Vigonews

SMPN 1 Bajawa Juara Umum PORSENI 2019 Tingkat Kecamatan Bajawa



BAJAWA – Sepekan mengikuti Pekan Olahraga Seni dan Sains (PORSENI) 2019 tingkat Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, SMPN 1 Bajawa  tampil sebagai juara umum di ajang ini.

Kegiatan yang berlangsung di di SMPN Satap 1 Bajawa sebagai tuan rumah PORSENI tingkat SMP se-Kecamatan Bajawa 2019, melibatkan 9 sekolah dan berlangsung sejak 21 hingga 26 Oktober 2019.

Siaran pers yang diterimas vigonews.com, Senin (28/10/2019), di ajang ini, menyebutkan Spensa meneruskan dominasinya di ajang PORSENI 2019 Kecamatan Bajawa dengan memastikan diri kembali mengunci juara umum.

Spensa berhasil mengumpulkan 8 medali emas dari 17 cabang pertandingan dan perlombaan, jauh mengungguli peringkat kedua SMPN 5 Bajawa dengan perolehan 3 medali emas dan di urutan ketiga ditempati SMPN 2 Bajawa dan SMPK Regina Pacis Bajawa yang sama-sama memperoleh 2 medali emas.

Sekolah di ibu kota kabupaten Ngada ini berhasil meraih 8 emas dari 17 cabang pertandingan dan perlombaan, masing-masing: sepak bola, tenis meja tunggal putra, futsal putri, atletik 100 meter putri, ains IPA, sains Matematika, pidato bahasa Inggris, dan vokal group.
 
Keluarga besar SMPN 1 Bajawa dalam ekspresi kegembiraan atas kemenangan dengan meraih medali terbanyak di ajang Porseni tingkat kecamatan Bajawa 2019
Sementara itu Kepala SMPN 1 Bajawa, Maria C. Imelda mengatakan bahwa, kesuksesan yang dicapai berkat kerja keras, usaha dan daya juang bapa dan ibu guru Spensa. "Sebagai  kepala sekolah saya bersyukur memimpin guru-guru yang punya semangat dalam membimbing dan melatih anak-anak. Dengan berbagai kecerdasan bakat dan minat anak dan kemudian diarahkan oleh bapa ibu guru sehingga anak-anak menemukan kemampuannya masing-masing", tutur Imelda.

Lery Gili, guru Spensa, pemimbing yang menyumbang dua medali emas mengatakan bahwa, dia mengapresiasi daya juang anak-anak bimbingnya. "Mereka luar biasa, mereka melakukan apa yang saya pesan dan mereka punya kemauan yang kuat untuk menjadi yang terbaik di cabangnya masing-masing antara lain di cabang Pidato Bahasa Inggris dan Tenis Meja Tunggal Putra,”  ungkap Lery.

Di bagian lain, ketua OSIS SMPN 1 Bajawa, yang juga sebagai ketua Kontingen Spensa dalam PORSENI 2019, Fransiska Meysca Soli tidak mampu menyembunyikan rasa haru dan bangga. Sebagai ketua kontingen dan ketua OSIS ia bersyukur di masa jabatannya anak-anak Spensa mampu mempertahankan predikat sebagi juara umum PORSENI se-Kecamatan Bajawa.
 
Steven ,peraih medali emas Pidato Bahasa Inggris dan Affan, peraih emas Cabang Tenis Meja Tunggal Putra bersama pendamping Pa Lery Gili.
"Saya bangga berada di Spensa, di antara teman-teman yang memiliki daya juang yang tinggi, dengan berbagai talenta mereka berusaha untuk menjadi yang terbaik, dan saya terharu atas prestasi kami ini, ungkap Meysca.

Lebih lanjut ia berharap agar anak-anak Spensa harus mampu mempertahankan prestasi ini.***

(Ignasius Sabinus Satu, Guru di SMPN 1 Bajawa)

Meysca Soli peraih emas Cabang Akademik IPA, bersama kedua pendampingnya Sil Lolak dan Marsel Kiku.

Ibu Maria C. Imelda bersama siswa siswi Spensa.


Baca Lengkap
Vigonews

Seruput Kopi AFB untuk Selamatkan Ozon



BAJAWA - Pemerintah Kabupaten Ngada melalui Dinas Pertanian menggelar kegiatan edukasi dan aksi memperingati hari ozon, hari Tani dan hari Kopi di desa Sadha, Kecamatan Golewa Selatan, Rabu (16/10/2019).

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Ngada menambah mata rantai kegiatan kampanye dalam berbagai cara dan aksi guna menuju Ngada yang hijau, bersih dan organik. Strategi itu menjadi kiat guna mewujudkan  daerah ini yang ramah lingkungan – daerah  yang selalu hijau, bersih/sehat  dan organik. Menuju ngada yang hijau, sehat dan menghasilkan produk pertanian organik – dengan mengusung tag line 3G alias Go Green, Go Clean & Go Organik.

Dinas Pertanian Kabupaten Ngada-lah yang terus berupaya mengimplementasikan visi besar ini. Berbagai terbosan dilakukan, termasuk melalui kegiatan kampanye yang bertujuan mengedukasi dan menggerakkan masyarakat menuju visi mulia itu.

Melalui berbagai komunitas masyarakat petani diberikan edukasi sekaligus mengajak mengimplementasi visi tersebut dengan membuat demplot seperti kawasan pertanian organik baik lahan sawah maupun hortikultura. Memberi edukasi masyarakat sekaligus mengajak membuat unit pengelola pupuk organik berbasis peternakan – teknik biogas dengan menghasilkan biosluri (pupuk organik) yang bisa digunakan petani untuk pertanian guna mengurangi penggunaan pupuk kimia dan pestisida berbahaya yang sudah tak ramah lingkungan.
 
Aksi peringatan hari ozon, hari tani dan hari kopi di desa Sadha melibatkan  siswa dan generasi muda dengan mengobarkan semangat merah putih
Gawe besar ini menggandeng berbagai pemangku kepentingan, yaitu: jajaran Dinas Pertanian Kabupaten Ngada sendiri;  Bank BNI Bajawa; TNI Kodim 1625 Ngada; jajaran kecamatan Golewa Selatan; jajaran Yayasan Puge Figo (YPF); tim Konsultan Suluh Lingkungan; Pastor Paroki St. Yosep Laja dan umat setempat, para Petani yang tergabung dalam 9 P3A, tokoh masyarakat dan siswa SMPK St. Hubertus Laja.

Mewakili Bupati Ngada, Sekda Ngada  Tedy Nono membuka kegiatan peringatan hari ozon tersebut. Selain dialog,  berbagai kegiatan dilakukan untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya  kelestarian lingkungan untuk melindungi ozon dari kerusakan, di antaranya: penanaman pohon jabon di lokasi mata air; pelepasan bibit  ikan dan katak di kolam sebagai upaya mengembalikan ekosistem yang punah, gerakan pengendalian hama penyakit dengan pestisida nabati  pada tanaman padi; serta penanaman refugia (bunga matahari) di sekitar lokasi persawahan P3A Waelebo sebagai penakar hama walang sangit - yang merupakan lokasi inisiasi baru pengembangan kawasan padi organik.

Gelar  minum kopi AFB bersama menandai rangkaian kegiatan yang juga memperingati  hari kopi. Seruput kopi pada kegiatan ini mengiringi diskusi dan sering tentang berbagai isu lingkungan yang belakangan menjadi perhatian publik.

Budayakan Ramah Lingkungan

Sekda Ngada Tedy Nono pada kesempatan itu mengatakan, bahwa Ngada saat ini sedang berupaya melakukan pengendalian penggunaan bahan kimia perusak lingkungan yang tentu saja akan berdampak pada rusaknya lapisan ozon. Menurut dia,  dengan menggunakan sistem pertanian/perkebunan yang ramah lingkungan melalui aksi Go Green, Go Clean dan Go Organik  maka akan memperkecil penipisan ozon. Penggunaan Pupuk kimia dan pestisida berlebihan, diingatkan Tedy Nono,   akan  berdampak pada menipisnya lapisan ozon.
 
Menjaga lingkungan agar tetap lestari
Berkaitan dengan hari Ozon, hari Tani dan hari Kopi sedunia, diharapkan seluruh masayarakat Desa Sadha dan masyarakat Ngada pada umumnya diingatkan mulai membudayakan penggunaan pupuk organik – langkah pertanian ramah lingkungan - agar manusia sehat dan ozon tetap terjaga.

Terkait dengan momentum hari kopi, kata Tedy Nono, Ngada punya komoditi kopi arabika yang kini sudah digandrungi masyarakat luas baik dalam maupun manca negara. Kopi Arabica Flores Bajawa (AFB) tengah menjadi perbincangan di mata dunia karena memiliki cita rasa tersendiri. Untuk itu diharapkan  kepada petani tetap menjaga mutu dan kualitas kopi Arabica Flores Bajawa (AFB) Sehingga semakin dikenal dimata dunia. Kegiatan ini sekaligus ajang memasyarakatkan kopi AFB di tempat asalnya, sehingga tidak hanya disukai di luar Ngada, tetapi sebaliknya disukai juga di tengah masyarakatnya.

Edukasi dan Aksi

Sementara Kadis Pertanian Kabupaten Ngada, Paskalis W. Bai, selaku penanggung jawab kegiatan ini mengatakan, hari ozon, hari tani dan hari kopi yang diperingati Ngada secara bersamaan di desa Sadha tahun ini harus menjadi momentum yang mengingatkan semua masyarakat akan pentingnya tiga hal itu bagi kehidupan manusia yang saat ini tengah berada dalam keprihatinan karena kerusakan lingkungan dan menipisnya lapisan ozon.
 
Melepas benih ikan dan katak, mengembalikan ekosistem yang nyaris punah
Dikatakan Paskalis, kegiatan ini sebagai bentuk edukasi yang perlu disosialisasikan kepada semua orang  bahwa pentingnya lapisan ozon bagi kehidupan generasi penerus di bumi. Karena itu perlu peran aktif semua pihak dalam  menjaga lingkungan khususnya melalui penggunaan produk yang ramah Lingkungan. “Rusaknya lapisan ozon berisiko menurunnya kekebalan tubuh, dan kanker kulit pada tubuh manusia akibat radiasi sinar ultra violet-B yang tidak terkena lapisan ozon,” beber Kadis Pertanian Paskalis W. Bai.

Pada laporannya, Paskalis menegaskan, peringatan hari ozon, hari tani dan hari kopi di kabupaten Ngada bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pentingnya menjaga ozon, pentingnya pengembangan sektor pertanian yang ramah lingkungan dan pengembangan kopi yang bermutu.

Hari ozon yang diperingati setiap tanggal 16 September,  merupakan hasil kesepakatan 188 negara pada tahun 1987 di Montreal. Pertemuan diprakarsa bidang lingkungan di lembaga PBB, guna mengingatkan penduduk dunia tentang penipisan lapisan ozon yang memberi dampak buruk bagi bumi.

Sementara hari tani diperingati setiap tanggal 24 september dan tanggal 1 Oktober adalah hari kopi. Peringatan hari tani setiap tanggal 24 September, dimana pada tanggal itu sebagi momentum disahkannya UU No 5 tahun 1960 tentang peraturan dasar pokok agraria oleh presiden RI Soekarno, yang memberi arti penting bagi petani dan hak kepemilikan atas tanah serta sebagai kepedulian negara atas petani mulai diwujudkan.
 
Tebar refugia di sekitar persawahan guna mencegah hama walang sangit
Sementara hari kopi yang jatuh pada tangga 1 Oktober merupakan perayaan akan kenikmatan minum kopi, sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap petani kopi. Diperingati pertama kali 1 Oktober 2015 oleh organisasi kopi internasional di Milan. Saat itu pertama kali dilakukan kampanye tentang perdagangan kopi yang adil serta kesejahteraan petani kopi.

Hari tani, awalnya sebagai perayaan kebangkitan petani, namun kini dilupakan, bahkan petani cendrung dianggap sebagai gollongan kurang mampu, pekerjaan tani dianggap berat, penghasilannya kecil. Tidak heran tak banyak generasi muda yang memilih profesi ini.

Guna mengedukasi dan mengembalikan kesadaran masyarakat terkait pentingnya menjaga ozon, keberlanjutan pertanian, dinas pertanian memanfaatkan momentum peringatan hari ozon, hari tani dan hari kopi, dengan mengangkat tema: “Selamatkan Ozon Melalui Pertanian Ramah Lingkungan Menuju Ngada Go Green, Go Clean, dan Go organik, dalam Nikmatnya Kopi AFB kita lihat masa depan Ngada, Bangga menjadi Petani dan Bertani itu Keren.”

Tujuan kegiatan ini, meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang ozon dan pertanian yang ramah lingkungan serta menjadikan AFB sebagai produk andalan; meningkatkan kesadaran masyarakat agar mau melaksanakan kegiatan dalam rangka menjaga lapisan ozon; meningkatkan kesadaran masyarakat terutama generasi muda agar kembali memilih profesi petani sebagai profesi yang menjanjikan dan bangga menjadi petani; serta berupaya memasyarakatkan AFB kepada masyarakat  sebagai produk kebanggaan lokal Ngada yang membawa manfaat ekonomi.

Kegiatan yang dilakukan adalah diskusi tentang ozon, pertanian ramah lingkungan dan kopi AFB; tracking dan sanitasi lingkungan dari bahan yang menyebabkan kerusakan lingkungan pertanian dan lapisan ozon;  penyebaran benih ikan dan katak di kali guna mengembalikan ekosistem yang hilang; dan pengembangan pertanian ramah lingkungan (peninjauan sawah organik). Memasyarakatkan kopi AFB yang ditandai dengan aksi minum kopi bareng; penghijauan yang ditandai dengan penanaman pohon pada lokasi mata air. (Polly)***

Baca Lengkap
Vigonews

Ini Yang Membuat Manusia Berubah Hebat dan Maju Hebat



DENPASAR, vigonews.com - Sekolah Tinggi Manajemen Informatika & Komputer STIMIK STIKOM Indonesia, Kamis (16/10/2019) mewisuda 238 sarjana, bertempat di Hotel The Westin Resort Nusa Dua Bali.

Prosesi wisuda sarjana berlangsung diawali Sidang Senat Terbuka yang dibuka oleh Ketua STIMIK STIKOM Indonesia I Dewa Made Krishna Muku, ST, MT.

Para sarjana bergelar S.Kom (Sarjana Komputer) itu berasal dari jurusan Sistem Komputer, Teknik Informatika, TI-Disain Grafis dan Multi Media, serta TI-Komputer Akutansi dan Bisnis.

Ketua STIMIK STIKOM Indonesia, I Dewa Made Krishna Muku, ST, MT dalam sambutannya menegaskan, tantangan dan persaingan ke depan luar biasa. Karena itu kelulusan bukan akhir perjuangan tetapi awal memasuki 'dunia baru'.

Selama di kampus, kata Krishna Muku, Anda sudah dibekali dengan keilmuan dan sikap mental  entrepreneur yang sudah dibentuk agar mampu menghadapi tantangan dan perubahan. Namun, harus dipahami bahwa 30 persen harus belajar di dunia nyata, atau dunia kerja.

"Jadi setelah wisuda, tolong segera bekerja. Jangan memilih kerja itu besar atau kecil, sesuai atau tidak, yang penting anda kerja dulu." Pinta Krishna Muku di hadapan ratusan wisudawan.

Berubah Hebat

Sementara Ketua Yayasan  Wahana Widya Wisesa, Mr. Santoso kepada para wisudawan  memberi gambaran tentang perubahan yang serba cepat di era revolusi industri 4.0.  

Dalam menghadapi perubahan yang dahsyat itu, kata Mr. Santoso tidak terhindarkan, kecuali ikut bermain di dalamnya. Jika tidak, maka akan tertinggal.

Untuk menghadapi perubahan itu, kata dia, harus memiliki budaya belajar. "Semangat belajar kunci kita mau maju. Kalau enggan belajar dan enggan lakukan perubahan maka kita akan ditinggal," beber Mr. Santoso.

Perjalanan kalian ke depan, kata Mr. Santoso kepada para wisudawan, sungguh menarik. Karena di depan kita perubahan sedang hebat-hebatnya. Pekerjaan berubah, dan cara hidup berubah pula.

Dalam mengatasi perubahan hanya melalui jalan pendidikan, dengan terus belajar. Melalui pendidikan akan angkat derajat dan siap menyongsong perubahan. Menuju perubahan - titik baliknya pendidikan, karena pendidikan akan mengubah pola pikir sehingga siap menerima sesuatu yang baru. 

Dia mencontohkan dalam bertani juga harus ada perubahan pola pikir. Melalui pendidikan (belajar) bertani dapat menggunakan teknologi tinggi sehingga menghasilkan lebih baik. Jadi melalui pendidikan (belajar) membuat manusia  berubah hebat dan maju hebat.

Harus Berani

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VIII (Bali, NTB & NTT) Prof. Dr. Dasi Astawa pada kesempatan itu menegaskan kepada para wisudawan, "Anda harus berani memulai dengan apa yang anda miliki."

Dasi Astawa sempat memberi motivasi kepada para wisudawan dengan pantun-pantun spontan. Antara lain: "Kalau sudah makan buah tomat jangan makan buah anggur - kalau sudah tamat jangan terus menganggur."

Tanpa keberanian, lanjut Dasi Astawa, apapun yang anda miliki tidak ada manfaatnya. Dan, tanpa memulai tidak ada perubahan.

Kepada lembaga STIMIK STIKOM Indonesia Dasi Astawa berharap terus menjadi wahana dalam mendidik generasi muda bangsa sehingga mampu bersaing di tengah perubahan. Wahana untuk mendidik anak muda kreatif dan inovatif.

Literasi

Sementata I Nyoman Jayanegara, S.Sn, M.Sn dalam orasi Ilmiah berjudul: Disrupsi Desain Komunikasi Visual dan Revolusi Induatri 4.0, juga menyinggung kiat menghadapi perubahan.

Di akhir orasi singkatnya, Jayanegara mengatakan untuk menghadapi perubahan drasti dewasa ini perlu disokong dengan budaya berliterasi. Dia menilai budaya baca masyarakat  kita sangat lemah, kecuali update status. 

Dia menekankan pentingnya literasi digital (kemampuan menganalisa dan menggunakan informasi di dunia digital);  literasi teknologi ( kemampuan menggunakan aplikaai teknologi) dan digital manusia (kemampuan berkomunikasi dan penggunaan ilmu). (edw)***

Baca Lengkap
Vigonews

Kampanye Massal Germas di Ngada Diisi Demo Cuci Tangan dan Makan Buah




BAJAWA - Dinas Kesehatan Kabupaten Ngada bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi NTT, menggelar kampanye massal Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), Senin (14/10/2019) di Bajawa, Ibu Kota Kabupaten Ngada. Kampanye Germas tahun ini sekaligus sebagai pengingat bagi masyarakat dalam upaya mencegah dan menanggulangi stunting.

Kampanye masal Germas tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan di Lapangan Kartini Bajawa bersamaan dengan pelaksanaan Pameran Pembangunan tahun 2019. Bupati Ngada Paulus Soliwoa menandai kegiatan ini dengan melepas parade kampanye massal Germas  -- Gerak Jalan Sehat dari pendopo Kantor Bupati Ngada.

Gerak jalan serangkaian kampanye massal Germas dimeriahkan dengan dentuman drumband SMAPN 2 Bajawa melewati jalan-jalan protokol kota Bajawa, mengiringi gerak langkah para peserta dari berbagai sekolah dan instasi pemerintah, yang melibatkan siswa SD, SMP,SMA/SMK, karyawan BUMN/BUMND, PKK, Bayangkari, Persit, Puskesmas Kota dan Surisina, Camat, Lurah, TNI/POLRI serta unsur SKPD dan badan.
 
Membudayakan hidup sehat dengan selalu mencuci tangan
Masuk di lapangan Kartini Bajawa, peserta mengikuti senam yang dipandu oleh komunitas Zumba van Bajawa. Selanjutnya demo cuci tangan pakai sabun, atraksi tarian Flobamora, cara makan buah bersama, makan pangan lokal bersama, kampanye Germas dan berbagai acara selingan  yang disiapkan untuk meriahkan kegiatan ini.

Kerja Keras

Bupati Ngada Paulus Soliwoa dalam sambutannya yang disampaikan oleh Sekda Ngada  Theodosius Yosefus Nono, mengatakan Pemda Ngada menyadari bahwa kesehatan menjadi investasi jangka panjang. Karena itu menurut Bupati Soliwoa, kegiatan ini  menjadi langkah strategis sebagai upaya promotif preventif oleh semua stakeholder. “Kegiatan ini harus terus menerus dilakukan dengan melibatkan semua komponen pembangunan,” tegasnya.

Dikatakannya,  melalui kampanye Germas ini diharapkan lahirnya gerakan masyarakat sebagai upaya percepatan pembangunan kesehatan masyarakat  Ngada. Dia berharap kepada seluruh komunitas masyarakat untuk terus tingkatkan kinerja di bidang kesehatan.

Pesan Bupati Soliwoa kepada peserta gerak jalan agar menjadi agen perubahan dalam menumbuhkan budaya hidup sehat. Kesehatan harus menjadi gaya dan kebutuhan hidup, karena kesehatan sebagai investasi.
 
Senam massal menandai kegiatan kampanye massal Germas di Bajawa
“Kita masih harus bekerja keras, dan tuntas, dimana  perilaku bersih dan sehat harus dimasyarakatkan sebagai budaya masyarakat Indonesia, sebagai budaya yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,”  Kata Bupati Soliwoa mengingatkan.

Perilaku hidup sehat, tambahnya, juga sebagai langkah strategis dalam memerangi  stunting, termasuk senantiasa mengonsumsi  buah dan sayur.

Bupati memberi apresiasi kepada Dinkes NTT dan Ngada yang telah menggagas kegiatan ini,dan ke depan perlu terus dilakukan agar menumbuhkan pola hidup sehat bagi masyarakat Ngada.

Segera

Sementara Ketua Panitia Kampanye Massal Germas I Made Sumiartha, SKM, MPH dalam laporannya mengatakan aksi promotif dan preventif merupakan upaya efektif dalam mencegah meningkatnya kematian dan  kesakitan akibat penyakit baik menular maupun tidak menular. Mengingat upaya pencegahan penyakit akan sangat tergantung pada perilaku individu yang didukung oleh kualitas lingkungan, ketersediaan sarana dan prasarana serta dukungan regulasi untuk hidup sehat, diperlukan keterlibatan aktif seluruh komponen, baik pemerintah pusat dan daerah, maupun sektor non pemerintah dan masyarakar.

Gerakan masyarakat hidup sehat, kata Sumiartha, pada dasarnya merupakan sesuatu yang sifatnya harus disegerakan karena terkait pada manfaat dan urgensinya untuk menyelesaikan maslah-masalah yang ada, khususnya terkait masalah stunting.
 
Gerak jalan pada kampanye massal Germas diikuti para siswa
Germas sendiri, kata dia, dinilai mampu menjadi solusi terhadap beban ganda penyakit di Indonesia, khususnya penyakit tidak menular (PtM). Akselerasi Germas menjadi penting ketika masyarakat ikut andil terlibat mewujudkan dengan rajin berolahraga, cek kesehatan secara rutin dan makan buah setiap hari. Keterlibatan lintas sektor akan memperbaiki sistem pelaksanaan baik dari aspek perencanaan, penganggaran, pelaksanaan maupun evaluasi.

Kampanye massal Germas, kata Sumiartha bertujuan untuk mencegah dan menanggulangi stunting di kabupaten Ngada; masyarakat dapat menerima dan mengimplementasikan pesan-pesan Germas: stunting dan dampaknya, pola hidup bersih dan sehat, lingkungan sehat, gizi seimbang; dan terciptanya partisipasi masyarakat dalam upaya mencegah dan menanggulangi stunting. Hasil yang diharapkan masyarakat memiliki pengetahuan tentang stunting dan dampaknya, pola hidup bersih dan sehat, lingkungan sehat, gizi seimbang. (edw)***

Baca Lengkap
Vigonews

Masyarakat Adat Tajo Gelar Ritual Berburu Ekologis



KURUBHOKO – Alam dan Lingkungan  di Kecamatan Wolomeze, termasuk di dalamnya Desa Nginamanu kini mengalami kerusakan berat. Ini akibat kebakaran hutan yang menyertai kegiatan berburu berkedok adat, pembalakan liar, dan penggunaan racun untuk menangkap isi sungai setiap tahun. Lahan sejauh mata memandang sudah gundul dan menyuguhkan warna hitam legam pada musim kemarau. Hal ini membuat komunitas masyarakat adat Tajo di Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze terenyuh.

Masyarakat di Desa ini seperti sudah jenuh, karena kawasannya ‘dijarah’ setiap tahun oleh warga tetangga di musim yang konon berburu adat. Anehnya tindakan mereka tak menunjukkan sikap arif sebagai masyarakat beradat. Karena disertai tindakan merusak. Ketika gunung dan lembah sudah gundul, lahan kebun, tanaman warga di desa ini pun jadi korban aksi tak manusiwi. Bahkan pondok petani dan pagar kebun ikut dibakar.

Sejumlah hamparan yang terluput dari kebakaran sebelumnya, justru dibakar lagi begitu saja ketika beratus-ratus orang dengan tombak, parang dan anjing berburu menyerbu setiap lembah dan gunung hanya gara-gara sepotong daging. Sejak awal Oktober asap mengepul di banyak titik di desa ini dan desa-desa tetangga kecamatan ini. Masyarakat setempat pun pasrah bahwa para ‘algojo’ itu sudah menyerbu karena bulan oktober adalah bulan untuk beraksi atas nama adat meski ciptaan Allah dijarah habis-habisan.

Anehnya meski berkali-kali mereka datang, sertiap tahun mereka turun, tak banyak hasil buruan yang bisa dibawa pulang. Warga desa sasaran ini hanya tersenyum getir, karena memang binatang buruan sudah punah. Tidak ada lagi di sana. Hutan yang adalah habitat mereka saja sudah gundul. Kalau toh ada yang bisa dibawa pulang disinyalir  hewan peliharaan warga desa ini yang jadi korban kebringasan anjing pemburu.


Prihatin dengan aksi berburu membabi buta yang merusak lahan warga yang berkedok berburu adat itu, komunitas masyarakat adat Tajo di Desa Nginamanu, Sabtu (05/10/2019) melakukan ritual ‘pepu’ -- berburu yang ekologis. Seperti biasa, warga adat melakukan prosesi dari kampung menuju ,loka, tempat ritual. Uniknya, warga adat selain membawa perlengkapan berburu mereka juga membawa anakan pohon, sebagai bentuk keprihatinan mereka pada alam yang sudah gundul.

Prosesi ritual ‘pepu’ dipimpin oleh pemangku adat kampung ini, Andreas Watu dan Silvester Leo. Menyertai mereka sekitar 30 orang warga adat termasuk orang muda dan perempuan. Di ‘loka’ luar kampung warga adat mengelilingi ‘pike’ – kotak batu tempat ritual adat.

Dua pemangku adat kampung ini menandai ritual ‘pepu’ dengan ‘pau manu’ – potong ayam secara adat – yang kemudian darahnya diperciki di loka. Sebagai keprihatinan terhadap kerusakan lingkungan, warga adat membawa serta anakan pohon ke ‘loka’ sebagai persembahan sekaligus minta restu leluhur agar gerakan berburu yang ekologis – melalui tanam pohon – dapat berhasil.   Darah ayam sebagai simbol penyucian juga diburati pada peralatan berburu dan anakan pohon.

Selanjutnya warga adat yang mengelilingi ‘loka’ memberi makan kepada leluhur. Usai ritual adat sebagai keprihatinan pada masalah ekologi, Pemangku adat kampung Tajo Andreas Watu dan Silvester Leo menerima anak pohon secara simbolis dari Ketua Yayasan Puge Figo (YPF) Emanuel Djomba. Kemudian anakan pohon secara simbolis ditanam di sekitar ‘loka’. Ini pesan bahwa anakan pohon yang sudah ditanam diloka menjadi tanda dimulainya gerakan menanam pohon dari lingkungan sendiri. Kegiatan ini juga sebagai tanda bahwa sebentar lagi segera memasuki musim hujan sesuai perhitungan bulan adat – dimana kegiatan bercocok tanam warga adat sudah akan dimulai lagi.

Pada kesempatan itu salah seorang pemangku adat kampung Tajo, Silvester Leo, mengatakan berburu menjadi bagian dari budaya. Hanya pihaknya melihat ada pemahaman yang berbeda. Itu karena selama ini banyak kegiatan berburu yang malah merusak alam dan berburu secara membabi buta terhadap binatang buruan.
 
Ritual 'Pepu' - berburu adat yang ekologis
Berburu bagi kami, kata silvester tidak boleh merusak. Apalagi sekarang ini lingkungan alam kita sudah rusak, jadi kita harus mengembalikan hutan yang sudah gundul, sehingga kalau sudah ada hutan pasti binatang itu datang lagi tinggal di sana. “Sekarang ini, kata dia lagi, binatang sudah tidak ada lagi. Kita mau berburu apa. Mau dapat apa lagi,” tanya Silvester.

Silvester mengajak masyarakat adat agar tetap menjalankan tradisi tetapi tidak boleh merusak. Kepada warga tetangga dia minta supaya tidak merusak. Jalankan adat dan budaya dengan baik supaya hidup ini jadi baik.

‘Pepu’

Sementara tokoh adat lainnya saat  mengikuti ritual ‘pepu’ Laurensius Nende, mengatakan ‘pepu’ jangan disalah artikan. Menurut dia, secara adat budaya di Nginamanu (Tanawolo), sejak dahulu ‘pepu’ atau ‘pipi’ – ‘pipilindi’ mengandung makna menjaga, merawat, dan melestarikan. Karena itu pesan di ‘loka’ melalui ‘pepu’ sebelum berburu bahwa berburu harus ramah terhadap lingkungan.

Dalam adat budaya Nginamanu (Tanawolo) kata Laurensius, setiap kawasan hutan (witu dalam bahasa setempat) ada yang punya atau yang menjaga, atau dalam bahasa lokal Tanawolo ‘mori witu’. Dari semua kawasan di Nginamanu raya ada penjaga (pengasuhnya). ‘Mori witu’ yang megatur dan mengajak warga adat agar menjaga ‘witu-nya’ agar tetap lestari. Saat berburu ambil seperlunya saja, jangan menguras habis. Ambil sesuai kebutuhan saja.
 
Penanaman anakan pohon oleh tua adat sebagai dukungan berburu secara ekologis
Karena itu, menurut Laurens, jika hari ini masyarakat adat Tajo melakukan ritual ‘pepu’ – berburu secara ekologis – sebenarnya bukan hal baru, karena sebenarnya pemaknaan ‘pepu’ memang demikian. “Ini ‘pepu’ menurut budaya kita, dan kita tidak bicara menurut orang di tempat lain,” kata Laurensius.

Sementara Ketua YPF, Emanuel Djomba yang juga hadir pada ritual ‘pepu’ memberi apresiasi kepada masyarakat adat Tajo yang peduli dengan masalah lingkungan. Ternyata budaya berburu, kata dia, sesuai dengan semangat kearifan lokal yang diwariskan oleh leluhur. Misalnya dalam bahasa lokal ada ungkapan yang menunjukkan tindakan melestarikan lingkungan dan konservasi air, yakni: “Wasi ri’a mata wae, ana nitu mai mole, bahwa senantiasalah merawat mata air – dengan menjaga hutan – agar air pemilik kehidupan terus mengalir.

Pelestarian

Sebagai yayasan yang bergerak dalam bidang pelestarian lingkungan – konservasi, pemberdayaan dan edukasi ekologi, pihaknya menilai budaya berburu yang ekologis sangat positif guna mengembalikan alam yang sudah rusak parah. Karena itu dia minta perhatian semua pihak agar berburu dengan cara mengeksploitasi alam dihentikan karena banyak spesies binatang yang punah saat ini, yang artinya sudah merusak ekosistem. Jika tidak, maka kondisi alam kita ke depan akan semakin parah dan ini awal bencana bagi manusia di muka bumi ini.

Untuk kegiatan pelestarian lingkungan, kata Emanuel, pihak YPF menjalin kerja sama yang positif dengan pihak mana saja, seperti dengan komunitas masyarakat adat, karena melalui adat ada karifan lokal yang diwariskan leluhur dalam menjaga kesinambungan.
 
Penyerahan anakan pohon kepada tua adat
Kerja sama YPF juga terjalin dengan lembaga pendidikan dalam mengembangakan pendidikan ekologi,  pendampingan petani dalam rangka pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan dan memberdayakan petani mengembangkan tanaman aromatik yang bernilai ekonomis.

Terkait dengan kerusakan alam terutama yang diakibatkan tindakan manusia membakar hutan juga menarik perhatian Bupati Ngada Paulus Soliwoa. Beberapa waktu lalu Bupati Soliwoa turun langsung bersama aparat memadamkan api ketika terjadi kebakaran di obyek wisata Wolobobo, dan dia minta kepada pihak kepolisian untuk mengusut tuntas.

Menjawab media suatu kesempatan, Bupati Soliwoa minta masyarakat agar menjaga alam bagi kehidupan. Upaya yang dilakukan, kembali kepada kearifan lokal yang diwariskan leluhur dalam menjaga alam agar tetap lestari demi keseimbangan dan kesinambungan kehiupan.(edw)***

Baca Lengkap