Vigonews

Merawat Kebhinekaan, Dina Hermanadi: 'Sebarkan Harapan Indonesi Maju Melalui Medsos'



BAJAWA - Bijak menggunakan media sosial, sebagaimana dikemukakan Anggota DPR RI Andreas Hugo Parera sebenarnya bagaimana kita harus berpikir cermat sebelum jari menekan tombol-tombol hand phone. "Atau dalam satu frase saya mau katakan 'bersikaplah kritis' dalam menggunakan media sosial."

Hal itu disampaikan Hugo Parera menjawab pertanyaan dalam Forum Dialog Publik dengan tema: Merawat Kebhinekaan melalui Literasi Media Sosial yang digelar, Sabtu (06/12) di Aula SMAN 1 Bajawa yang dipandu Gerardus Reo.

Pada forum yang dihadiri para pegiat literasi, para guru dan siswa, mahasiswa, pemuda, unsur organisasi dan komunitas serta para tokoh di Bajawa itu, Hugo menegaskan, "hanya karena jari kita lebih capat mengirim informasi melalui media sosial secara tak bertanggung jawab, maka bisa menimbulkan gesekan dan permusuhan yang mengamcam lunturnya keharmonisan kehidupan bangsa."

Dia mencontohkan kasus kerusuhan Papua yang lalu, sebenarnya diawali insiden inter personal yang terjadi di Surabaya. Terjadinya kasus di Papua, kata dia, sebagian besar karena sentimen melalui media sosial yang disebabkan oleh informasi hoax - yang tidak diketahui kebenarannya.

Dalam rangka merawat kebhinekaan Indonesia, kata Hugo, salah satu upaya adalah Literasi melalui media sosial sehingga para pengguna medsos yang jumlahnya jutaan itu bijak dalam menyikapi semua informasi melalui media sosial.

Informasi yang banyak masuk melalui media sosial perlu dicermati dan disharing dulu. Perlu waktu untuk cermati, agar informasi yang dikirim dapat  dipertanggung jawabkan kebenarannya sehingga tidak  merusak keharmonisan kehidupan berbangsa. "Karena sering terjadi, orang langsung mengirim tanpa membaca lagi informasi tersebut," paparnya.
 
Dina  Hedityareni Hermanadi berbica dalam forum Dialog Publik di Bajawa
Apa yang Dicari?

Dialog Publik juga menghadirkan  narasumber yang  juga Asisten Juru bicara Presiden/Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan  Informasi, Dina Hedityareni Hermanadi, dari Kantor Staf Kepresidenan RI.

Dalam dialog publik itu, Dina begitu dia biasa disapa, kepada peserta menohok dengan pertanyaan, apa yang dicari orang di media sosial?  "Sebenarnya orang cari sesuatu di medsos kita, yang bermanfaat. Tetapi kalau yang ditemukan hanya hoax dan segala jenis cacian  maka orang tidak mendapat manfaatnya dari anda. Hoax dan sejenisnya hanya akan merugikan banyak orang, dan juga akan meninggalkan jejak digital dalam waktu yang lama," beber Dina.

Dina menghimbau agar warnai media sosial anda dengan sesuatu yang menyenangkan bagi orang lain. "Sebarkan kebahagian dan sukacita bagi orang lain melalui media sosial anda. Sebarkan harapan bagi banyak orang dan warna hidup anda akan mewarnai hidup orang lain." Kata Dina.

"Mari kita gunakan medsos  yang sehat dan bertanggung jawab dan membawa harapan bagi Indonesia maju. Apa yang akan kita tawarkan untuk Indonesia maju melalui perilaku bermedsos yang tidak bertanggung jawab," tanya Dina?

Wujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian belandaskan gotong royong. Yang mau diwujudkan juga berdaulat secara digital. Namun untuk mencapai itu semua maka perlu merawat kebhinekaan agar tetap kokoh NKRI.

Dina mengingatkan para pengguna media sosial hati-hati mengunggah informasi melalui medsos. Unggahlah yang ada manfaatnya. Jika posting foto, berilah caption-nya sehingga pembaca dapat memahaminya. Pilihlah kata yang sesuai, misalnya memberi narasi pada produk tertentu atau obyek secara jelas, dicermati lagi, sehingga informasi itu lebih akurat dan berlamfaat bagi orang lain setelah dikirim.

Misalnya, kata Dina mencontohkan, kita mau posting tentang pariwisata kampung Bena - kalau foto kampung bena saja itu biasa. Coba kita tulis sedikit narasi sehingga orang melihat foto kampung bena tau sedikit tentang kampung tradisional megalit itu. Itu mungkin lebih baik dan memberi pemahaman yang lengkap dan manfaat bagi penerima pesan.

Dina mengajak masyarakat, dengan semakin luas layanan internet diikuti penggunaan media sosial agar dimanfaatkan untuk kegiatan usaha mempromosikan produk dan potensi lokal. Terkait dengan itu dalam Forum Dialog Publik ini,  Dina berjanji akan berupaya ada semacam kegiatan coaching digital marketing bagi para pelaku elonomi kreatif berbasis lokal. 

"Saya akan berupaya semaksimal mungkin ada semacam kegiatan  coaching digital marketing, sehingga kita dapat memanfaatkan jaringan internet yang semakin luas ini untuk tujuan produktif, menuju Indonesia maju," urai Dina.

Para peserta - Forum dialog publik mendapat perhatian berbagai kalangan

4000 BTS

Dibagian lain Hugo Parera mengatakan dalam mewujudkan Indonesia berdaulat secara digital, pemerintah Jokowi programkan pembangunan 4000 BTS di Indonesia bagian timur, sehingga wilayah terpencil dan terluar dapat terlayani jaringan internet.

Terkait dengan kedaulatan secara digital, kata Hugo Parera, Negara wajib hadir dalam setiap persoalan rakyat termasuk dalam kesulitan pelayanan internet, karena Indonesia bukan hanya di kota saja.

Untuk pelayanan ini, menurut Hugo Parera, negara tidak melayani bedasarkan untung atau rugi, karena ini berkaitan dengan pelayanan yang harus menjangkau kepada seluruh warga negara.

Namun dia mengingatkan, bahwa konsekuensi layanan jaringan internet yang terus meluas akan banyak membawa keuntungan namun juga merugikan melalui penggunaan media sosial yang disertai hoax. Karena itu diharapan dengan literasi media sosial terus-menerus akan memberi pemahaman bagi khalayak dalam menggunakan media sosial secara kritis. "Gunakan media sosial secara bijak dan membawa keuntungan seperti dalam memasarkan produk dan promosi potensi lokal," pinta Hugo Parera.
 
Para Narasumber, masing-masing: Geradus Reo (moderator), Dina Hedityareni Hermanadi (Asisten Juru BIcara Presiden/Staf Khusus Presiden), Andreas Hugo Parera (Anggota DPR RI), Moi Nitu Anastasia (Kadis Kominfo Kab. Ngada) dan Kompol Erick Say (Wakapolres Ngada)
Dialog publik ini digelar dalam rangka memberi edukasi kepada masyarakat terhadap bahaya berita hoax di media sosial, kerja sama Dirjen Informasi dan komunikasi publik Kementerian Komunikasi dan Informasi,  dengan Komisi I DPR RI bertema: 'Merawat Kebhinekaan Melalui Literasi Media Sosial,"

Hadir dalam forum ini anggota DPRD NTT Patris Lali Wolo sekaligus pengantar pembuka. Hadir pula narasumber lokal Kadis Kominfo Kabupaten Ngada Moi Nitu Anastasia, dan Wakapolres Ngada Kompol Erick Say.(ed)***

Baca Lengkap
Vigonews

Jelang Pilkada Ngada, Bupati Paulus Soliwoa Himbau Masyarakat Jaga Kekerabatan



BAJAWA - Bupati Ngada Paulus Soliwoa menghimbau masyarakat Ngada agar senantisa menjaga kekerabatan satu sama lain sebagai warisan nilai budaya lokal. Hal itu dikemukakannya ketika menyampaikan pengantar Nota Keuangan atas Rancangan APBD Kabupaten Ngada tahun 2020 pada hari Senin, 11 November 2019 belum lama ini.

Himbauan Bupati Soliwoa tersebut mengingatkan masyarakat pada momen Pilkada Ngada yang akan digelar pada tahun 2020. “Kita harus tetap menjaga kekerabatan kita yang hidup dalam budaya masyarakat kita turun-temurun,” katanya.

Dikatakan, masyarakat Kabupaten Ngada patut berbangga karena kekerabatan kita terasa begitu kuat dengan warisan nilai-nilai budaya lokal yang selalu merekatkan hubungan kekerabatan satu sama lain.

Siapapun pemimpin kita nantinya, tambahnya, tentunya semuanya memiliki komitmen yang sama untuk mensejahterakan masyarakat kita. Hal yang membedakan kita hanyalah pada strategi yang akan kita gunakan dalam membangun daerah Kabupaten Ngada tercinta.

Menurut Bupati Soliwoa, sebentar masyarakat Ngada akan memilih Pemimpin baru di Kabupaten Ngada tercinta yakni Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Ngada Periode 2016-2021.

Saat ini menurut Bupati Soliwoa, saat ini sudah ada calon-calon Bupati dan Wakil Bupati yang turun ke masyarakat untuk mensosialisasikan visi dan misinya masing-masing untuk membangun Kabupaten Ngada tercinta.

Sebagai Pemimpin Daerah, papar Bupati Soliwoa juga menghimbau semua pihak, terutama para Bakal Calon Kepala Daerah dan Bakal Calon Wakil Kepala Daerah, untuk tetap menjaga rasa persaudaraan dan menghindari provokasi-provokasi yang dapat memecah belah persatuan di Tanah Ngada tercinta. “Sebelum menjadi Bakal Calon maupun Calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, kita semua adalah saudara,” katanya.

Kabupaten Ngada pada tahun 2020 mendatang akan melaksanakan Pesta Demokrasi Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Ngada Periode 2021-2026 pada tanggal 23 September 2020 mendatang.

Hingga saat ini, tahapan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Ngada telah dimulai dan secara resmi telah dilaunching oleh KPU Ngada tanggal 01 November 2019 lalu di Lapangan Kartini Bajawa dihadiri oleh Bupati Ngada, Drs. Paulus Soliwoa dan sejumlah pimpinan perangkat daerah dan pimpinan partai politik.

Terhadap hal ini, Bupati Ngada pada saat menyampaikan pengantar Nota Keuangan atas Rancangan APBD Kabupaten Ngada tahun 2020 menyampaikan beberapa hal penting kepada masyarakat menyongsong Pesta Demokrasi masyarakar Ngada pada tahun 2020 mendatang.***

Baca Lengkap
Vigonews

‘Lingkungan Kita Sedang Sekarat’, demikian Pesan Ekologis HR Kristus Raja Semesta Alam di Kurubhoko



Prosesi Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam di Paroki Kurubhoko -- 

KURUBHOKO - Umat Katolik di Paroki Maria Ratu Para Malaikat (MRPM) Kurubhoko merayakan hari Raya Kristus Raja Semesta Alam dalam keprihatinan ekologi.

Misa hari raya Kristus Raja Semesta Alam bersama gereja sejagat, Minggu (24/21/2019) diikuti umat paroki Kurubhoko, umat paroki tetangga dari Paroki Wangka dan Paroki Dalib Suci Soa yang terdekat.

Perayan agung ini diawali dengan prosesi sakramen Maha Kudus yang dipimpin pastor Paroki MRPM Kurubhoko, Thobias Harman, OFM sekaligus selebran utama bersama imam selebran Pater Leon Hambur, OFM dan Pater Faris, OFM.

Pater Thobias, OFM dalam khotbahnya sebelum prosesi sakramen Mahakudus, mengajak agar umat merawat relasi yang mesra dengan Sang Pencipta dan ciptataan-Nya, sebagaimana  Sang pencipta mencintai ciptaan-Nya. Kristus sebagai Raja telah turun dari singgasana-Nya untuk menyelamatkan ciptan-Nya, baik manusia maupun alam lingkungan.

Namun, kata Tobias, saat ini alam ciptaan Tuhan telah dirusak oleh manusia. Ini harus menjadi refleksi bagi kita, bahwa di tengah krisis global ini, siapa sebenarnya yang menjadi raja kita?  Dikatakan bahwa, Yesus yang hadir sebagai Raja menjadi jawaban atas pemenuhan kerinduan akan pemulihan kembali ciptaan-Nya dari kehancuran. 

Pada misa kudus perayaan HR Kristus Raja Semesta Alam, Pastor Leon Hambur, OFM dalam khotbahnya menyampaikan, bahwa “Kita merayakan Hari raya Kristus Raja Semesta Alam di tengah kondisi alam yang sedang digerogoti oleh persoalan lingkungan hidup yang serius.”
 
Kebakaran hutan menyebabkan keringnya sumber mata air dan punahnya ekosistem
Kata Pater Leon melanjutkan, suhu bumi  kian panas, perubahan musim semakin sulit ditebak sehingga terjadinya gagal panen dan gagal tanam; kekeringan berkepanjangan, krisis air bersih terjadi di banyak tempat, sungai-sungai dicemari zat kimia berbahaya bagi manusia dan hewan, tanah sudah sekarat akibat penggunaan pupuk kimia berlebihan, keanekaragaman hayati terancam punah. “Jadi alam kita ini sebenarnya sudah sekarat,” katanya.

Menurut Pater Leon, kondisi ini menggambarkan bahwa bumi dan lingkungan hidup dalam kondisi sakit dan ini berarti mengancam kehidupan manusia itu sendiri.  Itu sebabnya mengapa masalah lingkungan menjadi isu serius yang jika tak diperhatikan tinggal menunggu bencana bagi kehidupan manusia.  Kerusakan lingkungan yang kian mengkhawatirkan  diakibatkan kemerosotan moral yang kian parah. Kebakaran lahan dan hutan yang terjadi dari tahun ke tahun tanpa henti malah dianggap sebagai hal biasa saja.

Disinyalir bahwa berbagai persoalan serius yang menggerogoti lingkungan hidup menunjukkan bahwa ada yang belum beres dengan diri kita. Ada ketidakberesan dengan diri dan kehidupan  kita tetapi kita sendiri merasa itu hal biasa saja, kita tidak menyadari bahwa itu masalah.

Dalam berbagai kesempatan Pastor Paroki MRPM Kurubhoko, Thobias Harman, OFM bahkan tak pernah surut mengingatkan bahwa, “masalahnya adalah karena kita sedang tidak sadar bahwa kita sedang sakit. Kalaupun kita sadar bahwa kita sakit tetapi kita tidak mau mengobati – kita malah menikmati kesakitan kita.”

Karena itu kata dia, tidak heran semua ketidakberesan itu akhirnya merugikan manusia sendiri. Ini yang menyebabkan hidup manusia tak mengalami perubahan sedikit pun. “Kita tidak bahagia dan tak mengalami sukacita,” paparnya.

“Bersamaan dengan HR Kristus Raja Semesta Alam, sebenarnya kita diajak untuk kembali melihat ke dalam diri kita atas semua ketidakberesan itu. Kita juga melihat fakta lingkungan di sekitar yang terus dirusak dan semakin memprihatinkan, karena lingkungan ikut diciptakan Tuhan menjadi penopang hidup kita. Kita harus kembali memelihara lingkungan sebagai taman Eden dan bukan menjadikannya taman edan. Jika kita merawat alam, maka alampun akan merawat hidup kita – sehingga hidup menjadi berkelimpahan seperti janji Tuhan,” tambah Pater Leon di akhir khotbahnya. (ed)***

Baca Lengkap
Vigonews

Para Pelaku Ekraf Ngada Dilatih Membuat Website Mudah & Murah




Pelatihan pembuatan website mudah dan murah dalam Forum Ekonomi Kreatif Ngada (Ekraf) dengan fasilitator Andreas Goru -- 

BAJAWA - Sejumlah pelaku ekonomi kreatif berskala kecil, Sabtu (23/11/2019) bertemu dalam sebuah diskusi di Cafe Maidia, Bajawa. Mereka memanfaat waktu luang  liburan akhir pekan untuk berdikusi tentang tumbuh kembang ekraf di Kabupaten Ngada.

Hadir pada saat itu Andreas Goru yang menseringkan program Ekonomi Digital dan Membangun Platform Digital Berbasis Website, dan pelaku ekraf lainnya seperti: Emanuel Djomba, Kety Siba, Jeje Daga, Ayu Nau, Merlyn Idju dan Modesta dari Kominfo, dan satu-satunya kepala desa, Edy Wago – Kepala Desa Ngabheo, Kecamatan Soa.

Kety Siba yang juga lulusan terbaik Jurusan Komunikasi di Unika Kupang tahun 2019, kini bergumul dengan usaha kecil mengelola home stay dan cafe di kawasan wisata Mengeruda, tak jauh dari Bandar udara Ture Lelo, Soa. Sementara Jeje Daga empat tahun terakhir menekuni usaha kecil ‘Jejey Handmade – Gypsy Style ala Bajawa’, cafe dan home stay di kawasan Tanalodu Bajawa.

Jurnalis dari Rumah Literasi Cermat Ngada, Emanuel Djomba juga sudah mulai merintis kegiatan ekraf enam bulan terakhir yang menghasilkan produk Handmade seperti anyaman tradisional dari bambu dalam berbagai bentuk, produksi madu hutan asli, kerajinan berbasis limbah kertas, juga menjual produk sabun kesehatan lokal, minyak  gosok dan minyak rambut serta obat tradisional lainnya berbasis lokal. Emanuel memulai kegiatan ini dengan mendampingi para pengrajin loka dalam kelompok ekraf sebagai upaya memberdayakan potensi lokal baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam setempat.
 
Jeje Daga dengan produk Jejey Handmade-nya
Kepala Desa Ngabheo Edy Wago mengikuti forum ekraf akhir pekan ini,  setelah mendapat informasi, langsung menyatakan kesanggupannya. Dalam forum yang juga diwarnai pelatihan membuat website mudah dan murah itu, Edy merasa momentum ini sangat tepat bagi desa yang dipimpinnya dalam pengangkat potensi lokal desa melalui media digital, khususnya dalam menumbuhkan ekonomi kreatif.

Sebelum Andreas Goru menseringkan program Ekonomi Digital dan Membangun Platform Digital Berbasis Website, yang dilanjutkan latihan membuat web praktis dan murah itu, forum ekraf diberi kesempatan menseringkan pengalaman dalam memasarkan produk dan kendala lainnya.

Diskusi dan sering pengalaman ini melibatkan para pemula di bidang ekonomi kreatif berskala kecil. Ada juga yang baru merencanakan bergumul dengan bisnis ekraf, ada yang sudah mulai bertumbuh dan beberapa di antaranya peminat ekraf. Namun seperti dikemukakan Jeje Daga, Kety Siba dan Emanuel Djomba, masih terkendala dalam memasarkan produk agar dikenal di pasar lebih luas.

Karena bagi ketiga pelaku ekraf ini, media website dapat menjadi sarana dalam menjual produk ekraf lokal bahkan tembus pasar global. Itu sebabnya, baik Jeje maupun Emanuel, forum Ekraf yang diisi dengan pelatihan pembuatan website praktis ini sangat efektif. Itu yang kemudian mendorong para pelaku ekraf ini meluangkan waktu hari libur mereka untuk ikut pelatihan sekaligus shering pengalaman dan membangun kerja sama saling menguntungkan antar sesama pelaku ekraf berskala kecil ini.
 
Emanuel Djomba (kanan) bersama Markus Lina di komunitas anyaman, Kurubhoko
Itu sebabnya, Ayu Nau di sela-sela kegiatan ini mengusulkan forum ekraf Ngada ini menjadi wadah bersama sehingga dapat bertemu secara rutin untuk shering pengalaman dalam menekuni ekraf berkala kecil, selanjutnya akan terjalin komunikasi dan sinergisitas dalam membangun ekraf di kabupaten ini dan Flores pada umumnya. Apa yang dikemukakan Ayu diaminkan oleh Merlyn, Modes, Edy dan pelaku ekraf lainnya. Di punghujung kegiatan ini, Kety Siba didaulat teman-teman lainnya menjadi kordinator Forum Ekraf Ngada.

Dalam diskusi dan shering pengalaman itu, mereka menyadari bahwa meski memiliki keterbatasan dari sisi finansial, namun yang paling penting dibekali dengan semangat dan mulai bergerak dengan potensi yang dimiliki masing-masing dengan memanfaatkan potensi lokal dan potensi diri. Jika diantara para pelaku ekraf tumbuh kesadaran kewirausahaan dan mulai berjejaring satu sama lain, maka dapat membawa manfaat besar bagi pertumbuhan ekonomi Ngada ke depan.

Emanuel  menambahkan, selama ini sebenarnya banyak orang sudah bergerak hanya masih bergerak sendiri-sendiri dan bermain di ruang ‘tertutup’. “Makanya kita perlu wadah dan mulai berjejaring,” katanya.

Sementara Ayu Nau justru melihat bahwa di Ngada ini banyak sekali komunitas ekraf yang sudah mulai tumbuh tapi mereka berjalan sendiri-sendiri. “Jadi kita sebenarnya perlu wadah bersama, bersinergis dan berjejaring. Kalau potensi-potensi komunitas ini diperkuat dengan jaringan akan mendorong percepatan tumbuh kembang ekraf di Ngada,” papar Ayu.
 
Produk anyaman dan proses yang dilakukan para ibu dalam Komunitas Budaya Tanawolo, Kurubhoko
Sementara Andreas Goru yang menjadi fasilitator kegiatan ini menyambut baik gagasan ini. Dirinya tak menyangka kegiatan ini mendapat respons, malah hingga bentuk Forum Ekraf Ngada. Dia berharap, forum ekraf ini hadir untuk menjawabi kebutuhan bahwa semua membutuhkan jejaring kerja sama dalam mengembankan ekraf di kabupaten ini.

Dalam seringnya, Andreas mengatakan sebenarnya sasaran kegiatan ini  awalnya ditujukan untuk melatih para operator desa dalam mengembangkan website desa menyambut desa digital yang kini didengung-dengungkan pemerintah. Dengan demikian melalui website, desa dapat mengangkat potensi yang dimiliki ke pasa dan dikenal luas.

Tujuannya  agar para operator desa memiliki skils dalam pembuatan dan pengelolaan website desa. “Tetapi setelah coba kami sosialisasikan, ternyata lebih banyak disambut oleh para pelaku ekonomi kreatif berskala kecil daripada para operator desa. Sehingga pelatihan menjadi jawaban atas kebutuhan mereka dalam mempromosikan produk lokal ke dunia luar dengan biaya yang murah.

Usai diskusi ini, para pelaku ekraf saling tukar informasi seputar produk masing-masing dan sepakt saling mendukung dalam mempromosikan dan memasarkan produk-produk itu bersama-sama.(ed)***

Baca Lengkap
Vigonews

Wujudkan Desa Layak Anak, Para kepala Desa Ikut Pelatihan ‘Open Mind’



BAJAWA – Dinas PMD P3A Kabupaten Ngada bermitra dengan WVI AP. NADA menggelar kegiatan ‘open mind’/membuka wawasan berpikir tentang tumbuh kembang anak kepada para kepala desa se-Kabupaten Ngada. Kegiatan tersebut berlangsung  di Susteran Sang Timur Bejo 20 – 21 November 2019.
Kegiatan yang dikemas dalam sebuah Work Shop bertajuk ‘Pengembangan Desa Layak Anak’,  itu dalam rangka mempercepat  terwujudnya Desa Layak Anak (DLA) di Kabupaten Ngada sebagai upaya menyiapkan anak Ngada yang sehat, cerdas dan berkepribadian. Work Shop dan Pelatihan ‘Open Mind’  tersebut dibuka secara resmi oleh Kadis PMD P3A, Yohanes C. Watu Ngebu.
Melibatkan para kepala desa sebagai pengambil kebijakan di tingkat desa, peran serta para tutor PAUD, peran para tokoh agama yang ada di desa dinilai sebagai salah  langkah strategis guna mewujudkan DLA di Kabupaten Ngada.
Pada arahan pembukaan kegiatan, Kadis PMD P3A Johny Watu menekankan bahwa cita-cita menjadikan Ngada sebagai Kabupaten Layak Anak merupakan komitmen untuk memenuhi hak-hak anak secara berkelanjutan. Tahapan menjadikan Ngada sebagai kabupaten layak anak dilewati melalui tahapan persiapan, perencanaan hingga pelaksanaan.
Pada kesempatan itu, Johny Watu mengatakan, program pengembangan desa layak anak juga didorong oleh realitas hak-hak anak yang terabaikan dan meningkatnya kasus-kasus baik penelantaran maupun kasus kekerasan lainnya yang menimpa anak di daerah ini. Sementara, tanggung jawab melindungi anak sebenarnya menjadi tanggung jawab baik keluarga, masyarakat maupun pemerintah, termasuk pemerintah/aparat di tingkat desa.

Dihadapan para kepala desa, Kadis PMD P3A Johny Watu mengatakan pendekatan pembangunan selama ini cendrung ke fisik. Ukuran keberhasilan pembangunan selalu disejajarkan dengan pembangunan fisik. “Kalau sudah bangun fisiknya, kita nilai kita sudah berhasil buat sesuatu di desa. Pemberdayaan juga kita omong fisik lebih banyak. Sudut pandang seperti ini yang harus kita ubah,” katanya.

Saat ini, pinta Johny Watu, orientasi pembangunan di desa sudah harus bergeser dari pembangunan yang berorientasi fisik ke orientasi pemberdayaan. Melalui pemberdayaan, akan ada sentuhan kemanusiaan yang mana di dalamnya ada ibu dan anak. Karena itu dalam pemanfaatan dana desa diharapkan menyentuh semua aspek kehidupan dengan orientasi pada pemberdayaan. “Orientasi fisik kita kurangi dan bergeser ke pemberdayaan,” tegasnya.
Kadis PMD P3A, Yohanes C. Watu Ngebu - Memberi pengarahan kepada para kepala desa se-Kabupaten Ngada dalam pelatihan 'Open Mind' tumbuh kembang anak.
Hingga saat ini sudah terbentuk lima Desa Layak Anak (DLA) yang tersebar di lima kecamatan, yaitu desa Watukapu, desa Kezewea, desa Dariwali Satu, desa Nginamanu dan Desa Waeia. Sepuluh desa lainnya sedang dalam tahap persiapan untuk dijadikan DLA. Diharapkan melalui DLA dapat memenuhi hak-ahak anak, seperti hak hidup, hak memperoleh layanan kesehatan dan pendidikan, hak mendapatkan legalitas akte kelahiran, hak mendapatkan informasi yang baik, hak mendapat pengasuhan secara baik bagi anak-anak yang ditelantarkan.

Terkait dengan itu, Dinas PMD P3A akan terus berupaya berjuang agar pemenuhan hak-hak anak dapat terwujud melalui pembentukan DLA di kabupaten Ngada. Harapannya, pelayanan hak-hak anak terwujud secara baik sehingga berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia serta menekan angka kekerasan terhadap anak.

Sementara Act. Manajer AP NADA Wahana Visi Indonesia (WVI) Thomas Berata Suyaka dalam laporannya mengatakan kegiatan ini bertujuan membuka pemikiran peserta tentang pentingnya PAUD dan pentingnya peran dari orang dewasa untuk mendukung PAUD, serta meningkatkan kapasitas pemerintah desa guna mendukung terwujdunya Desa Layak Anak.

Dikatakan Thomas, anak adalah aset dan potensi keluarga dan negara di masa mendatang. Perhatian terhadap proses tumbuh kembang anak perlu ditanamkan kepada keluarga, masyarakat, pemerintah dan pemerhati  di bidang anak. Untuk itu salah satu upaya dalam rangka mempersiapkan anak Ngada yang sehat, cerdas dan berkepribadian, maka Dinas PMD P3A Kabupaten Ngada bersama WVI AP NADA sebagai mitra kerja menggelar kegiatan open mind/membuka wawasan berpikir tentang tumbuh kembang anak oleh pemerhati anak sekaligus motivator PAUD.

Menurut Thomas, pada FY'19 ini, AP NADA secara khusus di kabupaten Ngada, memulai pendampingan terhadap PAUD untuk mendukung pencapaian kesejahteraan anak dengan melakukan rangkaian pelatihan bagi tutor PAUD. Tujuannya adalah agar tutor PAUD mempunyai kapasitas untuk menjalankan perannya dalam mendorong tercapainya tumbuh kembang anak usia dini secara maksimal.

Dalam kegiatan ini  menghadirkan seorang motivator PAUD Bernedete Wresni untuk pelatihan ‘Open Mind’, tentang tumbuh kembang anak, serta fasilitator lain: Lidwina Dhiu yang menyampaikan materi Pengasuhan dengan Cinta, dan Sosialisasi Akta Lahir dari Dinas Dukcapil. (ed)***

Baca Lengkap