Vigonews

Petani Dizi Gedha Siap Terapkan Pertanian Ramah Lingkungan



BAJAWA - Sekitar 150 petani di Desa Dizi Gedha, Kecamatan Golewa Barat, Selasa (17/12/2019) bersama-sama menyatakan komitmen untuk mewujudkan pertanian ramah lingkungan di desa itu.

Pernyataan komitmen tersebut disampaikan dalam rangkaian kegiatan live in pertanian organik pada hari kedua yang digelar serentak oleh  Dinas Pertanian Kabupaten Ngada, di sembilan desa di Kecamatan Golewa, dari ranggal 16 - 18 Desember 

Pernyataan komitmen disampaikan Kepala Desa Dizi Gedha Wihelmus Wele, disaksikan Kepala Seksi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Dinas Pertanian Kabupaten Ngada, Hermenegild Ruba, SP bersama para PPL yang hadir, serta para petani di desa Dizi Gedha.

Dalam pernyataan komitmen yang ditandatangani delapan Ketua Kelompok Tani mewakili 150 petani, forum petani Dizi Gedha menyatakan: (1) siap menjalankan pertanian ramah lingkungan dalam melaksanakan budidaya pertanian hingga pasca penen; (2) minta dukungan berbagai elemen terutama Dinas Pertanian guna mendampingi petani dalam berbagai kegiatan pertanian; (3) minta Pemerintah Kabupaten Ngada agar menjamin ketersediaan air, dan penyediaan cultivator dan peralatan pertanian yang diperlukan dalam pengembangan lahan pertanian hortikultura; (4) memfasilitasi unit pengelola pupuk organik dan pestisida nabati secara mandiri kepada petani.
 
Pernyataan komitmen menerapkan pertanian ramah lingkungan di desa Dizi Gedha

Komitmen untuk menjalankan pertanian ramah lingkungan menjadi topik diskusi hangat dalam kegiatan live in. Betapa tidak, para petani di desa yang selama ini dijuluki pelopor pertanian hortikultura itu bagai tercekik oleh isu produk pertanian dari daerahnya disebut tak ramah lingkungan. Dikatakan produk mereka menggunakan pupuk kimia dan pestisida kimia melebihi ambang batas dan membahayakan kesehatan manusia. Isu tersebut telah membuat pemasan produk hortikultura terganggu, dan jika tidak diantisipasi malah menciptakan image yang negatif tentang pertanian daerah mereka.

Salah seorang petani yang menyoroti hal ini adalah Emanuel Longa. Menurut dia, isu itu telah merugikan petani. Dia bersama petani lain sempat bertemu dengan Bupati Ngada Paulus Soliwoa untuk menyampaikan hal ini. Dia menyinggung bahwa selama ini petani tidak pernah didampingi soal penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang menurutnya dijual di sejumlah toko bahkan beredar hingga ke desa. “Kami terima kasih karena kegiatan ini dapat memberi gambaran kepada para petani dalam pertanian. Selain itu para petani sudah bisa bangun komitmen untuk mengembangkan pertanian yang ramah lingkungan,” katanya.

Live in

Kegiatan live in digelar pasca polemik di media sosial beberapa waktu lalu, bahwa produk pertanian hortikuktura di wilayah Kecamatan Golewa Barat mengandung pestisida kimia melampaui ambang batas. Polemik yang tersebar kemana-mana tersebut sudah meresahkan dan merugikan para petani sehingga mereka mendatangi pemerintah kabupaten Ngada untuk melakukan klarifikasi atas polemik tersebut.
 
Nikolaus minta perkenalkan unit pengelola pupuk organik berbasis WC ternak
Terkait dengan hal tersebut, live in merupakan langkah tepat dalam memberi edukasi  kepada para petani agar cermat dalam menggunakan pupuk dan pestisida. Dari kegiatan ini para petani malah berkomitmen untuk menjalankan pertanian organik (ramah lingkungan) sehingga produk pertanian nanti aman dikonsumsi oleh masyarakat. Mereka ingin menciptakan image, bahwa desanya adalah desa ramah lingkungan.

Guna mendukung kegiatan pertanian yang ramah lingkungan, menurut Kepala Desa Dizi Gedha Wihelmus Wele, pihaknya minta perhatian pemerintah kabupaten Ngada agar menyediakan sarana air bersih. Karena, kata dia selama ini untuk minum saja warga Dizi Gedha masih mengandalkan air yang dimobilisasi dengan Tangki. Penyediaan air bersih dari Pamsimas masih sangat terbatas karena hanya seminggu sekali.

Sebelumnya pernah dibangun sumur bor di era Bupati Marianus Sae, namun sumur sedalam 110 meter tersebut sudah tidak dapat digunakan beberapa tahun belakangan karena kendala teknis yang tidak bisa diatasi oleh pihaknya di desa. Kalau mau Dizi Gedha menyuplai produk pertanian hortikultura untuk Ngada, maka perlu dukungan air. Selama ini kegiatan pertanian hotikultura praktis terjadi pada musim hujan, karena air hujan cukup tersedia.  Kalau mau dilihat kawasan ini potensial budidaya pertanian hortikultura, dan menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Dalam kegiatan live in, petani juga minta agar Dinas pertanian memfasilitasi pembangunan unit pengelola pupuk organik maupun pestisida nabati. Usulan itu disampaikan oleh Nikolaus Ria. “Di rumah saya kotoran babi banyak, bagaimana Dinas Pertanian bisa bantu kami katanya bisa menghasilkan pupuk yang bagus untuk pertanian organik, dan gasnya bisa ke dapur untuk masak nasi,” kata Nikolaus.

3 - G

Menurut Kepala Seksi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Dinas Pertanian Kabupaten Ngada, Hermenegild Ruba, SP, unit pengelola pupuk organik ini memiliki multi manfaat karena menghasilkan pupuk berbasis peternakan. Cukup beri makan babi peliharaan maka akan menghasilkan pupuk. Namun perlu dibuat dalam konsep WC ternak yang baik sehingga gas dari kotoran ternak bisa digunakan untuk memasak di dapur, dan penerang. Sementara kotoran dalam bentuk bioslury menjadi pupuk yang bagus untuk tanaman. Aspek ekonomis lainnya pemilik ternak dapat menjual babinya secara periodik.
 
Perkenalkan pupuk organik cair (POC) 3-G  yang diproduksi dengan konsep WC ternak

Terhadap berbagai usulan tersebut Egil Ruba dari Dinas Pertanian Kabupaten Ngada dalam sesi live ini memberi gambaran komprehensif tentang konsep pertanian ramah lingkungan melalui tagline: ‘Go Green, Go Clean dan Go Organic”.

Agar menjadi Green (hijau), lingkungan dan lahan pertanian kita perlu ketersediaan air terutama pada musim kering. Sehingga, lahan pertanian tidak hanya hijau pada musim hujan – itu sudah otomatis – karena tidak perlu disiram pun air hujan berlimpah ruah. Untuk mencapai ini, Egil menyarankan  petani perlu membuat lumbung air yang dapat menampung air pada musim hujan, sehingga cukup untuk menyiram tanaman pada musim panas.

Terkait keberadaan sumur bor yang sudah tidak dapat digunakan karena masalah teknis – disel penyedotnya rusak – maka pihaknya menyarankan agar dipikirkan menggunakan tenaga surya. Pengunaan tenaga surya justru sangat tepat dengan konsep pertanian ramah lingkungan dari pada tenaga disel yang menggunakan bahan bakar solar.  Jika ini bisa dilakukan maka Dizi Gedha tersedia cukup air. Apa yang dikatakan Egil, diaminkan oleh Kepala Desa Dizi Gedha Wihelmus Wele.

Pada kesempatan itu Adrianus Lagur  dari Suluh Lingkungan Consultan (SL Consultan) sempat meninjau sumur bor dan mendapatkan sejumlah informasi dari pemerintah desa guna mencari solusi, sehingga ke depan bisa dimanfaatkan. Adrian hadir di Dizi Gedha dalam safarinya sebagai konsultan pertanian ramah lingkungan yang selama ini bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Ngada. Adrian juga sempat memberi motivasi kepada para petani Dizi Gedha terkait dengan konsep pertanian ramah lingkungan.
 
Praktik pembuatan pestisida nabati
Konsep Go Clean, kata Egil Ruba dalam sesi sosialisasi, petani harus menjamin produk pertanian itu layak dikonsumsi dan tidak mengandung zat yang berbahaya. Produk yang sehat harus juga ditanam di lahan pertanian yang bersih, penggunaan pupuk yang ramah lingkungan dan lahan pertanian bebas sampah plastik serta perilaku tak sehat lainnya.

Sementara kiat Go Organic, diharapkan para petani dapat menggunakan pupuk yang ramah lingkungan, yakni pupuk organik. Pertanian yang ramah lingkungan menghendaki penggunaan pupuk juga organik. Dan dia memberi apresiasi jika petani Dizi Gedha kemudian berkomitmen menerapkan konsep pertanian ramah lingkungan dengan memperhatikan ketiga aspek itu.

Kegiatan live in juga diwarnai praktik pembuatan pestisida nabati (organik) yang diikuti oleh para petani. Para petani tampak antusias mengikuti kegiatan. Diharapkan setelah live in, para petani dapat menggunakan pupuk organik dan pembuatan pestisida secara mandiri dan mengurangi ketergantungan pada pupuk dan pestisida kimia. (ed)***
Bibit sayuran siap ditanam musim ini, salah satu andalan Desa Dizi Gedha



Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :