Vigonews

OPINI YOHANES MAU, SVD: 'HATI YANG GELISAH'



Oleh: Yohanes Mau, SVD - 

Media lokal Flores Pos Edisi Sabtu, 24/11/2018 menurunkan headline berita bertajuk, “Jalan Achmad Yani  dan Permukiman Warga Terendam Banjir”. Guyuran hujan (Jumat, 23, 11) sore membuat gelisah hati warga pemukiman RT 01, Kelurahan Tetandara, Kecamatan Ende selatan-Kabupaten Ende. Berdasarkan pantauan wartawan Flores Pos saudara Willy Aran, air menggenangi puluhan rumah yang berada di sebelah bandara. Warga berusaha mengalirkan air dari permukiman mereka, namun tidak ada jalur pembuangan sehingga air tetap menggenangi rumah-rumah warga. Sementara di Jalan Achmad Yani, air meluap dari drainase dan menggenangi badan jalan sehingga beberapa kendaraan, baik roda dua maupun roda empat terpaksa berbalik arah menghindari jalur tersebut.

Selanjutnya Yos Menara, salah seorang warga setempat mengungkapkan kegelisahannya, “Setiap kali turun hujan, kami selalu gelisah karena permukiman ini pasti digenangi air. Masalahnya, genangan air itu setinggi satu meter dan masuk hingga ke dalam rumah. Luapan air ini dari drainase jalan dan drainase yang ada di bandara. Kami berusaha mengalirkan air, tetapi tidak ada jalur pembuangan sehingga usaha kami sia-sia saja.

Itulah sekilas situasi Jalan Achmad Yani Ende terkini yang selalu menjadi langganan tetap dari banjir setiap kali musim hujan tiba. Sampai kapankah riwayat masalah klasik ini, dan siapakah yang mesti menuntaskannya? Masalah banjir menggenangi permukiman warga di Jalan Achmad Yani Ende sebenarnya masalah pemerintah Ende yang mesti segera ditangani dan dituntaskan sekarang, kini dan di sini. Yang menjadi persoalan adalah dari dahulu sampai sekarang tidak ada kepedulian pemerintah Ende akan jeritan warganya.

Berhadapan dengan situasi sosial bonum commune seperti ini sebenarnya menjadi tanggung jawab orang nomor satu di kabupaten ini. Pemerintah mesti segera turun tangan di lokasi dan memberikan solusi terbaik bagi warganya. Pemerintah tidak boleh tidur lelap di atas kursi empuk pemberian masyarakat kecil. Banjir di Jalan Achmad Yani Ende bukanlah masalah baru. Media lokal ini bahkan hampir setiap tahun setia menurunkan berita serupa, hanya anehnya pemerintah diam seribu bahasa. Tidak ada sikap dan tindakan selanjutnya.

Pemerintah, mau sampai kapankah persoalan ini akan dibiarkan? Apakah tunggu ada korban baru mau peduli dan mengatasi. Ah, semakin aneh saja pemerintah Ende ini dari periode ke periode tidak ada perubahan di Jalan Achmad Yani. Hal mendesak tentang kenyamanan dan keselamatan warga tak dihiraukan sedangkan Videotron  harga melangit dipasang di persimpangan Mautapaga. Ditelisik dari segi kebutuhan Videotron bukanlah hal mendesak yang dipenuhi sekarang tapi perbaikan drainase di Jalan Achmad Yani dan sekitar Bandara menjadi perioritas.

Sedikit menoleh tentang Visi-Misi dari paket Marsel- Djafar, “Membangun dari desa dan kelurahan”.  Artinya wilayah desa dan kelurahan menjadi sasaran dalam pembangunan baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam, dan yang menjadi urgen adalah pembangunan infrastruktur seperti pembangunan jalan raya, termasuk pembangunan saluran drainase yang permanen di jalan Achmad Yani, Kelurahan Tetandara.

Apakah Kelurahan Tetandara, Kecamatan Ende Selatan itu bukan termasuk Kabupaten Ende sehingga dibiarkan luput dari pembangunan drainase? Ataukah Visi dan Misi paket Marsel-Djafar menganak-tirikan wilayah Kelurahan Tetandara dan sekitarnya. Karena dimengerti tentang Visi-Misi pembangunan ini jelas lokusnya adalah warga desa dan kelurahan yang terpencar di seluruh Kabupaten Ende tercinta ini. Namun realitasnya jauh dari panggang api.

Jadi, saya secara logis mengatakan bahwa pembiaran terhadap keluhan warga di Jalan Achmad Yani Ende ini adalah bentuk penipuan paket Marsel-Djafar terhadap warga desa dan kelurahan terkhusus Kelurahan Tetandara. Karena menjadi pemimpin mesti  punya kerelaan untuk menjadi hamba yang melayani. Pemimpin yang melayani harus turun tahkta meninggalkan kemampanannya, keluar dari keegoismean diri yang memenjarahkan dan menjangkau mereka yang sedang gelisah hati. Hadir bersama mereka, melebur, mencair, mengalami dan merasakan bahwa kegembiraan, gelisah hati, duka lara, canda dan tawa ria mereka  juga adalah bagian dari realitas hidup. Maka, jangan lupa turun dari kursi jabatan dan melakukan blusukan di tengah-tengah masyarakatmu yang tengah rindu dan setia menunggu hadirmu.

Waktu terus berlalu dan musim pun silih berganti. Masyarakat kecil di kelurahan Tetandara pun terus menjerit bilah banjir melanda tempat hunian mereka. Engkau tau bahwa masyarakat kecilmu di Jalan Achmad Yani ini selalu gelisah. Mereka tak punya siapa-siapa selain engkau. Masyarakat tau bahwa engkaulah satu-satunya menjadi andalan dalam hidup bermasyarakat di kabupaten ini karena ketika dirundung gelisah hanya kepadamu mereka mengeluh dan mengesah. Namun mengapa engkau hanya diam. Apa salah masyarakat kecilmu ini sehingga kau biarkan hanyut dalam gelisah yang panjang ini.

Semoga jeritan dan rintihan yang tak punya gema ini bisa didengar. Selanjutnya menggugah hatimu tergerak untuk berbelaskasih dengan rakyat kecil di Jalan Achmad Yani Ende, Kelurahan Tetandara, Kecamatan Ende Selatan, kabupaten Ende. Masyarakat Ende sangat mendukung visi-Misi, Membangun dari Desa dan Kelurahan. Janganlah biarkan hati mereka gelisah. Selamat bervisi-Misi menuju Ende Sare dan Lio Pawe.

*Penulis, Alumnus Stipar Atma Reksa- Pemerhati masalah sosial
Tinggal di Biara St. Konradus Ende

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :