Vigonews

Selama Covid, Komunitas ‘Ine Jao’ Langa Beralih dari Tenun ke Berkebun untuk Bertahan Hidup



Sosok ibu paruh baya itu terlihat sedikit gusar. Jari-jarinya berpagut mengurai segumpal benang di teras sebuah rumah adat di Langa, kecamatan Bajawa. Sudah sejam, gulungan benang itu belum tuntas terurai. Setumpuk gulungan belum lagi tersentuh.

Biasanya jari-jarinya sangat lincah. Tapi kali ini bergerak sangat lamban. Dia berharap bisa menghasilkan selembar kain tenun tradisional dalam dua pekan ke depan. Tapi, mungkin tak akan segera terwujud. Bukan karena benang kusut, tetapi pikirannya yang sedang kusut.

Dialah Sisilia Rawi (41), salah seorang ibu yang tergabung dalam komunitas ibu migran ‘Ine Jao’ di Langa. Sewaktu disamparin, Sisilia beramah tama. Benang di tangannya diletakan bersama peralatan tenun lainnya. Rupanya Sisilia senang didatangi, lansung saja diajak bercengkrama.

“Sejak ada virus corona, beban kami macam makin berat. Sebelum ini saja hidup kami sudah berat,” kisah Sisilia saat jumpa di teras rumahnya suatu hari.

Apa yang dituturkan Sisilia seperti menjadi kata pengantar terhadap situasi yang dialami para ibu migran ‘Ine Jao’ di Langa. Sejak merebaknya pandemi covid 19, morat-marit kehidupan ekonomi juga ikut merebak. Seperti badai yang siap menghempas apa saja di depannya. Siapa bisa membendung wabah yang terjadi di setiap jengkal bumi ini. Siapa juga yang mampu bertahan?

Sisilia lanjut bercerita. Saya hanya mendengarkan setiap ocehannya. Kata dia, sejak virus corona merebak,  kiriman dari suaminya yang merantau di Jakarta semakin jarang. Kalau toh ada kiriman semakin kecil.

“Tapi saya tetap bersyukur meski kecil masih ada kiriman sesekali, semoga saja dia tidak kena PHK,” ucapnya.

Supaya bisa menambah kekurangan dari suami, Sisilia bekerja keras. Putar otak, bagaimana caranya mendapatkan uang, baik untuk kebutuhan makan minum sehari-hari, hingga membiayai anak-anaknya yang sekarang duduk di SMA, SMP dan satunya di TK.
 
Menenun adalah mata pencaharian para ibu yang diwariskan dari generasi ke generasi
Karena penghasilan berkurang, sudah jelas biaya hidup terasa makin besar dan makin berat. Pekerjaan menenun yang ditekuni selama ini,  tak lagi menghasilkan urang. Memang di sela-sela waktu masih mencoba menenun, tetapi itu hanya untuk isi waktu. Karena sudah empat bulan tidak ada pembeli. Padahal, hasil tenunan selama ini bisa mencukupi kebutuhan keluarga menambah penghasilan suami.

“Kita mau jual kain tenun sekarang ini, siapa yang beli?. Tidak ada kan? Tamu asing yang selama ini sering beli juga tidak ada. Apalagi orang kita di sini. Sama-sama mengeluh. Selama krisis, belanja sarung tenun tentu bukan  kebutuhan mendesak, jadi tidak mungkin ada yang beli” kata Sisilia.

Bagi ibu-ibu migran di Langa, dan ibu-ibu pada umumnya yang ada di sana, menenun adalah kerajinan tangan yang menghasilkan uang. Menenun juga sebagai kegiatan para ibu di ‘Sao’ (rumah adat). Di Sao, kegiatan menenun yang erat kaitannya dengan kebudayaan Bajawa itu diwariskan turun temurun. Tidak heran kalau kebiasaan menenun juga ditekuni sejak usia anak-anak. Ini juga semacam live skill bagi generasi berikutnya.

Untuk menghasilkan selembar kain sarung Bajawa, menurut Sisilia, dibutuhkan waktu dua minggu. Harganya Rp 400 – 700 ribu. Biasanya sudah ada pembelinya. Yang belum terjual, pasti ada yang beli di kemudian hari.

Selama pandemi covid 19, kata Sisilia, menenun hanya menjadi kegiatan sampingan,  karena sepi pembeli. Kalau masih ada yang menenun, itu hanya untuk isi waktu, sehingga diharapkan begitu pandemi covid lewat bisa langsung dijual. Kini sebagian besar waktunya juga untuk kegiatan menanam di kebun.
 
Ibu-ibu migran komunitas 'Ine Jao' mengikuti penguatan kapasitas
“Hasil kebun yang membuat kami masih bisa  bertahan hidup. Karena itu kami berdoa agar virus corona bisa cepat hilang. Sehingga kami bisa mulai dengan menenun dan menjual kain tenunan, serta melanjutkan kehidupan secara normal,” papar Sisilia.

Sebagai orang tua tunggal,  karena ditinggal sumi merantau – pulang empat atau lima tahun sekali – Sisilia harus membesarkan dan membiayai tiga anaknya. Dua diantaranya beranjak remaja.

Selama melewati masa sulit ini, Sisilia tampak tak menyerah meski dengan beban bertambah di pundaknya. Dirumahkan juga ada resiko. Anak-anak setiap saat yang berada di rumah juga memicu keributan. Ibu juga yang harus mengatasinya.  Sehingga perlu  perhatian ekstra dalam mendidik maupun mendampingi dalam belajar. Pada ibulah, tugas guru di sekolah  berpindah selama masa pandemi. Belum lagi harus mengurus rumah, mencari nafkah, mengolah lahan kebun, hingga kegiatan sosial. Ini beban yang harus disangganya.

Sebagai perempuan yang ditinggal suami merantau (bekerja), Sisilia seperti halnya ibu migran lainnya, masih harus ditimpa beban psikologi. Perempuan yang ditinggal suami selalu beresiko kena gosip, meski hidupnya tak seburuk gosip. Sehingga tak jarang dirinya harus menahan perasaan tertekan jika ada yang gosip.

Pengalaman yang sama juga dialami ibu migran lainnya, Veronika Beo (44). Veronika ditinggal suami merantau ke Kalimantan, juga untuk tujuan bekerja. Aktivitas Veronika di rumah, menenun. Baginya menenun menjadi tambahan penghasilan dari kiriman suaminya setiap bulan.

Veronika memang harus bekerja, karena biaya hidup yang terus bertambah. Anak-anaknya yang duduk di SMP dan SMA tentu membutuhkan biaya semakin besar. Mana lagi kebutuhan hidup sehari-hari. Sehingga, uang kiriman suami dan usahanya bisa mencukupi kebutuhan keluarga.

Apa yang dialami Sisilia, dalam menyikapi krisis yang disebabkan pandemi global covid 19, juga menjadi pengalaman yang tak menyenangkan bagi  Veronika. Menenum sudah tidak menghasilkan, karena tidak ada lagi orang yang membeli hasil tenunan. Bersama kedua anaknya, Veronika kini  beralih ke aktivitas bercocok tanam di kebun. Di sana bisa tanam jagung, ubi, dan sayuran. Usaha menanam intensitasnya lebih besar pada masa pandemi covid 19 ini.

“Kami memang lebih banyak aktivitas di kebun untuk menanam. Kalau kerja benang sudah tidak bisa menghasilkan, kecuali hanya isi waktu luang. Bersyukur masih ada hasil kebun, meski bukan beras yang selama ini harus dibeli. Kami masih bisa konsumsi ubi-ubian, sayuran, jagung. Yang penting bisa makan dan bertahan hidup,” beber Veronika.

‘Ine Jao’

‘Ine Jao’ adalah nama komunitas – tempat berhimpunnya ibu-ibu migran, yang terpaksa ditinggal oleh para suami karena pergi mencari kerja di perantauan. Ada yang merantau di sejumlah kota, di Kalimantan bahkan ada yang di luar negeri, seperti: Malaysia.
 
Komunitas ibu migran 'Ine Jao' bersama para pendamping saat penguatan kapasitas gender
Komunitas ‘Ine Jao’ baru dibentuk pada Januari 2020. Dengan semangat kebersamaan dan perasaan senasib sepenanggungan, para ibu migran sepakat berguyup. Dibentuk setelah diedukasi dan difasilitasi oleh sejumlah pekerja media lokal. Dilatar belakangi oleh keprihatinan akan situasi para ibu yang hidup tanpa suami – karena merantau bekerja di tempat yang jauh. Mereka harus hidup terpisah,  akibat terdesaknya kebutuhan ekonomi keluarga.

Pendampingan ibu-ibu migran ini disuport oleh PPNM dan Citradaya Nita. Kegiatan yang dilakukan adalah penguatan kapasitas ibu migran, work shop gender, pendampingan psikologi, dan edukasi menulis – menyampaikan pendapat – melalui media sosial. Harapannya dapat menumbuhkan sikap mandiri dan tangguh dalam menghadapi tantangan sosial di lingkungannya sehari-hari.

Dengan berguyup dalam komunitas semacam ini, para ibu migran memiliki wadah sebagai ruang berekspresi dengan kesamaan latar belakang dan saling membagi beban. Komunitas ini dilengkapi dengan kepengurusan untuk mengorganisir kegiatan dalam kebersamaan. Melalui wadah ini, para ibu dapat secara transparan saling berbagi rasa sebagai perempuan (istri) yang dapat mengekspresi hidupnya seperti warga masyarakat lain di lingkungannya.

Dalam beberapa kesempatan kegiatan,  para ibu migran mensheringkan pengalaman hidup dalam memainkan peran tunggal mengurus keluarga. Mengungkapkan kegalauan masing-masing, manakala sering dijadikan obyek gosip (bully) karena tak hidup bersama secara lengkap (tanpa suami) dalam kehidupan sehari-hari.

Cerita-cerita pengalaman semacam itu juga muncul ketika dilakukan diskusi gender yang difasilitasi Ketua P2TP2A kabupaten Ngada, Ny. Maria Dolorosa Nay Botha dan Ny. Lidwina Dhiu.

Suara Gender

Menelisik kegalauan akibat  beratnya beban para ibu migran ‘Ine Jao’ di tengah wabah corona, seperti melihat beban para ibu pada umumnya dalam tugas sehari-hari saat kirisis ini. Potret buram, dimana ibu harus menyangga beban yang cukup berat karena semua hal harus terhenti dan terpusat di rumah. Dari urus rumah, pendidikan anak-anak, pendampingan belajar, melayani suami hingga memikirkan seretnya ekonomi rumah tangga.

Dampak krisis ini yang paling pertama dirasakan adalah para ibu. Krisis ini ‘bagaikan mengurai benang kusut’. Pikiran pun kusut, susah sekali, rumit, sukar, ribet, jelimet. Kondisi yang terjadi hampir di semua rumah tangga.
 
Lidwina Dhiu
“Itu sudah ibu e...saya ikut prihatin dengan kondisi para ibu migran saat ini. Mereka harus berjuang sendiri, kasih makan anak dan seisi rumah. Sementara suami jauh di seberang merantau. Mungkin juga tidak bisa mengirim nafkah lagi karena PHK akibat dampak corona ini,” kata Lidwina Dhiu, pemerhati gender yang juga psikolog.

Semua lini kehidupan, kata Lidwina nyaris merayap saat ini. Lidwina yang juga punya usaha penginapan di Bajawa, ikut merasakan  bagaimana dampak pandemi global ini jatuh hingga titik terendah.

Selama pandemi covid 19, menyusul arahan pemerintah, hotel dan penginapan sudah tidak boleh terima tamu. Sementara karyawan harus tetap dibayar gajinya. Wabah ini benar-benar menghantam semua sektor kehidupan, dan seakan membuat dunia berjalan merangkak.

Yang ikut prihatin dengan ibu-ibu migran, salah satunya Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan Dinas PMD P3A Kabupaten Ngada Mathilde Paulina Laban. Yang perlu diprioritaskan, saran Paulina adalah kebutuhan pokok bagi keluarga. Karena itu di masa darurat ini para ibu harus lebih kreatif untuk memanfaatkan pekarangan dan kebunnya untuk t menanam  berbagai tanaman pangan. Tujuannya adalah menyediakan pangan keluarga tanpa harus mengeluarkan uang berbelanja di pasar.

Selain itu, Paulina menyarankan, perlunya perhatian dari pemerintah desa dengan mendata para ibu migran untuk mendapat bantuan agar dapat meringankan beban mereka. Di waktu krisis, bantuan sifatnya hanya meringankan beban, tidak menyelesaikan masalah yang besar karena bersifat darurat.

Dampak yang menyerang hampir semua lini kehidupan, kata ketua P2TP2A Kabupaten Ngada, Maria Dolorosa Nay Botha, menjadi keprihatinan semua orang. Ini kompleks sekali. Diharapkan ekonomi berdenyut kembali di masa new normal, namun masyarakat tetap mengikuti standar kesehatan. Perlu kerja sama antara pemerintah dengan masyarakat, tidak bisa jalan sendiri-sendiri, sambil terus berupaya mengatasi berbagai persoalan dalam situasi darurat ini.
 
Maria Dolorosa Nay Botha
“Melalui BLT mungkin sedikit meringankan, tetapi jelas tidak mungkin bisa atasi masalah ekonomi kalau terus di rumah. Aktivitas mungkin bisa dilakukan sambil tetap melaksanakan protokol kesehatan sesuai dengan arahan pemerintah,” kata Ros Nay.

Ros mengajak para ibu migran agar tetap bertahan dengan mengembangkan kreativitas hingga masa sulit ini lewat. Menenun bisa terus dilakukan dengan mengisi waktu luang untuk antisipasi pasca krisis.  Namun kebiasaan menanam bisa dikreasikan untuk ketersediaan pangan untuk  bertahan hidup. Contoh mananam sayuran, dan memanfaatkan hasil kebun seperti jahe, kunyit, temulawak, minyak kelapa murni, yang saat ini banyak dicari karena anjuran menjaga imun tubuh.

“Rata-rata petani di Bajawa, khusus di Langa selalu menanam jahe di kebun kopi. Sekarang ini jahe banyak dicari. Bukankah ini peluang di tengah krisis? Bantuan dari dana desa bisa menjadi modal awal untuk memanfaatkan  hasil kebun seperti jahe, kunyit dan temulawak sehingga bisa dijual,” saran Ros Nay.***

Emanuel Djomba

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :