Vigonews

Ini Homestay & Cafe yang Baru Dilaunching di Obyek Wisata Mengeruda



Wisatawan yang datang ke obyek wisata ‘air panas’ mengeruda setiap tahun meningkat, baik domestik maupun wisatawan asing. Obyek pemandian ini  memang  jadi pilihan. Bahkan letaknya sangat dekat dengan bandara udara Turelelo, Soa.  Hanya 20 menit perjalanan dari kota Bajawa.

Meski sudah sudah lama sering dikunjungi, namun fasilitas penginapan dan cafe di sekitar areal wisata pemandian  ini belum bertumbuh, kecuali warung-warung sederhana yang menjual makanan kecil seadanya.

Hingar bingar wisatwan menyerbu obyek ini setiap saat, khusus pada hari-hari libur dan akhir pekan, kemudian ‘ditangkap’ sebagai peluang oleh mantan anggota DPRD Ngada  periode 2014 – 2019, Aloysius Siba.
Sumber 'air panas' mengeruda yang sudah menjadi obyek kunjungan wisatawan dalam dan luar negeri
Dia kemudian ‘menyulap’ rumahnya yang  letaknya hanya 900 meter dari obyek pemandian air panas, dan 1.300 meter dari bandar udara Soa, menjadi  Homestay.  Belakangan dikembangkan juga cafe untuk melayani para tamu yang menginap sehingga tidak kesulitan mencari tempat makan.

Homestay & Cafe yang diberi nama Ryani itu baru saja dilaunching tanggal 4 Januari 2020 lalu. Launching ditandai dengan pemberkatan dalam sebuah ibadat sabda yang dipimpin Pater Emanuel Logo Like, CS.

Peresmian Homestay dan Cafe Ryani dihadiri keluarga, sahabat, teman-teman media dan anggota Forum Ekonomi Kreatif (F-Ekraf) Ngada. Setelah pemberkatan oleh pastor, tamu dan undangan menuju cafe untuk beramah tama diawali dengan potong tumpeng oleh pemilik Ryani  Homestay & Cafe Aloysius Siba.
Rumah tinggal 'disulap' jadi homestay
Rumah Tinggal

Pada kesempatan itu, Aloysius  menceritakan bahwa awalnya dirinya membangun rumah tinggal saja. Namun belakangan ia tergelitik dengan pertanyaan seorang sahabatnya dari Ende, kenapa tidak bangun penginapan di sekitar obyek wisata ‘air panas’ Mengeruda? Menurut kawannya itu, tambah Aloysius, sebenarnya dari luar Ngada yang datang mandi air panas mau tinggal beberapa hari, tetapi karena tidak ada penginapan biasanya datang langsung pulang.

Apa yang digelitik kawannya itu pernah menjadi bahan diskusi bersama beberapa teman di Bajawa, yang punya keinginan untuk bangun penginapan di sekitar wisata ‘air panas’ mengeruda secara bersama-sama. Pengalaman perjumpaan dan diskusi itu akhirnya mengantar Aloysius mewujudkannya menjadi kenyataan.
Aloysius Siba meresmikan Homestay dan cafe miliknya dengan potong tumpeng
Karena tidak punya modal, harapan itu belum bisa diwujudkan sekalian. “Tetapi saya mulai bangun rumah tinggal. Saya pikir siapa tahu di masa tua bisa jadi penginapan setelah membangun sedikit-sedikit. Belakangan di bangun tambahan 4 kamar. Orang mulai tau ada kamar yang disewakan dari mulut ke mulut,” jelasnya.

Secara bertahap sesuai kemampuan keuangan, kamar dibangun lagi lima sehingga menjadi sembilan kamar. Lalu dibangun juga cafe. Bangunan didisain putranya yang seorang arsitek dan untuk menu cafe dikerjakan oleh putrinya yang baru saja menyelesaikan pendidikan komunikasi yang ternyata punya hoby memasak.

Homestay & Cafe Ryani  adalah penginapan yang menawarkan konsep rumah tinggal. Bukan hanya sekedar tempat nginap, tetapi pelayanannya seperti melayani keluarga. Prinsip kekeluargaan dikedepankan. Itu makanya, masuk ke tempat menginap melalui pintu rumah. Tamu diantar jemput baik dari dan ke bandara, juga layanan lainnya.
Kamar tidur
Meski tak ada promosi, selama ini Homestay & Cafe  Ryani tak pernah sepi tamu. Kebanyakan tamu yang menginap akan datang lagi, dan mereka juga menceritakan kepada temannya. Tamu-tamu pejabat yang bertugas di Kabupaten Ngada – dari Jakarta dan kota lain, juga banyak yang memilih menginap di Homestay & Cafe Ryani, terutama tamu yang tak kuat dingin jika harus menginap di Bajawa, maka Homestay & Cafe Ryani jadi pilihan.

Membangun homestay seperti ini  sesuai  upya pemerintah untuk mendukung ramainya pasar wisata dengan  menciptakan ribuan homestay. Melalui program ini masyarakat diajak terlibat untuk mendirikan homestay, karena konsep homestay adalah rumah biasa yang disewakan kamar-kamarnya kepada turis selama beberapa waktu, dan mereka tinggal satu rumah dengan pemiliknya. Hanya saja kamar perlu ditambah dengan fasilitas yang layak.

Pengelola homestay Ryani, Kety Siba, mengatakan selain kamar, pihaknya juga menawarkan jasa kepada para tamu melalui layanan cafe. Awalnya tidak berpikir sampai buka cafe. Namun dalam perjalanan banyak tamu yang harus dilayani karena layanan rumah makan atau restoran jauh. Tentu ini kesulitan bagi tamu yang menginap atau yang mengunjungi obyek wiata ‘air panas’ mengeruda.

Kety juga mengatakan, kebetulan dirinya punya hoby masak. Setelah selesai kuliah hobynya bisa dikembangkan langsung. “Karena itu saya mohon dukungan teman-tema untuk kegiatan usaha yang kami rintis usai kuliah ini,” paparnya.

Ketika pemberkatan Homestay & Cafe Ryani, Pater Eman, berpesan agar tempat ini menjai berkat bagi orang lain melalui jasa layanan sehari-hari. Membangun homestay & cafe juga bagian memperluas Kerajaan Allah dengan mewujudkan kasih dalam pelayanan sehari-hari.
Cafe Ryani
Meski baru dilaunching Januari 2020, namun Homestay & Cafe Ryani sudah mulai melayani tamu beberapa tahun lampau. Tersedia sembilan kamar yang dilengkapi cafe, dengan harga Rp 150.000/malam.(ed)***

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :