Vigonews

Gelisah Alisha Wujudkan Rumah Baca ‘Sadi Bisa’



Alisha Ngindang -- 

RIOMINSI – Saat banyak orang sibuk menyiapkan ‘logistik’ untuk  perayaan Natal 2018 yang lalu, sosok yang satu ini malah sibuk menyiapkan peluncuran rumah baca. Dialah Basilisa Ngindang, salah seorang guru muda yang belum lama diwisuda di Unflor Ende yang biasa disapa Alisha.

Kegelisahan yang telah menerbangkan angannya, agar kampung kelahiran yang terpencil itu – Riominsi -  tidak terpencil dari ilmu dan informasi. Meski terpencil, tetapi Alisha ingin agar generasi muda dan masyarakat pada umumnya di kampung yang letaknya tak jauh dari perbatasan Ngada-Manggarai Timur itu tidak tertiggal informasi dan ilmu pengetahuan.

Baca juga:
Warga Riominsi, Riung Barat Sambut Gembira Peluncuran Rumah Baca di Kampungnya

Baginya, kehadiran rumah baca yang dilengkapi buku-buku akan membantu masyarakat untuk terus berliterasi (belajar) dan memperoleh informasi yang bermanfaat untuk hidup. Alisha yakin, dengan banyak membaca akan mampu mengubah mainset masyarakat.

Meski punya niat besar untuk mendirikan rumah baca, ternyata Alisha sendiri belum memiliki buku-buku untuk mengisi rumah bacanya yang sederhana. Dia kemudian bekerja sama dengan Rumah Literasi Cermat (RLC) Ngada, yang selama ini sudah giat berliterasi melalui program pelatihan menulis, kampanye minat baca, membuka taman/rumah baca dan menyumbang buku.

Disaksikan masyarakat Riominsi, rumah baca (RB) yang diberi nama ‘Sadi Bisa’ (bahasa Riung) yang artinya pintar dan cerdas diluncurkan, Sabtu (22/12/2018) oleh Direktur RLC Ngada Emanuel Djomba didampingi penanggung jawab RB  ‘Sadi Bisa’ Basilisa Ngindang, staf RLC yang juga guru SMAK Regina Pacis Boy Zanda, kordinator RB Andreas Lewa, sejumlah pengurus, dan masyarakat yang sebagian besar ibu-ibu serta sejumlah guru muda.
 
Penyerahan buku kepada penanggung jawab rumah baca 'Sadi Bisa'
Dalam kegiatan itu, Alisha mengatakan ada empat alasan yang mendorongnya untuk menggagas mendirikan rumah/taman baca di kampung kelahirannya itu. Berawal dari kegelisahan dan kepeduliannya terhadap situasi sosial di kampungnya yang dinilai masih terisolasi. Akses jalan buruk, dan telekomunikasi pun tak bisa diakses dengan baik. Masyarakat tidak bisa mengakses informasi dan ilmu pengatahuan.

Pertama, kata Alisha: Riominsi masih terisolir, jauh dari akses komunkasi bahkan sinyal HP juga tak terjangkau. Beberapa titik ada sinyal tapi hilang muncul, sehingga tidak bisa akses internet. Sumber informasi lain seperti koran, majalah atau pun buku juga tidak ada, karena kawasan ini jauh dari ibu kota kabupaten Ngada (Bajawa) dan jalan menuju daerah ini sangat buruk. Kalau ada rumah baca dengan tersedianya buku dan majalah atau koran paling tidak menjadi sumber informasi alternatif dan sumber pengetahuan.

Kedua, keprihatinan pada anak-anak di kampung itu yang lepas dari kegiatan bermanfaat di luar jam sekolah. Waktu dihabiskan untuk bermain, ke sawah dan ladang. Hadirnya tempat baca paling tidak anak-anak bisa diarahkan mengisi waktu kosong dengan kegiatan bermanfaat melalui pengembangan minat baca. Tentu mereka dapat ilmu dari hasil membaca di luar sekolah.

Ketiga, juga menjadi wahana bagi generasi di kampung agar mereka lebih melek dengan situasi sosial di masyarakatnya. Dengan pengetahuan yang memadai karena terus berliterasi, generasi muda yang lepas sekolah dan berada di kampung dapat mengisi diri dengan kompetensi sehingga terbuka wawasan untuk mengatur hidup mereka. Kemampuan yang memadai perlu terus diisi mengingat kampung Riominsi berada di perbatasan Ngada-Manggarai Timur.

Keempat, agar anak-anak yang bernaung ditaman baca ini dilatih untuk berpikir kritis, cerdas, kreatif dan inovatif. Mereka juga diharapkan dengan terbukanya wawasan lebih mengharai perbedaan dan  tidak terombang-ambing akibat kepentingan kelompok yang satu dengan yang lain.

Alisha adalah alumni Universitas Flores (Unflor) yang meraih gelar sarjana pendidikan pada tahun 2015 lampau. Sosok yang sejak mahasiswa giat berorganisasi di PMKRI Cabang Ende Santo Yohanes Don Bosco memperlihatkan minat yang besar pada pendidikan.
 
Bersama para guru dan warga Riominsi
Sempat mengajar di SMK Don Bosco, Sumba pasca wisuda tahun 2015 hinga tahun 2017. Namun kemudian Alisha memutuskan untuk pulang mengabdi pada dunia pendidikan di kampung kelahirannya Riominsi. Sejak bulan Januari 2019 ini, Alisha mulai mengajar di SMP Riominsi.

Namun sebelum dirinya mulai megajar, alumnus SMAK Regina Pacis Bajawa  tahun 2010 ini menuntaskan hasratnya untuk mendirikan sebuah rumah baca, baik untuk menumbuhkan minat baca anak-anak di kampung terpencil itu, maupun bagi masyarakat pada umumnya.

Harapannya untuk memiliki sebuah rumah/taman baca di kampung kelahirannya dekat perbatasan Ngada-Manggarai Timur itu terwujud setelah menjalin kerja sama dengan RLC Ngada. Saat ini Alisha yang juga alumnus SDN Riominsi tahun 2004 itu mulai menata rumah/taman baca. Dirinya sebagai penanggung jawab, sedangkan Andreas Lewa yang merupakan alumnus STKIP Citra Bakti menjadi koordinatior rumah baca dengan nama ‘Sadi Bisa’ itu. Selain keduanya, sejumlah guru muda yang mengajar di SMP Riominsi juga aktif dalam kegiatan rumah baca ini.

Direktur RLC Ngada Emanuel Djomba usai meluncur Rumah Baca Sadi Bisa berharap rumah baca ini dapat menjadi ruang publik yang mencerahkan masyarakat dan menumbuhkan minat baca pada anak-anak.

Djomba pada kesempatan itu mengatakan, buku-buku bacaan untuk anak masih sangat terbatas, karena itu pihaknya akan terus berupaya menjalin kerja sama dengan Gerakan Katakan dengan Buku (GKdB) pimpinan John Lobo untuk mendapatkan buku-buku referensi baik bagi anak-anak maupun bagi orang dewasa dan generasi muda sesuai konteks lokal.

Usai peluncuran yang dihadiri masyarakat Riominsi, berlangsung diskusi tentang keberadaan rumah baca, maupun seputar gerakan literasi.(ade)***

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :