Vigonews

Opini Yohanes Mau: Bencana Palu, Apakah Tuhan Bosan?



Oleh Yohanes Mau
Misionaris SVD, Alumnus Stipar Atma ReksaTinggal di Ende -- 


Di media-media lokal, nasional, dan internasional, baik cetak maupun elektronik, bahkan lebih lagi media sosial gencar memberitakan gempa dan tsunami yang melanda Palu, Sigi dan Donggala. Musibah ini menjadi berita headline di semua media. Beberapa hari lalu saya sempat jalan-jalan di sekitar kota Kupang dan Ende. Di setiap persimpangan jalan para mahasiswa dan aktivis sosial berkeliaran sambil menyodor gardus berlabel, Solidaritas untuk korban Tsunami di Palu, Sigi, dan Donggala.

Ternyata mereka menggalang dana untuk misi kemanusiaan. Setiap pengendara dan penumpang yang sempat terlintas di persimpangan itu hatinya turut hancur luluh ketika membaca tulisan, solidaritas yang ada pada gardus itu. Mereka memberi sesuai kadarnya masing-masing berdasarkan berapa jumlah yang ada pada mereka. Mereka ingin melihat secara langsung ratap, tangis dan derita memiluhkan yang dialami saudara-saudari di Palu, Sigi dan Donggala namun waktu dan tempat tak memungkinkan. Hanya lewat selembar rupiah yang tak seberapa nilainya itu mereka menitipkan duka dan rasa solidaritas. Semoga wajah mereka pun terbaca dan terkenang di sana.

Memang benar manusia adalah makluk sosial yang saling berintraksi satu sama lain. Ketika yang lainnya mengalami kepincangan dan duka yang dalam di sana yang lainnya pun turut mengalami dan merasakannya. Ah, Tuhan siapakah manusia sehingga Kau perhatikan, manusia hanyalah debu yang sesekali ditiup angin dan sirna oleh waktu. Namun hatiMu yang penuh Maharahim itu ada dan hadir dalam duka itu.

Solidaritas Bantu Palu,Sigi dan Donggala yang bertuliskan di gardus-gardus yang disodorkan oleh mahasiswa dan para aktivis sosial di jalan-jalan raya adalah ajakan untuk turut prihatin dan solider dengan sesama yang sedang dilanda musibah gempa dan Tsunami. Musibah datang dalam waktu tak terduga. Ia datang seperti pencuri dan perampok. Mendatangi dan merekrut segala yang ada tanpa kalkulasi untung-rugi. Apakah Tuhan bosan dengan manusia? Bukan. Tuhan tidak bosan. Tapi manusia yang bosan. Manusia tau mengemis Tuhan akan kemurahan cintaNya yang tak terbatas namun tak pernah tau bagaimana harus membalasNya. Manusia hanyut dalam bahagia sementara yang sesewaktu akan lenyap termakan oleh ngengat. Manusia lebih berorientasi pada hal-hal yang bersifat sementara, mendewakannya bahkan melupakan (TUHAN) sumber abadi yang menghidupkan.

Tuhan murka tapi belaskasih dan kerahiman-Nya tak terbatas bagi manusia. Hal ini bisa dilihat dari situasi krisis yang dialami oleh para korban, mereka membutuhkan kehadiran Allah yang meneguhkan dan menguatkan serta membangkitkan mereka dari pengalaman kejatuhan itu. Tragedi Palu sebenarnya menyadarkan nurani manusia untuk selalu waspada secara rohani dan jasmani.

Musibah Palu, Sigi, dan Donggala adalah pristiwa Allah murka. Allah murka karena manusia tidak lagi melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendakiNya. Pekerjaan yang dikendaki Allah adalah saling menghormati dan menghargai satu sama lain sebagai saudara dalam balutan kasih. Bukan memandang yang lain sebagai saingan dan lawan yang mesti dihancurkan. Semestinya kita saling menerima dan memberi tumpangan dalam balutan kasih kekal yakni Tuhan sebagai sumber pemilik segalanya.

Marilah kita hidup rukun dan damai sebagai saudara, Indonesia jadi bangsa besar karena berlandaskan pancasila. Kemajemukan dan keberagaman menjadi kekayaan dan keunikan yang mesti dipelihara dan dilestarikan hingga keabadian. Kita dilahirkan dari rahim yang satu dan sama yaitu Indonesia. Kita memiliki aneka perbedaan untuk bersatu. Berbeda bukan untuk cecok dan konflik tetapi berbeda untuk saling memperkaya satu dengan yang lain. berbeda untuk mempererat dan mempersatu tali persaudaraan sebagai anak-anak negeri yang kaya akan susu dan madu.

Mari kita makan dan minum dari jerih lelah, keringat, ratap dan tangis para pejuang yang berjuang meraih kemerdekaan. Kemerdekaan yang kita alami dan rasakan saat ini adalah rahmat dari Allah secara cuma-cuma. Maka kita sebagai generasi penerus bangsa ini mesti tau bersyukur atas kebaikan Tuhan itu. Kita mesti hidup rukun dan damai sebagai saudara dan saudari yang lahir dari rahim yang satu dan sama, juga menyusu susu yang satu dan sama dari ibu tercinta tanah air indonesia.

Itulah tawaran tips sederhana, semoga bemanfaat untuk ziarah selanjutnya. Lebih dari itu, semoga duka yang dialami oleh saudara-saudari kita di Palu membuka mata, hati dan nurani  untuk saling memandang satu dengan yang lain sebagai saudara. Bongkar sekat-sekat batas yang ada pada pikiran dan hati. Menyeberanglah ke sana dan bantulah mereka. Kita manusia lemah dan rapuh, saling membutuhkan demi terciptanya solidaritas kebangsaan yang majemuk dan kemanusiaan Indonesia yang utuh.***

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :