Vigonews

Rm. Eduardus Raja Para, Pr, Beberkan Ini Pada Lokakarya Gender KAE



ENDE - Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian - Pastoral Migran dan Perantau Keuskupan Agung Ende (KAE) Rm. Eduardus Raja Para, Pr membeberkan berbagai kasus Gender di KAE dalam dalam sebuah rangkuman kegiatan Lokakarya Penguatan Kapasitas Pengurus Gender dan Pemberdayaan Perempuan hari kedua, Sabtu (22/09/2018).

Kasus-kasus gender yang diidentifikasi menjadi simpul keprihatinan para peserta lokakarya setelah dituntun para narasumber yang dilanjutkan sesi-sesi diskusi hingga hari kedua.

Baca berita terkait:
Ini Alasan Mendesak KAE Gelar Lokakarya Gender & Pemberdayaan Perempuan

Terkait dengan hal itu maka, Sabtu (22/09/2018) Rm. Edu menyampaikan rangkuman kegiatan. Dari rangkuman ini peseta kemudian masuk ke pendalaman materi melalui diskusi umum yang pada hari terakhir akan menghasilkan Rencana Kegiatan Tindak Lanjut (RKTL) bagi para pegiat gender sebelum kembali ke paroki masing-masing.

Dikatakan Rm. Edu, selama dua hari Lokakarya Penguatan Kapasitas Pengurus Gender dan Pemberdayaan Perempuan Keuskupan Agung Ende, forum telah melihat sebuah panorama  gender dan pemberdayaan perempuan dalam masyarakat. 
 
Peserta lokakarya gender
Lebih lanjut dikatakan, peradaban dan budaya yang didominasi oleh kaum laki-laki telah mengabaikan keadilan gender dan keadilan kaum perempuan. Ada perlakuan yang diskriminatif yang kebanyakan menimpa kaum perempuan. 

Menyikapi situasi ini maka para peserta dihantar untuk membahas persoalan ini dari berbagai sudut pandang kebijakan pastoral SGPP KWI, gender dari perspektif Gereja, budaya, dan keluarga, sebahaimana dikemukakan narasumber dari Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan (SGPP), Sr. Natalia Sunarmi, OP.

Sementara,  katekese menjadi sarana yang baik untuk menyebarluaskan informasi gender agar semakin banyak umat yang memiliki pemahaman yang benar tentang gender, sebagaimana dikemukakan Ketua Komisi Kateketik Herman Tambuk.

Pada hari pertama, Sr. Natalia memgantar peserta pada sebuah kenyataan yang memprihatinkan bahwa masih banyak perempuan yang tidak bisa berkembang sesuai dengan kodratnya, banyak keluarga rawan dengan  kasus KDRT, HIV/AIDS dan minuman keras, sistem ekonomi kapitalis yang membuat  jurang semakin lebar antara miskin dan kaya, budaya global: instan, pragmatis, konsumtif, dll membuat manusia cenderung mengutamakan gaya hidup daripada gaya pikir. 

Sementara Rm. Edu sendiri dalam materinya mengatakan masih menemukan adanya ketidakadilan gender dalam Gereja, yang nampak dalam hal-hal berikut ini: marginalisasi kaum perempuan di mana kaum perempuan kurang diperhatikan, subordinasi atau penomorduaan, stereotipe, kekerasan dan beban kerja ganda/berlebihan. 
 
Peserta Lokakarya gende
Merujuk pada keprihatinan-keprihatinan pastoral pada hari pertama, maka pada hari kedua, para peserta dari berbagai paroki itu mendiskusikan persoalan seputar issu gender. 

Dari hasil diskusi umum dan masukan dari para nara sumber ditemukan sejumlah persoalan yang masih mengganjal terwujudnya keadilan dan kesetaraan gender. 

"Dari hasil pemetaan kita temukan beberapa persoalan tersebut berikut ini:Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) dan Kekerasan terhadap anak, adat istiadat yang membelenggu, belum semua paroki dan kuasi paroki memiliki seksi GPP, pemahaman yang belum merata tentang gender di kalangan umat, kawin pintas dan kawin lepas, merasa nyaman dengan situasi penindasan. 

Dari hal-hal ini para peserta lanjut diakusi untuk mendapatkan akar masalah terjadinya ketidakadilan gemder dan tawaran solusi dalam memberi pemahaman tentang kesetaraan gender. 

Hasil diskusi kemudian akan didalami pada lokalarya hari ketiga, Minggu (23/08/2018) selanjutnya mendapatkan tawaran solusi yang akan diimplementasilan dalam tindak lanjut kegiatan (RKTL).(edjom)***

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :