Vigonews

Kadis Peternakan Ngada Resmikan Gerakan Tanam Pakan Ternak Jenis Taramba




BAJAWA - Untuk berternak secara profeaional guna mencapai hasil maksimal, sudah saatnya para petani ternak tidak hanya mengandalkan kemurahan alam dari rumput yang tumbuh liar.

Sementara lahan terbuka pun semakin terbatas karena sudah banyak dijadikan lahan pertanian bagi petani sendiri. Karena itu sudah saatnya petani ternak perlu memikirkan pola alternatif dalam mengembangkan peternakan yakni dengan menyediakan lahan untuk pakan ternak.

Lahan pakan juga memudahkan petani ternak menyuplai makanan bagi ternak peliharaannya ketika memasuki musim kemarau, dimana rumput di alam terbuka menjadi kering dan sulit didapat. Kebakaran hutan yang terjadi secara masif setiap tahun juga kesulitan lain bagi petani ternak dalam menyuplai pakan ternak.

Baca juga:
20 Siswa di Kurubhoko Ikut Tanam Pakan Ternak dalam Program Ekoliterasi

Nao Remon dari YPF: Reboisasi Berbasis Pakan Ternak Atasi Kebakaran Hutan

Ketersediaan lahan pakan sebenarnya menjadi daya dukung program unggulan Dinas Peternakan Kabupaten Ngada menyukseskan Inseminasi Buatan (IB) terutama ternak sapi. Tanpa ketersediaan pakan yang baik maka program IB tidak akan berjalan dengan baik, karena program ini memerlukan pakan berkualitas dan memberi nutrisi seimbang bagi ternak hasil IB.

Karena itu, Disnak Ngada mendorong petani ternak melalui gerakan penanam pakan yang terencana sehingga memperoleh hasil yang maksimal.

Dalam mendukung program tersebut, Kadis Peternakan Kabupaten Ngada Nensi Killa, Jumat (24/01/2020) melakukan Launching penanaman pakan ternak jenis taramba di lokasi Pose Kesehatan Hewan (Poskeswan) Kecamatan Wolomeze di Kurubhoko sebagai program percontohan.
 
Gerakan penanaman pakan taramba melibatkan siswa sekolah dalam nuansa ekoliterasi
Penanaman pakan jenis Taramba ini dilaksanakan atas kerja sama Resort Peternakan Kecamatan Wolomeze dengan Yayasan Puge Figo (YPF) Kurubhoko yang bergerak dalam bidang ekologi. Dan ini  juga menjadi salah satu program YPF melalui reboisasi berbasis pakan ternak. Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan literasi ekologi (ekoliterasi) yang melibatkan siswa SMP Satap Kurubhoko, SDI Kurubhoko dan SDK Tanawolo.

Saat launching, Kadisnak Nensi Killa mengajak para siswa yang sudah berdiri di setiap patok secara bersama-sama menanam anakan taramba yang ada di tangan. Sembari memberi perunjuk teknis, Nensi minta para siswa untuk berdoa kemudian menanam, karena katanya: "kita yang menanam tetapi Allah yang memberi pertumbuhan."

Pakan jenis taramba yang ditanam di lahan contoh sekitar 30 are itu sebanyak 440 anakan. Diharapkan lahan yang ditanami taramba ini akan menjadi contoh bagi masyarakat untuk kemudian dikembangkan di lahan masing-masing.

Sejalan dengan program IB, ternyata Disnak Ngada sejak tahun 2019 lalu gencar mengampanye dan memberi edukasi kepada peternak agar mulai menanam pakan. Bahkan untuk program bantuan ternak kini harus punya syarat memiliki lahan pakan.

Terkait dengan pakan ternak, terutama jenis taramba, menurut Nensi sudah mulai dikembangkan di Mengeruda sejak tahun lalu. Akhir tahun lalu juga menyasar beberapa lahan kelompok. Selain lamtoro jenis taramba, juga dikembangkan jenis pakan lainnya. "Pakan berbiji kita kembangkan lamtoro dan turi selain jenis pakan tak berbiji. Semua kita dorong jadi tergantung kelompok ternak mau menanam. Di Were kita juga ada pusat bibit pakan jenis rumput," paparnya.

Pihaknya juga memberi apresiasi kepada YPF  yang melihat ini sebagai hal yang penting dan juga punya program yang sama yakni rebosisasi, salah satunya pakan ternak. Dan YPF  yang ikut bersinergis ini ikut mendorong kelompok masyarakat untuk menanam pakan. “Pemerintah tentu memberi apresiasi kepada lembaga seperti LSM dan elemen lainnya yang ikut memberi edukasi kepada masyarakat, sehingga gerakan ini semakin meluas,” katanya.

Pembina YPF Nao Remon yang juga hadir menimpali, pihak YPF melihat penanaman pakan ini dari aspek ekologi. Menurut Nao Remond, lamtoro jenis taramba termasuk jenis tumbuhan fabase yang mengandung unsur N untuk tanah. "Jadi secara ekologi menguntungkan untuk menyuburkan tanah, dan air mudah meresap," kata Nao Remon.
 
Pakan ternak lamtoro jenis taramba yang kini mulai dibudidayakan para peternak di Ngada
Nusa Hijau

Di bagian lain, Nensi sempat menyinggung soal gerakan nusa hijau di masa silam dengan penanaman lamtoro gung. Tapi lamtoro jenis ini akhirnya punah karena terserang kutu.

Dalam rangka swasembada ternak, kita harus kembali ke gerakan menanam pakan itu, dengan menanam lamtoro jenis baru yakni taramba yang berasal dari Australia. Ternyata lamtoro jenis taramba ini lebih unggul. Hijauan lebih banyak, tahan terhadap kutu  dan tahan terhadap kekeringan yang berkepanjangan. "Dengan keunggulan ini kita bisa tetap menyuplai pakan bagi ternak di kala kemarau panjang sekalipun," kata Nensi meyakinkan.

Terkait dengan kegiatan hari ini yang merupakan inisiatif dari bawah, Nensi atas nama pemerintah memberi apresiasi yang setingi-tingginya. Karen itu begitu dihubungi malam untuk kegiatan ini, dirinya menyatakan siap turun.

Apresiasi karena kegiatan yang semula hanya merupakan kegiatan internal dinas di Poskeswan malah mendapat sinergis dari Yayasan Puge Figo, para guru serta siswa SD dan SMP dan para anggota kelompok ternak. "Memang ketika saya kunjung ke sini beberapa waktu lalu sekitar Poskeswan ini hutan, saya tantang supaya buat sesuatu. Ternyata bukan hanya dari dinas tetapi dapat dukungan juga dari banyak kalangan.

Kedepan, bangunan Poskeswan yang dilengkapi dengan tempat pengolahan pakan ini harus bermanfaayt bagi para peternak. Jika desa melakukan pemberdayaan dengan menggunakan dana desa dalam bidang peternakan, dinas punya tenaga ahlinya untuk bagaimana cara mengolah pakan.
 
Para siswa dalam balutan ekoliterasi mengikuti kegiatan penanaman taramba dengan antusias
Diingatkan Nensi, sekarang tidak bisa leluasa lepas sapi karena mengancam lahan pertanian. Itu sebabnya, penyediaan lahan pakan adalah solusi peternakan era kini. Apalagi dengan program IB yang mengharuskan ketersediaan pakan. Hampir semua kecamatan keluhkan karena program IB belum diimbangi dengan ketersediaan pakan dari lahan sendiri. "Kita tidak bisa berharap pada padang, karena kalau kemarau panjang kita tetap kesulitan," katanya.

Hadir pada kegiatan launching penanaman pakan ternak, Kadisnak Kabupaten Ngada Nensi Killa, Kabid Produksi Wempi Gili,  Kepala Resort Peternakan Kecamatan Wolomeze Rafael Sai dan staf,  Pembina Yayasan Puge Figo Nao Remon, Ketua Yayasan Puge Figo Emanuel Djomba dan staf, anggota kelompok ternak, Babinsa Wolomeze  Sertu Mansetus Ninmusu, Kapolsubsektor Wolomeze Brigadir polisi Bersadi kilikily, para guru dan siswa dari SDI Kurubhoko, SDI Tanawolo dan SMP Satap Kurubhoko.(ed)***

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :