Vigonews

Cafe Maidia, Rumah Promosi Kopi Arabika Flores Bajawa



Cafe Maidia menjadi rumah promosi kopi AFB.

BAJAWA - Begitu Kopi Arabika Flores Bajawa (AFB) melejit ke pasar dunia, ternyata  ikut memicu pertumbuhan bisnis cafe di kota Bajawa, dan beberapa tempat lain di Kabupaten Ngada. Tak dipungkiri, bahwa pertumbuhan cafe di Bajawa dan sekitarnya ikut mengubah gaya hidup orang Bajawa, baik dalam menikmati kopi, maupun proses budidaya, hingga pasca panen.

Meski masuk dalam kategori daerah penghasil kopi arabika terbaik, namun hampir dua dekade lalu, tak banyak disadari oleh para petani kopi baik dari masyarakat biasa hingga para tokoh, AFB sebagai kopi terbaik . Itu karena Pengolahan kopi masih dilakukan secara tradisional dan masih dipasarkan secara lokal. Kopi biji digoreng begitu saja, tumbuk, diayak, kemudian diseduh. Biasanya untuk minuman masyarakat di pagi dan petang, suguhan para tamu, hingga minuman pada acara pesta.

Pengolahan sesuai standar mutu dan pemasaran saat ini, adalah metamorfosis kopi dari dataran tinggi Bajawa ini, menjadi  minuman kelas dunia. Secara tradisional kopi dipetik asalan baik buah merah maupun yang masih hijau, ditumbuk/digiling setelah beberapa hari petik, bahkan ada yang dijemur  dulu baru kemudian ditumbuk/digiling  untuk mendapatkan biji kopi. Namun cara ini berangsur-angsur ditinggal. Untuk menjamin standar mutu, pemasaran dan aspek higyenis, maka kopi mulai diproses secara profesional.

Sistem pengolahan kopi AFB yang memberi jaminan mutu dan pemasaran, adalah sistem olah basah giling basah setelah buah kopi merah dipetik,  sistem olah basah giling kering, sistem olah basah kopi madu (honye process) dan rosting and powder. Semua tahapan ini dilakukan dengan proses yang ramah terhadap lingkungan, dan dengan budidaya yang ramah lingkungan pula.

Kopi AFB yang diproses sesuai standar mutu dan pemasaran itulah kemudian menjadi  komoditi yang dijual dengan harga mahal. Penjualan kopi AFB menembus sejumlah kota besar di Indonesia, bahkan hingga pasar mancanegara. Di banyak cafe kota besar Indonesia mempromosikan serta menyuguhkan AFB specialty ini.
 
Ramai dikunjungi para ASN dan warga kota untuk menikmati cita rasa AFB
Pasar yang menggiurkan membutuhkan  promosi dan pemasaran terus-menerus. Promosi melibatkan banyak stakeholder, termasuk pihak buyer dari Indokom yang bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Ngada untuk ekspor kopi AFB ke pasar luar negeri.

Namun upaya promosi juga dilakukan oleh banyak pengelola cafe di berbagai kota yang secara khusus menyuguhkan kopi dengan cita rasa khas dari dataran tinggi Bajawa itu – 1200 dpl. Promosi juga dilakukan secara diam-diam oleh perorangan dan para tamu setelah mengunjungi Ngada.

Cafe Maidia

Bahkan, di Bajawa sejak tahun 2010 Pemda Ngada melalui Dinas Pertanian pun melakukan terobosan promosi dan pemasaran kopi AFB. Sejak saat itu, dikemukakan Kadis Pertanian Kabupaten Ngada Paskalis Wale Bai, dibukalah cafe pertama di Bajawa – yang diberi nama Cafe Maidia.  Nama Maidia diambil dari bahasa Bajawa yang berarti ‘mari sini’. Cafe Maidia dijadikan rumah AFB bagi siapa saja yang ingin menikmati citarasa kopi AFB maupun yang ingin mendapatkan berbagai informasi tentang perkopian. Dan sejak saat itu, masyarakat Bajawa mulai diperkenalkan dengan keday kopi atau cafe.

“Cafe Maidia lebih dari sekedar tempat minum kopi,” itu kata Paskalis Wale Bai.  Cafe Maidia, kata dia, menjadi rumah promosi AFB sejak kopi dari dataran tinggi Bajawa ini mulai dikenal dunia luar.

Menjadi rumah edukasi bagi masyarakat, baik yang ingin menikmati cita rasanya, maupun yang mau belajar tentang proses budidaya hingga panen dan pasca panen, agar menghasilkan kopi bermutu dan mampu bersaing di pasar.
 
Membuka stan pada iven-iven besar di luar ruangan
Tujuan membuka Cafe Maidia, dijelaskan Paskalis bukan semata-mata untuk profit. Sebaliknya di sini menjadi tempat masyarakat untuk belajar tentang kopi dari hulu sampai hilir. Jika di luar kita minum kopi dengan harga Rp 5.000 per gelas, maka kita juga mulai belajar menikmati cita rasa kopi yang diproses dengan standar mutu dan hygienis, namun dengan harga yang terjangkau pula. Masyarakat diberi kesempatan menikmati dengan cita rasa khas ini,” papar Paskalis saat bincang-bincang dengan vigonews.com  di Cafe Maidia, Selasa (21/01/2020).

Kehadiran Cafe Maidia sesuai misi pemerintah sebagai rumah promosi kopi AFB baik kepada masyarakat lokal, maupun kepada setiap tamu yang berkunjung ke sini.

Cafe ini juga  sebagai tempat pembanding antara kopi yang satu dengan yang lain, sehingga berangsur-angsur masyarakat akan berubah gaya hidup mereka dengan minum kopi berkualitas yang adalah produk dari daerah sendiri. Jangan sampai orang dari luar begitu tergoda dengan AFB karena punya cita rasa khas, sementara masyarakat kita tidak dapat menikmati kopi AFB dengan kekhasan dan keunggulannya, malah minum kopi asalan yang tentu kurang menjamin dari sisi kesehatan.

Cafe Maidia juga menjadi rumah intelektual bagi warga kota ini. Di rumah kopi AFB ini, sejak 2014 lalu mulai digunakan oleh berbagai komunitas intelektual menggelar diskusi, seminar dan dialog publik. Misalnya dialog publik yang selalu digelar oleh Rumah Literasi Cermat (RLC) Ngada. Jadi, rumah kopi ini menjadi pusat kegiatan literasi. Tempat membedah berbagai isu lokal, dan berbagai pelatihan digelar di sini.

Secara tidak langsung, Cafe Maidia telah berperan membuka cara pandang masyarakat lokal dalam membudidaya maupun mengolah kopi secara baik. Sebagai cafe pertama di kota dingin ini, ‘Maidia’ telah menjadi awal tumbuhnya cafe-cafe yang kini jumlahnya puluhan di kota Bajawa dan sekitarnya.  Cafe-cafe itu  secara khusus menyuguhkan AFB sebagai minuman favorit di cafenya. Jadi, sebenarnya kehadiran Cafe Maidia telah ikut melejitkan nama AFB dan punya brand yang dikenal luas.

Sekarang ini, kata Paskalis, sudah banyak cafe yang bertumbuh, bukan hanya di kota Bajawa tetapi juga seantero Ngada. Kopi AFB tidak lagi sebatas melayani wisatawan, tetapi juga mulai melayani masyarakat di sekitar cafe.
 
Cafe Maidia jadi tempat diskusi para intelektual dan orang muda 
“Kita harus bersyukur bahwa bertumbuhnya cafe-cafe baru sesuai dengan tujuan pemerintah supaya setelah mendapat edukasi  bisa menumbuhkan cafe di tempat lain. Bahkan ada yang ambil produk kopi AFB dari industri Hilir milik Dinas Pertanian.

Kalau sekarang cafe terus bertumbuh itu juga salah satu indikator bahwa bisnis keday kopi semakin menjanjikan, tentu saja karena meningkatnya jumlah masyarakat penikmat kopi. “Sekarang kalau mau minum kopi mungkin orang tidak mau repot urus di rumah, tinggal ajak saja tamunya minum di cafe sambil rileks. Ini juga kultur yang baik sehingga cafe baukan sekedar tempat bukan sekedar minum sama dengan di rumah, tetapi wahana untuk rekreasi,” kata Paskalis.

Terkait dengan peluang itu pula, belakangan Cafe Maidia juga berperan dalam mengedukasi sumber daya manusia (SDM) orang muda dengan motivasi untuk mulai berwira usaha. Cafe Maidia melakukan pelatihan pengelolaan cafe dan pelatihan menjadi barista (meracik kopi). Orang muda yang dilatih diarahkan untuk langsung melakukan aksi dengan mulai membuka usaha keday kopi.

Kultur Baru

Dengan bertumbuhnya cafe-cafe di kota Bajawa, ternyata berangsur-angsur ikut mengubah kultur (live style) masyarakat lokal Bajawa dalam menikmati kopi.

Kopi yang sudah dibudidaya secara organik (sertifikat organik) dan mendapat sertifikat Indikasi Geografis (IG) memang sudah saatnya dinikmati oleh para petani kopi sendiri. Bukan hanya keuntungan ekonomi, tetapi juga keuntungan proses yang memenuhi standar mutu dari pengolahan yang baik.
 
Lusi & Yeni - Melayani dengan hati
Menurut pengamatan Hermegild Ruba atau yang akrab disapa Egild Ruba, Cafe Maidia sejak awal mencoba berperan maksimal baik dalam melayani penikmat kopi untuk para tamu dari luar daerah, maupun pembiasaan kepada masyarakat lokal untuk minum kopi AFB di luar rumah.

Bagi yang sudah terbiasa menikmati kopi, kata Egild, cafe adalah tempat untuk memburu cita rasa AFB yang sebenarnya. Sejak ada kopi AFB yang dijual di cafe-cafe, masyarakat mulai terbiasa mengonsumsi kopi yang diproses sesuai standar mutu di cafe.

Memang cafe memunculkan gaya hidup (live style) di dalam masyarakat bahwa kopi bukan sekedar minuman yang cukup diminum di rumah saja. Namun karena kopi selalu punya cerita dan memberi pengalaman baru, maka akan meringankan langkah banyak orang untuk bertandang ke cafe-cafe terdekat. Bahkan cafe menjadi tempat untuk refreshing agar dapat lepas dari deraan hidup sehari-hari, sambil menikmati cita rasa AFB. Di sana bisa bertemu dengan orang lain dan  berdiskusi banyak hal sehingga menambah wawasan.

Menikmati kopi di cafe bersama teman dalam komunitas juga dapat mengembangkan kultur  intelektual dengan berdiskusi tentang berbagai isu yang berkembang.  Sembari mereguk secangkir kopi, diskusi dapat mencairkan berbagai kebekuan yang berhubungan dengan persoalan sosial di masyarakat.

Sudah Biasa

Sementara Ignatius Sebo yang juga pelaku kopi dan pemilik UPH Papa Taki mengatakan, sebenarnya Kopi AFB sudah dikenal lama. Kopi bagi orang bajawa sudah menjadi bagian dari kehidupan. Kopi menjadi simbol persaudaraan yang bisa menjadi teman ngobrol di mana saja. Begitu kopi AFB berkembang ke pasar nasional maupun luar negeri, ikut menguatkan kultur minum kopi. Munculnya cafe juga menjadi pilihan bagi masyarakat sebagai tempat menikmati kopi. Namun tidak mengubah secara drastis kebiasaan minum kopi di rumah, di tetangga, di tempat pesta atau pesta budaya bahkan untuk menerima tamu.
 
AFB menyuguhkan cita rasa beda

Karena sudah jadi kebiasaan, menurut Igantius, minum kopi juga jadi kegiatan yang biasa dan rutinitas. “Soal cita rasa nomor dua, yang penting bisa minum kopi. Ketika kopi AFB  beguitu di kenal di luar Bajawa, maka bagi kita di sini biasa saja, karena keseharian kita tidak pernah tanpa kopi,” kata Ignas.

Jadi menurut Ignas promosi kopi perlu terus dilakukan baik di Bajawa maupun ke luar. Banyaknya cafe yang menjual kopi AFB baik di berbagai kota maupun Bajawa menjadi wahana dalam mempromosi kopi AFB, dengan selalu menikmati kopi yang baik dan mencintai produk sendiri.

Menikmati citarasa AFB langsung tempat asalnya? Datang saja ke Cafe Maidia, Jl. Soegyopranoto, Kota Bajawa, Kabupaten Ngada. (ed)***

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :