Vigonews

Para Pelaku Ekraf Ngada Dilatih Membuat Website Mudah & Murah




Pelatihan pembuatan website mudah dan murah dalam Forum Ekonomi Kreatif Ngada (Ekraf) dengan fasilitator Andreas Goru -- 

BAJAWA - Sejumlah pelaku ekonomi kreatif berskala kecil, Sabtu (23/11/2019) bertemu dalam sebuah diskusi di Cafe Maidia, Bajawa. Mereka memanfaat waktu luang  liburan akhir pekan untuk berdikusi tentang tumbuh kembang ekraf di Kabupaten Ngada.

Hadir pada saat itu Andreas Goru yang menseringkan program Ekonomi Digital dan Membangun Platform Digital Berbasis Website, dan pelaku ekraf lainnya seperti: Emanuel Djomba, Kety Siba, Jeje Daga, Ayu Nau, Merlyn Idju dan Modesta dari Kominfo, dan satu-satunya kepala desa, Edy Wago – Kepala Desa Ngabheo, Kecamatan Soa.

Kety Siba yang juga lulusan terbaik Jurusan Komunikasi di Unika Kupang tahun 2019, kini bergumul dengan usaha kecil mengelola home stay dan cafe di kawasan wisata Mengeruda, tak jauh dari Bandar udara Ture Lelo, Soa. Sementara Jeje Daga empat tahun terakhir menekuni usaha kecil ‘Jejey Handmade – Gypsy Style ala Bajawa’, cafe dan home stay di kawasan Tanalodu Bajawa.

Jurnalis dari Rumah Literasi Cermat Ngada, Emanuel Djomba juga sudah mulai merintis kegiatan ekraf enam bulan terakhir yang menghasilkan produk Handmade seperti anyaman tradisional dari bambu dalam berbagai bentuk, produksi madu hutan asli, kerajinan berbasis limbah kertas, juga menjual produk sabun kesehatan lokal, minyak  gosok dan minyak rambut serta obat tradisional lainnya berbasis lokal. Emanuel memulai kegiatan ini dengan mendampingi para pengrajin loka dalam kelompok ekraf sebagai upaya memberdayakan potensi lokal baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam setempat.
 
Jeje Daga dengan produk Jejey Handmade-nya
Kepala Desa Ngabheo Edy Wago mengikuti forum ekraf akhir pekan ini,  setelah mendapat informasi, langsung menyatakan kesanggupannya. Dalam forum yang juga diwarnai pelatihan membuat website mudah dan murah itu, Edy merasa momentum ini sangat tepat bagi desa yang dipimpinnya dalam pengangkat potensi lokal desa melalui media digital, khususnya dalam menumbuhkan ekonomi kreatif.

Sebelum Andreas Goru menseringkan program Ekonomi Digital dan Membangun Platform Digital Berbasis Website, yang dilanjutkan latihan membuat web praktis dan murah itu, forum ekraf diberi kesempatan menseringkan pengalaman dalam memasarkan produk dan kendala lainnya.

Diskusi dan sering pengalaman ini melibatkan para pemula di bidang ekonomi kreatif berskala kecil. Ada juga yang baru merencanakan bergumul dengan bisnis ekraf, ada yang sudah mulai bertumbuh dan beberapa di antaranya peminat ekraf. Namun seperti dikemukakan Jeje Daga, Kety Siba dan Emanuel Djomba, masih terkendala dalam memasarkan produk agar dikenal di pasar lebih luas.

Karena bagi ketiga pelaku ekraf ini, media website dapat menjadi sarana dalam menjual produk ekraf lokal bahkan tembus pasar global. Itu sebabnya, baik Jeje maupun Emanuel, forum Ekraf yang diisi dengan pelatihan pembuatan website praktis ini sangat efektif. Itu yang kemudian mendorong para pelaku ekraf ini meluangkan waktu hari libur mereka untuk ikut pelatihan sekaligus shering pengalaman dan membangun kerja sama saling menguntungkan antar sesama pelaku ekraf berskala kecil ini.
 
Emanuel Djomba (kanan) bersama Markus Lina di komunitas anyaman, Kurubhoko
Itu sebabnya, Ayu Nau di sela-sela kegiatan ini mengusulkan forum ekraf Ngada ini menjadi wadah bersama sehingga dapat bertemu secara rutin untuk shering pengalaman dalam menekuni ekraf berkala kecil, selanjutnya akan terjalin komunikasi dan sinergisitas dalam membangun ekraf di kabupaten ini dan Flores pada umumnya. Apa yang dikemukakan Ayu diaminkan oleh Merlyn, Modes, Edy dan pelaku ekraf lainnya. Di punghujung kegiatan ini, Kety Siba didaulat teman-teman lainnya menjadi kordinator Forum Ekraf Ngada.

Dalam diskusi dan shering pengalaman itu, mereka menyadari bahwa meski memiliki keterbatasan dari sisi finansial, namun yang paling penting dibekali dengan semangat dan mulai bergerak dengan potensi yang dimiliki masing-masing dengan memanfaatkan potensi lokal dan potensi diri. Jika diantara para pelaku ekraf tumbuh kesadaran kewirausahaan dan mulai berjejaring satu sama lain, maka dapat membawa manfaat besar bagi pertumbuhan ekonomi Ngada ke depan.

Emanuel  menambahkan, selama ini sebenarnya banyak orang sudah bergerak hanya masih bergerak sendiri-sendiri dan bermain di ruang ‘tertutup’. “Makanya kita perlu wadah dan mulai berjejaring,” katanya.

Sementara Ayu Nau justru melihat bahwa di Ngada ini banyak sekali komunitas ekraf yang sudah mulai tumbuh tapi mereka berjalan sendiri-sendiri. “Jadi kita sebenarnya perlu wadah bersama, bersinergis dan berjejaring. Kalau potensi-potensi komunitas ini diperkuat dengan jaringan akan mendorong percepatan tumbuh kembang ekraf di Ngada,” papar Ayu.
 
Produk anyaman dan proses yang dilakukan para ibu dalam Komunitas Budaya Tanawolo, Kurubhoko
Sementara Andreas Goru yang menjadi fasilitator kegiatan ini menyambut baik gagasan ini. Dirinya tak menyangka kegiatan ini mendapat respons, malah hingga bentuk Forum Ekraf Ngada. Dia berharap, forum ekraf ini hadir untuk menjawabi kebutuhan bahwa semua membutuhkan jejaring kerja sama dalam mengembankan ekraf di kabupaten ini.

Dalam seringnya, Andreas mengatakan sebenarnya sasaran kegiatan ini  awalnya ditujukan untuk melatih para operator desa dalam mengembangkan website desa menyambut desa digital yang kini didengung-dengungkan pemerintah. Dengan demikian melalui website, desa dapat mengangkat potensi yang dimiliki ke pasa dan dikenal luas.

Tujuannya  agar para operator desa memiliki skils dalam pembuatan dan pengelolaan website desa. “Tetapi setelah coba kami sosialisasikan, ternyata lebih banyak disambut oleh para pelaku ekonomi kreatif berskala kecil daripada para operator desa. Sehingga pelatihan menjadi jawaban atas kebutuhan mereka dalam mempromosikan produk lokal ke dunia luar dengan biaya yang murah.

Usai diskusi ini, para pelaku ekraf saling tukar informasi seputar produk masing-masing dan sepakt saling mendukung dalam mempromosikan dan memasarkan produk-produk itu bersama-sama.(ed)***

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :