Vigonews

Konferensi Anak Daerah Ngada, Dorong Anak Advokasi Anak



BAJAWA – Konferensi Anak Daerah (Konferda) Ngada tahun 2019 digelar di rumah retreat OCD Bogenga, Bajawa. Konferda dibuka secara resmi, Rabu (13/02/2019) oleh Asisten I Bidang Pemerintahan Setda Ngada Emanuel Dopo, mewakili Plt. Bupati Ngada Paulus Soliwoa dan dihadiri sekitar 60 anak dari utusan SMP/SMA/SMK.

Plt. Bupati Ngada Paulus Soliwoa dalam sambutannya yang disampaikan Emanuel Dopo menegaskan bahwa, forum konferda anak ini harus mampu menggerakan dan mendorong anak untuk mampu mengadvokasi dirinya. Anak juga didorong agar mampu menjadi menjadi bagian dari penyelesaaian masalahnya sendiri (pemecah masalah) dan masalah dihadapi oleh teman-temanya.

Paulus Soliwoa berharap, kegiatan ini juga mampu melahirkan sikap empati dan kepedulian dari dalam diri anak terhadap upaya-upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap diri anak sendiri.

Harapan besar yang disampaikan Plt. Bupati Soliwoa itu tergambar jelas melalui materi dan sejumlah jenis lomba yang digelar dalam kegiatan konferensi selama dua hari itu. Materi dan lomba menjadi implementasi dari tema besar yang diusung, yaitu: Keluargaku: Perlindunganku.
 
Linus Timoteus Dopo membawakan materi tentang kesehatan reproduksi di Konferensi Anak Daerah Ngada
Tema ini bertolak dari realitas saat ini, khususnya di Ngada manakala kasus-kasus kekerasan dan ketidakadilan terhadap anak justru dilakukan oleh orang-orang terdekat dalam keluarga dan tetangga (signifkan others), yang mestinya menjadi pengayom. Dimana keluarga yang mestinya menjadi tempat memberi rasa nyaman dan aman bagi anak. Namun sebaliknya, perlakukan kekerasan yang membawa korban pada anak justru terjadi dalam keluarga itu sendiri.

Dikatakan, kekerasan fisik, non fisik, psikis maupun seksual selalu mewarnai kehidupan anak dalam kehidupan masyarkat hingga dalam keluarga. Fakta kekerasan anak di Kabupaten Ngada pada tahun 2018 tercatat 21 kekerasan yakni 13 kasus kekerasan seksual, 6 kasus kekerasan fisik dan 2 kasus penelantaran terhadap anak. Kasus lainnya yang mengemuka yakni ada 9 kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak itu sendiri.  Sedangkan pada tahun-tahun sebelumnya, tercatat pada tahun 2014, ada 15 kasus, tahun 2015 ada 18 kasus, tahun 2016 ada 20 kasus dan 16 kasus pada tahun 2017.

“Dari angka-angka ini, dapat kita lihat bahwa dari tahun ke tahun ada peningkatan jumlah kasus kekerasan terhadap anak. Dengan kegiatan ini diharapkan dapat membawa hasil atau rekomendasi yang penting,” kata Paulus Soliwoa.

Dia berharap, dengan kegiatan ini, anak-anak Ngada lebih memahami hak-haknya serta miliki serta memiliki kemampuan dalam berorganisasi mendorong anak untuk dapat merumuskan program dan kegiatan untuk kepentingan terbaik bagi anak itu sendiri.

Anak-anak Ngada diharapkan menjadi tunas bangsa melalui perkembangan perilaku mereka dalam kehidupan bermasyarakat dengan memperhatikan etika, moral dan budaya bangsa dan daerah; mampu menggerakan dan mendorong anak untuk mampu mengadvokasi dirinya serta anak juga mampu menjadi problem solver (pemecah masalah) bagi persoalan yang dihadapi oleh teman-temanya. Kegiatan ini juga harus mampu melahirkan sikap empati dan peduli dari dalam diri anak terhadap upaya-upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak.
 
Persiapan lomba debat di arena Konferda Anak
Sementara Panitia Konferensi Anak Daerah Ngada Mathilde Paulina Laban melaporkan, kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman anak-anak mengenai organisasi dan kepemimpinan, ketrampilan berkomunikasi, partisipasi dan pengambil keputusan. Juga mendorong anak untuk dapat merumuskan berbagai program dan kegiatan untuk kepentingan terbaik anak.

Selanjutnya, kata Kabid Permberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) pada Dinas PMD P3A ini, melalui kegiatan ini dapat merumuskan rekomendasi untuk mengemban langkah-langkah yang tepat dalam bentuk program dan kegiatan kesejahteraan dan perlindungan anak melalui PUHA (Pengarustumaan Hak Anak). Mendorong anak agar dapat tumbuh, berkembang, berperilaku dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan etika, moral, dan peradaban bangsa.

Paulina juga menyinggung, kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman anak tentang hak-haknya dan kepentingan terbaik bagi anak dan meningkatkan kemampuan anak dalam berorganiasi. Kemudian ada perubahan sikap dan perilaku dalam kehidupaan bermasyarakat, sesuai dengan etika, moral dan karakter bangsa.

Materi kegiatan dua hari, yaitu: Kebijakan pemerintah di bidang P3A; kesehatan reproduksi; sistem peradilan pidana anak; pengenalan jati diri dan retreat mini. Pada hari kedua, anak-anak dari berbagai SMP/SMA/SMK se-Kabupaten Ngada itu juga diberi pengetahuan melalui materi pendidikan kontekstual ‘meda mazi.’

Sejumlah jenis lomba menjadi wahana bagi anak-anak dalam adu kreativitas sebagai implementasi dari materi yang diperoleh, melalui lomba debat tingkat SMA/SMK, lomba pidato tingkat SMP, dan lomba menulis opini tingkat SMP/SMA/SMK. Kegiatan diakhiri dengan proses pemilihan duta dan forum anak daerah Ngada.(ed)***

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :