Vigonews

Opini: ‘Siap-Siap Jadi Pengangguran!’



‘Siap-siap ‘Jadi Pengangguran’ adalah pernyataan yang dibungkus rasa cemas dan tidak percaya diri akan kemamupuan intelektualnya. --

Oleh Angelus Yakobus Tupen Ruing
Penulis, Warga Lembata (Tinggal di Ende) --

Pemilik akun facebook Natalia Nato menaikkan status di akunnya tertanggal 16 September 2018 dengan isi; ‘Siap-siap jadi pengangguran’. Status itu dimuat ketika anak penghuni kampung Waienga, Lebatukan, Lembata, NTT-Indonesia itu sedang menyiapkan diri untuk wisuda di AKBID WIRA HUSADA NUSANTARA, Malang. Usai wisuda ia siap pulang ke kampung untuk menyampaikan syukur dan ungkapan terima kasih kepada orangtua, keluarga, sahabat kenalan, dan para penjasa serta lingkungan kampung halaman yang turut membesarkan dia masuk dalam kelompok cendekiawan.

Tamatan perguruan tinggi itu pulang ke kampung dan merasa ragu dengan ilmu yang digelutinya selama di bangku kuliah. Ia mendahulukan kehadirannya dengan ungkapan, ‘Siap-siap jadi pengangguran’ lewat facebooknya. Ini adalah stigma sosial yang masih kental dalam diri mahasiswa sebelum selesai studi. Mahasiswa melihat dan menilai diri secara obyektif bahwa semua anak desa yang menamatkan kuliah di perguruan tinggi tidak selamanya mendapat pekerjaan layak. Bahkan ada yang jadi ojek, buruh tukang,  dan petani bantu orangtua olah lahan. Hal ini dikarenakan oleh adanya praktik tidak sehat dalam menempatkan tenaga pekerja profesional di lembaga, dan instansi-instansi milik Negara dan swasta. Padahal harapan dan kerinduan mahasiswa begitu melangit namun apalah daya sebab tidak mempunyai orang-orang dalam yang menyiapkan lahan untuk mengabdi. Ah, kasihan, Negara ini pelihara orang-orang bermental seperti ini, dan kalau dibiarkan secara terus-menerus maka akan jadi apakah nasib anak-anak negeri ini nanti?

Negara ini bukan milik swasta dan perseorangan tapi negara ini menjadi milik dari semua warga yang berdomisili dari Sabang sampai Merauke Indonesia. Seluruh warga Indonesia punya hak yang satu dan sama untuk hidup bahagia dan mensejahterakan warganya. Semua warga Negara Indonesia punya hak untuk mendapat pekerjaan secara layak berdasarkan pendidikan dan keahliannya. Tidak perlu ada sekat-sekat batas pemisah bahwa ini dan itu bukan kelompok kita atau tidak memiliki relasi dekat dan hubungan darah. Jadi, cari orang-orang yang masih ada hubungan pertalian dengan kita yang mesti dapat pekerjaan layak. Ini adalah budaya sukuisme yang mesti dibasmi karena tidak merawat keadilan dan persatuan di antara sesama warga bangsa ini. Jadi tidaklah heran kalau kelompok-kelompok orang terpinggirkan yang tak terhitung selama ini selalu tak berdaya di hadapan para elite politiknya sendiri.

Tamatan perguruan tinggi menjadi orang terpandang di dalam masyarakat walaupun  tidak ada gebrakan baru yang membawa perubahan. Ucapan siap-siap ‘jadi pengangguran’ adalah rasa cemas dan tidak percaya diri akan kemamupuan intelektualnya. Lebih dari itu tidak mempunyai relasi dengan orang dalam. Di sini pemilik akun facebook, Natalia Nato merasa tertantang dengan lapangan kerja sebagai tempat untuk membumikan ilmunya secara tepat sasar. Cemas akan lapangan kerja. Nanti usai kuliah mau kerja di mana. Karena tidak punya harapan pasti maka tak segan-segan ia menaikkan status: ‘Siap-siap jadi pengangguran’.

Sebenarnya saudari Natalia Nato mesti melihat kekosongan itu sebagai saat untuk mengaplikasikan ilmunya secara nyata di tengah masyarakat. Peluang karena ini adalah kesempatan baginya untuk kreatif dengan segudang ilmu yang ada untuk melahirkan perubahan secara holistik. Perubahan dimaksud adalah mengubah budaya pulang kampung siap-siap jadi pengangguran  menjadi akar stigma sosial masyarakat itu diruntuhkan dengan spirit baru membumikan ilmunya dengan cara baru kepada masyarakat untuk hidup lebih baik dari hari-hari kemarin yang terlewati.

Kalau ada gebrakan  membawa perubahan, pasti masyarakat melihat dengan rasa haru sambil menepuk dada dan mengacung jempol; ini baru namanya tamatan perguruan tinggi. Sekolah tinggi-tinggi tapi tidak percuma. Sekolah tinggi membawa perubahan bagi kampung halamannya. Kapan mestinya ada hawa baru seperti ini dan bagaimana caranya? Caranya adalah baca dan baca buku dari pelbagai sumber serta jadikan referensi untuk hidup dan karya pembaharuan di hari esok. Karena untuk melakukan perubahan harus punya ide, gagasan yang berlian agar diterima secara umum dan kelak memberikan kontribusi berupa perubahan bagi orang banyak.

Perubahan radikal hanya bisa terjadi bila orang punya ide untuk ditawarkan kepada publik. Ide hanya bisa diperoleh lewat membaca buku dan pengalaman hidup. Kalau tidak mau disapa dan diberi label penganggur, maka baca dan bacalah serta belajarlah dari pengalaman yang pernah mengajarmu untuk hidup.

Mantan Presiden USA John F. Kennedy pernah berujar, “Jangan Tanyakan Apa yang Negara Berikan Kepadamu Tapi Tanyakan Apa yang Kamu Berikan Kepada Negaramu”. Hal yang mau dipetik dari pernyataan klasik ini adalah tawaran perubahan apa yang mesti diberikan bagi kampung halaman tempat lahirmu? Cukupkah hanya dengan sekolah tinggi berlabelkan gelar akademik yang ada pada diri? Gelar akademik bukanlah menjadi suatu ukuran dalam dunia zaman now. Karena dunia kini adalah dunia kerja. Artinya orang harus kerja dan kerja secara baik dan benar dengan bekal ilmu yang ada sampai melahirkan perubahan dari teori-teori praktis yang diperoleh selama masa-masa pendidikan di dunia kampus. Dunia kerja tidak dibatasi lagi oleh ruang dan waktu tetapi ia mesti melampaui ruang dan waktu dengan segala kreativitas yang ada disertai aneka perubahan yang berguna bagi masayarakat umum.

Sehingga ucapan ‘Siap-siap jadi pengangguran’ yang dikicaukan oleh akun pemilik facebook Natalia Nato cukuplah gemanya saja yang membahana tapi realitasnya jangan demikian. Ilmu harus dibumikan dengan kerja kreatif dan melibatkan banyak pihak. Artinya kaum muda tamatan perguruan tinggi harus pandai-pandai membaca tanda zaman secara baik.

Orang kampung menaruh harapan dan cita-cita sepenuhnya di pundak kaum muda tamatan perguruan tinggi. Walaupun kita tau orang-orang kampung adalah penganggur musiman yang hanya menanti musim tanam dan musim panen tiba sedangkan selain dari kedua musim ini mereka hanya sebagai penganggur musiman. Inilah masalah yang sedang melanda orang-orang kampung, dan kalau sudah demikian masalah ini mesti menantang kaum muda tamatan perguruan tinggi yang berasal dari kampung saatnya memberikan solusi. Semoga ilmu yang digeluti selama masa-masa pendidikan tidak mati terkubur bersama tumpulnya gagasan orang-orang kampung minus pendidikan. Berilah rasa legah kepada mereka sebagai ungkapan terima kasih atas partisipasi kehadirannya yang turut membentuk karakteristik dirimu menjadi besar seperti sekarang ini.***

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :

1 komentar:

Write komentar