Vigonews

Pembangunan Drainase di Nangamese Dinilai Menyimpang, Anggota DPRD Ngada Bosko Ponong Minta Inspektorat Segera Audit



Di sela-sela reses, anggota DPRD Ngada, Yohanes Don Bosko Ponong meninjau pengerjaan drainase di kelurahan Nangamese, setelah menerima keluhan warga karena diduga ada penyimpangan -- 

RIUNG - Di tengah kewaspadaan terhadap pandemi covid 19, anggota DPRD Ngada tetap menggelar reses. Namun, dalam reses ini, para anggota dewan tidak mengumpulkan warga dalam jumlah banyak. Malah ada yang melaksanakan reses dengan mendatangi warga dari rumah ke rumah. Hal ini sebagai bentuk kepedulian para wakil rakyat guna mengantisipasi penyebaran Covid-19.

Salah seorang anggota DPRD Ngada, Yohanes Don Bosko Ponong menggelar reses terbatas, Rabu (20/03/2020) di Desa Persiapan Kota Raja, Kelurahan Benteng Tengah, Kecamatan Riung. Masyarakat yang hadir terbatas jumlahnya, dengan protokol kesehatan yang ketat. Sejumlah warga yang datang diwajibkan mengenakan masker, mencuci tangan, dan tetap menjaga jarak antar satu dengan yang lainnya.

Meski dalam suasana seperti itu, wakil rakyat  tetap melaksanakan tugas kedewanan, setelah jeda masa sidang. Tujuannya agar dapat menyerap aspirasi dan memberikan pertanggungjawaban secara moral dan politis kepada konstituen di daerah pemilihan masing-masing, sebagai perwujudan perwakilan rakyat dalam pemerintahan.

Don Bosko Ponong sempat mengingatkan warga agar selalu menjaga kesehatan dan mengikuti arahan pemerintah selama pandemi covid 19. Terkait dengan itu, reses pun disesuaikan dengan situasi kondisi saat ini. Terkait dengan pandemi covid 19, Don Bosko menyampaikan bahwa, biaya reses dapat digunakan untuk membeli sembako kepada warga masyarakat.

Sebelum menyerahkan bantuan yang dialokasikan dari dana reses, Don Bosko menyampaikan bahwa, dana reses kali ini mengalami kenaikan  Rp 3.435.000 dari sebelumnya Rp 18.000.000 per sekali reses. “Jadi total dana Reses kali ini sebesar Rp. 21.435.000,” urai Bosko.

Dana sebesar itu, Bosko lanjut merincikan bahwa penggunaan antara lain untuk sewa gedung Rp 1.395. 000, konsumsi Rp 6.050.000, dan transportasi untuk 100 orang Rp 15.000.000. “Pada reses ini saya juga menyampaikan serapan APBD tahun 2020 ke wilayah kecamatan Riung, dan Pokir (pokok pikiran) anggota dewan yang sudah diinput dalam Renja perangkat Daerah.

Setelah menerima bantuan dari dana reses, Dedy Makmur  memberi apresiasi atas reses yang dilaksanakan di Desa Persiapan Kota Raja. Atas nama warga yang hadir, Dedy juga memberi apresiasi karena anggota dewan terbuka soal dana reses. Apalagi reses ini dilaksanakan di tengah situasi pandemi covid 19 sehingga bisa digunakan untuk membeli sembako bagi warga.

Pantau pembangunan drainase

Pada reses tersebut warga menyampaikan aspirasi mereka, di antaranya yang perlu mendapat perhatian adalah dermaga terapung pariwisata yang sudah tidak berfungsi dengan baik, pembangunan drainase di Kelurahan Nangamese yang dinilai menyimpang karena tidak disertai dengan papan tender, dan meninjau MTs Al Hikmah Riung yang kondisinya rusak.
 
Don Bosko Ponong meninjau dermaga terapung di pelabuhan pariwisata 17 pulau Riung
Pembangunan drainase di Nagarembo tidak dilengkapi dengan papan  nama proyek, sehingga warga tidak tahu berapa nilai pengerjaan drainase di kawasan sekitar pelabuhan terapung itu. Keluhan itu disampaikan Zulkifli saat reses  anggota dewan yang setelah itu dilanjutkan dengan peninjauan ke lokasi pengerjaan drainase.

Tiba dilokasi anggota dewan yang juga juru bicara Fraksi PAN DPRD Ngada, Don Bosko Ponong menyaksikan sendiri drainase yang telah dikerjakan namun salah satu sisinya lebih rendah dari sisi yang lainnya (tidak sama tinggi). Dia juga sempat mencari-cari papan proyek, tetapi tidak ditemukan. Informasi dari warga setempat bahwa, pengerjaan dengan dana kelurahan yang mestinya melibatkan warga melalui padat karya, justru yang ini dikerjakan oleh tukang dari luar. Prosesnya hingga pengerjaan tidak melibatkan masyarakat.

Don Bosko juga meninjau dermaga terapung di pelabuhan pariwisata 17 pulau, didampingi tokoh masyarakat, di antaranya Thamrin dan sejumlah tokoh lainnya. Setelah dicermati dari dekat dermaga terapung sudah rusak parah dan tidak layak untuk digunakan lagi. Kalau dipaksanakan bisa membahayakan para wisatawan yang akan mengunjungi 17 pulau Riung.

Setelah itu bersama Kepala MTs  Al Hikmah, Thamrin, Don Bosko meninjau MTs Al Hikmah yang beberapa bagian gedung – seperti lantai, dinding dan plafon – sudah  mengalami kerusakan dan ada ruangan yang sudah dibangun namun belum selesai hingga saat ini. Kondisi sekolah yang memprihatinkan itu memang perlu perhatian dari pemerintah.

Sarat Penyimpangan

Yohanes Don Bosko Ponong yang juga pimpinan Komisi I DPRD Ngada membidangi hukum dan pemerintahan mengatakan, idealnya semua pembangunan yang terjadi di kelurahan mesti dimusyawarakan bersama masyarakat di wilayah kelurahan tersebut. Dia menambahkan bahwa, ketika pembangunan yang direalisasikan itu merupakan kesepakatan bersama dengan semua masyarakat maka, peran pengawasan sipil masyarakat akan berjalan sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan agar ditemukan solusi.
 
Beberapa bagian bangunan MTs Al Hikmah Riung, rusak.
Bosko menduga kuat bahwa pelaksanaan program pembangunan drainase di wilayah kelurahan Nangamese itu syarat penyimpanan karena tidak ada timbunan tanah disekitar bahu drainase, dan drainase dikerjakan lebih rendah dari badan jalan, tidak dilengkapi dengan papan proyek. Mantan sekjend PMKRI cabang Ende juga merasa naif karena drainase yang dikerjakan dari dana kelurahan tanpa ada papan nama. Hal ini tentunya sudah melanggar undang-undang nomor 14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik.

Bosko melanjutkan, bahwa sesuai dengan Permendagri nomor 130 pasal 4, inspektorat bisa menggunakan pasal ini untuk melakukan audit terhadap pengerjaan drainase di kelurahan Nangamese. "Sebagai Pimpinan komisi I saya akan mendesak inspektorat agar segera melakukan audit terhadap segmen pengerjaan drainase di kelurahan Nangamese. Pengerjaan proyek dari dana Negara tanpa papan nama. Inikan ironis" tegas Bosko kecewa.(ch)***

Baca Lengkap
Vigonews

Dalam Sidang DPRD Ngada, Dewan Ini Minta Pemerintah Transparan Soal Penggunaan Dana Covid



BAJAWA - Anggota DPRD Ngada Periode 2019-2024 Yohanes Don Bosko Ponong minta Bupati Ngada agar transparan dalam penggunaan dana covid 19. Penegasan itu dikemukakannya saat rapat gabungan komisi di ruang paripurna DPRD Ngada, Jumat (26/05/2020).

Dalam rapat gabungan komisi bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) itu  minta Bupati Ngada dan seluruh jajaran eksekutif agar transparan dalam penggunaan dana COVID 19. Kepada Ketua TAPD Skretaris Daerah (Sekda) Ngada Yos T. Nono, wakil Ketua Komisi I DPRD Ngada ini menyampaikan bahwa berdasarkan kesepakatan bersama antar lembaga DPRD bersama Pemerintah, sudah dialokasikan 23 Miliard APBD Ngada untuk pencegahan dan penanggulangan virus corona.

"Untuk itu,  saya meminta kepada Sekda Ngada sebagai ketua TAPD untuk menjekaskan sedetail mungkin penggunaan dana tersebut,” tegas Bosko, panggilan akrab anggota dewan termuda ini.

Pada kesempatan itu, Bosko juga minta penjelasan rinci dari pemerintah terkait  realisasi bantuan bagi Mahasiswa Ngada yang ada diluar Kabupaten Ngada, dan paket sembako yang akan dibagikan kepada masyarakat Ngada yang terdampak COVID 19.

Di bagian lain, Bosko mengkritisi bahwa hingga saat ini belum ada variabel baku yang dikonstruksikan oleh pemerintah Kabupaten Ngada guna mengatur perihal siapa  saja yang layak mendapatkan bantuan dari pemerintah. Hal tersebut juga berkaitan dengan masalah klasik terkait vailiditas data.

“Makanya tidak heran kalau kemudian ada warga yang sebenarnya sudah meninggal, namun namanya masih tertera sebagai penerima BLT. Inikan ironis,” kritik anggota dewan dikenal kritis ini.

Menanggapi sejumlah pertanyaan, saran dan klasifikasi yang disampaikan oleh anggota dewan Yohanes Don Bosko Ponong,  Sekda Ngada Yos. TH. Nono menjelaskan bahwa, sampai dengan 28 Mei  2020 serapan APBD untuk COVID sudah mencapai Rp  7 Miliard dengan rincian masing-masing Dinas/Badan.

Dikatakan Sekda,  Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan dengan kegiatan pekerjaan jaringan air bersih, sanitasi dan sekuat ruangan pada bangunan Diklat untuk unit karantina COVID 19 sebesar Rp 706.500.000. Pekerjaan sanitasi, jaringan air bersih dan sekat ruangan pada ruang tata usaha RSUD Bajawa untuk unit karantina COVID 19 sebesar Rp 238.860.000. Dinas kesehatan dengan kegiatan penyediaan sarana dan prasarana pendukung rumah sakit darurat covid sebesar Rp 305.678.000.

Sementara, Dinas lingkungan hidup dengan kegiatan penyediaan sarana dan prasarana pendukung rumah sakit darurat Covid sebesar Rp 189.973.000. Untuk RSUD Bajawa dengan kegiatan pembangunan serta penyediaan sarana dan prasarana pendukung rumah sakit darurat Covid sebesar Rp 339.456.000. BPBD Kabupaten Ngada dengan kegiatan penyediaan sarana operasional pendukung Posko Gugus Tugas tanggap darurat Covid sebesar Rp 3.115.693.945.000.

Untuk kecamatan dengan kegiatan penyediaan sarana dan prasarana pendukung operasional Covid 19 melalui belanja langsung SKPD tahap 1 untuk 4 kecamatan dari 12 kecamatan yaitu sebesar Rp 283.784.000. Kecamatan yang ada kelurahan dengan program kegiatan yaitu penyediaan sarana dan prasarana pendukung operasional Covid 19 melalui belanja langsung untuk tingkat kelurahan yaitu sebesar Rp 1.097.489.500.  Dinas pendikan dengan kegiatan penyediaan bantuan sosial sebagai akibat dampak ekonomi sebesar Rp 967.000.000. "Jadi total dana COVID 19 yang digunakan sampai dengan hari ini sebesar Rp 7.544.434.445," jelas Sekda Ngada.

Sekda Yos. T Nono mengakui, bahwa data belum seratus persen sempurna, karena data para penerima masih menggunakan data Badan Pusat stastik (BPS) tahun 2015. "Sehingga benar kata  Pak Bosko bahwa ada penerima yang sudah meninggal namanya masih ada diaplikasi," demikian Sekda memberi klarifikasi

Pantauan awak media ini, rapat gabungan komisi tersebut dipimpin oleh ketua DPRD Ngada Bernadinus Dhey Ngebu, didampingi oleh dua wakil ketua DPRD Ngada Petrus Ngabi, Aloysius Soa dan dua puluh lima anggota DPRD Ngada. Semantara itu dari unsur eksekutif yang mendampingi ketua TAPD Sekda Ngada yaitu, Kepala Badan Keuangan Daerah Ngada Wilhelmus Petrus Bate, Kepala BP LITBANG Ngada Hilarius Sutanto, dan staf Badan Keuangan Daerah Ngada Trisno Hurint. (Ch)***

Baca Lengkap
Vigonews

PTK - Penggunaan Media Kartu Bilangan untuk Meningkatkan Pemahaman Siswa Tentang Nilai tempat dalam Pelajaran Matematika di Kelas II SDN Lanamai Tahun Pelajaran 2018/2019


Baca Lengkap
Vigonews

PTK: Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas I Tentang Pengurangan Bilangan Bulat Melalui Penggunaan Media Kartu Bilangan Pada SDN Lanamai Tahun Pelajaran 2017/2018


Baca Lengkap
Vigonews

Kualitas Pendidikan Antara Tanggung Jawab Masyarakat dan Pemerintah



ket foto: https://www.banyakcakap.com -- 

Dalam mengembangkan pendidikan yang berkualitas, menuntut tanggung jawab secara holistik, salah satu komponen di antaranya adalah hadirnya pemerintah di satu sisi, dan  masyarakat di sisi lain. Dengan demikian, tanggung jawab pendidikan berkualitas tidak lagi hanya menitik beratkan pada peran guru semata di sekolah. Kita juga  membutuhkan peran serta dari  masyarakat, mengingat bahwa  komponen ini,  langsung atau tidak langsung memiliki tanggung jawab dalam  mencapai pendidikan yang berkualitas.

Secara umum tujuan pendidikan di Indonesia sebagaimana sudah diamanatkan dalam UUD 1945, alinea keempat adalah untuk mencerdaskan kehiduan bangsa. Tujuan ini sebenarnya menyiratkan cita-cita besar bangsa ini dalam mewujudkan kemerdekaan. Secara khusus dirumuskan dalam UU Sisitem Pendidikan Nasioal Nomor 20 tahun 2003, dimana pendidikan nasional bertujuan untuk  mengembangkan potensi peserta didik. Meski demikian kita masih berhadapan dengan reaitas bahwa, pendidikan Indonesia masih jauh dari cita-cita para pendiri bangsa dan tujuan nasional, guna menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas.

Berbagai masalah yang sering terdengar masih menjadi sorotan di tanah air, tentang masalah pendidikan adalah soal sarana fisik yang belum memadai, kualitas guru yang belum maksimal, para guru masih jauh dari kata sejahteran – khusus guru  honor akibat dikotomi PNS-non PNS – masalah pemerataan kesempatan pendidikan belum merata; hingga biaya pendidikan yang dinilai masih sangat mahal. Ini sejumlah persoalan yang sering digunjingkan hingga saat ini.

Penulis tidak bermaksud membedah permasalahn-permasalahn tersebut di atas. Sebaliknya melalui tulisan sederhana ini mencoba menelisik peran masyarakat bersama pemerintah untuk sama-sama memberi kontribus dalam meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini.

Permasalahan-permasalahan tersebut di atas, sebenarnya memerlukan tanggung jawab baik pemerintah maupun masyarakat sebagai komponen penting dalam memajukan pendidikan. Sinergisitas antara kedua komponen tersebut setidaknya memperkecil masalah besar pendidikan di tanah air, yakni  soal kualitas. Rendahnya kulitas pendidikan menyebabkan rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang diperlukan dalam membangun bangsa di berbagai bidang. SDM dengan kualitas rendah akan mempengaruhi daya serap pada lapangan kerja. Di sisi lain, memunculkan pengangguran intelektual dengan kompleksitasnya sendiri.

Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia memang sering membuat kita mengerutkan dahi, kalau merunut pada  laporan Program for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2015 (program yang mengurutkan kualitas sistem pendidikan di 72 negara) Indonesia menduduki peringkat 62. Dua tahun sebelumnya (PISA 2013), Indonesia menduduki peringkat kedua dari bawah atau peringkat 71. (Youthcorpsindonesia.org, 21/5/2017). Kemudian tahun 2017 Indonesia masuk peringkat pendidikan dunia atau World Education Ranking yang diterbitkan Organization for Economic Co-operation and Development (OECD). Seperti yang dilansir The Guardian, Indonesia menempatiurutan ke 57 dari total 65 negara dari segi membaca, matematika, dan ilmupengetahuan. (Kabarrantau.com 11/9/2017).

Dunia pendidikan kita masih menghadapi berbagai masalah internal yang cukup mendasar dan bersifat kompleks. Kita masih menghadapi sejumlah  masalah yang sifatnya berantai sejak jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Rendahnya kualitas pada jenjang sekolah dasar sangat penting untuk segera diatasi karena sangat berpengaruh terhadap pendidikan selanjutnya. Apa penyebab rendahnya kualitas  pendidikan pada sekolah dasar? Faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pendidikan pada jenjang sekolah dasar misalnya, ditengarai lebih disebabkan oleh kulitas sarana fisik, mutu guru masih rendah, kesejahteraan guru masih timpang, belum ada pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan pendidikan biaya mahal.

Selain faktor-faktor diatas,  faktor berikutnya adalah kurangnya tenaga pendidik dan penyebaran yang kurang merata. Masih banyak sekolah yang kekurangan guru utamanya di tingkat SD. Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Dasar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Praptono mengatakan secara umum Indonesia kekurangan guru sekitar 735.000, banyak di antaranya di daerah terpencil. (Bbc.com, 1/6/2019) Selain kurang secara kuantitas, masalah guru juga dinilai kurang secara kualitas. Di tahun 2017 dari 3,9 juta guru yang ada saat ini, sebanyak 25 persen masih belum memenuhi syarat kualifikasi akademik dan 52 persen guru belum memiliki sertifikat profesi. (Republika.co.id, 18/4/2019).

Dari berbagai persoalan tersebut di atas, memerlukan perhatian pemerintah dan masyarakat. Karena pada dasarnya masalah pendidikan adalah tanggung jawab semua elemen bangsa, dan peran pemerintah dan masyarakat di aras ini menjadi sangat penting.  Peran seperti apa yang diemban pemerintah dan masyarakat, disamping peran guru di sekolah dalam mengatasi masalah tersebut?

Ketika dunia dilanda pandemi covid 19 memaksa peserta didik untuk belajar di rumah. Kondisi ini memiliki konsekuensi tersendiri terhadap menurunnya kualitas pendidikan. Belajar di rumah sebagaimana diinstruksikan pemerintah agar kegiatan belajar tetap berjalan belum teruji – apalagi dengan sistem daring (online) yang dari sisi infrastruktur belum cukup tersedia di seluruh wilayah terpencil di Indonesia. Di sisi lain, sistem ini akan mencekik leher warga kurang mampu untuk menyediakan biaya tambahan untuk pulsa kalau ada akses jaringan. Sementara yang tidak punya akses itu diperkirakan akan terjadi kemunduran dalam proses pembelajaran, dan ini sama dengan kemunduran pendidikan di tanah air. Kita juga belum tau sampai kapan pandemi ini berakhir. Yang artinya betapa besar upaya pemerintah untuk genjot pembelajaran dari rumah masih sangat sulit diukur. Di tengah pandemi covid 19, apa yang bisa dilakukan oleh orang tua yang belum cukup siap jadi guru mendampingi anak. Lalu apa peran masyarakat yang masih rendah dalam pendidikan, ketika peserta didik belajar dari rumah (ruang lingkup masyarakat).

Bersama-sama

Tulisan ini juga tidak bermaksud menggugah peran masyarakat dan orang tua terhadap pendidikan selama masa pandemi covid 19. Tetapi secara umum ingin mengetahui bahwa Pembangunan pendidikan yang berkualitas  di Indonesia, menurut hemat kami menuntut peran bersama-sama antara pemerintah dan masyarakat itu sendiri. Tidak hanya bagi pemerintah sendiri dan para guru di sekolah,  tetapi juga perlu melibatkan masyarakat. Sebab, disadari atau tidak,  masyarakat memiliki peran tak kalah  penting untuk tercapainya suatu tujuan pendidikan yang berkualitas.

Hanya saja, kita memang masih menghadapi kenyataan bahwa,  justru masyarakat menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab  pendidikan peserta didik hanya kepada para guru.  Masyarakat beranggapan bahwa setelah anak-anak itu di sekolah, sudah merupakan tanggung jawab guru dan pemerintah saja. Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman masyarakat  terhadap pentingnya peran masyarakat dalam dunia pendidikan.

Peran Masyarakat

Antara pemerintah dan masyarakat sebenarnya berbagi peran jika ingin mengejar ketertinggalan dalam meningkatkan kulitas anak bangsa. Masyarakat  perlu mengubah cara pandang mereka  terhadap pendidikan itu sendiri.  Urusan ubah cara pandang memang bukan persoalan sepele.  Tetapi kalau mau pendidikan maju dan berkualitas, maka mengubah cara pandang hal yang harus dilakukan dan mulai dari sekarang, sehingga dalam mengembangkan pendidikan akan tumbuh rasa peduli, pelibatan dan peran secara aktif dari masyarakat.

Ruang pelibatan masyarakat perlu dibuka, sebab saat pembangunan didominasi oleh peran pemerintah maka masyarakat menjadi lemah. Masyarakat hanya  berada pada posisi sebagai pihak yang mempercepat program pembangunan semata.  Sebaliknya, masyarakat harus ditempatkan sebagai subyek bukan sebagai obyek dalam memperkuat perannya dalam pembangunan – khususnya pembangunan  bidang pendidikan. Posisi masyarakat di sini lebih kepada pemberdayaan dan penguatan baik secara kelembagaan maupun perseorangan. Karena sebenarnya, yang bertanggung jawab dalam pembangunan pendidikan adalah masyarakat itu sendiri melalui ruang partisipasi, agar pembangunan  yang menyertakan partisipasi masyarakat dapat  terakselerasi sejak proses  perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan hasil dan evaluasinya.

Di sisi lain, masyarakat yang tergambar dari keluarga-keluarga diperlukan perannya dalam mengemban misi pendidikan yang kurang mendapat perhatian. Dalam keluarga tumbuh rasa cinta kasih dalam ikatan emosional dan pembentukan karakter yang kuat. Dari sini, narasi seorang anak dimulai hingga kelak nanti dia akan jadi apa. Jadi tidak bisa dikatakan peran keluarga hanya pelengkap saja, padahal sebenarnya keluarga merupakan institusi pendidikan pertama dan utama, kemudian baru dilengkapi dengan nilai-nilai pengetahuan yang didapatkan dari bangku sekolah. Keluarga yang dimaksudkan dalah unsur terkecil dari masyarakat.

Peran Pemerintah

Sebagai diamanatkan oleh UU Sisdiknas, 2003 dimana menyiratkan peran pemerintah sebagai penyelenggara negara dalam bidang pendidikan, termasuk pemerintah daerah berhak mengarahkan, membimbing, membantu, dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan, serta berkewajiban memberikan layanan dan kemudahan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Pemerintah dan pemerintah daerah juga wajib menjamin tersedianya dana secara memadai guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara dari usia tujuh sampai usia lima belas tahun.

Dari uraian itu sangat jelas peran dan tanggung jawab pemerintah dalam bidang pendidikan. Selain dari itu, sebenarnya peluang bagi orang tua – kelompok atau warga masyarakat masih sangatlah luas. Sementara tujuan pemerintah dalam memajukan pendidikan adalah meningkatkan SDM sehingga mampu bersaing di pasar kerja dalam maupun luar negeri, dimana masyarakat juga sebagai penerima manfaat dari pendidikan itu sendiri.

Oleh karena itu, SDM perlu ditingkatkan sampai ke tingkat tertentu. Namun, dalam peningkatan SDM yang ada, pemerintah harus berperan secara aktif di dalam aspek pendidikan, agar pendidikan lebih layak, berkualitas dalam  menunjang SDM Indonesia. Peran yang diberikan pemerintah sebagai pelayan masyarakat, sebagai fasilitator, sebagai pendamping, sebagai mitra dan berperan sebagai penyandang dana.

Sekolah  dan Masyarakat

Sekolah, atau lembaga pendikan adalah  tempat sarana untuk meraih ilmu dan mengembangkan skills serta membentuk karakter peserta didik. Sekolah baru bisa berdiri di suatu daerah kalau ada masyarakat.  Artinya, sekolah tidak bisa hadir tanpa adanya konstribusi dari masyarakat guna menghidupi sekolah sebagai penyelenggara pendidikan. Itu sebabnya, lembaga pendidikan perlu memiliki pola hubungan yang baik dengan masyarakat, agar tidak terjadi kesenjangan yang menyebabkan hilangnya peran kemitraan.

Beberapa pola hubungan yang dapat dikembangkan untuk melibatkan peran serta masyarakat bagi lembaga pendidikan, seperti: mengikutkan warga sekolah dalam kegiatan pemasyarakatan, penyediaan fasilitas sekolah untuk keperluan masyarakat, melibatkan tokoh- tokoh potensial dalam masyarakat guna menunjang pendidikan, mengikutsertakan sekolah dalam menunjang pelaksanaan pendidikan – mengikutkan warga sekolah dalam pelaksanaan pendidikan yang ada di dalam lingkup sekolah maupun diluar sekolah, dan menjalin hubungan dengan instansi lain.

Dari uraian di atas, simpulan kami bahwa, di satu sisi tugas pendidikan nasional
Sebagai diamanatkan oleh UU Sisdiknas, 2003 menyiratkan peran pemerintah sebagai penyelenggara negara dalam bidang pendidikan, termasuk pemerintah daerah berhak mengarahkan, membimbing, membantu, dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan, serta berkewajiban memberikan layanan dan kemudahan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Pemerintah dan pemerintah daerah juga wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan secara layak bagi setiap warga negara.

Masyarakat juga punya peran dalam pendidikan, baik perseorangan, kelompok maupun elemen lainnya dalam menunjang pendidikan yang berkualitas. Peran masyarakat di sini tidak hanya sebagai sumber semata, tetapi juga sebagai tpemanfaat dari hasil pendidikan yang berkualitas itu sendiri. Perlu Terus mengembangkan partisipasi masyarakat dalam berbagai tingkatan guna mencapai pendidikan yang berkualitas dan ikut menunjang tersedianya kualitas SDM yang dapat terserap di pasar kerja. SDM yang tidak hanya memiliki pengetahuan belaka, tetapi juga memiliki kompetensi dan skil yang dapat diandalkan.***

Penulis: 
Maria Hermelinda Meo, Yohana Frnsiska Wona &Yohanes Florianus Dama -- Mahasiswa STKIP Citra Bakti Ngada
(Isi tanggung jawab penulis)*

Baca Lengkap
Vigonews

Menjelang UAS Online, Lima Guru SMAK Regina Pacis Bajawa Kunjungi Siswa di Daerah Sulit



Kepsek Recis, Herdin Ndiwa bincang-bincang dengan siswanya saat program kunjungan rumah ke sejumlah daerah sulit, jelang UAS online -- 

BAJAWA - Memastikan 746 siswa dapat mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS) Secara online tanggal 11 – 16 Mei 2020, Kepala SMAK Regina Pacis Bajawa Hendrianto Emanuel Ndiwa, ST  bersama empat guru lainnya turun ke sejumlah daerah menemui siswa yang diidentifikasi mengalami kendala.

Kunjungan rumah ke sejumlah titik yang masuk daerah terpencil itu, setelah melakukan evaluasi dan identifikasi terhadap 746 siswa kelas X dan XI yang akan mengikuti UAS online. Dari jumlah itu, ternyata ada 19 siswa yang belum memiliki handphone (HP). Sejak penyelenggaraan belajar dari rumah, siswa-siswa tersebut mengalami kendala dalam memenuhi tugas-tugas yang diberikan para guru mata pelajaran (mapel). Informasi itu juga diperoleh dari masing-masing wali kelas.

Selain 19 siswa tersebut, Herdin Ndiwa juga mendapati siswa yang meski memiliki HP namun mengalami kendala jaringan telekomunikasi. Kalau jaringan bagus, justru jaringan  listrik jadi masalah – karena memang belum ada akses listrik. Ada juga siswa yang berjuang sekuat tenaga untuk ikut pembelajaran online yang diprogram oleh pihak sekolah. Namun, harus berkorban berjalan beberapa kilometer mencari sinyal.

Safari untuk menemui para siswa yang mengalami kendala pembelajaran daring (dalam jaringan) dilakukan (07/05/2020) itu, oleh Kepala Sekolah Herdin Ndiwa didamping guru Eman Loke, Boy Zanda, Fendy Wesa dan Iwa. Dimulai dari Kecamatan Bajawa Utara, Kabupaten Ngada di wilayah Alowulan. Di Kecamatan Riung Barat bagian selatan, rombongan lima guru ini menemui siswanya di Wae Saok, Lindi, Damu dan Ruping Mok. Herdin dan empat guru juga berjumpa dengan orang tua salah seorang siswa dari Manggarai Timur di perbatasan.
 
Pertemuan dengan beberapa siswa
Perjumpaan para guru dengan para siswa menjadi momen penuh haru, sejak para siswa dirumahkan pertengahan Maret 2020 lalu. Para siswa tampak terharu dan berkaca-kaca menyambut kedatangan Kepala sekolah dan para gurunya. Ini sungguh di luar dugaan para siswa. Demikian juga orang tua para siswa yang tampak terharu menyambut kedatangan para guru.

Sulit

Dalam safari ini, guru-guru Regina Pacis berhasil menjumpai 11 siswa. Selain itu juga berjumpa dengan orang tua siswa yang berasal dari Kabupaten Manggarai Timur di perbatasan. Keluarga Anastasia sedikit berkeluh kesah kepada para guru. Bahwa putrinya punya kerinduan ikut pembelajaran dan UAS online. Namun di wilayah ini sama sekali tidak ada sinya dan listrik. Akses jalan juga sangat buruk. Sehingga sejak pembelajaran online diberlakukan akibat pandemi covid 19, Anastasia, putri mereka tidak bisa mengerjakan tugas secara online. Keadaan beberapa tempat memang serba sulit. Kesulitan ini mengharuskan guru mencari solusi lain untuk siswa.

Di Bajawa Utara, Alowulan, Wae Saok, Lindi, Damu dan Ruping Mok para guru yang menggunakan kendaraan sepeda motor, menjumpai 10 siswa di rumah mereka masing-masing. Para guru memang melakukan safari untuk melihat dari dekat kesulitan yang dihadapi para siswa selama belajar dari rumah dengan sistem online hingga menjelang UAS online. Dari perjumpaan itu, para guru mengetahui kondisi keluarga para siswa secara langsung. Beberapa tempat bertemu siswa ketika mereka kembali dari sawah dan kebun.
 
Diskusi dengan orang tua salah seorang siswa
Kondisi serba sulit jika harus mengikuti pembelajaran dan UAS online juga dialami siswa lainnya, Emiliana Tanggo. Di daerahnya, hanya tempat-tempat tertentu yang muncul jaringan. Dirinya pun harus berjalan beberapa jauh untuk mencapai tempat yang ada sinyal sekedar mendapat informasi dari sekolah. Belum lagi kesulitan tidak ada listrik. Sehingga, ada jaringan pun tidak bisa ada solusi kalau batrei HP lemah. “Keadaan seperti ini memang bikin kami lemah untuk ikut pembelajaran online. Kami bingung dengan keadaan ini. Kapan semua ini akan berakhir,” keluh Emiliana.

Pengalaman yang kurang lebih sama juga dialami Maria Surina. Meski di tempatnya ada jaringan telekomunikasi, namun yang jadi masalah adalah akses listrik yang belum tersedia. “Di daerah kami ini listrik belum masuk. Jadi kadang tidak bisa cas batrei HP karena memang tidak ada listrik. Paling-paling kami tunggu tetangga yang menghidupkan genset sehinga bisa cas. Rasanya kok belum merdeka begitu ya,” cerita Maria,  polos.

Menurut Maria, daya juang seperti apapun, kalau situasi seperti ini, apa yang bisa dilakukan? Semua jadi lemah. Dia berharap pandemi covid 19 cepat berakhir sehingga bisa ke sekolah lagi seperti sedia kala.

Prihatin

Ketika menemui para siswa di kampung masing-masing, Kepala SMA Katolik Regina Pacis Hendrianto Emanuel Ndiwa menyatakan ikut prihatin dengan keadaan yang dialami para siswa. Dengan turun langsung menemui para siswa yang selama ini tidak terpantau, membuat pihaknya jadi paham kondisi yang dialami para siswa. Kesulitan yang dialami para siswa mendorong manajemen sekolah untuk mengambil solusi yang tepat.
 
Para guru bersama sejumlah siswa yang dikunjungi
“Saya bersama team kesiswaan turun ketika mendengarkan laporan dari masing masing guru mata pelajaran dan wali kelas, katanya selama proses pembelajaran jarak jauh ada 19 anak yang sulit berkomunikasi. Ada juga yang lambat dalam mengirimkan tugas kepada bapak dan ibu guru,” kata Erdin.

Sebagai kepala sekolah, setelah mendengar laporan itu, dirinya tergerak hati untuk turun menyapa, memberikan motivasi sekaligus ingin mengetahui kesulitan yang dihadapi oleh para siswa. “Saya terharu melihat kondisi siswa. Kelalaian mengirim tugas secara online bukan karena malas tetapi sulitnya akses internet. Mereka punya kemauan yang kuat untuk program belajar online tetapi apa daya akses internetnya belum terjangkau,” papar Erdin.

Solusi

Dari pengalaman langsung tersebut, kata Erdin, pihaknya menawarkan model kebijakan guna membantu para siswa agar tetap dapat mengikuti pembelajaran selama pandemi covid 19. Pertama, yang memungkinkan pembelajaran dan UAS online terlaksana -- karena terjangkau jaringan telekomunikasi. Kedua, sejumlah siswa yang tidak punya HP dan yang berada di daerah tidak ada sinyal dapat menggunakan model penugasan. Tugas tersebut dapat dikirim melalui jasa kendaraan umum, atau dikumpulkan pada saat masuk sekolah nanti.

Di sisi lain, kata Erdin, para guru yang turun menemui siswa juga merasa senang bisa berjumpa dengan siswa. Ini sebagai konsekuensi tugas guru sebagai pelayan – yang tetap memberi pelayanan dengan hati, tulus dan ikhlas. Dengan bertemu langsung di rumah mereka,  juga sebagai penyemangat dalam belajar dalam membangun masa depannya.

Sebagai kepala sekolah tidak berarti bos, sebaliknya menjadi pelayanan yang turun langsung dan mengetahui kondisi siswanya. Ini tentu sesuai dengan spirit sekolah ini – melalui motto: Elitis dalam mutu, populis dalam pelayanan. Siswa adalah aset sekolah, gereja bangsa dan negara yang selama pendidikan dipercaya penuh oleh orang tua masing-masing. Aset ini perlu dirawat dan dilayani dengan baik.

Buka Mata

Sementara, Wakasek kesiswaan Eman Loke, yang menyertai kepala sekolah dalam safari ini mengatakan, bahwa situsi seperti ini mestinya membuka mata banyak pihak. Guru harus melakukan program kunjungan rumah sehingga bisa tahu kondisi ril siswa selama belajar dari rumah. Juga membuka mata pemerintah terhadap kesulitan anak-anak di daerag terpencil.

“Dalam situasi pandemi covid 19 ini, semua  baru tau ternyata masih banyak tempat tidak ada jaringan dan belum ada akses listrik. Padahal kita pernah dengar kemerdekaan sinyal dan listrik dalam program pemerintah. Kita berharap kebijakan pemerintah ke depan sungguh menyentuh realitas. Mudah-mudahan ini menjadi perhatian ke depan,” kata Eman Loke.
 
Para siswa senang karena dikunjngi para guru
Guru lainnya, Bonefasius Zanda yang juga berasal dari Riung Barat, mengatakan kalau pihaknya tidak kaget dengan kondisi seperti ini. Dari dulu wilayah Riung memang belum menunjukkan kemajuan yang berarti. Pembangunan belum menyentuh masyarakat secara menyeluruh di wilayah ini. Soal sinyal harus naik turun gunung, dan listrik yang tidak ada itu malah makin lama dianggap bukan masalah. Padahal itulah masalahnya.

Kesulitan jaringan telekomunikasi dan listrik bukan hanya wilayah Lindi hingga perbatasan Manggarai Timur, tetapi juga dialami wilayah Maronggela dan hampir seluruh Riung Barat. “Bagi orang yang datang melewati jalan rusak, tidak ada listrik itu masalah. Kami sudah biasa menganggap hal yang sebenarnya tidak biasa ini – menjadi biasa saja. Bahkan arti merdeka atau tidak kami juga tidak bisa bedakan jika dilihat dari akses pembangunan di wilayah ini,” kata Boy, sapaan akrabnya.

Boy menegaskan, makanya sampai Mendikbud kaget mendengar  bahwa masih banyak anak-anak Indonesia yang tinggal di daerah terpencil belum mendapat akses listrik. Tidak bisa internet. “Kalau di kota sudah online, tetapi di daerah terpencil masih oh...lain!,” sindir Boy.(ch)***

Baca Lengkap
Vigonews

Peranan Guru Mengembangkan High Order Thinking Skills (HOTS) Pada Siswa dalam Pembelajaran Matematika



Menghadapi perkembangan abad modern dewasa ini, diperlukan pembelajaran yang tidak sekedar menerapkan aspek konseptual semata, tetapi perlu mengaplikasikan pengetahuan dan berbagai keterampilan berpikir. Kurikulum 2013 mengamanatkan sebuah pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan keterampilan berpikir, khusunya ketrampilan berpikir tingkat tinggi. Ketrampilan tingkat tinggi atau yang dikenal dengan HOTS (High Order Thingking Skills) menjadi tujuan utama dalam proses pembelajaran, termasuk pembelajaran matematika.

HOTS  merupakan suatu proses berpikir peserta didik dalam level kognitif yang lebih tinggi. Ketrampilan model ini dikembangkan dari berbagai konsep, metode kognitif dan taksonomi pembelajaran, seperti: metode problem solving, taksonomi bloom, dan taksonomi pembelajaran, pengajaran, dan penilaian (Saputra, 2016:91).

HOTS meliputi kemampuan pemecahan masalah, kemampuan berpikir kreatif, berpikir kritis, kemampuan berargumen, dan kemampuan mengambil keputusan. Menurut King, HOTS masuk dalam kategori berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan kreatif. Sedangkan menurut Newman dan Wehlage (Widodo, 2013:162), HOTS  peserta didik akan dapat membedakan ide atau gagasan secara jelas, berargumen dengan baik, mampu memecahkan masalah, mampu mengkonstruksi penjelasan, mampu berhipotesis dan memahami hal-hal kompleks menjadi lebih jelas.

Sementara, menurut Vui (Kurniati, 2014:62) HOTS akan terjadi ketika seseorang mengaitkan informasi baru dengan infromasi yang sudah tersimpan di dalam ingatannya dan mengaitkannya dan/atau menata ulang serta mengembangkan informasi tersebut untuk mencapai suatu tujuan atau menemukan suatu penyelesaian dari suatu keadaan yang sulit dipecahkan.

Tujuan utama dari HOTS adalah bagaimana meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik pada level yang lebih tinggi, terutama yang berkaitan dengan kemampuan untuk  berpikir secara kritis dalam menerima berbagai jenis informasi, berpikir kreatif dalam memecahkan suatu masalah menggunakan pengetahuan yang dimiliki serta membuat keputusan dalam situasi-situasi yang kompleks (Saputra, 2016:91-92).

Isu mutakhir dalam pembelajaran matematika saat ini adalah mengembangkan HOTS dan menjadikannya sebagai tujuan utama dalam pembelajaran matematika. Pernyataan ini antara lain didukung oleh The National Education Asociation Research Division (Ghokhale,1997:1): “ Student Acquistion of  high order thingking skills  now nation goal”. Sejalan dengan hal itu, salah satu harapan yang ingin dicapai dalam pembelajaran matematika di Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah dimilikinya kemampuan berpikir matematis, khususnya berpikir matematis tingkat tinggi. Kemampuan ini sangat diperlukan siswa, terkait dengan kebutuhan siswa untuk memecahkan masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari­hari. Oleh sebab itu, kemampuan berpikir matematis terutama yang menyangkut doing math (aktivitas matematika) perlu mendapat perhatian khusus dalam proses pembelajaran matematika.

Dalam belajar matematika siswa seringkali menemukan soal yang tidak dengan segera dapat dicari solusinya, sementara siswa diharapkan dapat menyelesaikan soal tersebut. Untuk itu, siswa perlu berpikir atau bernalar, menduga atau memprediksi, mencari rumusan yang sederhana, baru kemudian membuktikan kebenarannya. Karena itu, siswa perlu memiliki keterampilan berpikir, sehingga dapat menemukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Proses berpikir yang dijalani siswa untuk menyelesaikan masalah matematika berkaitan dengan kemampuan mengingat, mengenali hubungan antar konsep, menyadari adanya hubungan sebab akibat, analogi atau perbedaan. Halini yang kemudian memungkinkan siswa memunculkan gagasan­gagasan yang bersifat original, lancar dan luwes dalam mengambil kesimpulan serta memikirkan kemungkinan penyelesaian lainnya.

Proses berpikir di atas termuat dalam kegiatan berpikir, khususnya berpikir kritis, kreatif dan reflektif. Berpikir kritis merupakan suatu proses yang bermuara pada pembuatan kesimpulan atau keputusan yang logis tentang apa yang harus diyakini dan tindakan apa yang harus dilakukan. Berpikir kritis bukan untuk mencari jawaban semata, tetapi yang lebih utama adalah menanyakan kebenaran jawaban, fakta, atau informasi yang ada. Dengan demikian, bisa ditemukan alternatif atau solusi yang terbaik.

Berpikir kreatif merupakan suatu proses memikirkan berbagai gagasan dalam menghadapi suatu persoalan atau masalah, bermain dengan gagasan­gagasan atau unsur­unsur dalam pikiran dan dapat dipandang sebagai produk dari hasil pemikiran atau prilaku manusia. Berpikir reflektif merupakan suatu proses yang membutuhkan keterampilan­keterampilan yang secara mental memberi pengalaman dalam memecahkan masalah, mengidentifikasi apa yang sudah diketahui, memodifikasi pemahaman dalam rangka memecahkan masalah, dan menerapkan hasil yang diperoleh pada situasi-situasi yang lain.

Kemampuan berpikir kritis, kreatif dan reflektif sangat dibutuhkan siswa dalam menyelesaikan masalah. Karena, untuk menyelesaikan masalah siswa harus mampu mengeksplorasi masalah dengan beberapa interpretasi, menangkap masalah sebagai tanggapan terhadap suatu situasi, dan mengemukakan pendapat dirinya sendiri.

Selanjutnya siswa perlu merencanakan strategi penyelesaian masalah dari berbagai sumber, mencetuskan banyak gagasan, membandingkan strategi solusi dengan pengalaman atau teori terdahulu. Ketika strategi sudah dipilih oleh siswa, maka siswa perlu mengkonstruksi gagasan dan membuat kesimpulan.Dalam mengembangkan suatu gagasan siswa dapat menambah atau merinci secara detil suatu objek, gagasan, atau situasi. Setelah solusi diperoleh, siswa juga perlu memeriksa kembali solusi yang telah dikerjakan, termasuk mengembangkan strategi alternatif.

Masalah matematika diberikan kepada siswa untuk melatih diri dalam menggunakan kemampuan berpikir, serta untuk mengetahui posisi tingkat berpikir yang dimiliki masingmasing siswa.

Berdasarkan tingkatan proses, berpikir dibagi menjadi dua tingkat yaitu berpikir tingkat rendah (Lower Order Thinking) dan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking). Kemampuan berpikir merupakan kemampuan memproses informasi secara mental atau kognitif yang dimulai dari tingkat rendah hingga tingkat tinggi. Setiap siswa diarahkan untuk memiliki kemampuan berpikir hingga tingkat tertinggi, karena berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking) merupakan tujuan akhir dalam meningkatkan kemampuan berpikir. Kemampuan berpikir tingkat tinggi ini menghendaki seseorang untuk menerapkan informasi baru atau pengetahuan sebelumnya dan memanipulasi informasi untuk menjangkau kemungkinan jawaban dalam situasi yang baru HOTS menjadi salah satu prioritas dalam pembelajaran matematika di sekolah.

Siswa yang memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi dapat membedakan ide atau gagasan secara jelas, berargumen dengan baik, mampu memecahkan masalah, mampu mengkonstruksi penjelasan, mampu berhipotesis dan memahami hal-hal kompleks menjadi lebih jelas.

Tantangan Global

Dalam pembelajaran matematika sekolah yang berorientasi pada keterampilan berpikiringkat tinggi, peserta didik diharapkan mampu menjadi manusia yang berkualitas, yaitu mampu bertahan dan berkembang menghadapi tantangan global saat ini. Pengembangan Higher Order Thinking Skills yang dimiliki oleh siswa khususnya dalam matematika tentu bukanlah sebuah hal yang instan. Higher Order Thinking Skills lahir dari sebuah proses yang berkesinambungan dan tidak hanya berorientasi pada hasil. Dibutuhkan suatu proses yang kontinyu dan konsisten untuk melatih dan membiasakan para siswa. Oleh karena itu, seorang guru sebagai pemegang peran penting dalam kegiatan pembelajaran harus dapat memfasilitasi siswa untuk menjadi pemikir dan pemecah masalah yang baik.

Karena itu, dengan menggunakan HOTS, siswa akan memperoleh pemahaman yang mendalam pada konsep matematika dan dapat menerapkannya dalam kehidupan nyata. Kemampuan siswa untuk mengembangkan kemampuan  HOTS erat kaitannya dengan proses berpikir ketika menyelesaikan problem matematika. Menurut Rofiah dkk, ketrampilan berpikir tingkat tinggi merupakan kemampuan menghubungkan, memanipulasi, dan mentransformasi pengetahuan serta pengalaman yang sudah dimiliki untuk berpikir secara kritis dan kreatif dalam upaya menentukan keputuasan dan memecahkan masalah pada situasi baru.

Pengembangan HOTS dalam pembelajaran merupakan salah satu wujud pengimplementasian kurikulum 2013, sehingga kegiatan pembelajaran maupun evaluasi yang dilakukan hendaknya berorientasi pada HOTS. Proses pembelajaran yang diterapkan harus dapat menjadi wadah bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikirnya.

Selain itu, sebagai bahan evaluasi terhadap pengetahuan yang telah dimiliki setiap siswa, seorang guru harus menyediakan masalah yang memungkinkan siswa menggunakan keterampilan berfikir tingkat tingginya. Seorang guru tidak bisa hanya berkutat pada pengembangan instrument penilaian saja,  tanpa inovasi dalam kegiatan pembelajaran. High Order Thinking terjadi ketika peserta didik terlibat dengan apa yang mereka ketahui sedemikian rupa untuk mengubahnya, artinya siswa mampu mengubah atau mengkreasi pengetahuan yang mereka ketahui dan menghasilkan sesuatu yang baru. Melalui high order thinking peserta didik akan dapat membedakan ide atau gagasan secara jelas, berargumen dengan baik, mampu memecahkan masalah, mampu mengkonstruksi penjelasan, mampu berhipotesis dan memahami hal-hal kompleks menjadi lebih jelas, dimana kemampuan ini jelas memperlihatkan bagaimana peserta didik bernalar.

Sama halnya dengan literasi, kemampuan literasi matematika dan high order thinking skills tidak hanya terbatas pada kemampuan berhitung saja, namun juga bagaimana menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari guna menyelesaikan suatu permasalahan, bagaimana mengkomunikasikannya, dengan demikian maka dapat dilihat bagaimana proses berpikir matematisasi peserta didik.

Menyikapi masalah­masalah yang timbul dalam pendidikan matematika, dan harapan yang ingin dicapai dalam pembelajaran matematika, maka diperlukan upaya yang inovatif untuk menanggulanginya. Siswa perlu dibiasakan untuk mampu mengkonstruksi pengetahuannya dan mampu mentransformasikan pengetahuannya dalam situasi lain yang lebih kompleks sehingga pengetahuan tersebut akan menjadi milik siswa itu sendiri. Proses mengkonstruksi pengetahuan dapat dilakukan sendiri oleh siswa berdasarkan pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya, dan juga dapat berupa hasil penemuan yang melibatkan lingkungan sebagai factor dalam proses perolehan pengetahuannya.

Penulis: Anastasia Ndelos Jawa & Maria Ansiliana Bupu
Jurusan Pendidikan Matematika STKIP Citra Bakti Ngada

(Isi tanggung jawab penulis)

Baca Lengkap