Vigonews

40 Peserta Ikut Pelatihan Fasilitator ‘Pengasuhan Dengan Cinta’ di Kemah Tabor



Kemah Tabor -- 

MATALOKO – Pelatihan fasilitator  Pengasuh Dengan Cinta (PDC) digelar selama lima hari, sejak tanggal 20 – 24 Mei  2019 di kemah Tabor, Mataloko, Ngada. Kegiatan ini digelar oleh Wahana Visi Indonesia (WVI).

Meski kegiatan pembukaan baru dimulai, Selasa (21/05/2019) pagi, namun para peserta sudah chek in sejak Senin (20/05/2019) petang di penginapan Kemah Tabor, yang diterima oleh salah seorang safat WVI Sipri.

Salah seorang peserta, Lidwina Dhiu mengatakan, berdasarkan undangan yang diterima Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A)Kabupaten Ngada, kegiatan ini dipandang amat penting dan strategis dalam memberi pemahaman tentang pengasuhan  anak dalam keluarga. “Seperti apa alur kegiatannya, nanti baru akan kita ketahui dalam pelatihan selama empat hari ke depan. Yang jelas dari topik dam materi-materinya, kegiatan ini menarik diikuti dan bermanfaat,” kata Lidwina yang akrab disapa Winda, ini.

Peserta lain yang juga utusan P2TP2A Kabupaten Ngada, Emanuel Djomba memberi apresiasi kepada WVI yang menggelar kegiatan pelatihan terkait dengan pengasuhan anak dengan cinta.  “Melihat materi pelatihan ini saya tertarik untuk ikut, karena ini sangat aktual dimana akhir-akhir ini masalah pengasuhan anak yang salah selalu membawa persoalan tersendiri,” kata Djomba.

Dia berharap pelatihan ini membawa pemahaman kepada peserta tentang pengasuhan anak, dan lebih dari itu setelah kegiatan ini bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan, terutama dalam memberi penyuluhan kepada orang tua mengenai pola asuh dalam mendidik anak.

Pelatihan ini sesuai informasi yang diperoleh dari salah seorang panitia, Sipri, diikuti sekitar 40 peserta melibatkan mitra WVI di Kabupaten Nagekeo dan Kabupaten Ngada.

Sesuai undangan yang diterima para peserta yang ditandatangani APM Nagekeo dan Ngada, Otis Kawer Wakerkwa, bahwa Wahana Visi Indonesia (WVI) adalah organisasi kemanusiaan Kristen yang bekerja bersama mitra untuk membawa perubahan berkelanjutan pada kehidupan anak, keluarga dan masyarakat. Berdedikasi untuk bekerja dengan semua orang tanpa membedakan agama, ras, suku dan gender serta  berfokus kepada kesejahteraan anak yang dilihat tidak saja dari pertumbuhannya, namun juga perkembangannya.

Pendampingan tumbuh kembang anak oleh WVI di Area Program Nagekeo dan Ngada (AP – Nada) dilakukan melalui berbagai macam bentuk kegiatan, salah satunya kegiatan penyuluhan kepada orang tua mengenai pola asuh dalam mendidik anak.

Oleh karena itu pada kesempatan ini WVI mengelar pelatihan bagi fasilitator Pengasuh Dengan Cinta (PDC) dengan melibatkan setiap mitra yang juga memiliki pelayanan di bidang yang sama dengan harapan agar kita mendorong setiap orang tua di wilayah pelayanan kita untuk memberikan pengasuhan yang baik dan dengan cinta kepada setiap anak-anak.

Selama empat hari ke depan, para peserta yang datang dari desa dan mitra lainnya dalam wilayah layanan WVI dari dua kabupaten ini, akan dibekali dengan berbagai materi dan ketrampilan tentang PDC.

Meski belum ada kegiatan, para peserta yang sudah chek ini, Senin (20/05/2019) petang sudah masuk dalam diskusi-diskusi kecil tentang materi kegiatan yang akan diperoleh selama pelatihan. (AD)***

Baca Lengkap
Vigonews

Pusat Ziarah 'Maria Ratu Para Malaikat' Kurubhoko Mulai Dikunjungi



KURUBHOKO - Paroki Maria Ratu Para Malaikat (MRPM) Kurubhoko, kini memiliki tempat ziarah. Bersamaan dengan pembukaan Bulan Maria, Rabu (01/05/2019) tempat ziarah yang rindang dan sejuk ini mulai diperkenalkan kepada khalayak - umat Katolik.

Pusat ziarah yang bernuansa ekologis itu sudah diresmikan sebelumnya (25/03/2019), pada perayaan Kabar Sukacita. Dan secara resmi dibuka untuk kunjungan khalayak - umat Katolik, sejak 1 Mey 2019 lalu.

Menandai dibukanya tempat ziarah di paroki yang dilayani para imam OFM itu diadakan misa kudus yang dihadiri ratusan umat paroki. Momen berahmat ini dimanfaatkan oleh para biarawan-biarawati se-Kevikepan Bajawa yeng tergabung  dalam Forum Kerjasama Kongregasi Religius (FKKR) Kevikepan Bajawa, datang sebagai peziarah perdana tempat ziarah ini.

Pusat ziarah 'Maria Ratu Para Malaikat' ini dibangun di atas areal yang kini sedang ditata sebagai pusat studi pertanian organik oleh imam-imam OFM.

Gua Maria cukup besar dibangun di atas salah satu dari empat bukit yang ada di areal seluas 9 hektare. Di salah satu bukit berdiri megah sebuah gua dengan arca Maria terletak di sana.

Bukit ini tak terlampau tinggi juga tak terjal. Kondisinya sedikit landai. Letaknya sekitar 500 meter dari jalan utama Soa - Riung, masuk arah timur di Pusat Paroki Kurubhoko

Menuju tempat ini, para peziarah harus berjalan kaki - melewati rindangan pohon yang sejuk, melewati lahan horti dan lokasi peternakan yang sedang ditata di areal bakal pertanian organik.

Meski rombongan peziarah terbanyak dari FKKR - sekitar 60 orang biarawan-biarawati - baru mulai sejak 1 Mei lalu, namun sejak diresmikan Maret lalu umat Katolik banyak yang sudah mengunjungi tempat ini untuk berdoa dan berdevosi.
 
Para biarawati berbaur bersama umat saat misa pembukaan bulan Maria
Umat yang mengunjungi tempat ini kebanyakan dari paroki MRPM Kurubhoko, namun ada juga dari paroki tetangga. Umat paroki tetangga mendapat informasi tempat ziarah ini dari orang ke orang. Ada juga yang peroleh informasi dari media sosial.

Menurut Pastor Paroki Tobias Harman, OFM, suasana tempat doa yang hening, sejuk dan jauh dari kebisingan sangat mendukung untuk berdoa dan berdevosi. Mungkin itu juga menjadi daya tarik pengunjung.

Hanya menurut Pater Tobias, tempat ziarah ini masih terus ditata, baik pelataran tempat ziarah maupun daya dukung lainnya. Yang akan berdoa malam hari, tempat ziarah ini juga dilengkapi dengan lampu penerang menggunakan tenaga surya.

Perdana

Setelah misa Kudus konselebran lima imam yang dipimpin selebran utama Pater Fridus Derong, OFM, Ketua FKKR  RP. Kamilus Ndona Sopi, CP memberi apresiasi atas dibangunnya tempat ziarah ini. Memurut dia, lingkungan yang rindang, sejuk dan hening menguatkan suasana doa dan devosi. Suasana ekologis membawa iklim yang menyegarkan. Ini menjadi ciri khas karya OFM.
 
RP. Kamilus Ndona Sopi, CP;  RD.Fridus Derong, OFM; RD Tobias Harman, OFM
Dalam spirit ekologis, RP. Kamilus menghimbau umat di wilayah ini dan siapa saja yang ke wilayah ini untuk terus menjaga kelestarian lingkungan. "Ke depan jangan lagi  bakar hutan yang hanya mendapatkan kenikmatan sesaat tetapi merusak keutuhan ciptaan," tegasnya.

Pastor yang biasa disapa Romo Mil ini juga menyampaikan bahwa kehadiran tempat ziarah ini mendapat perhatian para kongregasi religius yang tergabung dalam FKKR. Rombongan FKKR sebagai peziarah perdana tempat ziarah ini.

Kehadiran kongregasi religius memberi kazanah spiritual gereja lokal melalui warna komunitas masing-masing. Gereja diwarnai oleh kekayaan rohani ini.

"Spiritualitas yang kami timbah dari Yesus melalui tarekat kami masing-masing. Kita menimba melalui pendahulu yang telah mendirikan tarekat kami masing-masing," terang Romo Mil.
 
Para biarawati berdevosi usai misa
Sementara, salah seorang biarawati, Sr. Emiresiana, FMM berkesan  tempat ini sangat bagus dalam menciptakan suasana doa dan devosi. Letaknya jauh dari keramaian dan bernuanasa ekologis yang rindang, sejuk dan hening.

Pilihan

Sr. Emirensiana juga menempatkan tempat ziarah ini sebagai pilihan untuk  berziarah karena menyuguhkan suasana yang berbeda. Dari kota Bajawa hanya berjarak 20 km, dekat obyek wisata Air Panas Mengeruda dan bandar udara Soa  sekitar 3 km arah utara, dekat jalan menuju obyek wisata Taman Laut 17 Pulau Riung.

Bagi pastor paroki MRPM Kurubhoko, Pater Tobias Harman, OFM, tempat ziarah ini menjadi kazanah rohani dalam menciptakan suasana doa dan devosi bagi umat. "Semoga memberi semangat dan membantu umat dalam ziarah hidup," katanya.
 
Umat memadati pelataran tempat siarah 'Maria Ratu Para Malaikat' Kurubhoko
Menurut Pater Tobi, tempat ziarah ini terletak di lokasi seluas 9 hektare yang kini dan ke depan terus ditata sebagi pusat pertanian organik, yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas. "Hanya semua masih sedang kita tata lokasi ini sehingga suatu saat nanti visi kita tentang lokasi ini bisa terwujud," tambahnya.(EDJOM)*

Baca Lengkap
Vigonews

SMAK Regina Pacis Wakili Ngada di Ajang Kompetisi Debat Tingkat Propinsi NTT



Tim debat SMAK Regina Pacis Bajawa mengalahkan tim debat SMAN 1 Bajawa dalam final Kompetisi debat tingkat Kabupaten Ngada untuk memastikan tiket ke kompetisi tingkat provinsi NTT. -  

BAJAWA - Musyawarah Kerja kepala Sekolah (MKKS) Kabupatem Ngada menggelar kompetisi debat antar siswa SMA, Kamis (03/05/2019). Kegiatan dimaksud untuk menyeleksi  para pendebat terbaik untuk mewakili Kabupaten Ngada di kompetisi debat tingkat Provinsi NTT dalam waktu dekat di Kupang.

Kompetisi debat tingkat kabupaten Ngada di buka Korwas MKKS Mathias Sudin. Dalam sambutannya, Mathis terlihat sedikit kecewa karena tidak banyak sekolah yang mengirim peserta debat dalam ajang ini.

Mathias menyayangkan mengapa para kepala sekolah tidak mengirim, padahal ada dana BOS yang bisa digunakan untuk peningkatkan kemampuan siswa dalam olah pikir dan mempertajam kemampuan siswa. “Ini momen yang bagus untuk mengasah kemampuan siswa. Tapi para kepala sekolah malah tidak mengirim,” paparnya.
 
Tim debat SMAN 1 Bajawa menang dari tim debat SMAN Were, Golewa Selatan di semifinal
Namun, Mathias memberi apresiasi kepada lima sekolah yang sudah mengiirim tim debat terbaiknya untuk berkompetisi di ajang ini. Dia berharap momen ini tidak hanya mengejar juara tetapi lebih dari itu menjadi wahana dalam melatih siswa sehingga memiliki ketajaman dan kecepatan berpikir. “Jangan kejar juaranya, karena juara hanya satu. Tetapi kejar momen untuk belajar, karena yang belajar banyak. Jadi ini wahana untuk belajar,” kata Mathias.

Dalam debat yang mengangkat tema:  ‘Menguatkan pendidikan dan Memajukan Kebudayaan; sub tema: ‘Dengan Hardiknas 2019 Kita Tingkatkan Kemampuan Literasi Melalui Budaya Membaca itu,  juara pertama diraih tim debat SMAK Regina Pacis Bajawa yang dalam waktu dekat akan dikirim mengikuti komptisi debat tingkat propinsi NTT mewakili Ngada. Tempat kedua diraih oleh SMAN 1 Bajawa, dan tempat ketiga diraih SMAK Thomas Aquino Mataloko,
 
Mathias Sudin 
Lomba debat dipimpin Modesta  dari RSPD Ngada sebagai moderator, dengan dewan juri: Emanuel Djomba dari Lembaga Rumah Literasi Cermat (RLC), Philipus W. Kaka dari STKIP Citra Bakti Ngada dan Merlyn Iju Lalu dari RSPD Ngada.

Di bagian lain guru pendamping debat Recis, Bonefasius Zanda mengatakan, meski meraih juara, namun tugas mewakili kabupaten ini ke ajang debat tingkat provinsi jauh lebih berat, karena bersaing ketat dengan para pendebat hebat dari berbagai sekolah ternama di NTT.

Namun, kata Boy – demikian dia biasa disapa – dirinya akan melakukan persiapan sebaik mungkin sehingga bisa bersaing di tingkat provinsi. “Mewakili Ngada tentu bukan tugas ringan, karena ini membawa nama daerah. Itu sebabnya dia berjanji akan terus melatih para siswa asuhannya sehingga cukup untuk bekal ke laga berikutnya,” kata Boy yang pernah mengantar tim debat sekolahnya hingga ke tingkat nasional dua tahun lalu. (ed)***­

Baca Lengkap
Vigonews

Bupati Paulus Soliwoa: ‘Kegiatan BBGRM Harus Memperkuat Integritas Sosial Masyarakat’


BAJAWA – Bupati Ngada Paulus Soliwoa berharap kegiatan BBGRM ke-16 tingkat Propinsi NTT yang dilaksanakan di Desa Mengeruda, Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada dapat menguatkan kembali nilai-nilai gotong royong dalam masyarakat.

“Nilai-nilai gotong royong yang ada dalam masyarakat hendaknya semakin memperkuat integritas sosial masyarakat,” papar Paulus Soliwoa pada awal April lalu saat apel pencanangan BBGRM.

Pada apel pencanangan BBGRM itu dihadiri unsur Forkopimda, jajaran PNS lingkup Pemda Ngada, para camat yang ditandai dengan pemukulan gong.

Dalam kaitan dengan kegiatan BBGRM ke-16 tingkat Propinsi NTT yang akan digelar di Mengeruda dari tanggal 26 April – 2 Mei 2019, Bupati Soliwoa minta masyarakat agar memaknai nilai gotong royong.

Memaknai Gotong royong masyarakat merupakan kegiatan bersama dalam berbagai bidang pembangunan yang diarahkan pada penguatan persatuan dan kesatuan masyarakat dalam pembangunan. Gotong Royong kata Bupati Soliwoa, merupakan tradisi dan budaya masyarakat Indonesia yang sudah menjadi warisan turun temurun dari generasi ke generasi.

Dikatakan, nilai–nilai gotong royong yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat sebagai bagian dari sistem nilai budaya bangsa, pada dasarnya harus dilestarikan guna untuk memperkuat integritas sosial masyarakat di Desa pada khususnya, dan memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia pada umumnya.

Lebih jauh Bupati Soliwoa menegaskan, nilai–nilai gotong royong dan partisipasi pada hakikatnya dapat membuat masyarakat senantiasa hidup rukun di setiap komunitas lokal, bersama–sama mengembangkan kehidupan keluarga dan kerabat, serta bahu membahu dalam membangun kehidupan bersama.

Dana menurut Bupati Soliwoa, kearifan nilai–nilai sosial budaya dalam aspek bergotong royong dan keswadayaan patut dijaga, dipelihara dan dikembangkan agar masyarakat bersinergi, berpartisipsi dan berkeberdayaan menuju Bangsa yang Mandiri dan Sejahtera. “Semangat kebersamaan dan kegotong royongan yang telah mengakar dan melembaga dalam kehidupan masyarakat kita, menjadikan masyarakat kita hidup rukun dan damai dalam mengisi pembangunan dengan suasana kekeluargaan,” paparnya.

Pencanangan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat yang diselenggarakan ini, pada intinya harus memiliki dampak langsung pada masyarakat, khususnya terkait partisipasi dan swadaya dalam membangunan desa dan peningkatan tata kelola pemerintahan di desa.

Selain itu, kata Bupati Soliwoa, sesuai arahan Peraturan Menteri Dalam  Negeri Nomor 42 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyelenggaraan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) dan Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksana Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Dengan demikian salah satu esensi mendasar dari pelaksanaan Bulan Bakti Gotong Royong ini adalah adanya perubahan cara pandang dalam memaknai Bulan Bakti Gotong Royong bukan hanya sekedar seremonial belaka namun menjadi ruang ekspresi dan penetrasi ekonomi masyarakat.

Pelaksanaan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM), harus kita yakini bahwa ketika sebuah keluarga dibentuk dengan akhlak yang mulia, selalu ditanam dengan pendidikan nilai, etika moral dan budaya maka dengan sendirinya semangat gotong royong, partispasi dan swadaya masyarakat akan dihidupkan kembali yang tentu akan berdampak pada kemajuan, kemandirian dan kesejahteraan masyarakat,” urai Bupati Soliwoa.

Tema penyelenggaraan Bulan Bakti Gotong adalah  dengan  “Semangat bulan bakti gotong royong masyarakat  ke 16, hari kesatuan gerak PKK ke-47, gelar TTG ke-5, dan hari keluarga nasional ke-26, kita gelorakan semangat gotong royong dan partisipasi masyarakat menuju kabupaten ngada yang maju, mandiri dan sejahtera.”   Dengan tema ini kiranya masyarakat dapat memaknai hal ini dalam pelaksanaanya nanti sehingga kita semua melaksanakan ini penuh rasa tanggungjawab dan dapat berhasil guna bagi masyarakat Ngada dan masyarakat NTT pada umumnya.  “Saya juga berharap agar kegiatan Pencanangan BBGRM ini akan dilanjutkan di masing-masing Kecamatan dan Desa se-Kabupaten Ngada,” pinta Bupati Soliwoa. (EDJOM)*** 
Baca Lengkap
Vigonews

Pekan Seni Budaya Akan Semarakan Pembukaan BBGRM ke-16 di Mengeruda, Soa



Persiapan panggung jelang pelaksanaan kegiatan BBGRM ke-16 tingkat Propinsi NTT di Soa hampir rampung--

BAJAWA – Jelang pembukaan kegiatan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat ke 16 tingkat Propinsi NTT yang dipusatkan di Desa Mengeruda Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada, persiapan di lokasi kegiatan tampak mulai semarak. Masyarakat terus membenahi lingkungan, dan panitia menyiapkan panggung utama yang berpusat di Lapangan Sepak Bola Mengeruda.

Kegiatan BBGRM ke-16 akan dirangkaikan dengan Hari Keluarga Nasional ke 26, Hari Kesatuan Gerak PKK ke 47 dan Gelar Teknologi Tepat Guna ke 5 Tingkat Propinsi. Kegiatan yang dibuka Jumat (26/04/2019) itu akan berlangsung hingga puncaknya, Kamis (02/05/2019) yang  ditandai dengan apel pencanangan dipadukan dengan hari Pendidikan Nasional 02 Mei 2019 di Lapangan Sepak Bola Mengeruda.

Ketua Pelaksana BBGRM Yohances C.W Ngebu yang ditemui di Mengeruda, mengatakan, hingga Rabu (24/04/2019) persiapan sudah mencapai lima puluh persen. Persiapan yang dimaksud adalah pembangunan panggung utama dan arena stan pameran. “Menjelang pembukaan Jumat nanti (26/04/2019) persiapan sudah mencapai 50 persen,” kata Johny Watu didampingi Camat Soa Yoakim Nango.
 
Kepala Dinas PMD P3A Johanes C.W Ngebu diapiti Camat Soa Yoakim Nango saat ditemui di Mengeruda di sela-sela persiapan kegiatan BBGRM ke-16 tingkat Propinsi NTT.
Dijelaskan Johny Watu yang juga Kepala Dinas PMD P3A Kabupaten Ngada, pada kegiatan tersebut akan dilaksanakan sejumlah kegiatan sejak tanggal 26 April sampai dengan 2 mei 2019 diantaranya, Pelayanan KB, Penyuluhan pertanian terpadu, Pelayanan Pengobatan Masal, Sosialisasi pedoman dan materi KB, Bakti sosial bersama masyarakat, pameran, pemutaran film kepada masyarakat, kerja bakti gotong royong, Pelayanan KB Gratis, Sosialisasi desa model, Sosialisasi pola asuh anak, Bedah rumah, Pelayanan Perekaman e-KTP.

Ditambahkan, ada juga kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis, dan Promosi serta konseling pasca persalinan, jalan sehat dan kunjungan Bapak Gubernur ke Kampung KB Bena. Dan puncaknya pada tanggal 02 Mei 2018 ditandai dengan Apel Pencanangan BBGRM Tingkat Provinsi NTT.

Sementara pada pembukaan Kegiatan BBGRM, Jumat (26/04/2019) sekitar Pkl. 16.00 wita akan dimeriahkan dengan pembukaan Pekan Seni Budaya oleh Bupati Ngada Paulus Soliwoa, lomba pidato dan panggung hiburan seni budaya.

Sebelumnya, Kabag Admas Ngada, Martinus P. Langa mengatakan, tujuan kegiatan BBGRM, Hargranas, Hari Kesatuan Gerak PKK dan Gelar TTG tingkat provinsi NTT yakni pertama; meningkatkan kepedulian dan peran aktif masyarakat yang dijiwai semangat kebersamaan, kekeluargaan, dan kegotong royongan menuju penguatan integrase social melalui kegiatan gotong royong dalam pelaksanaan pembangunan dan pemeliharaan hasil-hasil pembangunan.

Kedua, meningkatkan pemahaman, motivasi dan kesadaran jajaran TP-PKK dan masyarakat tentang kegiatan PKK dalam memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga, ketiga: meningkatkan ketahanan keluarga sebagai dasar dalam mempersiapkan SDM yang tangguh dan keempat: mendorong masyarakat menemukan inovasi baru teknologi tepat guna untuk memenuhi kebutuhannnya.

Ditambahkan Martinus, kegiatan ini akan dihadiri langsung oleh Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Ketua DPRD NTT, Ketua dan Wakil Ketua Tim Penggerak PKK NTT, para Bupati dan Walikota serta para Ketua DPRD Kabupaten/Kota seluruh NTT dan diperkirakan dengan jumlah peserta akan mencapai 3.000 orang. (EDJOM)***

Baca Lengkap
Vigonews

Sisilia Sona: ‘NTT Bangkit’ Bersama Sangosay


BAJAWA –  RAT Kopdit Sangosay tahun buku 2018 ditutup secara resmi oleh Kepala Dinas Koperasi Tenaga Kerja dan Transmigrasi provinsi NTT, Sisilia Sona, Sabtu (23/03/2019) siang.

Pada kesempatan itu, Sisilia menyerahkan penilaian terhadap Kopdit Sangosay dari Dinas Koperasi Tenaga Kerja dan Transmigrasi kepada Ketua Kopdit Sangosay, Rinu Romanus, disaksikan jajaran pengurus, pengawas, manajemen dan sekitar 1.500 anggota yang hadir.

Ketika menutup RAT, Sisilia Sona  mengatakan pada era Pemerintahan Bubernur Victor Bungtilu Laiskodat dan Wakil Gubernur  Yoseph Naesoi bertekad membawa perubahan bagi NTT dalam semangat ‘NTT Bangkit – Sejahtera Bersama Rakyat’.  Begitu juga NTT Bangkit  Sejahtera bersama Sangosay. Apa yang diungkapkan Sisilia Sona spontan mendapat aplaus dari hadirin.

Dia menyampaikan profisiat kepada Kopdit Sangosay – pengurus, manajemen dan anggota yang melihat dan memilih koperasi sebagai kebutuhan. Dia mengajak hadirin agar menjadikan koperasi jalan mengentaskan kemiskinan yang kini masih di atas angka di atas satu juta.

Karena itu, ajak Sisilia Sona, koperasi harus menjadi jawaban anggota dan berharap menjadi jawaban masyarakat NTT pada umumnya dalam memenuhi kebutuhan hidup dan jawaban dalam ikut mengentaskan kemiskinan.

Jawaban itu, lanjut Sisilia ada dalam hati kita masing-masing. Supaya koperasi terus bertumbuh sehat, maka jawaban ada dalam hati kita para anggota – dengan mengetahui sungguh hak dan kewajiban sebagai anggota dan menjalankannya sesuai prinsip koperasi – kekeluargaan.

Pada kesempatan itu Sisilia menyampaikan catatabn-catatan kritis yang menjadi pekerjaaan rumah bagi pengurus, manajemen dan anggota dalam mengembangkan koperasi untuk melayani anggota sesuai prinsip keleluargaan. Dia minta agar semua komponen itu tetap solid. Sehingga  koperasi bisa menjadi salah satu jalan dalam mengentaskan kemiskinan di NTT.

Di bagian lain, ketua Kopdit Sangosay dalam sambutan penutup kegiatan menyampaikan terima kasih kepada segenap anggota koperasi yang telah memberi masukan, koreksi dan mengkritisi sehingga pengelolaan koperasi ke depan semakin baik. Kata Romanus, pemimpin harus akrab dengan koreksi dan masukan untuk menjamin pelayanan lebih baik ke depan.

Dia mencatat dua hal yang menjadi sorotan forum RAT antara lain kredit macet. Meski angkanya di bawah standar untuk sebuah kopdit yang sehat, namun tetap menjadi perhatian sehingga mampu menekan angka lebih kecil.

Romanus juga mencatat masukan penting dari forum adalah soal pendidikan, baik dari pendidikan dasar anggota maupun pendidikan bagi pengurus dan manajemen. “Ini tetap jadi perhatian kita ke depan,” katanya.

Sementara Ketua Yasukda Ngada, RD Silverius Betu juga menekankan soal pendidikan dalam sambutannya. Kopdit kata dia harus mencerdaskan anggota. Dan mencerdaskan itu berarti melalui pendidikan. Selain itu lembaga ekonomi non bank ini juga harus memberi perhatian pada anggota dalam menolong mereka mengatasi biaya pendidikan.

“Kita juga tidak boleh melupakan sejarah, bahwa Kopdit Sangosay didirikan dengan maksud untuk menolong anggota mengatasi kesulitan ekonomi kala berdiri hingga saat ini.  Membantu anggota untuk menolong diri sendiri, dan ke depan terus berupaya menolong anggota untuk usaha produktif,” kata RD Silverius.***

Laporan:
Boy Zanda
Emanuel Djomba
Baca Lengkap