Vigonews

Ini Homestay & Cafe yang Baru Dilaunching di Obyek Wisata Mengeruda



Wisatawan yang datang ke obyek wisata ‘air panas’ mengeruda setiap tahun meningkat, baik domestik maupun wisatawan asing. Obyek pemandian ini  memang  jadi pilihan. Bahkan letaknya sangat dekat dengan bandara udara Turelelo, Soa.  Hanya 20 menit perjalanan dari kota Bajawa.

Meski sudah sudah lama sering dikunjungi, namun fasilitas penginapan dan cafe di sekitar areal wisata pemandian  ini belum bertumbuh, kecuali warung-warung sederhana yang menjual makanan kecil seadanya.

Hingar bingar wisatwan menyerbu obyek ini setiap saat, khusus pada hari-hari libur dan akhir pekan, kemudian ‘ditangkap’ sebagai peluang oleh mantan anggota DPRD Ngada  periode 2014 – 2019, Aloysius Siba.
Sumber 'air panas' mengeruda yang sudah menjadi obyek kunjungan wisatawan dalam dan luar negeri
Dia kemudian ‘menyulap’ rumahnya yang  letaknya hanya 900 meter dari obyek pemandian air panas, dan 1.300 meter dari bandar udara Soa, menjadi  Homestay.  Belakangan dikembangkan juga cafe untuk melayani para tamu yang menginap sehingga tidak kesulitan mencari tempat makan.

Homestay & Cafe yang diberi nama Ryani itu baru saja dilaunching tanggal 4 Januari 2020 lalu. Launching ditandai dengan pemberkatan dalam sebuah ibadat sabda yang dipimpin Pater Emanuel Logo Like, CS.

Peresmian Homestay dan Cafe Ryani dihadiri keluarga, sahabat, teman-teman media dan anggota Forum Ekonomi Kreatif (F-Ekraf) Ngada. Setelah pemberkatan oleh pastor, tamu dan undangan menuju cafe untuk beramah tama diawali dengan potong tumpeng oleh pemilik Ryani  Homestay & Cafe Aloysius Siba.
Rumah tinggal 'disulap' jadi homestay
Rumah Tinggal

Pada kesempatan itu, Aloysius  menceritakan bahwa awalnya dirinya membangun rumah tinggal saja. Namun belakangan ia tergelitik dengan pertanyaan seorang sahabatnya dari Ende, kenapa tidak bangun penginapan di sekitar obyek wisata ‘air panas’ Mengeruda? Menurut kawannya itu, tambah Aloysius, sebenarnya dari luar Ngada yang datang mandi air panas mau tinggal beberapa hari, tetapi karena tidak ada penginapan biasanya datang langsung pulang.

Apa yang digelitik kawannya itu pernah menjadi bahan diskusi bersama beberapa teman di Bajawa, yang punya keinginan untuk bangun penginapan di sekitar wisata ‘air panas’ mengeruda secara bersama-sama. Pengalaman perjumpaan dan diskusi itu akhirnya mengantar Aloysius mewujudkannya menjadi kenyataan.
Aloysius Siba meresmikan Homestay dan cafe miliknya dengan potong tumpeng
Karena tidak punya modal, harapan itu belum bisa diwujudkan sekalian. “Tetapi saya mulai bangun rumah tinggal. Saya pikir siapa tahu di masa tua bisa jadi penginapan setelah membangun sedikit-sedikit. Belakangan di bangun tambahan 4 kamar. Orang mulai tau ada kamar yang disewakan dari mulut ke mulut,” jelasnya.

Secara bertahap sesuai kemampuan keuangan, kamar dibangun lagi lima sehingga menjadi sembilan kamar. Lalu dibangun juga cafe. Bangunan didisain putranya yang seorang arsitek dan untuk menu cafe dikerjakan oleh putrinya yang baru saja menyelesaikan pendidikan komunikasi yang ternyata punya hoby memasak.

Homestay & Cafe Ryani  adalah penginapan yang menawarkan konsep rumah tinggal. Bukan hanya sekedar tempat nginap, tetapi pelayanannya seperti melayani keluarga. Prinsip kekeluargaan dikedepankan. Itu makanya, masuk ke tempat menginap melalui pintu rumah. Tamu diantar jemput baik dari dan ke bandara, juga layanan lainnya.
Kamar tidur
Meski tak ada promosi, selama ini Homestay & Cafe  Ryani tak pernah sepi tamu. Kebanyakan tamu yang menginap akan datang lagi, dan mereka juga menceritakan kepada temannya. Tamu-tamu pejabat yang bertugas di Kabupaten Ngada – dari Jakarta dan kota lain, juga banyak yang memilih menginap di Homestay & Cafe Ryani, terutama tamu yang tak kuat dingin jika harus menginap di Bajawa, maka Homestay & Cafe Ryani jadi pilihan.

Membangun homestay seperti ini  sesuai  upya pemerintah untuk mendukung ramainya pasar wisata dengan  menciptakan ribuan homestay. Melalui program ini masyarakat diajak terlibat untuk mendirikan homestay, karena konsep homestay adalah rumah biasa yang disewakan kamar-kamarnya kepada turis selama beberapa waktu, dan mereka tinggal satu rumah dengan pemiliknya. Hanya saja kamar perlu ditambah dengan fasilitas yang layak.

Pengelola homestay Ryani, Kety Siba, mengatakan selain kamar, pihaknya juga menawarkan jasa kepada para tamu melalui layanan cafe. Awalnya tidak berpikir sampai buka cafe. Namun dalam perjalanan banyak tamu yang harus dilayani karena layanan rumah makan atau restoran jauh. Tentu ini kesulitan bagi tamu yang menginap atau yang mengunjungi obyek wiata ‘air panas’ mengeruda.

Kety juga mengatakan, kebetulan dirinya punya hoby masak. Setelah selesai kuliah hobynya bisa dikembangkan langsung. “Karena itu saya mohon dukungan teman-tema untuk kegiatan usaha yang kami rintis usai kuliah ini,” paparnya.

Ketika pemberkatan Homestay & Cafe Ryani, Pater Eman, berpesan agar tempat ini menjai berkat bagi orang lain melalui jasa layanan sehari-hari. Membangun homestay & cafe juga bagian memperluas Kerajaan Allah dengan mewujudkan kasih dalam pelayanan sehari-hari.
Cafe Ryani
Meski baru dilaunching Januari 2020, namun Homestay & Cafe Ryani sudah mulai melayani tamu beberapa tahun lampau. Tersedia sembilan kamar yang dilengkapi cafe, dengan harga Rp 150.000/malam.(ed)***

Baca Lengkap
Vigonews

Kata Mereka Tentang Inovasi Biodegester



BAJAWA - Setelah pemerintah Kabupaten Ngada bersama Suluh Lingkungan (SL) Konsultan melaunching Pupuk Organik Cair (POC) dengan Brand 3G – Go Organik, Go Clean & Go Green – hingga akhir tahun 2019 lalu sudah dibangun 20 unit biodegester di berbagai titik. Unit-unit biodegester ini bisa menjadi rumah produksi dalam menghasilkan POC 3G untuk kebutuhan petani dalam pertanian organik secara mandiri di Kabupaten Ngada.

Tentang penggunaan POC 3G dalam pertanian, pada kegiatan launching POC 3G akhir tahun lalu, hadir berbagai elemen termasuk  mereka-mereka yang sudah memiliki instalasi pengolahan pupuk organik berbasis kotoran ternak secara mandiri. Mereka memberi testimoni  setelah melakukan aplikasi POC 3G dalam kegiatan pertanian.

Baca juga:
Inovasi Biodegester Antarkan Petani Ngada Mandiri Pupuk Organik


Romo Sil Edo, dari Seminari Mataloko menyampaikan apresiasi karena diperkenalkan dengan inovasi  biodegester  dalam memproduksi pupuk organik. Saat ini kebutuhan pangan (sayuran) di sekolah para calon imam itu tak perlu khawatirkan  akan ketersediaan pupuk, karena sudah tersedia secara mandiri melalui inovasi ini. Pengembangan lahan hortikultura dapat diperluas sehingga memenuhi kebutuhan pangan bagi anak asrama seminari yang berjumlah sekitar 600 orang. Dan yang penting, pangan yang dihasilkan memenuhi standar kesehatand an bersih.
 
Biodegester untuk produksi pupuk organik
Pater Simon Suban Tukan dari JPIC Keuskupan Ruteng  mengatakan perkenalan inovasi melalui tim SL Konsultan telah membantu pihaknya mengatasi kotoran ternak yang sebelumnya dianggap membawa masalah serius bagi kesehatan.  Biodegester yang juga menghasilkan gas, kata Pater Suban Tukan dapat menghemat pengeluaran belanja minyak tanah untuk kompor yang mencapai Rp 200 ribu. Pihaknya juga sudah menggunakan pompa Barsa yang ramah lingkungan untuk menyedot  air pada musim kemarau.

Sementara Viany Wonga, inovasi biodegester telah membantu dirinya dalam penyediaan pupuk organik dalam jumlah yang besar. Sebelumnya untuk lahan di sekitar rumah dan lahan sawah serta kebun miliknya membutuhkan pupuk bokasih berton-ton. Karena itu dirinya membutuhkan waktu sebelum dan sesudah kantor guna mengolah pupuk bokasih.  Namun dengan teknologi ini jauh lebih murah dan mudah dalam pemenuhan pupuk bokasih. Menurut Viany, dirinya sudah beralih pada pertanian organik dengan mengaplikasi POC 3G, untuk tanaman sayuran, tomat, buah naga, singkong dan tanaman lain. Tanah yang tandus jadi subur.

Direktur LSM BR. Farm di Mengeruda Soa Hendry Roga lebih awal menggunakan inovasi Biodegester yang diperkenalkan SL. Konsultan. Komunitas anak muda dalam kelompok Hendry kini giat mengembangkan pertanian organik di kawasan wisata Mengeruda. Dia bahkan juga menggunakan teknologi pomba Barsa secara swadaya untuk menaikan air ke lahan miliknya dari sungai ‘Wae Wutu’.

Inovasi biodigester yang menghasilkan POC 3G ini sudah diaplikasi Hendry dengan kawan-kawannya pada lahan untuk tanaman bawang merah, wortel dan berbagai sayuran. Hasilnya menggiurkan, karena ternyata POC 3G sesuai dengan uji lab sudah ada kandungan NPK. Kini POC 3G digunakan untuk kalangan sendiri. Saat ini banyak petani yang sudah mulai beralih dari pupuk lain ke POC 3G untuk lahan pertanian, setelah melihat lahannya yang berhasil memanen maksimal.
 
Pengunaan pompa barsa oleh BR Farm secara swadaya
Setelah enam bulan, Biodegester di BR Farm Mengeruda sudah menghasilkan 9000 liter pupuk organik cair. Kini untuk memudahkan distribusi kepada konsumen (para petani) BR Fram sebagai rumah produksi  membuat kemasan dengan ukuran 1 liter dengan brand PCO 3G. Tersedianya pupuk organik dengan harga yang murah dan terjangkau memberi keuntungan dimana akan mengembalikan kesuburan tanah, keuntungan penyediaan pupuk mudah, gas yang dapat digunakan untuk memasak, lampu penerang dan keuntungan ekonomi dari ternak peliharaan.

POC 3G yang akhir tahun lalu dilaunching di Bajawa, guna mendukung program ‘Ngada Go Organik’ sekaligus sebagai cara murah dan mudah bagi petani dalam mengelola lahan pertanian mereka dengan konsep ramah lingkungan. Dalam hal ramah lingkungan sudah tentu menghasilkan pangan yang sehat dari pengunaan pupuk organik.

Hingga akhir tahun 2019 lalu dengan dilaunching POC 3G, sudah dibangun 20 unit biodegester sebagai upaya dalam percepatan penyediaan pangan yang sehat dari pengelolaan pertanian yang ramah lingkungan. Bersama inovasi biodegester di BR Farm yang kini menjadi rumah produksi POC 3G, maka akan muncul rumah-rumah produksi baru pupuk organik dengan brand POC 3G. (ed)***


Baca Lengkap
Vigonews

Inovasi Biodegester Antarkan Petani Ngada Mandiri Pupuk Organik



BAJAWA - Tahun 2021 mendatang, Petani Ngada ditargetkan mandiri pupuk organik. Ini sekaligus menyukseskan gerakan  Ngada ‘Go Organik’ yang sudah dicanangkan sejak tahun 2018 lalu.

Target itu dinilai tidak muluk-muluk, karena di penghujung tahun 2019 lalu (30/12/2019) lalu Pemerintah Kabupaten Ngada melakukan Launching Pupuk Organik Cair (POC) dengan brand 3G, yang diproduksi di rumah Produksi BR Farm, Mengeruda. Launching  POC 3G ini setelah dilakukan uji lab berhubungan dengan kandungan pupuk yang dihasilkan melalui inovasi Biodegester,  sehingga sudahdapat digunakan untuk kalangan sendiri (petani).

Guna mewujudkan mandiri pupuk organik, Pemda Ngada melalui Dinas Pertanian Kabupaten Ngada sejak tahun 2018, bekerja sama dengan CV. Suluh Lingkungan (SL) Konsultan melakukan berbagai terobosan melalui teknologi tepat guna yang ramah lingkungan. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah teknologi biodegester itu.

Inovasi lain adalah penggunaan pompa Barsha guna mendukung program ‘Go Green’ – menghijaukan kawasan pertanian yang lebih tinggi dari sumber air dengan teknologi pompa ramah lingkungan. Terobosan ini sudah berhasil diaplikasi oleh SL Konsultan kepada petani di Sumba dan mendapat respons dari Gubernur NTT, Viktor Laiskodat. Aplikasi penggunaan pompa Barsha di Mengeruda, merupakan yang pertama di Kabupaten Ngada.

Selain itu ada program ‘Go Clean’ salah satu dari tiga program  ini, guna mewujudkan Ngada sebagai kabupaten organik 2021 dalam menyediakan tanaman pangan yang bersih dan sehat. Bahwa perilaku sehat/bersih dalam mengolah lahan pertanian akan berpengaruh sehat/bersih tidaknya menu di meja makan setiap keluarga. Karena itu, bersih/sehat juga menjadi tujuan yang harus dicapai dalam program ‘Ngada Go Organik’ tahun 2021.

Dalam waktu setahun (2019), inovasi biodegester sudah terpasang sebanyak 20 unit di berbagai tempat di kabupaten Ngada. Dari puluhan unit instalasi pupuk organik berbasis kotoran ternak tersebut petani sudah dapat memanfaatkannya dalam pertanian mereka, khususnya tanaman hortikultura. Uni coba penggunaan pupuk ini sudah dilakukan oleh LSM BR Farm untuk tanaman bawang merah dan wortel. Uji coba di Mengeruda itu ternyata penggunaan POC 3G mampu meningkatkan hasil panen petani di Desa Mengeruda, Kecamatan Soa.
 
Bupati Ngada Paulus Soliwoa meresmikan penggunaan pupuk organik (POC 3G) di Bajawa, akhir tahun lali
Peluncuran

Peluncuran POC 3G ini dilakukan oleh Bupati Paulus Soliwoa, disaksikan Ketua DPRD Ngada Berny Dhey Ngebu, Ketua Komisi II DPRD Ngada Syrilus Pati Wuli,  Kadis Pertanian Kabupaten Ngada Paskalis Wale Bai, dan Konsultan dari CV. Suluh Lingkungan Konsultan Adrianus Lagur.

Ini sebagai satu langkah maju dalam mewujudkan program Ngada ‘Go Grganik’ khususnya dalam kaitan dengan penyediaan pupuk organik secara mandiri  dan murah bagi petani. Peluncuran POC 3G juga merupakan bagian dari mata rantai perjuangan kabupaten ini agar dapat menyediakan produk pangan organik yang sehat tanpa terkontaminasi  pupuk dan pestisida kimia  yang membahayakan kesehatan manusia.

Guna menuju pertanian yang organik, ramah lingkungan dan sehat, Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Ngada terus melakukan terobosan inovasi. dengan menggandeng CV. Suluh Lingkungan (SL) Konsultan – konsultan ahli - guna mewujudkan langkah-langkah stategis dalam menjawabi kebutuhan pangan bagi masyarakat Ngada yang sehat/bersih (Go Clean), mewujudkan Ngada yang hijau (Go Green) dan mewujudkan Ngada yang organik (Go Organik) – dengan pola pertanian ramah lingkungan.

Peluncuran POC 3G itu juga dirangkaikan dengan kegiatan work shop prinsip-prinsip pertanian organik dan konservasi sumber daya alam dengan tema: “Selamatkan Bumi dan Generasi Masa Depan Melalui Mandiri Pupuk Organik POC 3G,” yang menghadirkan narasumber Adrianus Lagur dari  SL Konsultan dan Paskalis Wale Bai, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ngada.

Hadir pada saat itu Bupati Ngada Paulus Soliwoa, Ketua DPRD Berny Dhey Ngebu, Ketua Komisi II DPRD Ngada  Syirilus Pati Wuli, para pimpinan SKPD, PPL, kelompok tani, para pastor, kepala desa, unsur pers, LSM dan berbagai elemen lainnya.
 
Managing Director Sulus Lingkungan Consultant ketika bicara dalam seminar "selamatkan bumi dan generasi masa depan melalui mandiri pupuk organik .
Biodegester

Direktur  SL. Konsultan Adrian Lagur, di sela-sela kegiatan seminar akhir tahun lalu di Bajawa menjelaskan, biodegester merupakan salah satu inovasi pengelolaan pupuk organik mandiri yang memanfaatkan kotoran ternak menjadi pupuk organik. Pupuk yang dihasilkan dalam bentuk cair dengan memanfaatkan bakteri  anaerob atau bakteri kedap udara. Selain pupuk yang dihasilkan juga ada manfaat lain, seperti:  gas untuk rumah tangga. Lebih dari itu ada konsep clean atau bersih, clean air.

Untuk diketahui bahwa, saat ini dikabupaten Ngada sudah ada 20 unit biodegester  dengan kapasitas paling kecil 4 meter kubik. Jumlah itu tersebar di Bajawa, Golewa dan Soa, seperti Pastoran Wolowio, Rumah Produksi BR Farm, Pastoran Kurubhoko, Seminari Mataloko, SMPK Kartini Mataloko dan sejumlah tempat lainnya.

Di penghujung tahun 2019 lalu, tim teknis SL Konsultan yang memberi edukasi pembuatan biodegester  menyebutkan,  permintaan terus bertambah untuk unit pengelola pupuk organik berbasis kotoran ternak ini. Bahkan, orderan untuk  edukasi teknis biodegester di akhir tahun 2019 ada yang terpaksa ditunda pada tahun 2020.

Salah seorang peminat Biodegester di Loa, Leo Agu berharap agar dapat dibangun biodegester  secepatnya  di rumahnya, seperti di beberapa tempat lain. Namun karena harus ngantri, terpaksa ditunda ke tahun 2020, padahal Leo sudah siap bahan untuk pengerjakan sebagaimana diedukasi, tinggal tunggu petunjuk teknis.

Untuk diketahui, Leo kelihatan bersemangat agar cepat menggali instalasi biodegester akhir tahun lalu (2019) hanya karena dengar dari cerita orang, namun setelah dicermati ternyata  tidak sesuai dengan petunjuk teknis. Hanya, dia tidak patah semangat dan dia mengatakan akan menunggu tahun 2020, setelah mendapat informasi bahwa tim teknis belum bisa melayani.

Informasi yang didengarnya dari mulut ke mulut, bahwa intalasi biodegester  untuk produksi pupuk organik memiliki banyak manfaat, seperti manfaat gas untuk kompor dapur guna aktivitas memasak, untuk lampu, pupuk organik cair, dan manfaat ekonomi dari ternak peliharaan. Kebetulan dirinya saat ini sudah punya lima ekor ternak pelihara di belakang rumah.
 
Kegiatan Launching POC 3G dalam sebuah seminar di Bajawa
Kerinduannya membangun instalasi pupuk organik cair biodegester ini selain karena multi keuntungan, tetapi juga komplin dari tetangga yang disebabkan bau kotoran ternaknya sudah sangat menggangu tetangga.

Sementara Kepala Seksi PPHP Dinas Pertanian Kabupaten Ngada Hermenegildus Ruba mengatakan, bau kotoran ini  berbahaya bagi kesehatan. Tetapi jika gas kotoran heran dikelola malah memberi keuntungan bagi kesehatan manusia, sehingga memenuhi unsur clean-nya. Lingkungan menjadi bersih dan tidak terkena polusi udara (bau).

Leo juga menambahkan, dirinya mau lebih cepat karena selama ini dia harus merogoh kocek antara Rp 700 ribu – Rp 1 juta setiap bulan untuk beli gas LPG untuk bahan bakar memasak di dapur. Dia berharap dengan biodegester nanti istrinya tidak akan ngomel lagi soal gas. Yang penting ternak di belakang rumah terus diberi makan, maka akan tersedia cukup gas untuk kompor di dapurnya dan terus bisa memasak tanpa ragu kehabisan.
Saat ini di Kabupaten Ngada sudah dibangun  20 unit instalasi biodegester. Meski baru 20 unit,  sudah bisa menghasilkan ribuan liter POC organik untuk lahan pertanian. Dikatakan Hermenegil  Ruba, jika setiap unit berukuran 4 mt kubik saja diperkirakan menghasilkan 4.000 liter pertahun, maka 20 unit sudah bisa menghasilkan 80.000 liter setiap tahun.

Kita berharap setiap desa minimal satu unit biodegester untuk memenuhi kebutuhan pupuk petani secara mandiri. Dia optimis tahun ini permintaan pembangunan instalasi biodegester akan terus meningkat. “Akhir tahun lalu kita sempat kewalahan sehingga ada yang harus ditunda pembangunan pada tahun 2020 ini. Ini tanda-tanda baik, dan pada tahun ini akan mengalami peningkatan. Dengan demikian maka harapan kita tersedia pupuk bagi petani secara mandiri sudah bisa dicapai,” jelasnya. (ed)***

Baca Lengkap
Vigonews

Kepsek Herdin Ndiwa: ‘Perubahan Harus Disertai Sikap Mencintai Proses’



BAJAWA - Civitas SMAK Regina Pacis Bajawa merayakan Natal dan Tahun Baru bersama pada (Selasa, 7/1/2020). Perayaan ini mengusung tema; “Melayani Dengan Hati Yang Tulus”. Tepat Pukul 08.00 Wita perayaan ekaristi di mulai dan dirayakan di Gereja MBC Bajawa. Perayaan ekaristi dipimpin RD. Silverius Betu, Pr dan dimeriahkan oleh kelompok koor Recis. Dalam perayaan ini, selain diikuti oleh para guru-pegawai dan semua siswa, tapi juga turut hadir para alumunus angkatan 36 dan 37.

Dalam kotbahnya, RD Silverius yang juga Ketua Yasukda Ngada menegaskan tiga  hal penting. Pertama, Natal adalah peristiwa Allah jatuh cinta pada manusia. Hal ini terlihat jelas pada saat Yesus membuat mujizat memberbanyak roti dan memberikan makan kepada lima ribu orang. Karenannya, memberi makan kepada lima ribu orang adalah realitas cinta nyata Tuhan Yesus pada manusia. Hati yang terarah oleh rasa belas kasih. Bahwa orang yang miskin dan membutuhkan haruslah diprioritaskan pada tempat yang paling pertama.

“Cinta Allah pada manusia tak pernah berkesudahan. Hal ini terbukti dengan mengutus Putera-Nya ke dunia. Dan ini mau menegaskan bahwa cinta Tuhan selalu dipenuhi oleh kasih dan selalau terarah pada sesama yang lemah dan sangat membutuhkan bantuan,” katannya.

Kedua, melayani dengan kasih dalam kebersamaan. Sesuai firman Allah yang adalah kasih, maka hendaknya kita saling mengasihi satu sama lain dengan tulus. Guru harus saling mencintai, murid harus saling mencintai, begitupun guru dan murid harus saling mencintai. Sebuah lembaga pendidikan akan semakin kuat, jika pelayanan selalu berlandaskan kasih. Dan kerja dari hal kecil sekalipun haruslah dalam kebersamaan. Tiada kesuksesan tanpa kebersamaan dan kasih. Hal ini jelas termaktup dalam Injil Markus 6:34-44 yang memberi penegasan bahwa pelayanan haruslah butuh kasih sesama yang lain. Dan pelayanan itu haruslah berlandaskan kasih yang tulus.

“Pelayanan yang diemangati kasih dan kebersamaan adalah kekuatan yang paling dahsyat dalam kehidupan bersama. Apalagi lembaga pendidikan, kasih dan semangat saling percaya, saling menolong dalam kebersaamaan adalah di atas segalahnya,” tegasnya.
 
Ketua Yasukda Rm. Silverius Betu hadir pada ramah tama natal bersama keluarga besar SMAK Regina Pacis
Ketiga, melayani yang selalu melibatkan Tuhan. Bahwa setiap mimpi, usaha dan perjuangan kita haruslah melibatkan Tuhan. Sebab tanpa Tuhan setiap usaha kita adalah kesia-siaan. Untuk itu semua Civitas SMAK Recis haruslah meletakan Tuhan paling utama dalam setiap usaha dan perjuangan kalian. Ini penting agar Recis menjadi garam dan terang dunia bagi semua orang.

“Sebagai lembaga Pendidikan Katolik, sudah selayakanya menempatkan Tuhan di atas segalanya, agar setiap usaha dan proses pendidikan dalam lembaga ini dapat terwujud dan selalu dalam tuntunan Tuhan itu sendiri” Tegas RD. Sil.

Natal & Perubahan

Selanjutnya, Kepala Sekolah SMAK Recis, Hendrianto Emanuel Ndiwa, dalam sambutanya menegaskan satu hal penting yang paling urgen untuk dihidupi dan dirawati oleh semua Civitas Recis Bajawa yakni tentang perubahan. Menurutnya, makna perayaan Natal dan Tahun baru bersama ini identik dengan pembaharuan diri. Dan pembaharuan diri sangat berkaitan dengan perubahan itu sendiri.

Dan perubahan itu sangat berkaitan erat dengan dua hal. Pertama perubahan sementara. Yang sementara ini berkaitan dengan perasaan dan emosi. Tak heran jika dalam hidup kita menjumpai orang-orang yang berdisplin hanya pada saat dia memiliki rasa senang, namun akan tidak berdisplin jika dia tidak meiliki rasa suka lagi. Ini akan menjadi tantangan dan bahkan kemunduran jika dihidupi dalam sebuah lembaga pendidikan.

“Ya, jikalau orang berubah hanya karena terbawa perasaan maka perubahan itu hanyalah sesaat, dan akan berbahaya jika dihidupi dalam lembaga pendidikan. Terutama dalam lembaga Recis. Ini tidak boleh ada,” katanya.
 
Perayaan misa Nata bersama keluarga besar SMAK Regina Pacis
Kedua, dikatakan Kepsek Hendriyanto, perubahan itu permanen. Perubahan permanen menurut Herdin adalah berkaitan dengan perubahan maind set, pola pikir atau kerangka pikir yang selalu maju ke depan. Untuk itu, agar Recis makin berkualitas dalam semua aspek, maka guru dan murid segera berubah. Harus berubah saat ini mulai dari cara pikir dan cara bertindak. Cara pikir harus berani bermimpi dan mimpi itu harus diikuti oleh usaha dan perjuangan. Sedangkan cara bertindak yakni bekerja lebih cepat, bekerja lebih keras, bekerja lebih cerdas, bekerja lebih efisien dan bekerja lebih disiplin.

“Saya amat yakin kita semua ingin berubah dan ingin Recis lebih baik, untuk itu segera berubah. Untuk berubah harus cintai proses. Dalam proses kita harus mengalami air mata, darah, luka dan keringat. Yang tidak mau berproses, maka akan jadi sampah dan yang mau berubah akan jadi emas” tandasnya.

Diakhir sambutanya, Kepsek Recis mengucapkan terima kasih untuk semua pihak yang telah memberi dukungan untuk lembaga Recis. Entah langsung maupun tidak langsung. Recis adalah lembaga umat yang selalu  berusaha untuk populis dalam pelayanan dan elitis dalam mutu. Untuk Recis masih dan terus membutuhkan dukungan dari semua pihak. Hanya dengan melayani dengan kasih, maka kita akan memperoleh hidup yang meredeka dan terberkati,” katanya. (bz)***

Baca Lengkap
Vigonews

Gerakan OMK Tanam Bambu di Jerebu’u



BAJAWA – Rencana aksi menanam bambu digagas Orang Muda katolik (OMK) Paroki Jerebu’u dan Paroki Ruto, serangkaian kegiatan temu OMK  lintas Tim Pastoral Antar Paroki  Tetangga (TPAPT yang berlangsung 11 – 12 Januari 2020.

Pada kesempatan itu, hadir Dr. Nicolaus Noy Wuli, S.Pt, M.Si sebagai narasumber kuliah umum yang berlangsung di Kampung Batajawa, Jerebu’u.  Noy Wuli memberi apresiasi kepada orang muda katolik yang menggagas aksi tanam bambu di penghujung kegiatan temu OMK ini, dengan  menanam apa saja sebagai bentuk pertobatan Ekologis.

Kegiatan Temu OMK dihadiri  seluruh Orang muda Katolik paroki St. Paulus Jerebuu dan OMK Paroki St. Martinus Ruto juga pastor paroki, moderator OMK, dan para tokoh masyarakat di Kecamatan Jerebu’u. Temu OMK itu sendiri berlangsung selama dua hari yang di pusatkan di Stasi Dona - paroki St. Paulus Jerebu’u. 

Dr. Nico demikian mengajak orang muda yang hadir untuk melihat lebih jauh kerusakan ekologis dewasa ini yang dinilai kian parah. “Saat ini kita sedang mengalami Krisis Ekologis yang sangat parah yakni kerusakan terhadap alam terjadi dimana-mana, terjadi perubahan iklim, masalah air, hilangnya keanekaragaman hayati, penurunan kualitas hidup manusia dan kemerosotan sosial, serta ketimpangan global lainnya,” paparnya.

Dr. Nicolaus Noy Wuly saat memberi kuliah umum pada Temu OMK di Jerebu'

Masalah Ngada

Di kabupaten Ngada juga  menghadapi masalah ekologi amat serius, baik akibat kondisi alamiah, maupun perbuatan manusia.  Secara umum curah hujan di Ngada dan NTT  rendah, musim kemarau panjang tidak merata sepanjang tahun,  sehingga mengakibatkan produktivitas lahan rendah, penutupan vegetasi kurang, tanah mudah erosi dan bahan organik untuk menyuburkan tanah terbatas.

Kondisi alamiah lainnya, adalah topografi daratan sebagian besar terdiri atas gunung dan perbukitan, dengan tingkat kemiringan terjal, tanah dangkal, sehingga menyebabkan sebagian besar lahan memiliki kegunaan terbatas untuk pertanian.

Selain itu, Lanjut Noy Wuli, kesadaran masyarakat juga  rendah untuk menjaga lingkungan, dan ini merupakan rangkaian masalah serius yang tengah dihadapi pemerintah dan masyarakat. Akibat keterbatasan lahan, manusia membangun permukiman pada lahan miring, kawasan rawan longsor dan sekitar daerah aliran sungai, sehingga menyebabkan sering terjadi banjir, meningkatnya erosi dan pendangkalan sungai.

Aktivitas konversi (alih fungsi) lahan, perambahan hutan dan kemerosotan kualitas lingkungan alam, lahan kritis semakin meningkat, serta terjadi penurunan debit mata air. Menghadapai berbagai krisis ekologi ini, telah berbagai upaya pelestarian sudah dilakukan untuk memulihkan keadaan bumi. Gambaran kerusakan bumi yang semakin parah juga menjadi perhatian bagi para pemimpin Gereja Katolik.
Dr. Nicolaus Noy Wuly bersama OMK, para tokoh dan imam

Bambu Solusi

Oleh karena itu, menanam bambu menjadi salah satu kegiatan dalam perwujudan pertobatan ekologis ini.  Karena Bambu mempunyai sejarah sosial yang panjang di Kabupaten Ngada. Praktek olah bambu dalam berbagai sendi kehidupan di Ngada juga merentang panjang dari sejak zaman prakolonial hingga saat ini.

Begitu dekatnya bambu dengan ruang-ruang hidup manusia di Ngada membuatnya termanifestasikan dalam banyak hal, tidak hanya yang terkait dengan rancang bangun, namun juga dalam dongeng, kepercayaan, hingga falsafah hidup.

Isu perubahan iklim yang sangat update adalah peningkatan jumlah tumbuhan penyerap karbon dioksida, karena karbon dioksida merupakan salah satu penyebab utama efek rumah kaca.

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh bahwa bambu merupakan tumbuhan yang mampu menyerap karbon dioksida nomor dua terbesar setelah Trembesi. Bambu mampu menyerap CO2 mencapai 12 ton per hektar per tahun. Dengan demikian penanaman bambu merupakan upaya yang sangat penting dalam rangka mereduksi emisi gas rumah kaca.

Secara umum, manfaat ekonomis bambu antara lain, bila dibandingkan dengan komoditas kayu, tanaman bambu mampu memberikan peningkatan pendapatan masyarakat di sekitar hutan dalam waktu relatif cepat, yaitu 4-5 tahun. Manfaat ekonomis lainnya adalah pemasaran produk bambu baik berupa bahan baku sebagai pengganti kayu maupun produk jadi antara lain berupa sumpit (chop stick), barang kerajinan (furniture), bahan lantai (flooring), bahan langit-langit (ceiling) masih sangat terbuka untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun ekspor.

Dia juga melanjutkan bahwa sebagai bentuk pertobatan ekologis bukan hanya sekedar rasa penyesalan, melainkan sebuah gerakan positif guna menjalin relasi yang beradab dengan alam. Baginya, dengan menanam bambu kita sudah berupaya untuk menyelamatkan Dunia. 

Sementara itu secara terpisah, pastor paroki St. Paulus Jerebu’u dan pastor paroki St. Martinus Ruto ( RD.Tomy Lele dan RD. Ayub ) Ninung mengatakan sangat puas dengan kegiatan yang dilakukan selama dua hari tersebut. Meski demikian,  pihaknya masih sangat berharap bahwa euforia yang terjadi tidak hanya sebatas senang senang namun bisa diimplementasikan secara pribadi sebagai orang muda.

Sedangkan dalam gerakan bersama menanam bambu,  akan direncanakan waktu yang cocok usai melakukan survey lokasi dan kesediaan bubit tanaman bambu. " Secara Tim kami bersama OMK dua paroki ini, siap untuk tanam bambu" kata RD. Tomy dan RD. Ayub.

Sebelumnya,  pada hari pertama kedatangan,  OMK kedua paroki ini juga melakukan pertandingan sepak bola wanita dan voly putra untuk saling mengeratkan persahabatan dan diakhiri dengan rekoleksi bertema " Ah Tuhan, Saya ini Masih Muda".

Di hari kedua usai perayaan ekaristi bersama umat Stasi Dona,  acara dilanjutkan dengan kuliah umum bersama Dr. Nicolaus Noywuli yang juga merupakan Staf Ahli Bupati Ngada bidang Kemasyarakatan, SDM dan Litbang. (ml)***

Baca Lengkap
Vigonews

Fiorentina dan Cermin Retak Kemanusiaan


Oleh: Bonefasius Zanda
 
(foto:carreview.id) - 
Pada (27/12/2019) tepat Pukul 08.00 Wita, bersama anak dan istri, kami meluangkan waktu untuk nonton perayaan Natal Nasional 2019 dilayar kaca. Satu hal yang menarik bagi saya secara pribadi adalah adanya pemandangan keberagaman. Dimana semua pemuka agama turut hadir dan memancarkan wajah-wajah ceriah. Tulus atau tak tulus, entalah. Sebab yang kelihatan indah dimata, kadang tak seindah isinya.

Sedangkan hal lainnya, semisal pidato Jokowi, bagi saya biasa-biasa saja. Sebab sebaik apa pun pidato, jikalau tidak diterapkan dalam ranah praksis sama halnya dengan kemunafikan. Dan hemat saya, pidato Jokowi hanya manis dibibir saja. Sedangkan implementasinya, sungguh jauh panggang dari api.

Sementara pada saat sesi quis dan pemberian hadiah, saya memilih untuk  istirahat. Sebab pertanyaan-pertanyaan yang ditujukkan kepada tiga peserta itu, semuanya lelucon. Mulai dari pertanyaan nama-nama Menteri dan jabatanya, lokasi syuting film Kingkong yang terletak di pulau Nias, dan menyebutkan lima nama ikan.

Keesokan harianya (28/12/2019) dan hingga saat ini dunia maya mulai ramai perbincangkan sosok Fiorentina, peserta yang berasal dari NTT itu. Yang dipersoalkan adalah suara kerasnya dan juga ketidaktahuannya  dalam menyebut ketiga nama Menteri beserta jabatanya itu. Akhirnya, Fiorentina yang oleh Nitiezen dinilai sebagai sebagai seorang pribadi yang bodoh dan tak beretika. Dan rata-rata Nitiezen lebih memilih untuk memosisikan diri mereka pada posisi yang benar semuanya.

Terhadap realitas ini, saya merasa terpanggil untuk menulis beberapa hal penting dari perspektif kemanusiaan. Untuk itu, saya mengedepankan tiga hal penting sebagai landasan utamanya. Pertama, perihal pertanyaan Presiden Jokowi kepada Fiorentina. Hemat saya menanyakan nama tiga Menteri beserta jabatanya dalam situasi bangsa yang morat-marit ini tidaklah menjadi lebih penting.

Kedua, perihal jawaban yang diberikan oleh Fiorentina. Maksudnya, ketika jawabannya benar apa keuntungannya. Sebaliknya, malah saya senang karena Fiorentina tak mampu memberikan jawaban dengan baik. Sebab menghafal nama-nama Menteri beserta jabatanya sembari harus menyebutkanya di hadapan publik tidaklah menyelesai persoalan kebangsaan. Terutama semangat toleransi yang sedang dicabik-cabik.

Alasannya, menyebut nama-nama pejabat publik adalah sebuah penghargaan dobel dari masyarakat kecil yang sedang dihimpit oleh berbagai persoalan hidup. Apalagi menyebutnya hanya karena imingan sepeda. Sungguh sebuah pelecehan martabat orang kecil itu sendiri. Sementara popularitas para pejabat publik semakin tinggi yang walupun pada realitasnya, cara kerja mereka biasa-biasa saja.

Semisal, Menteri Agama hanya vokal seusai pelantikan. Setelah itu, Diam seribu bahasa sembari menyaksikan kaum minoritas dirampas haknya sebagaimana dialamai oleh sesama saudara di Dharmasraya yang tidak bisa merayakan Natal dengan penuh kebebasan. Begitupun dengan Menkopulham, Mahfud MD yang hanya bisa memberikan statetmen bahwa jika larangan Natal di Dharmasraya sedang diselesaikan baik-baik namun nihil dalam penangannya (Tempo, 23/12/2019).

Oleh karena itu, sudah seharusnya Jokowi tegas dalam menginstruksi para pembantu-pembantunya itu untuk lebih banyak bekerja ketimbang beretorika. Itulah sebabnya, mengapa pada point pertama di atas, saya merasa tidaklah penting untuk menyebutkan nama-nama Menteri. Toh, sebagai pejabat publik, pada saatnya entah kerja baik atau buruk, mereka tetaplah dikenal, terkenal, bahkan dikenang sepanjang masa.

Realitas lain yang makin miris pun tersaji. Bayangkan, disaat Dharmasraya berduka karena tak mengalami kebebasan dalam beribadah, justru pada saat yang sama Jokowi dalam pidatonya begitu meyakinkan dengan memberi penegasan secara berulang kali bahwa di Negeri Pancasila negara menjamin kebebasan beragama dan beribadah menurut agamanya masing-masing.

Ketiga, labelisasi bodoh dan tak beretika yang disematkan pada diri Fiorentina. Jujur secara pribadi, hati saya sempat menggerutu dikala menyaksikan tingkah Fiorentina. Namun saya pun sadar bahwa panggung sebesar itu dan dihadiri para petinggi negara bisa membuat saya salah tingkah. Namun begitu, saya tidak sepenuhnya mendukung perilaku Fiorentina terkhusus soal etika. Untuk itulah saya menilainya dari segi kemanusiaan.

Bahwa ketika Fiorentina sudah jatuh, maka sebagai sesama wajib untuk membangunnya kembali. Sebaliknya, jika kita memvonis hingga membully tanpa henti, maka sebenarnya kita sedang membunuh potensi dan karakternya, bukan.

Saya pun belajar dari pengalaman ini, bahwa untuk tampil di hadapan publik, tak cukup kita memiliki mental keberanian namun yang jauh lebih penting adalah harus miliki kecerdasan otak, hati dan spritual.

Namun apa yang menurut saya baik, ternyata tidak bisa serta merta baik di mata Nitizen.  Karenanya izinkanlah saya untuk menggugat cara pandang para Nitiezen yang maha benar itu. Jika benar menurut perspektif Nitiezen bahwa Fiorentina itu bodoh dan tak beretika, lantas mengapa para Nitiezen justru sangat tak beretika dalam mengkritisinya. Apakah bijaksana, kita membantu orang yang tak beretika itu dengan cara yang tak beretika pula? Akhirnya, saya pun berharap semoga dengan beberapa pertanyaan ini, saya, Anda dan terkhusus para Nitiezen terkait bisa merefleksikannya sebelum tidur.

Kalau bisa menyadarkan, syukur. Kalau tidak bisa berubah maka, saya pun bisa mengambil kesimpulan bahwa lebelisasi cara pandang destruktif Nitiezen dalam mengkritisi kekurangan Fiorentina adalah gambaran kehampaan etika para Nitiezen itu sendiri. Mereka, semacam sedang berusaha memadamkan api dengan menghadirkan api kembali.

Pada titik ini saya pun menyadari bahwa sebenarnya, acara Natal Nasional bisa jadi mengandung bibit-bibit hegemoni ala pejabat publik. Hal ini bisa tercium melalui sajian quis berhadiah dan pidato dengan tata bahasa yang sungguh memukau. Bagi masyarakat yang tidak kritis, pidato Jokowi adalah kesempurnaan. Hal ini terbukti pada pola pikir para Nitiezen yang cenderung mengkritisi kesalahan masyarakat kecil ketimbang mengkritisi pidato Jokowi.

Untuk itu, tak perlu heran jika para Nitiezen lebih peka  dan cepat untuk memvonis dan membully orang-orang kecil ketika melakukan kesalahan ketimbang mengkritisi persoalan-persoalan besar yang diakibatkan oleh para penguasa itu sendiri.

Sebaliknya, bagi masyarakat yang cerdas, quis dan lelucon yang di buat Jokowi itu adalah salah satu cara hegemoni yang paling dahsyat agar perayaan Natal Nasional itu dianggap bahwa Pemerintah sudah berhasil memberikan kebebasan beragama dan beribadah sesuai dengan ajaranya masing-masing.

Padahal dibalik itu semua, sebenarnya Pemerintah sedang menyembunyikan kelemahan-kelemahan yang amat akut. Semisal korupsi merajalela, persoalan HAM terus mewabah, hingga pada intimidasi terhadap kaum minoritas yang kian bertumbuh subur.

Sebaliknya, saya akan bangga terhadap Pemerintah ketika Jokowi pada sesi quis berhadiah itu memberikan pertanyaan-pertanyaan begini; apakah perayaan Natal Nasional ini mau mempertegas bahwa masalah toleransi antar umat beragama sudah teratasi? Atau, mengapa persoalan HAM dan korupsi yang dinahkodai oleh para pejabat publik sudah semakin berkurang?

Jikalu pertanyaan-pertanyaan macam ini yang ditanyakan kepada tiga peserta itu, maka saya amat yakin akan ada banyak jawaban-jawaban kejutan yang menggugat hati nurani kita sekaligus bisa dijadikan bahan introspeksi diri kita masing-masing.

Namun sayangnya hanya sebatas pertanyaan nama Menteri yang sudah berhasil membully Fiorentina masyarakat kecil itu. Terima kasih Fiorentina, oleh karena Engkau yang katanya bodoh dan tak beretika itu, Engkau berhasil membongkar cermin-cermin retak kemanusiaan yang sudah dirawat sekian lama oleh manusia-manusia yang menamakan dirinya pejabat, orang hebat dan maha benar itu.

Sesungguhnya, dengan ungkapan maafmu kepada Bapak Jokowi, sebenarnya Engkau sedang menyadarkan saya dan mungkin publik, bahwa betapa kita manusia adalah rapuh dan penting untuk berbenah sembari menjaga nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.***

*Penulis: Pendidik & Pemerhati Sosial - tinggal di Bajawa
Baca Lengkap
Vigonews

Wujudkan Pesan Natal 2019, Siswa SDK Tanawolo Gelar Aksi Tanam Pohon



KURUBHOKO - Konkretkan pesan Natal 2019, para siswa SDK Tanawolo di Paroki Kurubhoko, Kevikepan Bajawa, Keuskupan Agung Ende gelar aksi tanam pohon.

Aksi tanam pohon di lingkungan sekolah  itu digelar jelang Natal 2019. Kegiatan ini sekaligus sebagai aksi nyata kegiatan Bulan Kitab Suci Nasional September 2019 lalu, dimana kepada pemenang dan semua siswa peserta mendapat hadiah berupa anakan pohon, baik pohon buah-buahan (rambutan) maupun pohon aromatik (Cendana).

Kegiatan semacam literasi  ekologi ini berlangsung Kamis (19/12/2019) dihadiri Pastor paroki Kurubhoko P.Thobias Harman, OFM, Ketua Yayasan Puge Figo Emanuel Djomba dan staf, Kepala SDK Tanawolo beserta para guru di sekolah ini.

Sebelum aksi penanaman, Ketua Yauasan Puge Figo yang bergerak dalam bidang lingkungan, Emanuel Djomba, menjelaskan manfaat pohon dalam pelestarian lingkungan dan teknik penanaman pohon sebagai bagian dari edukasi kepada siswa, kemudian dilanjutkan dengan aksi penanaman. Para siswa membawa anakan pohon, jeringen air untuk menyiram dan bilah bambu untuk pelindung. Anakan pohon ditanam ditempat yang sudah disiapkan dengan pupuk kandang (kompos).

Aksi eco literasi ini selanjutnya juga sebagai awal kerja sama antara SDK Tanawolo, Komunitas OFM Kurubhoko dengan Yayasan Puge Figo mengembangkan lingkungan sekolah berwawasan ekologi mulai tahun 2020. “Jadi SDK Tanawolo akan dijadikan sebagai sekolah contoh berbasis ekologi,” kata Emanuel dari Yayasan Puge Figo.
 
Membangun kesadaran ekologi dengan mencintai ciptaan Tuhan - alam/lingkungan
Kepala Sekolah SDK Tanawolo Yakobus Lingge menyambut baik dan memberi apresiasi kepada pihak Yayasan Puge Figo dan Komunitas OFM Kurubhoko yang menaruh minat sangat besar pada masalah lingkungan. Sekolah menurut dia harus menjadi tempat semai benih SDM unggul melalui penanaman nilai termasuk dalam bidang ekologi.

Pater Thobias Harman, OFM mengatakan kegiatan ini sebagai wahana dalam membangun kesadaran berekologi kepada anak-anak, sehingga nantinya mereka akan lebih peka terhadap masalah-masalah lingkungan. 

Dalam berbagai kesempatan, Pater Thobias juga tak jemu-jemu memberi edukasi bahwa alam adalah bagian dari ciptaan Tuhan seperti halnya manusia, karenanya manusia harus hidup selaras alam. Manusia tak bisa hidup tanpa alam, dan persahabatan dengan alam sebagai bagian dari ciptaan adalah persahabatan dengan Sang Pencipta itu sendiri.

Pesan Natal Ekologi

Komunitas sekolah ini melakukan aksi tanam pohon di lingkungan sekolah juga sebagai aksi nyata menjawab pesan Natal di Paroki Kurubhoko, yakni: "Menjadi saudara bagi segenap ciptaan." 

Tema ini merupakan sebuah refleksi dari tema Natal Nasional 2019: "Hidup sebagai sahabat bagi semua orang," dalam konteks lokal paroki Kurubhoko.
 
Mencintai pohon (lingkungan) sebagai bagian dari sesama ciptaan
Pastor Paroki Kurubhoko, RP. Thobias Harman, OFM di sela-sela aksi penanaman pohon di lingkungan SDK Tanawolo, Kamis (19/12/2019) lalu mengatakan bahwa sahabat bukan hanya manusia tetapi juga ciptaan lainnya - seperti lingkungan alam.

Pada pesan Natalnya, Pater Thobias mengatakan, kerusakan alam menjadi isu global di mana bumi sebagai rumah bersama memgalami kerusakan akibat perilaku manusia. Secara nasional isu pembalakan dan kebakaran secara liar dan perusakan lainnya juga telah menyumbang kerusakan terbesar bumi.

Semangat persaudaraan dengan sahabat kita alam/lingkungan di tingkat lokal - sekitar kita juga masih menjadi momok, dimana perbuatan membakar hutan, merusak alam dan membuang sampah sembarangan masih dianggap perbuatan biasa saja. Manusia lupa bahwa merusak ciptaan adalah dosa melawan Sang Pencipta.

Terkait dengan itu, maka Natal harus menjadi peristiwa pencerahan untuk mengubah sikap hidup serakah dan permusuhan terhadap alam yang menyebabkan alam kian sekarat. Itu sebabnya mulai saat ini harus terus membangun kepekaan hidup dan kepedulian pada alam sebagai rumah bersama. 
 
Aksi tanam pohon siswa SDK Tanawolo
"Kalau kita adalah ciptaam sama dengan alam, maka kita harus menjadi saudara juga bagi ciptaan alam dan lingkungan seperti Kristus yang solider datang menjumpai segenap ciptaannya dalam peristiwa Natal di kandang," papar Thobias.***

Baca Lengkap