Vigonews

Literasi Matematika yang Menyenangkan Secara Daring





Sejak dikeluarkan instruksi pemerintah agar siswa belajar di rumah, guna mencegah pandemi covid 19, ternyata menimbulkan banyak masalah bagi peserta didik, baik bagi siswa SD, SMP, SMA mapun mahasiswa.  Salah satu masalah adalah lambatnya jaringan internet dan ketiadaan listrik. Jika siswa stress dengan tugas-tugas yang demikian banyak, bukankah itu menyebabkan menurunnya imun tubuh.

Keluhan jaringan internet dan ketersediaan listrik datang dari berbagai kampung di tanah air. Tak terkecuali mahasiswa di Kabupaten Ngada, Flores. Keluhan tersebut disebabkan para siswa dan mahasiswa dituntut harus terus  belajar dari rumah mereka di kampung-kampung. Sebagai akibat dari instruksi itu, siswa/mahasiswa berhadapan dengan banyak tugas dari guru dan dosen. Tugas-tugas tersebut tidak sulit diselesaikan jika tersedia jaringan internet dan listrik yang memadai.


Bukan itu saja masalahnya.  Metode dan teknik pembelajaran secara daring (dalam jaringan) masing-masing mata kuliah juga akan berbeda-beda. Kiat guru/dosen menyampaikan pembelajaran secara daring juga berbeda. Di tengah pandemi covid 19, siswa dipaksa untuk menyesuaikan dengan metode pembelajaan, dari sistem tatap muka menjadi pertemuan secara daring dengan menggukan teknologi didukung vitur-vitur yang belum dakrabi. Dalam pembelajaran matematika, cara daring membutuhkan kerja-kerja kreatif baik para guru/dosen maupun siswa/mahasiswa.


Zulfa Pratamaningtyas, mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Singaperbangsa, Karawang dalam artikelnya di Kompasiana 10 April 2020, menawarkan kiat pembelajaran matematika yang menyenangkan secara daring. Menurut dia, perlu peran guru dan siswa sehingga pembelajaran daring tersebut dapat terjadi secara sinergis. Memang ini tantangan bagi guru dalam mengembangkan kreativitas dan inovasinya menciptakan kiat pembelajaran di tengah pandemi covid 19.


Dalam pembelajaran Matematika, Zulfa Pratamaningtyas menawarkan media pembelajaran berbasis e-learning. Salah satunya dengan pemberian komik elektronik (e-Komik) edukasi sederhana yang mampu menarik siswa sehingga mampu meningkatkan minat belajar matematika siswa.


Menurut dia, komik merupakan salah satu media yang digunakan untuk mengekspresikan sesuatu yang juga disertai dengan gambar. Komik juga salah satu bacaan yang dapat digunakan oleh siswa untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa. Sehingga, diharapkan dengan pemberian komik edukasi oleh guru, siswa dapat tetap melakukan kegiatan pembelajaran di rumah dan dapat mengkuti pembelajaran yang menyenangkan.Mengapa komitk? Menurut Zulfa Pratamaningtyas, karena komik merupakan salah satu bacaan yang banyak sukai anak, sehingga dapat meningkatkan minat belajar matematika siswa di tengah pandemi Corona seperti sekarang ini. Pembelajaran dengan menggunakan komik edukasi juga bersifat santai, dengan penyampaian materi yang tidak terlalu berat, sehingga mampu dengan mudah dipahami.


Tawaran Zulfa Pratamaningtyas, tentu dapat dijadikan masukan bagi para dosen di Flores dalam mengembangkan proses perkuliahan bagi mahasiswa yang kini berada di kampung-kampung. Metode yang digunakan selain pemberian tugas melalui media semacam Watsup, atau email. Progrom google clas room juga dijadikan  wahana  dalam mengembangkan pembelajaran berbasis daring, sekaligus memberi batas waktu bagi mahasiswa untuk mengumpulkan tugas.


Penggunaan wahana komunikasi tersebut di atas, hemat penulis belum dapat mewakili pembelajaran tatap muka yang klasik dan sudah berlangsung dari zaman ke zaman. Karena itu, para dosen perlu kiat lain melalui  pembelajaran berbasis video/youtube, sebagai upaya memenuhi pembelajaran tatap muka yang sudah diakrabi oleh siswa – dan itu ditiadakan setelah pandemi covid 19.


Literasi Matematika


Pandemi covid 19 seolah  memaksa proses bembelajaran berubah dan memaksa guru/dosen serta siswa untuk semakin kreatif dan inovatif. Pembelajaran matematika sebagaimana hakekatnya – dalam pandemi covid 19 ini – juga menjadi ajang  memberikan keterampilan 4C, literasi matematika, dan mendukung kesetaraan.


Isu-isu yang dapat di kembangkan dari kreativitas dan inovasi,  adalah berpikir kritis dan pemecahan masalah, komunikasi dan kolaborasi dalam pembelajaran. Dengan demikian, pengembangan bahan ajar, strategi pembelajaran, teknik penilaian, dan teknologi pendidikan matematika yang  mendukung keterampilan 4C, literasi matematika , dan kesetaraan masih perlu terus di kembangkan.


Aspek kreativitas dan inovasi dimaksud sejalan dengan hakikat pembelajaran matematika, dimana para siswa dapat menggunakan berbagai teknik untuk membuat ide-ide baru yang bermanfaat, merinci memperbaiki , menganalisis dan mengevaluasi  ide-ide mereka guna mengembangkan dan memaksimalkan usaha kreatif dan mendemonstrasikan keaslian temuan, baik secara individu maupun kelompok. Aspek berpikir kritis dan pemecahan masalah dimaksudkan para siswa dapat bernalar secara efektif dan mandiri.


Dalam situasi ini, siswa/mahasiswa mulai berpikir  matematik, yakni: berpikir sistematik. Dalam pembelajaran matematika, siswa memang dilatih untuk memahami bahwa antar bagian itu berinteraksi satu sama lain. Para siswa membuat pilihan-pilihan, keputusan, dan menyelesaiakan masalah, baik secara konvensional maupu ninovatif.


Aspek komunikasi dan kolaborasi dimaksudkan bahwa para siswa mengetahui bagaimana mengartikulasikan pemikiran dan ide-ide secara efektif, melalui komunikasi lisan, tulisan, maupun nonverbal. Namun, siswa  juga harus dapat mendengarkan secara efektif untuk menerjemahkan atau menguraikan makna pengetahuan, nilai-nilai, sikap, dan tujuan. Siswa/mahasiswa juga harus mampu berkomunikasi pada lingkup yang luas pada lingkungan yang berbeda.


Aktivitas keseharian manusia hakikatnya merupakan matematika. Pembelajaran matematika harus dapat memberikan kemampuan bagi siswa untuk menggunakan matematika sebagai metode untuk memecahkan masalah dalam kehidupan manusia.  Menyelesaikan isu-isu yang dialami seperti sekarang ini -- dalam pandemi covid 19. Dengan belajar dari rumah, siswa/mahasiswa dapat mengembangkan sikap kritis, sistematis, kreatif dan inovatif.


Namun para guru/dosesn perlu menyediakan tawawan solusi yang kreatif dan inovatif, mudah dan murah dalam menolong siswa untuk tetap belajar dari rumah dengan efektif. Tanpa kreativitas, inovasi dan kiat-kiat praktis guru/dosen akan semakin menyulitkan siswa/mahasiswa mengahadapi tumpukan tugas yang malah membuat mereka akan semakin stres dan bukan tidak mungkin menurunkan imun tubuh.


Selain mengembangkan program video pembelajaran (youtube), perlu juga solusi lain dari guru/dosen terutama lembaga untuk membantu siswa/mahasiswa dalam melancarkan tugas-tugas secara daring dengan tersedianya paket data internet. Jika tidak demikian maka tugas guru/dosen terputus. Atau para guru/dosen memilih solusi lain menjemput tugas-tugas siswa di kampung-kampung?***


Penulis:Yohanes Dua  & Patrisia Nango

Mahasiswa STKIP Citra Bakti Ngada

(Isi tanggung jawab penulis)

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :