Vigonews

Tim Paskel KAE Ajak Pasutri Paroki Kurubhoko Agar 'Tahu Diri'



Tim Paskel Keuskupan Agung Ende beri pelatihan di Paroki Kurubhoko -- 

KURUBHOKO - Dua pasangan suami-istri (Pasutri) dan seorang pastor dari Pusat Pastoral Keuskupan Agung Ende (KAE), ajak para Pasutri di Paroki Maria Ratu Para Malaikat (MRPM) Kurubhoko agar 'tahu diri'. Dua pasutri dari Komisi Pastoral Keluarga (Paskel) dari KAE itu masing-masing pasutri  Bene-Sever dan Thres-Sedis bersama Ketua Komisi Paskel Romo Frans Djata.

Ajakan itu disampaikan dalam kegiatan pembinaan pasutri ‘Baseta' (bawah sepuluh tahun) yang berlangsung dua hari, 23 -24 Agustus di Kurubhoko. Dan ajakan itu pula menjadi inti materi pelatihan penangan konflik dalam keluarga.

Kegiatan yang mengangkat tema: "Penanganan Konflik dalam Keluarga dan Pengelolaan Ekonomi Rumah Tangga" diiikuti sekitar 15 pasutri muda (di bawah sepuluh tahun) dan peserta perorangan,  dibuka oleh Pastor Paroki MRPM Kurubhoko, Pater Tobias Harman, OFM, Jumat (23/08/2019).

Dalam arahannya Pater Tobias Harman, OFM mengatakan ada banyak soal yang dialami keluarga-keluarga muda hingga gagal atasi konflik yang berujung bubar. Dia katakan, setiap keluarga punya masalah sendiri, namun semua masalah selalu punya cara berbeda untuk mengatasinya. "Karena itu pelatihan dan shering pasutri dari Paskel KAE dapat mebantu para peserta dalam membina rumah tangga Katolik," katanya.

Sementara Ketua Komisi Paskel KAE Romo Frans Djata mengatakan, Paskel Baseta kembali mendapat perhatian karena banyaknya persoalan keluarga muda dalam membangun rumah tangga mereka.
 
Pater Tobias Harman, OFM, memberi gambaran tentang pastoral keluarga di Paroki Kurubhoko
Merawat Perkawinan

Ditegaskan Romo Frans, bahwa membangun keluarga butuh waktu sangat panjang. Memang kalau dilihat tidak seimbang dengan persiapan memasuki tangga perkawinan yang sangat singkat. Sementara membangun keluarga membutuhkan waktu sangat panjang. Karena itu harus disadari bahwa hari pernikahan bukan akhir pernikahan tetapi baru awal dalam membangun rumah tangga yang bahagia.


Mengutip Paus Yohanes Paulus II, Romo  Frans mengemukakan, persiapan tidak hanya sampai saat menikah tetapi seterusnya, karena orang menikah tidak hanya untuk beberapa waktu. Itu sebabnya pernikahan perlu dirawat supaya tumbuh dan berbuah. Pelatihan ini, tambahnya, hanya salah satu kiat agar keluarga Kristiani tetap bertumbuh.

Ditegaskan Romo Frans bahwa tujuan menikah untuk kebaikan berdua - suami/istri dan anak yang dikaruniai Tuhan. Itulah alasan mengapa keluarga harus dirawat. "Kita harus terus berusaha agar perkawinan terawat dan terjaga keutuhannya," katanya.

Orang nikah menurutnya supaya bahagia bukan menderita. Namun mengapa banyak pernikahan tidak bahagia? Karena tidak pernah dirawat dan disiram - dengan air kasih, air kesabaran, air pengampunan, air kelemahlembutan, air pengertian. Jika tak disiram maka yang terjadi  bukan ketenangan dan kesejukan tetapi keributan.

Terkaiit dengan tema kegiatan, Romo Frans menegaskan konflik terjadi bukan hal luar biasa, tetapi hal biasa dalam keluarga. Sebaliknya konflik terjadi lebih karena kita tidak mampu mengenal diri dengan baik. "Kita tidak tau diri. Kalau bisa kenal diri sendiri pasti kenal siapa pasangan kita. Yang satu merasa tidak dihargai maka akan muncul konflik. Jadi mulailah kita belajar tau siapa diri kita ini, dan belajar menghargai pasangan," paparnya.

Perbedaan antara dua orang itu pasti ada, supaya saling melengkapi. Kekuarangan yang satu dilengkapi dengan kelebihan yang lain. "Namun kalau kita tau kepribadian kita maka kita bisa memahami orang lain, karena gaya kepribadian adalah inti dari siapa kita,"  kata Romo Frans.
 
Rm. Frans Djata saat saat memberi materi pelatihan Mengatasi konflik dalam keluarga dan manajemen ekonomi rumah tangga di Paroki Kurubhoko
Karena itu perbedaan antara dua orang tidak jadi alasan untuk mengubah pasangan tetapi untuk mengubah gaya kita sendiri agar selaraa dengan pasangan kita. Jadi menikah adalah kerelaan dari jatuh cinta tetapi selanjutnya kerelaan untuk bangun cinta seumur hidup.

Materi pelatihan yang disampaikan tim Paskel selama dua hari diwarnai shering pengalaman suka-duka membangun rumah tangga dari pasutri Bene-Sever dan Thres-Sedis. Kemudian mendapat peneguhan dari ketua Komisi Paskel  Romo Frans Djata.

Ekonomi Kreatif

Selain shering pengalaman, peserta juga dituntun untuk mengenal gaya kepribadian pasangan, mengenal bahasa cinta pasangan, penanganan konflik dan mengelola ekonomi rumah tangga.

Pasutri Thres-Sedi menyinggung bahwa konflik selain disebabkan oleh soal-soal sepele tetapi juga karena masalah ekonomi rumah tangga. Karena itu pasutri ini mengarahkan peserta agar lebih kreatif berkreasi guna meningkatkan pendapatan untuk meningkatkan income keluarga.
 
Kelompok ekonomi kreatif anyaman ibu-ibu paroki Kurubhoko yang berguyup dalam naungan Komunitas Budaya Tanawolo (KBT)
Misalnya melalui ekonomi kreatif berbasis pertanian, peternakan, kerajinan dan industri kecil, serta kuliner. Intinya harus kreatif. Pekarangan dan halaman jangan dibiarkan kosong tetapi ditanami sayuran dan berbagai kebutuhan dapur sehingga bisa menekan pengeluaran. Baru kemudian bisa dijual yang lebihnya.

Saat menutup kegiatan Pater Tobias Harman mengatakan, banyak keluarga tidak punya orientasi. Hidup begitu-begitu saja. Tidak punya mimpi kemana keluarga akan dibawa. 

Pater Tobias menambahkan bahwa banyak konflik dipicu mulai dari dapur. Karena itu kita mulai menyelesaikan masalah dapur dulu. Itu sebabnya pelatihan ini harus menjadi bekal bagi para Baseta untuk mengubah pola pikir dalam membangun keluarga.

Terkait pelatihan selama dua hari itu, Pater Tobias memberi apresiasi kepada tim Paskel KAE yang telah membuka wawasan dan pengalaman praktis dalam membantu keluarga Kristiani mengatasi masalah rumah tangga.***

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :