Vigonews

Fiorentina dan Cermin Retak Kemanusiaan


Oleh: Bonefasius Zanda
 
(foto:carreview.id) - 
Pada (27/12/2019) tepat Pukul 08.00 Wita, bersama anak dan istri, kami meluangkan waktu untuk nonton perayaan Natal Nasional 2019 dilayar kaca. Satu hal yang menarik bagi saya secara pribadi adalah adanya pemandangan keberagaman. Dimana semua pemuka agama turut hadir dan memancarkan wajah-wajah ceriah. Tulus atau tak tulus, entalah. Sebab yang kelihatan indah dimata, kadang tak seindah isinya.

Sedangkan hal lainnya, semisal pidato Jokowi, bagi saya biasa-biasa saja. Sebab sebaik apa pun pidato, jikalau tidak diterapkan dalam ranah praksis sama halnya dengan kemunafikan. Dan hemat saya, pidato Jokowi hanya manis dibibir saja. Sedangkan implementasinya, sungguh jauh panggang dari api.

Sementara pada saat sesi quis dan pemberian hadiah, saya memilih untuk  istirahat. Sebab pertanyaan-pertanyaan yang ditujukkan kepada tiga peserta itu, semuanya lelucon. Mulai dari pertanyaan nama-nama Menteri dan jabatanya, lokasi syuting film Kingkong yang terletak di pulau Nias, dan menyebutkan lima nama ikan.

Keesokan harianya (28/12/2019) dan hingga saat ini dunia maya mulai ramai perbincangkan sosok Fiorentina, peserta yang berasal dari NTT itu. Yang dipersoalkan adalah suara kerasnya dan juga ketidaktahuannya  dalam menyebut ketiga nama Menteri beserta jabatanya itu. Akhirnya, Fiorentina yang oleh Nitiezen dinilai sebagai sebagai seorang pribadi yang bodoh dan tak beretika. Dan rata-rata Nitiezen lebih memilih untuk memosisikan diri mereka pada posisi yang benar semuanya.

Terhadap realitas ini, saya merasa terpanggil untuk menulis beberapa hal penting dari perspektif kemanusiaan. Untuk itu, saya mengedepankan tiga hal penting sebagai landasan utamanya. Pertama, perihal pertanyaan Presiden Jokowi kepada Fiorentina. Hemat saya menanyakan nama tiga Menteri beserta jabatanya dalam situasi bangsa yang morat-marit ini tidaklah menjadi lebih penting.

Kedua, perihal jawaban yang diberikan oleh Fiorentina. Maksudnya, ketika jawabannya benar apa keuntungannya. Sebaliknya, malah saya senang karena Fiorentina tak mampu memberikan jawaban dengan baik. Sebab menghafal nama-nama Menteri beserta jabatanya sembari harus menyebutkanya di hadapan publik tidaklah menyelesai persoalan kebangsaan. Terutama semangat toleransi yang sedang dicabik-cabik.

Alasannya, menyebut nama-nama pejabat publik adalah sebuah penghargaan dobel dari masyarakat kecil yang sedang dihimpit oleh berbagai persoalan hidup. Apalagi menyebutnya hanya karena imingan sepeda. Sungguh sebuah pelecehan martabat orang kecil itu sendiri. Sementara popularitas para pejabat publik semakin tinggi yang walupun pada realitasnya, cara kerja mereka biasa-biasa saja.

Semisal, Menteri Agama hanya vokal seusai pelantikan. Setelah itu, Diam seribu bahasa sembari menyaksikan kaum minoritas dirampas haknya sebagaimana dialamai oleh sesama saudara di Dharmasraya yang tidak bisa merayakan Natal dengan penuh kebebasan. Begitupun dengan Menkopulham, Mahfud MD yang hanya bisa memberikan statetmen bahwa jika larangan Natal di Dharmasraya sedang diselesaikan baik-baik namun nihil dalam penangannya (Tempo, 23/12/2019).

Oleh karena itu, sudah seharusnya Jokowi tegas dalam menginstruksi para pembantu-pembantunya itu untuk lebih banyak bekerja ketimbang beretorika. Itulah sebabnya, mengapa pada point pertama di atas, saya merasa tidaklah penting untuk menyebutkan nama-nama Menteri. Toh, sebagai pejabat publik, pada saatnya entah kerja baik atau buruk, mereka tetaplah dikenal, terkenal, bahkan dikenang sepanjang masa.

Realitas lain yang makin miris pun tersaji. Bayangkan, disaat Dharmasraya berduka karena tak mengalami kebebasan dalam beribadah, justru pada saat yang sama Jokowi dalam pidatonya begitu meyakinkan dengan memberi penegasan secara berulang kali bahwa di Negeri Pancasila negara menjamin kebebasan beragama dan beribadah menurut agamanya masing-masing.

Ketiga, labelisasi bodoh dan tak beretika yang disematkan pada diri Fiorentina. Jujur secara pribadi, hati saya sempat menggerutu dikala menyaksikan tingkah Fiorentina. Namun saya pun sadar bahwa panggung sebesar itu dan dihadiri para petinggi negara bisa membuat saya salah tingkah. Namun begitu, saya tidak sepenuhnya mendukung perilaku Fiorentina terkhusus soal etika. Untuk itulah saya menilainya dari segi kemanusiaan.

Bahwa ketika Fiorentina sudah jatuh, maka sebagai sesama wajib untuk membangunnya kembali. Sebaliknya, jika kita memvonis hingga membully tanpa henti, maka sebenarnya kita sedang membunuh potensi dan karakternya, bukan.

Saya pun belajar dari pengalaman ini, bahwa untuk tampil di hadapan publik, tak cukup kita memiliki mental keberanian namun yang jauh lebih penting adalah harus miliki kecerdasan otak, hati dan spritual.

Namun apa yang menurut saya baik, ternyata tidak bisa serta merta baik di mata Nitizen.  Karenanya izinkanlah saya untuk menggugat cara pandang para Nitiezen yang maha benar itu. Jika benar menurut perspektif Nitiezen bahwa Fiorentina itu bodoh dan tak beretika, lantas mengapa para Nitiezen justru sangat tak beretika dalam mengkritisinya. Apakah bijaksana, kita membantu orang yang tak beretika itu dengan cara yang tak beretika pula? Akhirnya, saya pun berharap semoga dengan beberapa pertanyaan ini, saya, Anda dan terkhusus para Nitiezen terkait bisa merefleksikannya sebelum tidur.

Kalau bisa menyadarkan, syukur. Kalau tidak bisa berubah maka, saya pun bisa mengambil kesimpulan bahwa lebelisasi cara pandang destruktif Nitiezen dalam mengkritisi kekurangan Fiorentina adalah gambaran kehampaan etika para Nitiezen itu sendiri. Mereka, semacam sedang berusaha memadamkan api dengan menghadirkan api kembali.

Pada titik ini saya pun menyadari bahwa sebenarnya, acara Natal Nasional bisa jadi mengandung bibit-bibit hegemoni ala pejabat publik. Hal ini bisa tercium melalui sajian quis berhadiah dan pidato dengan tata bahasa yang sungguh memukau. Bagi masyarakat yang tidak kritis, pidato Jokowi adalah kesempurnaan. Hal ini terbukti pada pola pikir para Nitiezen yang cenderung mengkritisi kesalahan masyarakat kecil ketimbang mengkritisi pidato Jokowi.

Untuk itu, tak perlu heran jika para Nitiezen lebih peka  dan cepat untuk memvonis dan membully orang-orang kecil ketika melakukan kesalahan ketimbang mengkritisi persoalan-persoalan besar yang diakibatkan oleh para penguasa itu sendiri.

Sebaliknya, bagi masyarakat yang cerdas, quis dan lelucon yang di buat Jokowi itu adalah salah satu cara hegemoni yang paling dahsyat agar perayaan Natal Nasional itu dianggap bahwa Pemerintah sudah berhasil memberikan kebebasan beragama dan beribadah sesuai dengan ajaranya masing-masing.

Padahal dibalik itu semua, sebenarnya Pemerintah sedang menyembunyikan kelemahan-kelemahan yang amat akut. Semisal korupsi merajalela, persoalan HAM terus mewabah, hingga pada intimidasi terhadap kaum minoritas yang kian bertumbuh subur.

Sebaliknya, saya akan bangga terhadap Pemerintah ketika Jokowi pada sesi quis berhadiah itu memberikan pertanyaan-pertanyaan begini; apakah perayaan Natal Nasional ini mau mempertegas bahwa masalah toleransi antar umat beragama sudah teratasi? Atau, mengapa persoalan HAM dan korupsi yang dinahkodai oleh para pejabat publik sudah semakin berkurang?

Jikalu pertanyaan-pertanyaan macam ini yang ditanyakan kepada tiga peserta itu, maka saya amat yakin akan ada banyak jawaban-jawaban kejutan yang menggugat hati nurani kita sekaligus bisa dijadikan bahan introspeksi diri kita masing-masing.

Namun sayangnya hanya sebatas pertanyaan nama Menteri yang sudah berhasil membully Fiorentina masyarakat kecil itu. Terima kasih Fiorentina, oleh karena Engkau yang katanya bodoh dan tak beretika itu, Engkau berhasil membongkar cermin-cermin retak kemanusiaan yang sudah dirawat sekian lama oleh manusia-manusia yang menamakan dirinya pejabat, orang hebat dan maha benar itu.

Sesungguhnya, dengan ungkapan maafmu kepada Bapak Jokowi, sebenarnya Engkau sedang menyadarkan saya dan mungkin publik, bahwa betapa kita manusia adalah rapuh dan penting untuk berbenah sembari menjaga nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.***

*Penulis: Pendidik & Pemerhati Sosial - tinggal di Bajawa

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :