Vigonews

Peranan Guru Mengembangkan High Order Thinking Skills (HOTS) Pada Siswa dalam Pembelajaran Matematika



Menghadapi perkembangan abad modern dewasa ini, diperlukan pembelajaran yang tidak sekedar menerapkan aspek konseptual semata, tetapi perlu mengaplikasikan pengetahuan dan berbagai keterampilan berpikir. Kurikulum 2013 mengamanatkan sebuah pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan keterampilan berpikir, khusunya ketrampilan berpikir tingkat tinggi. Ketrampilan tingkat tinggi atau yang dikenal dengan HOTS (High Order Thingking Skills) menjadi tujuan utama dalam proses pembelajaran, termasuk pembelajaran matematika.

HOTS  merupakan suatu proses berpikir peserta didik dalam level kognitif yang lebih tinggi. Ketrampilan model ini dikembangkan dari berbagai konsep, metode kognitif dan taksonomi pembelajaran, seperti: metode problem solving, taksonomi bloom, dan taksonomi pembelajaran, pengajaran, dan penilaian (Saputra, 2016:91).

HOTS meliputi kemampuan pemecahan masalah, kemampuan berpikir kreatif, berpikir kritis, kemampuan berargumen, dan kemampuan mengambil keputusan. Menurut King, HOTS masuk dalam kategori berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan kreatif. Sedangkan menurut Newman dan Wehlage (Widodo, 2013:162), HOTS  peserta didik akan dapat membedakan ide atau gagasan secara jelas, berargumen dengan baik, mampu memecahkan masalah, mampu mengkonstruksi penjelasan, mampu berhipotesis dan memahami hal-hal kompleks menjadi lebih jelas.

Sementara, menurut Vui (Kurniati, 2014:62) HOTS akan terjadi ketika seseorang mengaitkan informasi baru dengan infromasi yang sudah tersimpan di dalam ingatannya dan mengaitkannya dan/atau menata ulang serta mengembangkan informasi tersebut untuk mencapai suatu tujuan atau menemukan suatu penyelesaian dari suatu keadaan yang sulit dipecahkan.

Tujuan utama dari HOTS adalah bagaimana meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik pada level yang lebih tinggi, terutama yang berkaitan dengan kemampuan untuk  berpikir secara kritis dalam menerima berbagai jenis informasi, berpikir kreatif dalam memecahkan suatu masalah menggunakan pengetahuan yang dimiliki serta membuat keputusan dalam situasi-situasi yang kompleks (Saputra, 2016:91-92).

Isu mutakhir dalam pembelajaran matematika saat ini adalah mengembangkan HOTS dan menjadikannya sebagai tujuan utama dalam pembelajaran matematika. Pernyataan ini antara lain didukung oleh The National Education Asociation Research Division (Ghokhale,1997:1): “ Student Acquistion of  high order thingking skills  now nation goal”. Sejalan dengan hal itu, salah satu harapan yang ingin dicapai dalam pembelajaran matematika di Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah dimilikinya kemampuan berpikir matematis, khususnya berpikir matematis tingkat tinggi. Kemampuan ini sangat diperlukan siswa, terkait dengan kebutuhan siswa untuk memecahkan masalah yang dihadapinya dalam kehidupan sehari­hari. Oleh sebab itu, kemampuan berpikir matematis terutama yang menyangkut doing math (aktivitas matematika) perlu mendapat perhatian khusus dalam proses pembelajaran matematika.

Dalam belajar matematika siswa seringkali menemukan soal yang tidak dengan segera dapat dicari solusinya, sementara siswa diharapkan dapat menyelesaikan soal tersebut. Untuk itu, siswa perlu berpikir atau bernalar, menduga atau memprediksi, mencari rumusan yang sederhana, baru kemudian membuktikan kebenarannya. Karena itu, siswa perlu memiliki keterampilan berpikir, sehingga dapat menemukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Proses berpikir yang dijalani siswa untuk menyelesaikan masalah matematika berkaitan dengan kemampuan mengingat, mengenali hubungan antar konsep, menyadari adanya hubungan sebab akibat, analogi atau perbedaan. Halini yang kemudian memungkinkan siswa memunculkan gagasan­gagasan yang bersifat original, lancar dan luwes dalam mengambil kesimpulan serta memikirkan kemungkinan penyelesaian lainnya.

Proses berpikir di atas termuat dalam kegiatan berpikir, khususnya berpikir kritis, kreatif dan reflektif. Berpikir kritis merupakan suatu proses yang bermuara pada pembuatan kesimpulan atau keputusan yang logis tentang apa yang harus diyakini dan tindakan apa yang harus dilakukan. Berpikir kritis bukan untuk mencari jawaban semata, tetapi yang lebih utama adalah menanyakan kebenaran jawaban, fakta, atau informasi yang ada. Dengan demikian, bisa ditemukan alternatif atau solusi yang terbaik.

Berpikir kreatif merupakan suatu proses memikirkan berbagai gagasan dalam menghadapi suatu persoalan atau masalah, bermain dengan gagasan­gagasan atau unsur­unsur dalam pikiran dan dapat dipandang sebagai produk dari hasil pemikiran atau prilaku manusia. Berpikir reflektif merupakan suatu proses yang membutuhkan keterampilan­keterampilan yang secara mental memberi pengalaman dalam memecahkan masalah, mengidentifikasi apa yang sudah diketahui, memodifikasi pemahaman dalam rangka memecahkan masalah, dan menerapkan hasil yang diperoleh pada situasi-situasi yang lain.

Kemampuan berpikir kritis, kreatif dan reflektif sangat dibutuhkan siswa dalam menyelesaikan masalah. Karena, untuk menyelesaikan masalah siswa harus mampu mengeksplorasi masalah dengan beberapa interpretasi, menangkap masalah sebagai tanggapan terhadap suatu situasi, dan mengemukakan pendapat dirinya sendiri.

Selanjutnya siswa perlu merencanakan strategi penyelesaian masalah dari berbagai sumber, mencetuskan banyak gagasan, membandingkan strategi solusi dengan pengalaman atau teori terdahulu. Ketika strategi sudah dipilih oleh siswa, maka siswa perlu mengkonstruksi gagasan dan membuat kesimpulan.Dalam mengembangkan suatu gagasan siswa dapat menambah atau merinci secara detil suatu objek, gagasan, atau situasi. Setelah solusi diperoleh, siswa juga perlu memeriksa kembali solusi yang telah dikerjakan, termasuk mengembangkan strategi alternatif.

Masalah matematika diberikan kepada siswa untuk melatih diri dalam menggunakan kemampuan berpikir, serta untuk mengetahui posisi tingkat berpikir yang dimiliki masingmasing siswa.

Berdasarkan tingkatan proses, berpikir dibagi menjadi dua tingkat yaitu berpikir tingkat rendah (Lower Order Thinking) dan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking). Kemampuan berpikir merupakan kemampuan memproses informasi secara mental atau kognitif yang dimulai dari tingkat rendah hingga tingkat tinggi. Setiap siswa diarahkan untuk memiliki kemampuan berpikir hingga tingkat tertinggi, karena berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking) merupakan tujuan akhir dalam meningkatkan kemampuan berpikir. Kemampuan berpikir tingkat tinggi ini menghendaki seseorang untuk menerapkan informasi baru atau pengetahuan sebelumnya dan memanipulasi informasi untuk menjangkau kemungkinan jawaban dalam situasi yang baru HOTS menjadi salah satu prioritas dalam pembelajaran matematika di sekolah.

Siswa yang memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi dapat membedakan ide atau gagasan secara jelas, berargumen dengan baik, mampu memecahkan masalah, mampu mengkonstruksi penjelasan, mampu berhipotesis dan memahami hal-hal kompleks menjadi lebih jelas.

Tantangan Global

Dalam pembelajaran matematika sekolah yang berorientasi pada keterampilan berpikiringkat tinggi, peserta didik diharapkan mampu menjadi manusia yang berkualitas, yaitu mampu bertahan dan berkembang menghadapi tantangan global saat ini. Pengembangan Higher Order Thinking Skills yang dimiliki oleh siswa khususnya dalam matematika tentu bukanlah sebuah hal yang instan. Higher Order Thinking Skills lahir dari sebuah proses yang berkesinambungan dan tidak hanya berorientasi pada hasil. Dibutuhkan suatu proses yang kontinyu dan konsisten untuk melatih dan membiasakan para siswa. Oleh karena itu, seorang guru sebagai pemegang peran penting dalam kegiatan pembelajaran harus dapat memfasilitasi siswa untuk menjadi pemikir dan pemecah masalah yang baik.

Karena itu, dengan menggunakan HOTS, siswa akan memperoleh pemahaman yang mendalam pada konsep matematika dan dapat menerapkannya dalam kehidupan nyata. Kemampuan siswa untuk mengembangkan kemampuan  HOTS erat kaitannya dengan proses berpikir ketika menyelesaikan problem matematika. Menurut Rofiah dkk, ketrampilan berpikir tingkat tinggi merupakan kemampuan menghubungkan, memanipulasi, dan mentransformasi pengetahuan serta pengalaman yang sudah dimiliki untuk berpikir secara kritis dan kreatif dalam upaya menentukan keputuasan dan memecahkan masalah pada situasi baru.

Pengembangan HOTS dalam pembelajaran merupakan salah satu wujud pengimplementasian kurikulum 2013, sehingga kegiatan pembelajaran maupun evaluasi yang dilakukan hendaknya berorientasi pada HOTS. Proses pembelajaran yang diterapkan harus dapat menjadi wadah bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikirnya.

Selain itu, sebagai bahan evaluasi terhadap pengetahuan yang telah dimiliki setiap siswa, seorang guru harus menyediakan masalah yang memungkinkan siswa menggunakan keterampilan berfikir tingkat tingginya. Seorang guru tidak bisa hanya berkutat pada pengembangan instrument penilaian saja,  tanpa inovasi dalam kegiatan pembelajaran. High Order Thinking terjadi ketika peserta didik terlibat dengan apa yang mereka ketahui sedemikian rupa untuk mengubahnya, artinya siswa mampu mengubah atau mengkreasi pengetahuan yang mereka ketahui dan menghasilkan sesuatu yang baru. Melalui high order thinking peserta didik akan dapat membedakan ide atau gagasan secara jelas, berargumen dengan baik, mampu memecahkan masalah, mampu mengkonstruksi penjelasan, mampu berhipotesis dan memahami hal-hal kompleks menjadi lebih jelas, dimana kemampuan ini jelas memperlihatkan bagaimana peserta didik bernalar.

Sama halnya dengan literasi, kemampuan literasi matematika dan high order thinking skills tidak hanya terbatas pada kemampuan berhitung saja, namun juga bagaimana menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari guna menyelesaikan suatu permasalahan, bagaimana mengkomunikasikannya, dengan demikian maka dapat dilihat bagaimana proses berpikir matematisasi peserta didik.

Menyikapi masalah­masalah yang timbul dalam pendidikan matematika, dan harapan yang ingin dicapai dalam pembelajaran matematika, maka diperlukan upaya yang inovatif untuk menanggulanginya. Siswa perlu dibiasakan untuk mampu mengkonstruksi pengetahuannya dan mampu mentransformasikan pengetahuannya dalam situasi lain yang lebih kompleks sehingga pengetahuan tersebut akan menjadi milik siswa itu sendiri. Proses mengkonstruksi pengetahuan dapat dilakukan sendiri oleh siswa berdasarkan pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya, dan juga dapat berupa hasil penemuan yang melibatkan lingkungan sebagai factor dalam proses perolehan pengetahuannya.

Penulis: Anastasia Ndelos Jawa & Maria Ansiliana Bupu
Jurusan Pendidikan Matematika STKIP Citra Bakti Ngada

(Isi tanggung jawab penulis)

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :