Vigonews

Sekber PMKRI – GMNI Ultimatum DPRD Ngada Terkait Jabatan Wabup Lowong



Sekber PMKRI - GMNI Ngada menyerahkan tuntutan usai gelar aksi demo, Rabu (12/06/2019) -- 

BAJAWA – Sekretariat bersama (Sekber) PMKRI Cabang St. Stefanus – GMNI Ngada ultimatum DPRD Ngada agar segera tentukan Wakil Bupati Ngada, pasca dilantiknya Paulus Soliwoa menjadi Bupati Ngada.

Ketua GMNI Ngada Benediktus Tengka saat aksi demo, Rabu (12/06/2019) di DPRD Ngada mengultimatum lembaga DPRD Ngada segera memroses pemilihan pejabat wakil bupati Ngada dalam waktu dua minggu. Posisi wakil bupati lowong sepeninggal Paulus Soliwoa yang dilantik menjadi bupati menggantikan Marianus Sae karena tersangkut kasus korupsi.

Menurut Beny, begitu dia biasa disapa, jabatan wakil bupati sangat strategis dalam menjalankan roda pemerintahan dan melayani rakyat. “Ini soal kepentingan rakyat, jadi kami minta lembaga DPRD segera memrosesnya. Kalau dalam waktu dua minggu tidak juga diproses, maka kami akan menggelar aksi demo lebih besar lagi,” kata Beny di hadapan tujuh anggota DPRD Ngada yang menerima para mahasiswa.

Beny menegaskan hal itu setelah Ade Putra Moses membacakan pernyataan sikap yang kemudian menyerahkan kepada lembaga DPRD melalui Wakil Ketua DPRD Ngada Dorothea Dhone. Para mahasiswa yang berjumlah 12 orang diterima oleh tujuh anggota dewan, antara lain: Dorothea Dhone, Marsel Nau, Kristo Loko, Fransiska Zia, Vero Ulle Bhoga, Petrus Ngabi dan Hermens Fua.

Dalam tuntutannya mendesak segera memproses pemilihan wakil bupati, Sekber PMKRI – GMNI Ngada juga menegaskan kepada pimpinan dan semua anggota DPRD Ngada agar jangan sampai ada manuver politik busuk dan kompetisi yang mencederai, dan kong kalikong dengan menunda-nunda proses pemilihan calon wakil bupati, sehingga roda pemerintahan hanya dijalankan oleh bupati sendiri – padahal beberapa waktu terakhir banyak persoalan di kabupaten Ngada yang membutuhkan penanganan cepat. Karena itu, Sekber mendesak partai pengusung segera memroses keluarnya rekomendasi calon wakil bupati ngada.

Terkait dengan proses pengajuan calon wakil bupati untuk mengisi jabatan yang lowong, memang menjadi kewenangan partai pengusung. Karena itu baik Partai PAN, Hanura dan Golkar sudah menerima surat dari lembaga dewan untuk mengajukan calon wakil bupati, yang akan diikuti dengan proses pemilhan di lembaga dewan.
 
Sekber PMKRI - GMNI saat menyampaikan tuntutan di DPRD Ngada
Anggota DPRD dari Partai Hanura dan Golkar, masing-masing Marsel Nau dan Hermens Fua menyampaikan telah menerima surat pemberitahuan untuk mengajukan calon sesuai dengan mekanisme di partai. Dan pihaknya sudah meneruskan kepada struktur partai di atasnya untuk diproses guna mendapatkan rekomendasi. Karena menurut keduanya, keputusan mengeluarkan rekomendasi bukan pada level kabupaten.

Terkait dengan hal itu, Partai PAN sebagaimana dikemukakan Kristo Loko sudah menindaklanjuti dengan mengajukan calon wakil bupati. Surat dari lembaga DPRD sudah diteruskan ke partai pada tingkat atasnya, dan sudah pula mendapatkan rekomendasi yang kemudian diserahkan kepada lembaga DPRD pada tanggal 10 Juni 2019 untuk diproses lebih lanjut.
  
Memanas

Sebelum dialog di ruang paripurna DPRD Ngada yang juga diliput awak media, suasana sempat memanas. Pasalnya, sesaat dibuka Waktil Ketua DPRD Ngada Dorothea Dhone, Ketua PMKRI Cabang Ngada St. Stefanus, Senobius Mbasu langsung interupsi pembicaraan pimpinan dewan. Senobius mempertanyakan ketidakhadiran sebagian besar anggota dewan menerima aksi itu. Merasa pembicaraan diinterupsi, Dorothe pun sempat memanas dan terus melanjutkan pembicaraan yang segera diinterupsi lagi, demikian beberapa saat keduanya beradu interupsi.
 
Anggota DPRD Ngada saat menerima Sekber PMKRI - GMNI Ngada
Namun suasana panas sejenak itu kemudian redah, dan pimpinan dewan menjelaskan alasan ketidakhadiran sebagian besar anggota dewan. Dorotea beralasan aksi itu baru diketahui sejam sebelumnya.  Mestinya, pemberitauan aksi semacam ini disampaikan tiga hari sebelumnya, sehingga ada cukup waktu mengundang anggota dewan hadir. Pasanya, dalam menjalankan perannya, anggota dewan tidak harus berada di kantor, melainkan bisa turun ke masyarakat. Ada juga yang melakukan tugas lainnya, seperti Ketua DPRD Ngada Helmut Waso yang saat itu tidak hadir karena sedang bertugas ke luar daerah.

Tuntutan

Pada aksi demo di DPRD Ngada, Sekber PMKRI – GMNI Ngada menyampaikan sejumlah tuntutan. Selain mendesak lembaga DPRD segera memroses pemilihan dan pelantikan wakil bupati Ngada yang mengalami kekosongan sejak Paulus Soliwoa dilantik menjadi Bupati menggantikan Marianus Sae, Sekber PMKRI – GMNI Ngada juga menyampaikan tuntutan agar segera melantik Sekda Ngada.

Tuntutan lain, adalah soal revitalisasi pasar Bobou yang tidak berjalan maksimal – karena ada pembiaran terjadi jualan di dalam kota Bajawa. Terkait dengan itu, sekber juga mempertanyakan keberlanjutan pemanfaatan pasar inpres Bajawa. Sekber meminta penyelesaian masalah Undana Bajawa yang telah menghabiskan anggaran daerah puluhan miliar.
 
Sekber PMKRI - GMNI Ngada berorasi di depan gedung DPRD Ngada
Aksi demo Sekber PMKRI – GMNI Ngada sempat melewati simpang lima Bajawa dengan melakukan orasi, kemudian menuju gedung DPRD Ngada. Di depan gedung wakil rakyat itu, Sekber melakukan orasi yang disampaikan Ketua GMNI Ngada Benediktus Tengka, Ketua PMKRI Cabang Ngada St. Stefanus Senobius Mbasu dan salah seorang anggota PMKRI Ade Putra Moses.

Aksi demo belasan mahasiswa yang menggunakan kendaraan pikap dengan atribut bendera organisasi sempat menyita perhatian masyarakat kota Bajawa. Aksi yang dimulai sekitar pkl. 10.00 wita itu hingga di depan gedung dewan baru diterima sekitar pkl 12.30 wita. Selanjutnya para mahasiswa menyampaikan tuntutan kepada tujuh anggota dewan dan berdialog berbagai persoalan yang menjadi sorotan publik Ngada akhir-akhir ini. (ed)***

Baca Lengkap
Vigonews

Digelar WVI, Peserta Senang Ikut Pelatihan Fasilitator PDC



MATALOKO – Sejumlah peserta  memberi kesan antusias terhadap Pelatihan fasilitator  ‘Pengasuhan Dengan Cinta’ (PDC) yang digelar Wahana Visi Indonesia (WVI) di Kemah Tabor, Mataloko, Kabupaten Ngada, 20 – 24 Mei 2019,  meski kegiatan baru berjalan sehari dari rangkaian kegiatan selama empat hari.

Sebagian besar peserta yang juga para ibu dan orang muda mengungkapkan pelatihan fasilitator ini sangat berkesan dan membuka wawasan mereka dalam mengembangkan pola asuh secara tepat dalam keluarga. Karenanya, tiga peserta, masing-masing: Yohana Wona, Oktaviani tati Resi dan Romana Moi memberi apresiasi kepada WVI yang membawa khazanah baru dalam upaya memberi pemahaman kepada keluarga-keluarga tentang pola asuh anak.

Baca juga:
PDC Proses Mewujudkan Mimpi Keluarga Sebagai ‘Ecclesia Domestica’
40 Peserta Ikut Pelatihan Fasilitator ‘Pengasuhan Dengan Cinta’ di Kemah Tabor

Para peserta yang didampingi oleh tiga fasilitator utama, masing-masing: Slamet Koesharyadi, Feri Silaban dan Paulina Pede, dituntun dari materi demi materi melalui metode shering pengalaman, diskusi dan simulasi  guna mengatasi masa lalu, menghargai masa sekarang, menatap masa depan, dan mewujudkan mimpi keluarga.

Mimpi indah sebuah keluarga kadang sulit terwujud  karena masa lalu yang kelam yang belum terselesaikan. Empat tahap ini menjadi jembatan bagi para peserta untuk menyebranginya hingga mewujudkan mimpi bersama dalam keluarga.
 
Doa pemutusan dalam penyelesaian dengan masa lalu
Dari empat tahap itu, materi pengantar dalam pendampingan peserta dibagi dalam 16 sesi. Tahap mengatasi masa lalu, peserta diajak untuk membuat harapan dan mimpi untuk keluarga; pengalaman masa kecil yang paling berkesan, tanda keutuhan dan kehancuran, dan mengenal benih kebaikan.

Tahap menghargai masa sekarang, dimana peserta dituntun untuk mengenal sukacita dan rasa sakit, mengenal ruang kasih dan anugerah, menemukan alasan untuk mengucap syukur dan kesempatan untuk saling mengampuni, serta memahami anak (hak anak dan perlindungan anak).

Tahap menatap masa depan, meliputi materi  menentukan saat yang tepat, mengenal para pembangun yang bijaksana, menentukan langkah kita, disiplin positif, mengelola stres dan mengendalikan amarah serta mendengarkan secara aktif. Sementara tahap terakhir adalah mewujudkan mimpi, dengan materi melukis di telapk tangan saya, dan membicarakan tentang berkat.

Terhadap materi-materi tersebut – meski baru masuk hari pertama -- para peserta mengaku sudah bisa menangkap alur sehingga tahap terakhir mewujudkan mimpi keluarga. Salah seorang peserta dari Paroki Raja, Nagekeo yang juga guru di SMPN 1 Boawae, Yohana Wona mengatakan sangat berkesan dengan pelatihan fasilitator PDC ini.

Dikatakan Yohana,  pelatihan ini seperti menjawab harapannya bagaimana seharusnya mengembangkan pola asuh anak dalam keluarga, baik dalam pertumbuhan maupun perkembangan anak. “Ini memang kesempatan yang baik bisa menambah wawasan melalui ilmu dan membuka pola pikir tentang  pola asuh anak yang ideal,” kata Yohana penuh semangat.

“Mungkin karena itu, ketika menerima undangan dengan penjelasan singkat, saya kemudian tertarik mengikuti pelatihan PDC ini. Dengan mengikuti pelatihan ini akan menjadi bekal yang bisa saya terapkan dalam mengasuh anak mapun dalam memberi penyuluhan bagi keluarga dalam masyarakat. Pelatihan ini jadi semacam kritik terhadap diri sendiri, bahwa yang dilakukan selama ini keliru,”  tambah Yohana.
 
Menatap masa depan dengan sukacita
Pelatihan ini juga menarik bagi aktivis perempuan, Oktaviani tati Resi. Dia kemudian memutuskan untuk ikut kegiatan ini. Pelatihan PDC memberi khazana baru baginya baik untuk dirinya dan keluarga maupun sebagai fasilitator yang siap memberi penyuluhan menyebar luaskannya ke keluarga dan masyarakat.

Seperti halnya Tati Resi, aktivis perempuan lainnya, Romana Moi, juga mengikuti kegiatan ini dengan antusias, meski bukan hal baru. Namun menurut dia pada setiap pelatihan tentu selalu ada hal baru, misalnya suasana baru dengan peserta yang baru pula.

Hanya dia berharap para fasilitator utusan dari sejumlah desa, paroki dan denominasi gereja ini dapat mengimplementasikan pengetahuan dan skils yang sudah diperoleh di tempat masing-masing. Pengalamannya sebagai fasilitator dalam bidang lain, kadang utusan pulang diam saja – tidak mengimplementasikan apa yang sudah diperoleh saat pelatihan. (EDJOM)***

Baca Lengkap
Vigonews

PDC Proses Mewujudkan Mimpi Keluarga Sebagai ‘Ecclesia Domestica’



Peserta PDC --  

MATALOKO – Pelatihan fasilitator  Pengasuhan Dengan Cinta (PDC) yang digelar di Kemah Tabor, Mataloko, Kabupaten Ngada dibuka secara resmi oleh APM Wahana Visi Indonesia (WVI) Nagekeo dan Ngada, Otis Kawer Wakerkwa, Selasa (21/05/2019).

Kegiatan ini diikuti  para peserta yang datang dari desa-desa dan mitra lainnya dalam wilayah layanan WVI – dua kecamatan di Kabupaten Nagekeo dan dua kecamatan di Kabupaten Ngada -  utusan sejumlah paroki, demonominasi gereja, dan P2TP2A dari dua kabupaten ini.

Baca juga:
40 Peserta Ikut Pelatihan Fasilitator ‘Pengasuhan Dengan Cinta’ di Kemah Tabor
Digelar WVI, Peserta Senang Ikut Pelatihan Fasilitator PDC

Pembukaan kegiatan pelatihan fasilitator ‘Pengasuhan dengan Cinta’ (PDC) tersebut menandai dimulainya pelatihan selama empat hari, yang akan berakhir Jumat (24/05/2019) pekan ini. Sekaligus para peserta mulai mengikuti proses materi demi materi, diskusi, shering dan simulasi yang didampingi para fasilitator utama, masing-masing: Slamet Koesharyadi, Feri Silaban dan Paulina Pede.

Ketika membuka kegiatan, APM Wahana Visi Indonesia (WVI) Nagekeo dan Ngada, Otis Kawer Wakerkwa mengatakan, pelatihan fasilitator PDC ini berangkat dari keprihatinan karena banyaknya kasus kekerasan yang menimpa anak, baik anak sebagai korban maupun anak sebagai pelaku, yang disebabkan oleh kesalahan pola asuh dalam keluarga.
 
Slamet Koeshariyadi menyampaikan arahan pada pelatihan fasilitator PDC
Jadi, kata Otis, pelatihan ini tujuan utamanya mendukung untuk memperlengkapi keluarga dalam menciptakan lingkungan yang aman dan ramah dalam mewujudkan kesejahteraan anak dan pengasuhan anak yang baik.

Dibagian lain Otis menambahkan, bahwa PDC juga bertujuan mengapresiasi keluarga dalam mewujudkan pembentukan spiritualitas anak dan mengusahakan kesejahteraan anak. Memperluas pengertian dan membukakan realita dan konteks dalam keluarga.

Selain itu, berupaya memahami hal-hal yang diperlukan untuk mengetahui kerangka pikir dan proses yang dibutuhkan untuk mendukung perjalanan sebagai sebuah keluarga yang utuh dan penuh cinta; mengidentifikasi cara-cara praktis untuk mewujudkan mimpi sebuah keluarga; dan diharapkan peserta memperoleh pengetahuan dan memiliki ketrampilan tentang pengasuhan anak di dalam keluarga.

Dikatakan Otis, anak akan bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang baik tergantung dari pola asuh dengan cinta dalam keluarga. “Kita perlu masuk dalam proses ini (PDC)  supaya bisa menyalurkan dan mengembangkannya dalam keluarga-keluarga dan masyarakat. Kita peduli supaya masa depan anak-anak lebih baik dari kita. Tuhan pasti menolong kita agar kita mampu menolong banyak anak dan keluarga,” imbuh Otis.

“Karena itu melalui kegiatan pelatihan PDC ini, kita belajar bersama mengetahui apa kehendak Tuhan dalam diri kita dalam mengasuh anak. Dan, orangtua mesti dibantu bagaimana cara mengasuh anak,” Kata Otis lagi.
 
Feri Silaban memberi arahan kepada peserta PDC

Pada pengantar pelatihan PDC, salah seorang fasilitator kegiatan Slamet Koesharyadi, mengatakan pelatihan dilatar belakangi oleh banyak ditemukannya kasus kekerasan pada anak – baik anak sebagai korban maupun sebagai pelaku – karena kurangnya kasih sayang dalam keluarga akibat pola asuh yan salah.

Fakta ini yang kemudian menjadi dasar pertimbangan bagi WVI yang ditunjang sejumlah survey untuk mengembangkan modul pelatihan, kemudian diujicoba, dan terakhir yang digunakan untuk pelatihan ini adalah model ‘Pengasuhan dengan Cinta’ (PDC).

Dikatakan, hancurnya keluarga sedikit tidaknya dipengaruhi oleh renggangnya relasi cinta dalam keluarga, maupun lingkungan, dimana keluarga tidak mampu berperan maksimal sebagai ‘ecclesia domestika’ – gereja rumah tangga. Tempat dimana anak-anak menerima pewartaan pertama mengenai iman, suatu sekolah untuk membina kebajikan-kebajikan manusia dan cinta kasish Kristen. (EDJOM)***

Baca Lengkap
Vigonews

40 Peserta Ikut Pelatihan Fasilitator ‘Pengasuhan Dengan Cinta’ di Kemah Tabor



Kemah Tabor -- 

MATALOKO – Pelatihan fasilitator  Pengasuh Dengan Cinta (PDC) digelar selama lima hari, sejak tanggal 20 – 24 Mei  2019 di kemah Tabor, Mataloko, Ngada. Kegiatan ini digelar oleh Wahana Visi Indonesia (WVI).

Meski kegiatan pembukaan baru dimulai, Selasa (21/05/2019) pagi, namun para peserta sudah chek in sejak Senin (20/05/2019) petang di penginapan Kemah Tabor, yang diterima oleh salah seorang safat WVI Sipri.

Salah seorang peserta, Lidwina Dhiu mengatakan, berdasarkan undangan yang diterima Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A)Kabupaten Ngada, kegiatan ini dipandang amat penting dan strategis dalam memberi pemahaman tentang pengasuhan  anak dalam keluarga. “Seperti apa alur kegiatannya, nanti baru akan kita ketahui dalam pelatihan selama empat hari ke depan. Yang jelas dari topik dam materi-materinya, kegiatan ini menarik diikuti dan bermanfaat,” kata Lidwina yang akrab disapa Winda, ini.

Peserta lain yang juga utusan P2TP2A Kabupaten Ngada, Emanuel Djomba memberi apresiasi kepada WVI yang menggelar kegiatan pelatihan terkait dengan pengasuhan anak dengan cinta.  “Melihat materi pelatihan ini saya tertarik untuk ikut, karena ini sangat aktual dimana akhir-akhir ini masalah pengasuhan anak yang salah selalu membawa persoalan tersendiri,” kata Djomba.

Dia berharap pelatihan ini membawa pemahaman kepada peserta tentang pengasuhan anak, dan lebih dari itu setelah kegiatan ini bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan, terutama dalam memberi penyuluhan kepada orang tua mengenai pola asuh dalam mendidik anak.

Pelatihan ini sesuai informasi yang diperoleh dari salah seorang panitia, Sipri, diikuti sekitar 40 peserta melibatkan mitra WVI di Kabupaten Nagekeo dan Kabupaten Ngada.

Sesuai undangan yang diterima para peserta yang ditandatangani APM Nagekeo dan Ngada, Otis Kawer Wakerkwa, bahwa Wahana Visi Indonesia (WVI) adalah organisasi kemanusiaan Kristen yang bekerja bersama mitra untuk membawa perubahan berkelanjutan pada kehidupan anak, keluarga dan masyarakat. Berdedikasi untuk bekerja dengan semua orang tanpa membedakan agama, ras, suku dan gender serta  berfokus kepada kesejahteraan anak yang dilihat tidak saja dari pertumbuhannya, namun juga perkembangannya.

Pendampingan tumbuh kembang anak oleh WVI di Area Program Nagekeo dan Ngada (AP – Nada) dilakukan melalui berbagai macam bentuk kegiatan, salah satunya kegiatan penyuluhan kepada orang tua mengenai pola asuh dalam mendidik anak.

Oleh karena itu pada kesempatan ini WVI mengelar pelatihan bagi fasilitator Pengasuh Dengan Cinta (PDC) dengan melibatkan setiap mitra yang juga memiliki pelayanan di bidang yang sama dengan harapan agar kita mendorong setiap orang tua di wilayah pelayanan kita untuk memberikan pengasuhan yang baik dan dengan cinta kepada setiap anak-anak.

Selama empat hari ke depan, para peserta yang datang dari desa dan mitra lainnya dalam wilayah layanan WVI dari dua kabupaten ini, akan dibekali dengan berbagai materi dan ketrampilan tentang PDC.

Meski belum ada kegiatan, para peserta yang sudah chek ini, Senin (20/05/2019) petang sudah masuk dalam diskusi-diskusi kecil tentang materi kegiatan yang akan diperoleh selama pelatihan. (AD)***

Baca Lengkap
Vigonews

Pusat Ziarah 'Maria Ratu Para Malaikat' Kurubhoko Mulai Dikunjungi



KURUBHOKO - Paroki Maria Ratu Para Malaikat (MRPM) Kurubhoko, kini memiliki tempat ziarah. Bersamaan dengan pembukaan Bulan Maria, Rabu (01/05/2019) tempat ziarah yang rindang dan sejuk ini mulai diperkenalkan kepada khalayak - umat Katolik.

Pusat ziarah yang bernuansa ekologis itu sudah diresmikan sebelumnya (25/03/2019), pada perayaan Kabar Sukacita. Dan secara resmi dibuka untuk kunjungan khalayak - umat Katolik, sejak 1 Mey 2019 lalu.

Menandai dibukanya tempat ziarah di paroki yang dilayani para imam OFM itu diadakan misa kudus yang dihadiri ratusan umat paroki. Momen berahmat ini dimanfaatkan oleh para biarawan-biarawati se-Kevikepan Bajawa yeng tergabung  dalam Forum Kerjasama Kongregasi Religius (FKKR) Kevikepan Bajawa, datang sebagai peziarah perdana tempat ziarah ini.

Pusat ziarah 'Maria Ratu Para Malaikat' ini dibangun di atas areal yang kini sedang ditata sebagai pusat studi pertanian organik oleh imam-imam OFM.

Gua Maria cukup besar dibangun di atas salah satu dari empat bukit yang ada di areal seluas 9 hektare. Di salah satu bukit berdiri megah sebuah gua dengan arca Maria terletak di sana.

Bukit ini tak terlampau tinggi juga tak terjal. Kondisinya sedikit landai. Letaknya sekitar 500 meter dari jalan utama Soa - Riung, masuk arah timur di Pusat Paroki Kurubhoko

Menuju tempat ini, para peziarah harus berjalan kaki - melewati rindangan pohon yang sejuk, melewati lahan horti dan lokasi peternakan yang sedang ditata di areal bakal pertanian organik.

Meski rombongan peziarah terbanyak dari FKKR - sekitar 60 orang biarawan-biarawati - baru mulai sejak 1 Mei lalu, namun sejak diresmikan Maret lalu umat Katolik banyak yang sudah mengunjungi tempat ini untuk berdoa dan berdevosi.
 
Para biarawati berbaur bersama umat saat misa pembukaan bulan Maria
Umat yang mengunjungi tempat ini kebanyakan dari paroki MRPM Kurubhoko, namun ada juga dari paroki tetangga. Umat paroki tetangga mendapat informasi tempat ziarah ini dari orang ke orang. Ada juga yang peroleh informasi dari media sosial.

Menurut Pastor Paroki Tobias Harman, OFM, suasana tempat doa yang hening, sejuk dan jauh dari kebisingan sangat mendukung untuk berdoa dan berdevosi. Mungkin itu juga menjadi daya tarik pengunjung.

Hanya menurut Pater Tobias, tempat ziarah ini masih terus ditata, baik pelataran tempat ziarah maupun daya dukung lainnya. Yang akan berdoa malam hari, tempat ziarah ini juga dilengkapi dengan lampu penerang menggunakan tenaga surya.

Perdana

Setelah misa Kudus konselebran lima imam yang dipimpin selebran utama Pater Fridus Derong, OFM, Ketua FKKR  RP. Kamilus Ndona Sopi, CP memberi apresiasi atas dibangunnya tempat ziarah ini. Memurut dia, lingkungan yang rindang, sejuk dan hening menguatkan suasana doa dan devosi. Suasana ekologis membawa iklim yang menyegarkan. Ini menjadi ciri khas karya OFM.
 
RP. Kamilus Ndona Sopi, CP;  RD.Fridus Derong, OFM; RD Tobias Harman, OFM
Dalam spirit ekologis, RP. Kamilus menghimbau umat di wilayah ini dan siapa saja yang ke wilayah ini untuk terus menjaga kelestarian lingkungan. "Ke depan jangan lagi  bakar hutan yang hanya mendapatkan kenikmatan sesaat tetapi merusak keutuhan ciptaan," tegasnya.

Pastor yang biasa disapa Romo Mil ini juga menyampaikan bahwa kehadiran tempat ziarah ini mendapat perhatian para kongregasi religius yang tergabung dalam FKKR. Rombongan FKKR sebagai peziarah perdana tempat ziarah ini.

Kehadiran kongregasi religius memberi kazanah spiritual gereja lokal melalui warna komunitas masing-masing. Gereja diwarnai oleh kekayaan rohani ini.

"Spiritualitas yang kami timbah dari Yesus melalui tarekat kami masing-masing. Kita menimba melalui pendahulu yang telah mendirikan tarekat kami masing-masing," terang Romo Mil.
 
Para biarawati berdevosi usai misa
Sementara, salah seorang biarawati, Sr. Emiresiana, FMM berkesan  tempat ini sangat bagus dalam menciptakan suasana doa dan devosi. Letaknya jauh dari keramaian dan bernuanasa ekologis yang rindang, sejuk dan hening.

Pilihan

Sr. Emirensiana juga menempatkan tempat ziarah ini sebagai pilihan untuk  berziarah karena menyuguhkan suasana yang berbeda. Dari kota Bajawa hanya berjarak 20 km, dekat obyek wisata Air Panas Mengeruda dan bandar udara Soa  sekitar 3 km arah utara, dekat jalan menuju obyek wisata Taman Laut 17 Pulau Riung.

Bagi pastor paroki MRPM Kurubhoko, Pater Tobias Harman, OFM, tempat ziarah ini menjadi kazanah rohani dalam menciptakan suasana doa dan devosi bagi umat. "Semoga memberi semangat dan membantu umat dalam ziarah hidup," katanya.
 
Umat memadati pelataran tempat siarah 'Maria Ratu Para Malaikat' Kurubhoko
Menurut Pater Tobi, tempat ziarah ini terletak di lokasi seluas 9 hektare yang kini dan ke depan terus ditata sebagi pusat pertanian organik, yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas. "Hanya semua masih sedang kita tata lokasi ini sehingga suatu saat nanti visi kita tentang lokasi ini bisa terwujud," tambahnya.(EDJOM)*

Baca Lengkap
Vigonews

SMAK Regina Pacis Wakili Ngada di Ajang Kompetisi Debat Tingkat Propinsi NTT



Tim debat SMAK Regina Pacis Bajawa mengalahkan tim debat SMAN 1 Bajawa dalam final Kompetisi debat tingkat Kabupaten Ngada untuk memastikan tiket ke kompetisi tingkat provinsi NTT. -  

BAJAWA - Musyawarah Kerja kepala Sekolah (MKKS) Kabupatem Ngada menggelar kompetisi debat antar siswa SMA, Kamis (03/05/2019). Kegiatan dimaksud untuk menyeleksi  para pendebat terbaik untuk mewakili Kabupaten Ngada di kompetisi debat tingkat Provinsi NTT dalam waktu dekat di Kupang.

Kompetisi debat tingkat kabupaten Ngada di buka Korwas MKKS Mathias Sudin. Dalam sambutannya, Mathis terlihat sedikit kecewa karena tidak banyak sekolah yang mengirim peserta debat dalam ajang ini.

Mathias menyayangkan mengapa para kepala sekolah tidak mengirim, padahal ada dana BOS yang bisa digunakan untuk peningkatkan kemampuan siswa dalam olah pikir dan mempertajam kemampuan siswa. “Ini momen yang bagus untuk mengasah kemampuan siswa. Tapi para kepala sekolah malah tidak mengirim,” paparnya.
 
Tim debat SMAN 1 Bajawa menang dari tim debat SMAN Were, Golewa Selatan di semifinal
Namun, Mathias memberi apresiasi kepada lima sekolah yang sudah mengiirim tim debat terbaiknya untuk berkompetisi di ajang ini. Dia berharap momen ini tidak hanya mengejar juara tetapi lebih dari itu menjadi wahana dalam melatih siswa sehingga memiliki ketajaman dan kecepatan berpikir. “Jangan kejar juaranya, karena juara hanya satu. Tetapi kejar momen untuk belajar, karena yang belajar banyak. Jadi ini wahana untuk belajar,” kata Mathias.

Dalam debat yang mengangkat tema:  ‘Menguatkan pendidikan dan Memajukan Kebudayaan; sub tema: ‘Dengan Hardiknas 2019 Kita Tingkatkan Kemampuan Literasi Melalui Budaya Membaca itu,  juara pertama diraih tim debat SMAK Regina Pacis Bajawa yang dalam waktu dekat akan dikirim mengikuti komptisi debat tingkat propinsi NTT mewakili Ngada. Tempat kedua diraih oleh SMAN 1 Bajawa, dan tempat ketiga diraih SMAK Thomas Aquino Mataloko,
 
Mathias Sudin 
Lomba debat dipimpin Modesta  dari RSPD Ngada sebagai moderator, dengan dewan juri: Emanuel Djomba dari Lembaga Rumah Literasi Cermat (RLC), Philipus W. Kaka dari STKIP Citra Bakti Ngada dan Merlyn Iju Lalu dari RSPD Ngada.

Di bagian lain guru pendamping debat Recis, Bonefasius Zanda mengatakan, meski meraih juara, namun tugas mewakili kabupaten ini ke ajang debat tingkat provinsi jauh lebih berat, karena bersaing ketat dengan para pendebat hebat dari berbagai sekolah ternama di NTT.

Namun, kata Boy – demikian dia biasa disapa – dirinya akan melakukan persiapan sebaik mungkin sehingga bisa bersaing di tingkat provinsi. “Mewakili Ngada tentu bukan tugas ringan, karena ini membawa nama daerah. Itu sebabnya dia berjanji akan terus melatih para siswa asuhannya sehingga cukup untuk bekal ke laga berikutnya,” kata Boy yang pernah mengantar tim debat sekolahnya hingga ke tingkat nasional dua tahun lalu. (ed)***­

Baca Lengkap