomeze Kasmin Belo, di sela-sela lomba kuliner pangan lokal, Kamis (15/08/2019) mengatakan kegiatan sosialisasi, pameran dan lomba yang digelar di luar pertandingan olahraga yang sudah rutin ini sebagai strategi menjawabi berbagai masalah dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
 
Lomba pangan lokal dalam mencegah stunting di masyarakat lokal
Menurut Kasmin, kegiatan sosialisasi pola pengasuhan dan dampak kekerasan terhadap anak adalah langkah dalam memberi pemahaman kepada masyarakat karena pola asuh yang salah menyebabkan sering terjadinya kekerasan terhadap anak.
Ada lomba senam lansia yang  berupaya mendorong dan menjamin kualitas hidup bagi masyarakat yang memasuki usia lanjut.

Lomba kuliner berbasis pangan lokal menjadi kegiatan yang dilombakan dan sebagai upaya memberi pemahaman kepada masyarakat akan manfaat pangan lokal dan bernilai gisi bagi kesehatan. Asupan gisi seimbang dari pangan lokal diharapkan akan mampu mencegah terjadinya stunting. Kegiatan diwarnai pembukaan stan-stand pangan lokal yang digawangi para tim PKK dari masing-masing desa.
 
Lomba senam lansia menciptakan kualitas manusia usia lanjut
Ada kegiatan kelas inspirasi bagi siswa SMP se kecanatan Wolomeze dengan memilih kerajinan anyaman bambu yang dapat menginspirasi siswa dalam mengimplementasi isu besar di antaranya isu pemberdayaan ekonomi, pemajuan kebudayaan, isu gender, dan isu ekologi. Bahan baku anyaman yaitu bambu mendatangkan nilai ekonomis, karenanya bambu dilestarikan  dan alam tidak boleh dirusak dan hutan tidak boleh dibakar. 

Dari sisi gender, memberi ruang kepada para ibu yang memiliki ketrampilan anyam sehingga meraih keuntungan ekonomi yang dapat menempatkan mereka sekajar dengan kaum laki-laki. Produk anyaman juga menjadi produk budaya yang merupakan hasil karya, cipta, rasa masyarakat yang harus dileatari dalam mendukung seni dan tradisi budaya.
 
Kelas inspirasi menganyam untuk menumbuhkan ekonomi kreatif bagi siswa sekolah
Terkait dengan membangun pemahaman masyarakat tentang stunting, diadakan lomba pidato yang mengangkat topik mencegah stunting melalui gerakan PKK. Lomba ini diikuti peserta utusan TP PKK dari desa-desa.Perangkat desa mengikuti lomba cerdas cermat.

Berbagai kegiatan dan lomba ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman akan nilai demi mewujudkan SDM Unggul Indonesia Maju sebagaimana tema  HUT RI kali ini. Sejumlah kegiatan ini berlangsung sejak tanggal 10  dan berakhir pada 17 Agustus pada perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 74.(ed)***

Baca Lengkap
Vigonews

HP Jadi Obat Penenang Anak, Orang Tua Asyik Sendiri




WOLOMEZE - Kegiatan Jambore PKK di Kecamatan Wolomeze, Rabu (14/08/2019) selain kegiatan lomba kuliner untuk mencegah stunting, juga diisi dengan kegiatan sosialisasi  tentang ‘Peran Pengasuhan dan Dampak Kekerasan Terhadap anak.’

Sosialisasi pengasuhan ini menghadirkan dua nara sumber dari Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Ngada, Maria Dolorosa Nay dan Lidwina Dhiu. 

Ketua TP PKK Kabupaten Ngada Ny. Kurniaty  Soliwoa yang hadir serangkaian kegiatan Jambore PKK memberi apresiasi penyelenggaraan kegiatan ini dan langsung mengikutinya hingga selesai. Dia bahkan meminta agar kegiatan seperti ini diintegrasikan dengan desa model PKK yang sudah dibentuk. Ny. Kurniaty ingin upaya mengatasi masalah kekerasan terhadap anak terus diperhatikan dan menjadi salah satu program di desa model PKK.

Hadir pada kegiatan sosialisasi  itu Camat Wolomeze Kasmin Belo dan Ketua TP PKK Wolomeze Ny. Nurhayat S. Belo, para TP PKK desa, para kepala desa, para guru, para kader PKK dan para siswa remaja putri.

Sayangnya tidak banyak laki-laki yang ikut kegiatan ini, kecuali para kepala desa. Padahal kegiatan macam ini sangat baik melibatkan para laki-laki sehingga membangun pemahaman yang sama dalam pola pengasuhan anak.

Kegiatan ini, kata Ketua TP PKK Wolomeze, Ny. Nurhayat, untuk memberi gambaran yang jelas kepada orang tua dalam mengasuh anak di rumah sehingga dapat mencegah kekerasan terhadap anak yang belakangan terus meningkat. Karena itu kegiatan semacam ini sangat strategis agar orang tua tau bagaimana pengasuhan anak yang tepat.

Pola Pengasuhan

Lidwina Dhiu atau yang akrap disapa Winda dari P2TP2A mewarnai sosialisasi tentang pengasuhan anak dengan contoh-contoh praktis. Dia juga memperlihatkan bagaimana contoh ril pengasuhan anak yang salah.
 
Lidwina menyampaikan materi Pola Pengasuhan dan Dampak Kekerasan terhadap Anak di Kecamatan Wolomeze
Salah satu contoh, kata Winda, orang tua menjadikan HP sebagai 'obat penenang' bagi anak. Dengan begitu orang tua bisa bebas ngerumpi atau kesenangannya sendiri. Mereka lupa bahwa HP yang diberikan kepada anak membuat anak tenang dan asyik bahkan hingga menikmati tayangan yang syur di layar HP.  Winda menunjukkan hal itu sebagai awal mala petaka yang disebabkan salah pengasuhan, dan masih banyak lagi.

Hal lain yang disoroti Winda adalah kesibukan orang tua dengan banyak urusan sehingga mengabaikan anak. Sibuk urus rumah tetapi lupa beri perhatian pada anak. Karena itu, Winda mengajak para orang tua agar selalu memanfaatkan waktu luang bercengkrama dengan anak. Kalau dia pulang sekolah beri perhatian dengan menanyakan pelajaran di sekolah, peluk dia sehingga anak merasa dikasihi. Karena saat kita memeluk anak aliran energi kasih sayang akan mengalir ke anak.

Ada orang tua yang senang rumahnya rapih. Kalau anak buat berantakan malah dibentak-bentak. Jadi anak diabaikan hanya karena ingin rumah teratur. "Itu juga baik. Tapi jangan salah ketika anak sudah besar kita akan merindukan suasana rumah yang berantakan itu. Merindukan lagi suara mereka yang ribut dulu kala masih kecil. Padahal saat kecil itulah kita punya momen liat rumah berantakan dan suara ribut mereka. Setelah besar, itu semua akan hilang dan kita akan merindukannya lagi," urai Winda.

Pengasuhan, ada dua  yakni pengasuhan fisik dan psikis. Kepada peserta Winda bertanya, ‘sudahkah anda memeluk anak anda hari ini? Karena tindakan kecil justru dapat mengalirkan energi dan perasaan kepada anak. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari banyak orang tua tidak peduli dengan anak. Mereka pergi tinggal pergi, tanpa diketahui orang tua. Begitu juga ketika mereka pulang rumah, orang tua biasa-biasa saja tanpa ekspresi,” bebernya.

Jadi jangan heran kalau anak tidak betah di rumah, karena mereka memang tidak diperhatikan. Orang tua lebih sibuk dengan HP, kemudian tertawa sendiri. Makanya ada pengalaman di suatu keluarga anak marah orang tua. “Iya sama HP tertawa-tertawa tetapi dengan anak sendiri tidak pernah,” ucap winda mencontohkan.

Dalam mengasuh anak, beber Winda, harus kenali karakter mereka. Semua anak tidak sama karakternya, karena itu cara pengasuhan juga berbeda. Kenali juga minat mereka, dan hindari paksa anak harus begini dan harus begitu.

Pada kesempatan itu, para peserta tampak antusias menyimak apa yang disampaikan narasumber. Kadang peserta juga tertawa geli karena apa yang disampaikan narasumber mengena pada diri mereka yang selama ini salah dalam pengasuhan anak, sehingga tampak anggukan kepala tanda sepakat dengan penyampaian narasumber.
 
Ny. Kurniati Soliwoa bersama narasumber dari P2TP2A, Maria Dolorosa Nay dan Lidwina Dhiu, didampingi Camat Wolomeze Kasmin Belo dan Ketua TP PKK Wolomeze Ny. Nurhayat serta tim PKK lainnya
Peran P2TP2A

Sementara di bagian lain Maria Dolorosa Nay, yang juga Ketua P2TP2A menyampaikan tugas dari lembaga yang dipimpinnya. P2TP2A, kata dia adalah sebuah lembaga yang dibentuk dan dikukuhkan dengan SK Bupati dalam menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Ngada.

Kata Ros Nay, P2TP2A adalah pusat kegiatan terpadu yang menyediakan pelayanan bagi perempuan dan anak korban tindak kekerasan di Kabupaten Ngada yang meliputi pelayanan medis, Pelayanan hukum, Pelayanan Psikis dan Pelayanan Rehabilitas Sosial.

Pada kesempatan itu, Ros juga mensheringkan pengalaman dalam melakukan pendampingan kepada para korban kekerasan bersama tim P2TP2A. Dia berharap sosialisasi ini menjadi momen bagi semua untuk mencermati betapa kasus kekerasan terus bertambah menimpa perempuan dan anak. Mereka ini adalah kelompok rentan yang kadang tidak berdaya menerima perlakukan kekerasan.

Ros juga sepakat dengan rencana Ketua TP PKK yang menyertakan program sosialisasi dan penanganan korban kekerasan perempuan dan anak melalui desa model, salah satunya desa model di kecamatan Wolomeze. Diharapkan upaya demi upaya dapat menumbuhkan kesadaran guna menekan angka kekerasan yang terus terjadi. (ed)***

Baca Lengkap
Vigonews

Siswa SMP di Desa Isi Hari Pramuka dengan Ikut Kelas Inspirasi Menganyam


Menanamkan sikap kecintaan pada produk lokal termasuk seni anyaman, baik untuk kepentingan pewarisan budaya, tujuan ekonomi, maupun tujuan ekologis -- 

WOLOMEZE - Mengisi HUT Pramuka ke 58, Rabu (14/08/2019) lebih dari 60 siswa di Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada ikut kelas inspirasi kerajinan menganyam. Kegiatan ini diikuti siswa SMPN Satap Kurubhoko, SMPN Natarandang dan siswa SMPN Satap 3 Wolomeze.

Kelas inspirasi dilaksanakan atas kerja sama Kwaran Pramuka Kecamatan Wolomeze, Rumah Literasi Cermat (RLC) dan Yayasan Puge Figo. Tujuannya dapat menanamkan nilai sikap, ketrampilan dan pengetahuan kepada para siswa melalui kegiatan yang bermanfaat sehingga perayaan hari penting tidak sekedar rutinitas. Melalui kegiatan ini secara eksplisit mempertegas isu  ekonomi kreatif, isu gender dan isu lingkungan hidup.

Selama sejam siswa dilatih menganyam berbagai jenis produk kerajinan anyaman dari bahan bambu. Para siswa dibagi dalam kelompok dengan masing-masing satu tutor yang adalah pengrajin anyaman untuk memberi petunjuk praktis membentuk anyaman yang dinginkan. Sebelum dilatih,  kepada para siswa diperkenalkan bernagai produk anyaman seperti tas anyaman bambu, dompet, dan produk anyaman lainnya. 

Narasumber dari Rumah Literasi Cermat Emanuel Djomba menginspirasi siswa,  bagaimana menghasilkan produk anyaman yang bisa dijual dengan harga RP 150 ribu sampai Rp 300 ribu rupiah.

Produk anyaman dengan harga sekian, dibuat dari bahan bambu jenis aur yang tumbuh liar di hutan. Allah telah memberi (mencipta) alam yang kaya. Manusia tinggal mengambil tanpa menanam dan merawat.
 
Para siswa terlihat serius mulai belajar menganyam dipandu tutor kerajinan anyaman, Mama Ana Mba
Melalui kerja trampil para pengrajin, bambu liar yang ada di hutan menjadi produk yang mahal harganya. Saat ini ditengah masalah kerusakan lingkungan dan diwarnai dengan penggunaan ptoduk plastik melebihi ambang batas banyak orang dengan sadar mulai kembali memggunakan bahan yang ramah lingkungan.

Usai kegiatan, Emanuel mengatakan, terkait dengan isu ekologi, kita dituntut untuk manjaga alam, jangan dirusak, dibakar agar hutan (bambu) tetap lestari demi kehidupan. Terpeliharanya lingkungan akan terus memberi pasokan bahan baku untuk menghasilkan produk anyaman yang mahal harganya. Demikian secara ekonomi menjanjikan.

Dikatakan, kerajinan anyaman akrap dikerjakan kaum perempuan. Dengan ketrampilan yang dimiliki dapat mendorong meningkatnya produktivitas sehingga akan membawa keuntungan secara ekonomis. Perempuan selalu dianggap sebagai kelompok rentan daripada laki-laki sehingga perlu diberdayakan agar memiliki kesejajaran secara ekonomi dengan laki-laki.

Siswa di desa, dibawa pada pemahaman demikian sehingga terdorong untuk mengembangkan diri dengan ketrampilan  berbasis lokal desa sebagai bekal hidup baginya kelak. Tidak hanya mengembangkan pengetahuan semata. Karena itu ketrampilan perlu dikembangkan sejak dini.

Antusias

Pada saat belajar menganyam para siswa yang sudah dibagi dalam kelompok tampak antusias memulai mencoba, dibantu para ibu tutor  kerajinan anyaman. Siswa SMPN Satap 3 Wolomeze, Nova mengatakan  menyenangkan belajar kerajinan anyaman. Dia mau terus mencoba karena pada kegiatan hari ini waktunya singkat. Senang dengan kegiatan menganyam karena produknya menjanjikan.
 
Memberi inspirasi proses menganyam yang membawa multi manfaat
Sementara Alya, siswa SMPN Natarandang juga punya kesan yang sama dengam Nova. Ketrampilan  sangat bermanfaat sebagai bekal hidup. "Hasil anyaman 'kan bisa dijual," kata Alya.

Priska siswa SMPN Satap Kurubhoko yang dalam latihan menganyam sudah banyak kemajuan mengatakan, "sepertinya asyik dan saya mau latih terus. Kalau sudah tetampil pasti bisa menganyam.

Para siswa mengatakan kegiatan menganyam sudah dilakukan orang-orang tua di kampung-kampung. Hanya akhir-akhir ini orang muda kurang berminat, padahal menganyam bernilai bernilai ekonomis dan upaya pemajuan kebudayaan. 

Sememtara, tutor kerajinan anyaman bambu, Mama Sofia mengatakan anak perlu diwarisi dengan ketrampilan anyaman. Bukan sekedar supaya dapat uang tetapi karena kegiatan ini ada kaitannya dengan kebudayaan sebagai asesoris saat pesta adat, jadi perlu diwariskan turun temurun sebagai pendukung lestarinya budaya.

Di bagian lain, mama Rofina, usai membimbing siswa, memuji para siswa yang kelihatan antusias. Kalau dicoba terus ternyata mereka bisa. Jadi teruslah berlatih sampai mahir.

Mama Lina mengatakan senang kalau di sekolah juga ajar menganyam yang berhubungan dengan budaya dan menumbuhkan kreativitas agar  dapat keuntungan. Dalam latihan ini ada yang cepat bisa tetapi ada yang lambat.
 
Para siswa dan tutor anyaman usai mengikuti kelas inspirasi
Salah seorang pembina di Kwaran Pramuka Wolomeze Piter Meo mengingatkan para siswa bahwa memiliki ketrampilan menjadi bekal agar survife dalam hidup. Yang sukses tidak selalu  berpendidikan. Ini yang disebut aspek psikomotor yang perlu dikembangkan siswa selain aspek kognitif dan afektif.

Dikatakan Piter, kalau suatu saat nanti tidak lanjut ke pendidikan tinggi, siswa yang tinggal di kampung bisa meneruskan ketrampilan ini sebagai salah satu usaha yang punya nilai ekonomi. Karena, kata dia, pendidikan sebagai sebuah proses belajar memang tidak cukup dengan sekedar mengejar masalah kecerdasannya saja. Berbagai potensi anak didik atau subyek belajar lainnya juga harus mendapatkan perhatian yang proporsional agar berkembang secara optimal. Karena itulah aspek atau faktor rasa atau emosi maupun ketrampilan fisik juga perlu mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang.

Karena waktu terbatas diharapkan setelah terinspirasi dengan kegiatan ini dapat dilanjutkan di sekolah dan lingkungan masing-masing maupun di rumah. (RDJ)***
Baca Lengkap