Vigonews

Kepala SMAK Regina Pacis Herdin Ndiwa: ‘Hati yang Bersyukur adalah Kebajikan Terbesar’



Ini suara pertama Hendrianto Emanuel Ndiwa sebagai Kepala SMA Katolik Regina Pacis Bajawa. Ia dilantik dan diambil sumpah, Sabtu (28/09/2019) menggantikan  Rinu Romanus yang meninggal  7 Agustus  2019.

Pertama kali ia membuka ‘mulut’ dalam kapasitas sebagai kepala sekolah. Kalimat demi kalimat dirangkaikannya sebagai ungkakan hati kesediaan dan meminta dukungan dalam menjalankan tugas barunya.

Beberapa kali ia terjedah, suaranya terdengar serak, kelopak matanya sembap dan beberapa kali diusapnya. Sosok yang akrab disapa Herdin di keluarga besar SMAK Regina Pacis itu, membuka sambutan dengan mendaraskan mazmur. “Tuhan adalah kekuatanku dan perisaiku, kepada-Nya hatiku percaya, aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.” (Mazmur 28:7).

Kemudian ia menyapa hadirin: “Salam sejahtera untuk kita semua.” Herdin kemudian melanjutkan pidato pertamanya: tidak ada penderitaan yang abadi, tidak ada kebahagiaan yang abadi kecuali bagi mereka yang pandai bersyukur, selamanya ia akan merasakan kebahagiaan. Rasa syukur juga adalah jendela bagi mata hati untuk melihat keindahan ciptaan Tuhan dan hati yang penuh syukur bukan saja merupakan kebajikan yang terbesar, melainkan induk dari segala kebajikan.

Baca juga:
Hendrianto Emanuel Ndiwa, Kepala SMA Katolik Regina Pacis yang Baru

Harapan untuk Kepala SMAK Regina Pacis yang Baru Dilantik

Oleh karena itu, pada kesempatan yang berahmat kita patut bersyukur atas berkat dan kasih Allah hingga kita bisa melewati peristiwa bersejarah, yakni: regenerasi kepemimpinan di SMAK regina Pacis Bajawa. Peristiwa yang menghadirkan sosok alumni yang lahir tumbuh dan dibentuk dari rahim Regina Pacis yang kemudian diutus dan dipercayakan mengemban tugas mulia untuk memanusiakan manusia melalui jalur pendidikan.

Dalam permenungan dan refleksi panjang hidup saya, tidak sedikitpun terlintas pikiran untuk menjadi pemimpin di sekolah yang populer di NTT ini. Namun kehendak Tuhan-lah yang menuntun saya sehingga berani menerima tongkat estafet kepemimpinan, selanjutnya terus mendorong lembaga pendidikan ini tumbuh dan berkembang sesuai dengan tagline: “Elitis dalam mutu tetapi populis dalam pelayanan.”

Sejenak menoleh pada masa silam; tahun 2004 adalah tahun perjumpaan yang sangat bersejarah dalam hidup saya, berjumpa dengan dua mantan guru, yakni: Rinu Romanus (almarhum) dan Philipus Lusi di Maunori dalam rangka kunjungan kekeluargaan. Saat pejumpaan itu, Rinu Romanus (almarhum) katakan begini: “Pa Erdin, engkau akan saya tarik memperkuat barisan muda SMAK regina Pacis Bajawa.”

Ajakan yang sulit dijawab waktu itu. Saya menyadari bahwa basic  keilmuan saya bukan menjadi guru, apalagi menjadi guru di tingkat SMA. Tetapi dalam permenungan dan pergulatan batin, ada suara yang membisik dari kedalaman batin, bahwa saya bisa menjadi guru di SMPK Setya Budi Maunori, mengapa di tingkat SMA tidak bisa?

Tahun 2005, keputusan saya bergabung di SMAK  Regina Pacis. Di tangan Rinu Romanus (almarhum), Regina Pacis bermetamorfosis menjadi sekolah unggulan.  Sekolah ini terus tumbuh dan berkembang sehingga mendapat kepercayaan luas dari masyarakat. Namun saat sekolah sedang dalam pusaran prestasi, tanggal 7 Agustus 2019 Tuhan memanggil sang arsitek sekolah ini – Rinu Romanus (almarhum). Duka, piluh, perih sangat kami rasakan saat itu, tetapi  kami harus terus bergerak untuk mengasuh anak didik yang telah dipercayakan oleh orang tua kepada kami, sembari meyakinkan masyarakat akan mutu Regina Pacis yang telah diwariskan oleh para mantan kepala sekolah, masing-masing: Bapak Sintus Bogastin, Bapak Emanuel Maghi, Bapak Theofilus Woghe, Bapak Adrianus Fua Radja, dan Bapak Rinu Romanus, serta bapak ibu guru yang pernah bertugas di lembaga ini. Spirit dan karya-karya besar yang diwariskan oleh para pendahulu itu menjadi kekuatan besar agar kami mampu berkiprah mewujudkan impian guna menjadikan sekolah yang ‘High quality and low price’ (mutu tinggi namun biaya terjangkau.

***
Moment pelantikan adalah sebuah kepercayaan dan tanggung jawab serta amanah kepada saya untuk mengantarkan gerbong generasi muda menjadi generasi yang berkualitas dan tangguh dalam menghadapi tuntutan dunia yang cepat berubah. Saya menyadari, untuk menuju ke arah ini bukanlah pekerjaan mudah, apalagi standar yang telah diletakan oleh para pendahulu cukup tinggi, baik menyangkut prestasi akademik maupun non akademik. Dari sisi akademik, SMAK Regina Pacis Bajawa masuk dalam kategori 10 besar di NTT dalam perolehan nilai ujian akhir nasional. Selain itu, setiap tahun SMAK Regina Pacis  Bajawa selalu menyertakan siswanya dalam berbagai kompetisi hingga ke tingkat nasional mewakili NTT, baik dari aspek akademik maupun non akademik. Bahkan dalam prestasi non akademik sudah mengantarkan Aldo Longa menjadi juara The Voice Indonesia.

Dalam grand disain SMAK Regina Pacis ke depan yang sudah direncang bersama kepala sekolah terdahulu, para guru, pihak yayasan, komite sekolah, alumni, pihak Gereja dan Pemerintah, adalah bagaimana menjadikan SMAK Regina Pacis sebuah sekolah ikon di Bajawa – Kabupaten Ngada dan menjadi harapan masyarakat  dengan menawarkan biaya murah namun bermutu tinggi. Saya selalu bertanya: Apakah saya mampu mewujudkan impian dan harapan dari lapisan masyarakat akan eksistensi SMAK Regina Pacis Bajawa  agar tetap menjadi yang terdepan dalam memberikan pelayanan pendidikan kepada anak didik? Sebagai manusia biasa ada perasaan cemas. Tetapi saya berkeyakinan bahwa ‘Tuhan adalah benteng perisaiku, Tuhan adalah andalan hidupku, asalkan tetap bersungguh-sungguh percaya kepada-Nya, maka yang berat menjadi ringan dan yang sulit menjadi mudah.”

Kami menyadari bahwa untuk mencapai visi bersama tidak tergantung pada seseorang, tetapi butuh kekuatan bersama dalam kebersamaan – dimana kesulitan pekerjaan akan menemukan solusi dan jalan keluar. Seperti kata Dr. John Maxwell: “Prestasi besar akan dapat kita capai jika kita bekerja sama dengan orang lain, atau melalui orang lain.” Itulah kekuatan kerja tim dibandingkan dengan kerja individu.

Jalan menuju puncak selalu mendaki, penuh tantangan dan cobaan. Itulah keindahan sebuah perjalanan menuju sukses. Impian besar untuk mencapai visi bersama menuntut harga yang mahal dari kami sebagai pimpinan di sekolah ini. Kami harus membayarnya dengan ketekunan dan kebulatan tekad untuk terus berjuang. Sikap pantang menyerah, tidak mudah mengeluh dan selalu berpikir mencarikan solusi adalah keharusan sebagai konsekuensi panggilan jiwa kami untuk memajukan sekolah tercinta ini. Orang bijak berkata: “Tiada sukses tanpa pengorbanan.” Dalam perjuangan ada unsur pengorbanan, dan pengorbanan ada unsur perjuangan, disiplin, tanggung jawab dan komitmen.

***
Menjadi kepala sekolah merupakan amanah yang sangat berat. Sebagai kepala sekolah yang baru tentunya memiliki cita-cita, dan saya mendarmabaktikan seluruh hidup saya demi kemajuan sekolah. Saya akan terus mengeksplorasi segenap potensi diri bersama para guru, para siswa, jajaran komite sekolah, dukungan alumni, dukungan Gereja dan Pemerintah serta berbagai stakeholder agar terus giat menjadikan SMAK Regina Pacis Bajawa tetap menjadi sekolah unggul dengan terus melanjutkan program-program kepala sekolah sebelumnya, program yang sudah baik ditingkatkan. Karena ibarat perjalanan bangsa Israel menuju tanah terjanji, refleksi saya:  Kepala Sekolah Rinu Romanus (Almarhum) bagai Nabi Musa yang membawa bangsa Israel menuju ke sana, tetapi tidak masuk tanah terjanji. Dalam hal ini Almarhum Rinu Romanus sudah menyiapkan rancangannya dan sudah separuh perjalanan untuk mencapai tujuan – karenanya kami  berkewajiban untuk menindaklanjutinya perjalanan ini hingga menggapai tujuan.

Ada lima hal penting dan mendasar yang menjadi fokus perhatian dan komitmen kami dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan mutu lembaga SMAK Regina Pacis. Pertama: Fokus pada ‘pelanggan’ baik internal maupun eksternal. Para siswa adalah ‘pelanggan’ internal kami. Mereka adalah orang yang harus kami layani dengan baik dan bijaksana melalui pendekatan humanis. Tugas dan kewajiban kami adalah bagaimana mengantarkan mereka menjadi manusia unggul yang memiliki otak, hati dan daya juang yang tinggi. Ilmu mereka harus dipertajam dengan berbagai metode pembelajaran. Hatinya diasah agar peka membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Semangat juang terus dipupuk karena mereka dilahirkan dan dibentuk pada era serba instan. Karena merekalah maka kami guru ada. Tanpa mereka profesi guru menjadi tak berarti. Sementara pelanggan eksternal adalah orang tua dan seluruh komponen masyarakat yang membutuhkan layanan pendidikan. Oleh karena itu, kami berkewajiban memberikan pelayanan maksimal agar dapat menjawab tuntutan dan keinginan masyarakat dengan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip pendidikan.

Kedua: Investasi sumber daya manusia, khususnya berkaitan dengan kualitas guru. Tidak cukup seorang guru hanya mengajar. Selain menjadi pendidik, seorang guru juga dituntut sebagai motivator. Sebagai pendidik, guru diharapkan dapat membawa anak didik keluar dari cara dan gaya hidup lama kepada hidup dengan cara baru – dari padang gersang menuju padang hijau, dari hidup tanpa pengharapan menuju masa depan penuh optimis. Sebagai motivator, guru diharapkan dapat ‘menyalakan api’ semangat kepada anak didik. Yang pudar nyalanya tidak dipadamkan, sebaliknya membuatnya bernyala-nyala; bulu yang terkulai tidak dipatahkannya, tetapi menopangnya agar tetap tegak berdiri. Seorang motivator dapat menggairahkan orang muda agar mereka terus bersemangat dan berjalan tegak. Supaya guru punya dua kemampuan dasar ini, maka peningkatan kapabilitas dan kompetensi guru sangat diperlukan dalam menjawab tuntutan dan kebutuhan peserta didik di SMAK Regina Pacis.

Ketiga: Peningkatan sarana dan prasarana sekolah, termasuk asrama. Tugas kami juga melanjutkan apa yang sudah didisain dalam master plan sekolah yang telah diletakkan oleh kepala sekolah sebelumnya. Menyelesaikan pembangunan gedung  Mater Eclesia adalah tugas yang mulia  meski penuh tantangan. Kewajiban kami adalah membangunnya secara bertahap dan berkelanjutan, agar apa yang sudah mulai dan berjalan sesuai disain gambar dan selesai pada waktunya. Prinsipnya bahwa fasilitas yang dibangun dalam rangka menunjang kegiatan pembelajaran bagi peserta didik dapat memperoleh hasil maksimal. Selain itu,  pembangunan asrama menjadi bagian yang tidak kalah penting dan perlu mendapat perhatian serta sentuhan, karena sejatinya pendidikan karakter dapat juga dibentuk secara baik apabila  ada sebuah komunitas asrama dengan pengelolaan disiplin dan profesional.

Keempat:  Mempertajam visi dasar yang telah diletakan para pendahulu, yakni keberpihakan terhadap masyarakat kecil dengan biaya sekolah yang terjangkau. Upaya ini ditempuh melalui upaya-upaya menggali sumber penerimaan dalam bentuk lain (alternatif). Salah satu gagasan visioner menjawab hal ini dari kepala sekolah sebelumnya adalah hadirnya Recis Mart. Hal ini untuk menjawab kebutuhan siswa dan masyarakat sekitar. Dalam era ini lebih dikenal dengan ekosistem bisnis. Bisnis yang saling menguntungkan semua pihak – orang tua untung, para siswa untung, sekolah juga untung. Ini semua dilakukan agar SMAK Regina Pacis Bajawa sebagai sekolah umat dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat karena biaya murah, namun bermutu.

Kelima: Bermitra dan berjejaring membangun hubungan baik dengan semua komponen: orang tua siswa, alumni, komite sekolah, yayasan, Gereja dan Pemerintah mulai dari tingkat pusat sampai lokal. Kami menyadari bahwa kunci keberhasilan dalam mengantarkan sekolah ini menjadi sekolah unggul dan bermutu haruslah melibatkan banyak pihak, karena sejatinya dalam nuansa kebersamaan membuat kami tidak berjalan sendirian, karena kami sadar bahwa dalam kebersamaan kami merasa kuat. Perjalanan yang berat ini tak dapat kami tempuh dan berjalan sendiri, kecuali berproses bersama orang lain,  karena sejatinya bersama itu indah.

***
Saya bukanlah matahari yang mampu menyinari seluruh isi bumi. Saya hanya manusia biasa yang tak lekang dari keterbatasan, oleh karena itu, memulai tugas baru sebagai kepala sekolah ini,  saya mohon doa dan dukungan dari semua pihak; Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Daerah Ngada melalui Bupati Ngada yang juga Ketua Panitia pembangunan gedung Mater Eclesia, DPRD Kabupaten Ngada, Romo Ketua Yasukda, para pastor dan suster, jajaran komite sekolah, para alumni, pimpinan biara FMM dan komunitas, para kepala sekolah mulai dari tingkat SD, SMP sampai SMA, para guru dalam keluarga besar SMAK Regina Pacis, para pendamping kegiatan ekstrakurikuler, orang tua siswa, tokoh masyarakat, dan keluarga besar saya,  agar kiranya saya dapat melanjutkan, meneruskan perjuangan sehingga mampu mengantarkan Regina Pacis secara baik dan bijaksana.

Saya membutuhkan kritik, saran dan masukan dari berbagai pihak, karena itu adalah obat yang mujarab dalam mencapai tujuan dan cita-cita mewujudkan SMAK Regina Pacis sebagai sekolah yang mengedepankan multi kecerdasan dalam mendidik anak-anak. Saya juga menyampaikan terima kasih kepada Ibu Lusia Yasinta Meme yang sudah menjalankan tugas sebagai Plt. Kepala sekolah ini, hingga dilantiknya kepala sekolah yang baru – dan telah mengkoordinir kegiatan sekolah selama hampir dua bulan sejak meninggalnya kepala sekolah sebelumnya Rinu Romanus (almarhum). Untuk semua yang telah terjadi dalam proses ini, saya ucapkan salam dan terima kasih. Tuhan memberkati!

Bajawa, 28 September 2019,
pada moment pengambilan sumpah, pelantikan dan serah terima jabatan Kepala SMAK Regina Pacis Bajawa,

Hendrianto Emanuel Ndiwa, ST

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :