Vigonews

Konservasi Mata Air, Ini Kearifan Orang Riung



RIUNG - Mendaki Gunung Niki di desa Taenterong 2 mungkin melelahkan, tetapi membuat jiwa lebih segar. Capai bukit yang terdapat situs kampung tertua nenek moyang orang Riung yang hidup ratusan tahun silam itu, nyaris memandang separuh kawasan Riung Raya. Senin (27/01/2020) menjadi momen istimewa mendaki dan menurun lagi hingga 3 km dan tiba di sumber mata air ‘Sumpa Nitu’, mata air yang dipercaya telah memberi hidup bagi nenek moyang orang Riung ratusan tahun lalu.

Tetapi, adakah ‘Sumpa Nitu’ masih akan menghidupi keturunannya bertahun-tahun kemudian hari? Pertanyaan itu yang telah menggerakan masyarakat Tenterong Raya beramai-ramai mendaki di gunung Niki. Mereka tak mau kalau ‘Molas Mata Wae’ (gadis penjaga mata air) di ‘Sumpa Nitu’ murka dan tak memberi setitik air pun. Generasi ini memang harus lebih awas dan peduli menjaga kelestarian alam, dan tidak  lagi mengekploitasi alam termasuk kebiasaan membakar hutan.

Warga Taenterong 2 dan Taenterong Raya akhirnya sadar bahwa air yang telah menghidupi nenek moyang orang Riung ratusan tahun yang lampau jangan hanya sampai pada generasi sekarang ini, lalu kering. Bahwa air memang akan dan selalu memberi hidup dari generasi ke generasi, hanya jika setiap generasi bertindak bijak.

Makanya, warga Taenterong raya, Senin (27/01/2020) menggelar launching konservasi mata air. Kegiatan konservasi itu sebagai bentuk keprihatinan mengingat parosakan air bersih untuk Taenterong Raya dari sumber mata air ‘Sumpa Nitu’ terus menurun debitnya dari tahun ke tahun. Jika tidak diantisipasi maka, cepat atau lambat mata air ini akan mengalami kekeringan. Hal ini tentu akan menimbulkan masalah bagi kehidupan masyarakat di wilayah itu pada waktu mendatang akan kekeringan.

Kegiatan lanching berlangsung di Gunung Niki yang dibawahnya terdapat sumber mata air ‘Sumpah Nitu’ itu, ditandai dengan penanaman berbagai anakan pohon oleh Kapala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Ngada Emanuel Kora, bersama Danramil 1625-01 Surisina Kapten (Inf) Supriyanto dan jajaran Babinsa, Kepala Desa Taenterong 2 Maksimilianus Kamis, Pembina Yayasan Puge Figo (YPF) Nao Remon, Ketua YPF Emanuel Djomba, Pejabat yang mewakili Camat Riung Wora Markus, para perangkat desa dan warga desa dari Taenterong Raya.

Warga desa dari Taenterong Raya sejak pagi membawa serta anak pohon menunju Gunung Niki sekitar 3 km dari Kuwuk. Setelah mencapai puncak, warga dan sejumlah undangan menuruni gunung Niki di belahan selatan menuju mata air ‘Sumpa Nitu.’

Setelah semua tiba lokasi, Tua adat setempat melakukan upacara adat ‘Pintu Manuk’ memohon restu leluhur dan ‘Molas Mata Wae’ (Putri panjaga mata air) agar konservasi yang dimulai tahun ini membawa manfaat bagi masyarakat.

Setelah ritual adat, dilanjutkan dengan kegiatan penanaman bersama oleh sejumlah pejabat yang hadir dan diselesaikan oleh warga masyarakat. Pada saat itu warga menanam sekitar 2.400 anakan pohon di kawasan yang sudah disiapkan sebelumnya, seperti: anakan asam, kupe, waru, kaliandra merah dan putih, kembur dan jabon. Warga juga menabur 210 kg biji-bijiaan pada guludan yang sudah disiapkan.

Selain 2.400 anakan pohon untuk konservasi mata air, Taenterong 2 juga menyediakan sekita 2.000 anakan cendana (jenis tanaman aromatik) yang bernilai ekonomis agar dapat ditanam di pekarangan masyarakat.
 
Maksimilianus Kamis (kedua dari kiri) bersama sejumlah pejabat menanam pohon dimulainya konservasi mata air "Sumpa Nitu'
Konservasi mata air ini dikatakan kepala desa Taenterong 2 Maksimilianus Kamis merupakan program desa yang didanai dana desa melalui inovasi desa tahun 2019, namun kegiatannya sudah dilakukan sejak November tahun lalu. Mulai dari tahapan sosialisasi, persiapan lahan oleh masyarakat didampingi Penyedia Peningkatan Kapasitas Teknis Desa (P2KTD). Terkait dengan konservasi ini, maka Yayasan Puge Figo – yang selama ini bergerak dalam bidang konservasi – berperan selaku P2KTD yang mendampingi program inovasi desa bidang konservasi.

Selaku P2KTD, YPF adalah lembaga yang direkomendasi Dinas PMD P3A kabupaten, dan secara resmi telah mengikuti pelatihan P2KTD di tingkat provinsi tahun 2018 di Kupang dan sudah terdaftar di direktori DPMD Provinsi NTT.

Inovasi Desa

Program inovasi desa bidang konservasi mata air ini menjadi prioritas desa Taenterong setelah menyadari kondisi ril bahwa ketersediaan air bersih menjadi masalah serius. Sementara pasokan air dari mata air ‘Sumpa Nitu’ terus menurun karena kerusakan hutan akibat kebakaran setiap tahun. “Atas dasar itu, kita kemudian memilih program inovasi desa dengan pilihan konservasi mata air, dan ini akan berlanjut ke tahun berikut melalui program perawatan dan pembuatan ilaran api. Kita siapkan juga alokasi dana dari dana desa,” jelas Maksimilianus.

Konservasi pertama ini menelan dana desa Taenterong 2 sebesar Rp 101 juta dari tahun anggaran 2019. Dana sebesar itu selain pengadaan anakan pohon dan biji-bijian juga untuk sosialisasi dan pendampingan teknis. Tahun 2020 tinggal perawatan dan pembuatan ilaran api, juga tetap didanai dengan dana desa sebesar Rp 20 juta.
Dikatakan  Maksimilianus Kamis, kegiatan ini bukan main-main. Ini sangat serius karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Karena itu apa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, harus dijaga kemudian akan menjadi keajaiban bagi generasi dan anak cucu kita kelak, karena berhasilnya konservasi ini diukur dengan meningkatnya debit di mata air.

Maksimilianus mengingatkan, bahwa jangan sampai kegiatan ini dianggap hanya seremonial semata. “Ingat kita butuh air, lebih dari sekedar kebutuhan yang lain seperti listrik. Kita sudah berjalan jauh, naik turun gunung hingga ke tempat ini. Bukan hanya sekali tetapi sudah sejak persiapan lahan. Karena itu, apa yang sudah kita mulai ini harus terus dijaga dan dirawat sehingga segala jerih lelah bahkan biaya yang sudah dikeluarkan dapat memberi hasil pula,” tegas Maksimilianus.
 
Nao Remon (kiri) dan Emanuel Kora (Ketiga dari kanan) dkk di sumber mata air 'Sumpa Nitu'
Langkah Cepat

Sementara Pembina YPF Nao Remon pada kesempatan itu memberi apresiasi dan rasa gembiranya atas respek masyarakat yang sangat antusias menyambut program konservasi ini. Dan menurut Nao, Taenterong 2 merupakan desa satu-satunya di Ngada yang sudah melakukan pilot project konservasi mata air dengan sangat serius dan akan dilakukan secara berkesinambungan.

Nao Remon yang mengambil program doktor dengan melakukan penelitian tentang keturunan orang Riung mengatakan, di sini bukan tempat sembarang. Di Gunung Niki ini ada situs kampung tertua nenek moyang orang Riung (Mbola Niki) sebelum terpencar ke berbagai tempat di kawasan Riung. Mereka berdiam di sini ratusan tahun lamanya sebelum berpindah lagi. Gunung Niki adalah tempat kedua setelah Wolomeze.

Di bawah situs kampung tua ‘Mbola Niki’ ini terdapat mata air yang kini dialiri melalui pipa ke kawasan Taenterong raya. Sumber mata air ini, kata Nao Remon adalah sumber kehidupan nenek moyang orang Riung dahulu. Karena debitnya makin kurang, maka Desa Taenterong 2 mengambil langkah cepat melakukan konservasi di mata air yang memiliki nilai sejarah masa lampau itu.

“Karena itu kita berusaha bersama agar jaga api agar kegiatan konservasi ini bisa membawa manfaat untuk kita saat ini saja, tetapi juga membawa manfaat bagi anak cucu kelak,” kata Nao Remon.
 
Kapten Inf. Supriyanto melakukan penanaman anakan pohon dekat mata air 'Sumpa Nitu'
Menyerap Air

Di Bagian lain Danramil 1625-01, Kapten (Inf) Supriyanto menengaskan kepada warga masyarakat bahwa, penghijauan atau konservasi itu membawa kebaikan bagi seluruh umat manusia. Dan dia menambahkan bahwa bakar hutan yang menghanguskan dan memusnahkan berbagai spesies tumbuhan adalah petaka untuk seluruh umat manusia juga.

“Tanpa konservasi atau penghijauan, mustahil air bisa terserap ke dalam tanah. Kita harus merawat alam. Dalam kitab suci juga dikatakan, Tuhan menciptakan  bumi dan segala isinya. Merusak isi bumi ini berarti merusak ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa,” kata Supriyanto.

Supriyanto mencontohkan, kalau satu pohon mampu menyerap air lima liter maka hitung saja berapa liter kalau ada 1000 pohon di gunung ini? Diingatkan, “Jangan lupa, sampai di rumah ceritakan kepada anggota keluarga, terutama anak-anak tentang pentingnya menjaga alam untuk kehidupan kita. Bahwa yang kita tanam hari ini akan bermanfaat kalau kita merawat dengan baik,” pinta Suriyanto.

Lindungi Satwa

Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Emanuel Kora menegaskan bahwa pemerintah selalu mendukung setiap upaya berbagai elemen dan lembaga seperti juga Yayasan Puge Figo untuk melakukan kerja sama konservasi semacam ini. Diharapkan kegiatan-kegiatan merawat alam akan selalu diikuti oleh berbagai kalangan di setiap kecamatan di Kabupaten Ngada. Eman Kora juga memberi apresiasi kepada YPF yang selama ini dalam amatannya  ternyata selalu menjalin kerja sama dan mendorong gerakan penghijauan dan konservasi.

Eman Kora pada kesempatan itu juga mengingatkan kepada para pemburu satwa yang sebenarnya punya jasa ikut menyebarkan biji-bijian tanpa disengaja. Jenis satwa  seperti burung, kera, dan musang sebenarnya ikut membantu kita membawa buah/biji-bijian ke berbagai tempat yang sebenarnya sulit dijangkau oleh manusia untuk penghijauan.

“Kalau satwa-satwa itu saja bisa menyebarkan biji-bijian/buah, kenapa manusia tidak menabur/menanam. Sudah tidak melakukan, malah membunuh satwa-satwa yang sudah membantu itu,” katanya.

Karena itu satwa yang karena naluri mereka namun menguntungkan, maka kita harus melindungi, jangan malah menenteng senapan kemana-mana lalu menembak habis. Makanya banyak satwa yang sebenarnya kehadiran mereka membawa keuntungan justru dibantai habis.

Mewakili Camat Riung Alfian, Wora Markus memberi apresiasi desa Taenterong yang sudah berani mengambil langkah melalui program inovasi desa dengan melakukan konservasi mata air. Ini sangat positif dan bermanfaat. Hanya dia minta warga agar menghentikan kebiasaan bakar hutan juga termasuk dengan alasan berburuh, agar apa yang sudah dimulai ini dapat membawa manfaat bagi kehidupan kita dan generasi kelak. (ed)***

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :