Vigonews

Pencerahan Ecoliteracy, Ini 3 Jenis Sampah Versi PKBM Bravostart Mataloko



Diskusi akhir pekan pencerahan tentang ecoliteracy di PKBM Bravostart, Mataloko, Ngada --  

MATALOKO – Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bravostart di Mataloko Ngada yang menyelenggarakan program Pendidikan Non Formal (PNF) menggelar diskusi akhir pekan untuk pencerahan ecoliteracy.

Kegiatan pencerahan ecoliteracy berlangsung di sekretariat PKBM Bravostart di Kelurahan Mataloko, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, Sabtu (10/11/2018).

Diskusi akhir pekan bertepatan dengan peringatan hari Pahlawan itu dilandasi keprihatinan atas masalah lingkungan yang kian serius di tengah rendahnya kesadaran publik untuk hidup selaras alam. Dengan spirit hari pahlawan, diharapkan para peserta belajar mampu menjadi pelopor dalam menangani berbagai persoalan lingkungan dari tempat tinggalnya.

Sehubungan dengan kegiatan pencerahan ecoliteracy tersebut, PKBM Bravostart menghadirkan tuan Rumah Literasi Cermat (RLC) Ngada, Emanuel Djomba. Jurnalis senior ini, setahun terakhir gencar mengampanyekan gerakan ecoliteracy kepada publik, khususnya di lembaga-lembaga pendidikan yang ada di Ngada, bahkan hingga di kabupaten Nagekeo. Gerakan ecoliteracy ini merupakan salah satu bentuk giat literasi yang mulai dikampanyekan sejak tahun 2013.

Dalam diskusi ini peserta belajar menyoroti masalah sampah yang semakin tak terkendali, konten media sosial yang kian diwarnai dengan informasi sesat (hoax) dan pandangan miring publik tentang peserta belajar PNF (Paket), seolah berijasah paket  menjadi warga kelas dua.

Menurut Emanuel Djomba yang memberi pencerahan tentang ecoliteracy, bicara tentang ecoliteracy di Indonesia belum terlampau familiar. Padahal masalah ekologi sudah amat sangat serius dan menjadi perhatian global.

Dikatakan Djomba, ecoliteracy sebenarnya merupakan suatu gerakan untuk menciptakan kepekaan terhadap kelestarian lingkungan sekitar. Gerakan ini mesti dimulai dari lembaga sekolah (Pendidikan) – yang mengemban fungsi sebagai pewaris nilai dan budaya bangsa.
 
Peserta diskusi
Pembelajaran yang berbasis eco-literacy sekolah, kata Ketua Asosiasi Watawan Ngada (Aswan) ini, diharapkan dapat meningkatkan kemelekan dan kepekaan terhadap lingkungan dalam upaya menangani berbagai masalah baik masalah lingkungan sosial maupun ekologis.

Dalam diskusi dan shering dengan peserta belajar PKBM ini, Emanuel Djomba menyoroti masalah ‘sampah’ pada lingkungan sosial maupun ekologis. Isu lingkungan sebagai persoalan serius yang jika tidak diantisipasi menjadi ancaman serius bagi kehidupan manusia ke depan.

Secara ekologi, sampah  adalah bahan terbuang atau dibuang dari sumber aktivitas manusia maupun proses alam, baik sampah organik maupun sampah anorganik. Sampah ini belakangan menjadi masalah dalam kehidupan manusia kota bahkan kini sudah merambah hingga ke desa jika tidak segera diantisipasi.

Selain itu disoroti pula bahwa, secara sosial hari-hari ini banyak berserakan ‘sampah’ dimedia sosial – dimana media sosial (facebook) menjadi tempat banyak orang membuang informasi yang menyesatkan atau hoax. Ini sebenarnya tidak jauh beda dengan sampah yang membawa penyakit secara sosial.

Kemudian, secara sosial, yang menjadi tantangan para peserta belajar Paket atau PNF adalah masih adanya pandangan miris publik terhadap peserta belajar paket yang tak jarang dipandang sebelah mata, seolah-olah mereka yang ikut paket ini tak bermanfaat  ‘bagai sampah’ dalam masyarakat – hanya karena mereka berijasah paket. Seolah yang berijasah paket menjadi warga kelas dua.

Di bagian lan, Emanuel mengatakan, para peserta belajar melalui program paket harus merasa tertantang dan menunjukkan kemampuan baik dalam mengembangkan live skills maupun aspek pegetahuan yang diperoleh melalui program tatap muka, sehingga kita tidak dipandang sebelah mata. Jangan sampai masuk program belajar paket (PNF) hanya untuk mengejar ijasah paket semata untuk tujuan sesaat. Karena ijasah seharusnya hanyalah bukti fisik bahwa anda memiliki kompetensi skils yang mampu bersaing.
 
Sebagian peserta belajar PKBM Bravostart
Sementara dalam sambutannya, pengelola PKBM Bravostart Benediktus Lagho mengatakan pencerahan ini akan dilanjutkan dengan kegiatan pemanfaatan sampah menjadi produk yang bernilai ekonomi.

Sehubungan dengan itu, dia minta para peserta untuk terlibat dalam kegiatan pencerahan melalui diskusi akhir pekan ini secara aktif. “Setelah kita dicerahkan, baru kemudian diwujudkan dalam aksi nyata melalui program daur ulang sampah,” kata Benediktus.

Di PKBM yang dikelola oleh Benediktus Lagho ini, selain program tatap muka, juga mengembangkan life skills dan pengembangan minat dan bakat lainnya. PKBM ini baru beroperasi kurang dari dua tahun dengan program belajar Paket A,B dan C, dengan total siswa sekitar 160 peserta belajar, dan kini sudah menamatkan satu angkatan.

Dalam kegiatan tatap muka setiap pekan, didampingi 16 orang tutor setara sarjana S1 yang juga guru dari berbagai sekolah di Mataloko dan sekitarnya. Dan, pada bulan April 2019 mendatang PKBM ini akan diakreditasi. Hal ini untuk memenuhi tuntutan pemerintah guna mewujudkan lembaga penyelenggara PNF yang berstadar demi menjamin mutu, dan bukan asal dapat ijasah. Tidak heran jika dari puluhan PKBM di Ngada, saat ini tinggal 4 PKBM yang berjalan.

Di bagian lain, Benediktus mengatakan, kegiatan pencerahan tentang ecoliteracy ini akan dilanjutkan dengan kerja kreatif mengolah sampah menjadi sesuatu yang bernilai, seperti sampah plastik, dan sampah kertas menjadi produk bernilai ekonomis.

Pencerahan tentang ecoliteracy akhir pekan ini diikuti lebih dari 20 peserta belajar. Kegiatan dibuka pengelola PKBM Bravostart Benediktus Lagho dan dihadiri tuan Rumah Literasi Cermat (RLC) Emanuel Djomba, peminat literasi yang juga mahasiswa semester akhir STKIP Citra Bakti, Adeputra Moses, dan sejumlah tutor di PKBM ini.(R1)***

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :