Vigonews

Seminar Perbankan & Peran OJK: ‘Uang Lebih dari Sekedar Alat Tukar’



Ahmad Yohan membuka seminar perbankan dan peran OJK di Bajawa -- 

BAJAWA – Anggota Komisi XI DPR RI yang membidangi keuangan dan Perbankan, Ahmad Yohan dalam kunjungan kerja di Bajawa, Kabupaten Ngada, Kamis (15/02/2019) membuka  kegiatan Workshop tentang pengenalan nilai nominal uang logam rupiah dan peran OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dalam melakukan pengaturan serta pengawasan terhadap perbankan Indonesia.

Workshop yang dipandu Kristoforus Loko, menghadirkan narasumber dari BI Perwakilan Kupang dan pihak OJK  kantor pengawasan Kupang itu berlangsung di Aula BP-Litbang Kabupaten Ngada, dihadiri sekitar 150 warga masyarakat.

Pada kesempatan itu, Ahmad Yohan menekankan, kegiatan ini sangat penting guna memberi pemahaman yang benar kepada masyarakat tentang peran lembaga keuangan dan perbankan serta peran OJK.

Peran lembaga keuangan dan perbankan, lanjut Ahmad Yohan, mesti memberi manfaat bagi masyarakat dalam meningkatkan taraf hidupnya melalui kegiatan kewirausahaan.

Selama ini, kata dia, banyak terjadi bahwa lembaga keuangan memberi janji manis sehingga masyarakat dirugikan. Masyarakat yang pemahaman terhadap perbankan minim berada diposisi yang lemah. Untuk mengatasi hal itu peran lembaga OJK menjadi penting, yang dibentuk untuk mengawasi agar lembaga perbankan sehat sehingga memberi kemudahan kepada kreditor.

“Kerja sama dalam memberi pemahaman kepada masyarakat seperti ini dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang lembaga perbankan  guna mendapatkan kredit usaha, sehingga ekonomi bisa bangkit,” kata Ahmad Yohan yang juga anggota banggar DPR RI itu.

Dikatakan, BI melalui perannya, menjadi representasi kehadiran negara di tengah masyarakat dalam menumbuhkan ekonomi  rakyat. “Melalui kerja sama ini kita bisa dorong untuk memberi bantuan modal usaha, kita bisa dorong program yang benar melalui kewirausahaan,” tambah Ahmad Yohan.

Simbol Kedaulatan

Sementara  Joko Srihartanto dari BI Perwakilan Kupang pada momen seminar itu memberi pemahaman kepada masyarakat tentang uang rupiah sebagai simbol kedaulatan NKRI. Terkait dengan hal itu, Joko minta masyarakat memastikan bahwa uang yang ada ditangannya itu asli – bukan palsu.

Joko mengirim sinyal bahwa jelang pemilu bisa saja banyak beredar uang palsu (Upal). Dia memberi contoh jelang pemilu 2014 lampau – saat itu muncul kasus upal di Ngada. Dirinya sempat menjadi saksi di pengadilan.
 
Joko Srihartanto memperlihatkan contoh uang palsu kepada peserta seminar
Kasus upal, kata Joko sangat berat. Hukumannya berat, karena yang mengedar dan yang menyimpan ancaman hukumannya sama  10 tahun. “Kalau kita belanja pakai uang palsu meski tidak tau bisa kena juga,” tegas Joko.

Dia mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dan selalu memastikan uang yang ada di tangan itu asli dengan menggunakan metode 3D – dilihat, diraba, dan ditrawang.

Di bagian lain Joko menjelaskan, uang sebagai simbol kedaulatan NKRI karena di dalamnya ada simbol-simbol seperti lambang negara – burung garuda, gambar pahlawan, logo BI dan gambar peta NKRI. Uang tidak sekedar alat tukar. a“Makanya  pulau Sipadan dan Ligitan akhirnya lepas karena tidak ada simbol dalam uang kita seperti Malaysia,” katanya.

Terkait dengan tanda kedaulatan itu, Joko minta masyarakat agar uang jangan dicoret, jangan dilipat, jangan diremas, jangan dibasahi, dan jangan dihekter. “Perjalanan uang kita sangat jauh dengan menggunakan berbagai moda transportasi, dan membutuhkan biaya sangat besar untuk mencetak atau memulihkan yang rusak,” papar Joko.

Pada kesempatan itu, Joko juga menyampaikan bahwa uang logam merupakan simbol perekonomian lokal, meski masih banyak masyarakat yang enggan menggunakan uang logam. Namun karena penggunaan jenis uang logam lebih awet, Joko menyarankan masyarakat mulai membiasakan diri menggunakan uang logam. Alasannya penggunaan uang logam lebih tahan lama – berkali-kali, dibanding uang kertas yang cepat rusak.

Kalau selama ini masyarakat enggan menggunakan uang logam, jelas Joko, itu semata karena masalah praktis atau tidak praktis. Soal keluhan masyarakat bahwa bank tidak menerima uang logam juga berhubungan dengan soal praktis itu. “Jadi bukan tidak terima. Tetapi bank sendiri akan membutuhkan waktu lama menghitung uang logam yang dibawa masyarakat sekantong plastik misalnya untuk ditukar,” kata Joko.

Ia menyarankan masyarakat bisa mencicil kalau menyetor ke bank. Atau lebih praktis dengan menyatukan uang logam ke dalam jumlah nominal tertentu.

Pengawasan OJK

Dibagian lain, narasumber dari OJK kantor pengawasan Kupang Dony Prasetio mengatakan bahwa, keberadaan bank perlu diawasi. Mengapa demikian? Kata dia, karena bank adalah lembaga kepercayaan masyarakat. “Bagaimana jadinya kalau uang masyarakat dibawa kabur?”, tanya Dony.
 
Ahmad Yohan ketika membuka Seminar perbankan dan peran OJK di Bajawa, Kabupaten Ngada
Tugas OJK, kata Dony adalah mengawasi lembaga keuangan yang memiliki ijin sehingga tidak merugikan masyarakat dalam pelayanan perbankannya. Terkait dengan hal itu, Dony minta masyarakat agar dalam berinvestasi harus pikir yang matang resikonya, dan mewaspadai tawaran lembaga keuangan yang tidak wajar.

Terkait dengan ivestasi yang tidak jelas alias bodong yang dilakukan oleh lembaga keuangan yang tidak berijin, jelas Dony, itu di luar kewenangannya. Kalau ada masyarakat yang dirugikan karena tawaran semacam itu, Dony menyarankan melaporkan kepada pihak kepolisian.

Moment seminar ini dimanfaatkan peserta untuk menanyakan sejumlah tawaran investasi yang diketahui bodong. Salah seorang peserta, Aloysius Siba minta pihak OJK agar meningkatkan peran  pengawasannya dan memberi sosialisasi kepada masyarakat.

“Apa yang dijelaskan ini tentu saja tidak semua dapat kami jelaskan kepada masyarakat di desa. Karena itu kami minta bagaimana teknis sehingga masyarakat bisa membedakan investasi dari lembaga keuangan yang berijin dan yang tidak,” komentar Aloysius Siba.

Dony  mengatakan, masyarakat bisa menggunakan saluran telephon 157 atau surat dan email setiap saat untuk meminta informasi dan penjelasa kepada OJK.

Sementara Ketua Panitia Seminar Kristoforus Loko menyampaikan terima kasih kepada Anggota Komisi XI DPR RI Ahmad Yohan yang telah memberi pencerahan kepada masyarakat terkait dengan masalah keuangan dan perbankan. Hadirnya narasumber dari BI dan OJK mencerahkan masyarakat yang minim pengetahuan tentang keuangan dan perbankan.

“Saya selaku panitia merasa ini ilmu baru yang memberi pencerahan kepada masyarakat, bahwa uang bukan sekedar alat tukar, tetapi lebih besar dari itu sebagai simbol kedaulatan NKRI. Karenanya uang perlu dihargai,” papar Kristo. (ed)***

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :