Vigonews

Pusat Ziarah 'Maria Ratu Para Malaikat' Kurubhoko Mulai Dikunjungi



KURUBHOKO - Paroki Maria Ratu Para Malaikat (MRPM) Kurubhoko, kini memiliki tempat ziarah. Bersamaan dengan pembukaan Bulan Maria, Rabu (01/05/2019) tempat ziarah yang rindang dan sejuk ini mulai diperkenalkan kepada khalayak - umat Katolik.

Pusat ziarah yang bernuansa ekologis itu sudah diresmikan sebelumnya (25/03/2019), pada perayaan Kabar Sukacita. Dan secara resmi dibuka untuk kunjungan khalayak - umat Katolik, sejak 1 Mey 2019 lalu.

Menandai dibukanya tempat ziarah di paroki yang dilayani para imam OFM itu diadakan misa kudus yang dihadiri ratusan umat paroki. Momen berahmat ini dimanfaatkan oleh para biarawan-biarawati se-Kevikepan Bajawa yeng tergabung  dalam Forum Kerjasama Kongregasi Religius (FKKR) Kevikepan Bajawa, datang sebagai peziarah perdana tempat ziarah ini.

Pusat ziarah 'Maria Ratu Para Malaikat' ini dibangun di atas areal yang kini sedang ditata sebagai pusat studi pertanian organik oleh imam-imam OFM.

Gua Maria cukup besar dibangun di atas salah satu dari empat bukit yang ada di areal seluas 9 hektare. Di salah satu bukit berdiri megah sebuah gua dengan arca Maria terletak di sana.

Bukit ini tak terlampau tinggi juga tak terjal. Kondisinya sedikit landai. Letaknya sekitar 500 meter dari jalan utama Soa - Riung, masuk arah timur di Pusat Paroki Kurubhoko

Menuju tempat ini, para peziarah harus berjalan kaki - melewati rindangan pohon yang sejuk, melewati lahan horti dan lokasi peternakan yang sedang ditata di areal bakal pertanian organik.

Meski rombongan peziarah terbanyak dari FKKR - sekitar 60 orang biarawan-biarawati - baru mulai sejak 1 Mei lalu, namun sejak diresmikan Maret lalu umat Katolik banyak yang sudah mengunjungi tempat ini untuk berdoa dan berdevosi.
 
Para biarawati berbaur bersama umat saat misa pembukaan bulan Maria
Umat yang mengunjungi tempat ini kebanyakan dari paroki MRPM Kurubhoko, namun ada juga dari paroki tetangga. Umat paroki tetangga mendapat informasi tempat ziarah ini dari orang ke orang. Ada juga yang peroleh informasi dari media sosial.

Menurut Pastor Paroki Tobias Harman, OFM, suasana tempat doa yang hening, sejuk dan jauh dari kebisingan sangat mendukung untuk berdoa dan berdevosi. Mungkin itu juga menjadi daya tarik pengunjung.

Hanya menurut Pater Tobias, tempat ziarah ini masih terus ditata, baik pelataran tempat ziarah maupun daya dukung lainnya. Yang akan berdoa malam hari, tempat ziarah ini juga dilengkapi dengan lampu penerang menggunakan tenaga surya.

Perdana

Setelah misa Kudus konselebran lima imam yang dipimpin selebran utama Pater Fridus Derong, OFM, Ketua FKKR  RP. Kamilus Ndona Sopi, CP memberi apresiasi atas dibangunnya tempat ziarah ini. Memurut dia, lingkungan yang rindang, sejuk dan hening menguatkan suasana doa dan devosi. Suasana ekologis membawa iklim yang menyegarkan. Ini menjadi ciri khas karya OFM.
 
RP. Kamilus Ndona Sopi, CP;  RD.Fridus Derong, OFM; RD Tobias Harman, OFM
Dalam spirit ekologis, RP. Kamilus menghimbau umat di wilayah ini dan siapa saja yang ke wilayah ini untuk terus menjaga kelestarian lingkungan. "Ke depan jangan lagi  bakar hutan yang hanya mendapatkan kenikmatan sesaat tetapi merusak keutuhan ciptaan," tegasnya.

Pastor yang biasa disapa Romo Mil ini juga menyampaikan bahwa kehadiran tempat ziarah ini mendapat perhatian para kongregasi religius yang tergabung dalam FKKR. Rombongan FKKR sebagai peziarah perdana tempat ziarah ini.

Kehadiran kongregasi religius memberi kazanah spiritual gereja lokal melalui warna komunitas masing-masing. Gereja diwarnai oleh kekayaan rohani ini.

"Spiritualitas yang kami timbah dari Yesus melalui tarekat kami masing-masing. Kita menimba melalui pendahulu yang telah mendirikan tarekat kami masing-masing," terang Romo Mil.
 
Para biarawati berdevosi usai misa
Sementara, salah seorang biarawati, Sr. Emiresiana, FMM berkesan  tempat ini sangat bagus dalam menciptakan suasana doa dan devosi. Letaknya jauh dari keramaian dan bernuanasa ekologis yang rindang, sejuk dan hening.

Pilihan

Sr. Emirensiana juga menempatkan tempat ziarah ini sebagai pilihan untuk  berziarah karena menyuguhkan suasana yang berbeda. Dari kota Bajawa hanya berjarak 20 km, dekat obyek wisata Air Panas Mengeruda dan bandar udara Soa  sekitar 3 km arah utara, dekat jalan menuju obyek wisata Taman Laut 17 Pulau Riung.

Bagi pastor paroki MRPM Kurubhoko, Pater Tobias Harman, OFM, tempat ziarah ini menjadi kazanah rohani dalam menciptakan suasana doa dan devosi bagi umat. "Semoga memberi semangat dan membantu umat dalam ziarah hidup," katanya.
 
Umat memadati pelataran tempat siarah 'Maria Ratu Para Malaikat' Kurubhoko
Menurut Pater Tobi, tempat ziarah ini terletak di lokasi seluas 9 hektare yang kini dan ke depan terus ditata sebagi pusat pertanian organik, yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas. "Hanya semua masih sedang kita tata lokasi ini sehingga suatu saat nanti visi kita tentang lokasi ini bisa terwujud," tambahnya.(EDJOM)*

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :