Vigonews

Gerakan OMK Tanam Bambu di Jerebu’u



BAJAWA – Rencana aksi menanam bambu digagas Orang Muda katolik (OMK) Paroki Jerebu’u dan Paroki Ruto, serangkaian kegiatan temu OMK  lintas Tim Pastoral Antar Paroki  Tetangga (TPAPT yang berlangsung 11 – 12 Januari 2020.

Pada kesempatan itu, hadir Dr. Nicolaus Noy Wuli, S.Pt, M.Si sebagai narasumber kuliah umum yang berlangsung di Kampung Batajawa, Jerebu’u.  Noy Wuli memberi apresiasi kepada orang muda katolik yang menggagas aksi tanam bambu di penghujung kegiatan temu OMK ini, dengan  menanam apa saja sebagai bentuk pertobatan Ekologis.

Kegiatan Temu OMK dihadiri  seluruh Orang muda Katolik paroki St. Paulus Jerebuu dan OMK Paroki St. Martinus Ruto juga pastor paroki, moderator OMK, dan para tokoh masyarakat di Kecamatan Jerebu’u. Temu OMK itu sendiri berlangsung selama dua hari yang di pusatkan di Stasi Dona - paroki St. Paulus Jerebu’u. 

Dr. Nico demikian mengajak orang muda yang hadir untuk melihat lebih jauh kerusakan ekologis dewasa ini yang dinilai kian parah. “Saat ini kita sedang mengalami Krisis Ekologis yang sangat parah yakni kerusakan terhadap alam terjadi dimana-mana, terjadi perubahan iklim, masalah air, hilangnya keanekaragaman hayati, penurunan kualitas hidup manusia dan kemerosotan sosial, serta ketimpangan global lainnya,” paparnya.

Dr. Nicolaus Noy Wuly saat memberi kuliah umum pada Temu OMK di Jerebu'

Masalah Ngada

Di kabupaten Ngada juga  menghadapi masalah ekologi amat serius, baik akibat kondisi alamiah, maupun perbuatan manusia.  Secara umum curah hujan di Ngada dan NTT  rendah, musim kemarau panjang tidak merata sepanjang tahun,  sehingga mengakibatkan produktivitas lahan rendah, penutupan vegetasi kurang, tanah mudah erosi dan bahan organik untuk menyuburkan tanah terbatas.

Kondisi alamiah lainnya, adalah topografi daratan sebagian besar terdiri atas gunung dan perbukitan, dengan tingkat kemiringan terjal, tanah dangkal, sehingga menyebabkan sebagian besar lahan memiliki kegunaan terbatas untuk pertanian.

Selain itu, Lanjut Noy Wuli, kesadaran masyarakat juga  rendah untuk menjaga lingkungan, dan ini merupakan rangkaian masalah serius yang tengah dihadapi pemerintah dan masyarakat. Akibat keterbatasan lahan, manusia membangun permukiman pada lahan miring, kawasan rawan longsor dan sekitar daerah aliran sungai, sehingga menyebabkan sering terjadi banjir, meningkatnya erosi dan pendangkalan sungai.

Aktivitas konversi (alih fungsi) lahan, perambahan hutan dan kemerosotan kualitas lingkungan alam, lahan kritis semakin meningkat, serta terjadi penurunan debit mata air. Menghadapai berbagai krisis ekologi ini, telah berbagai upaya pelestarian sudah dilakukan untuk memulihkan keadaan bumi. Gambaran kerusakan bumi yang semakin parah juga menjadi perhatian bagi para pemimpin Gereja Katolik.
Dr. Nicolaus Noy Wuly bersama OMK, para tokoh dan imam

Bambu Solusi

Oleh karena itu, menanam bambu menjadi salah satu kegiatan dalam perwujudan pertobatan ekologis ini.  Karena Bambu mempunyai sejarah sosial yang panjang di Kabupaten Ngada. Praktek olah bambu dalam berbagai sendi kehidupan di Ngada juga merentang panjang dari sejak zaman prakolonial hingga saat ini.

Begitu dekatnya bambu dengan ruang-ruang hidup manusia di Ngada membuatnya termanifestasikan dalam banyak hal, tidak hanya yang terkait dengan rancang bangun, namun juga dalam dongeng, kepercayaan, hingga falsafah hidup.

Isu perubahan iklim yang sangat update adalah peningkatan jumlah tumbuhan penyerap karbon dioksida, karena karbon dioksida merupakan salah satu penyebab utama efek rumah kaca.

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh bahwa bambu merupakan tumbuhan yang mampu menyerap karbon dioksida nomor dua terbesar setelah Trembesi. Bambu mampu menyerap CO2 mencapai 12 ton per hektar per tahun. Dengan demikian penanaman bambu merupakan upaya yang sangat penting dalam rangka mereduksi emisi gas rumah kaca.

Secara umum, manfaat ekonomis bambu antara lain, bila dibandingkan dengan komoditas kayu, tanaman bambu mampu memberikan peningkatan pendapatan masyarakat di sekitar hutan dalam waktu relatif cepat, yaitu 4-5 tahun. Manfaat ekonomis lainnya adalah pemasaran produk bambu baik berupa bahan baku sebagai pengganti kayu maupun produk jadi antara lain berupa sumpit (chop stick), barang kerajinan (furniture), bahan lantai (flooring), bahan langit-langit (ceiling) masih sangat terbuka untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun ekspor.

Dia juga melanjutkan bahwa sebagai bentuk pertobatan ekologis bukan hanya sekedar rasa penyesalan, melainkan sebuah gerakan positif guna menjalin relasi yang beradab dengan alam. Baginya, dengan menanam bambu kita sudah berupaya untuk menyelamatkan Dunia. 

Sementara itu secara terpisah, pastor paroki St. Paulus Jerebu’u dan pastor paroki St. Martinus Ruto ( RD.Tomy Lele dan RD. Ayub ) Ninung mengatakan sangat puas dengan kegiatan yang dilakukan selama dua hari tersebut. Meski demikian,  pihaknya masih sangat berharap bahwa euforia yang terjadi tidak hanya sebatas senang senang namun bisa diimplementasikan secara pribadi sebagai orang muda.

Sedangkan dalam gerakan bersama menanam bambu,  akan direncanakan waktu yang cocok usai melakukan survey lokasi dan kesediaan bubit tanaman bambu. " Secara Tim kami bersama OMK dua paroki ini, siap untuk tanam bambu" kata RD. Tomy dan RD. Ayub.

Sebelumnya,  pada hari pertama kedatangan,  OMK kedua paroki ini juga melakukan pertandingan sepak bola wanita dan voly putra untuk saling mengeratkan persahabatan dan diakhiri dengan rekoleksi bertema " Ah Tuhan, Saya ini Masih Muda".

Di hari kedua usai perayaan ekaristi bersama umat Stasi Dona,  acara dilanjutkan dengan kuliah umum bersama Dr. Nicolaus Noywuli yang juga merupakan Staf Ahli Bupati Ngada bidang Kemasyarakatan, SDM dan Litbang. (ml)***

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :