Vigonews

Ini Rencana Aksi Lanjutan Para Pegiat Gender Setelah Lokakarya



ENDE - Lokakarya Penguatan Kapasitas Para Pegiat Gender yang digelar Komisi Perdamaian dan Keadilan - Pastoral Migran dan Perantau Keuskupan Agung Ende (KAE) berkhir, Minggu (23/09/2018).

Lokakarya yang digelar sejak Jumat (21/09/2018) itu ditutup secara resmi oleh Ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian - Pastoral Migran dan Perantau Rm. Eduardus Raja Para, Pr sekaligus memimpin misa kudus.

Baca Berita Terkait:
Ini Alasan Mendesak KAE Gelar Lokakarya Gender & Pemberdayaan Perempuan
Rm. Eduardus Raja Para, Pr, Beberkan Ini Pada Lokakarya Gender KAE

Setelah menyampaikan rangkuman kegiatan pada hari kedua lokakarya, Minggu (23/09/2018) lebih dari 40 pegiat gender dari berbagai paroki itu menyepakati rencana takhtis program gender dan pemberdayaan perempuan tahun 2018/2019.

Rencana taktis tersebut akan dilaksanakan di setiap kevikepan dan paroki-paroki. Divisi Gender dan Pemberdayaan Peremuan KAE yang bernaung di bawah Komisi Keadilan dan Perdamaian - Pastoral Migran dan Perantau juga akan meggelar penguatan kapasitas lanjutan tahun depan. 

Kegiatan ini, kata Rm. Eduardus Raja Para, Pr akan difokuskan pada pelatihan modul katekese umat sebagai strategi/metode dalam memerangi ketidakadilan gender.

Hasil lokakarya tiga hari itu, kata Rm. Edu juga dirumuskan dalam sejumlah rencana tindak lanjut (RTL).  Dari tujuh RTL yang disepakati, katekese umat sebagai upaya untuk memberi pemahaman tentang gender - bahwa manusia laki-laki dan manusia perempuan diciptakan setara sesuai dengan citra Allah.

Hasil lokakarya yang dicapai dan dirumuskan dalam sebuah RTL, yaitu: pelatihan menyusun katekese bagi para penguris gender KAE, sosialisasi gender dan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak - baik melalui media massa, sekolah dan kelompok umat.

Rencana aksi lainnya adalah menggelar katekese umat menyambut hari anti kekerasan yang jatuh pada tanggal 26 November 2018. Katekese yang ditawarkan mengusung tema tentang gender dan KDRT.

Materi gender dan pemberdayaan perempuan  juga diusulkan menjadi program dalam Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) di masing-masing Paroki, dan melakukan pendataan kasus ketidakadilan gender di tempat masing-masing. Dengan demikian para pegiat gender menjadi agen perubahan dalam memulihkan ketidakadilan gender demi mencapai kesetaraan sebagai citra Allah.

Dalam khotbahnya, Rm. Edu mengatakan, kekerasan terhadap perempuan dan anak adalah ketidakadilan yang harus kita perangi.
 
sebagian dari para pegiat gender KAE
Menurut Rm. Edu, sebagai pelayan dan orang yang diutus harus 'minum cawan' itu. "Ketidakadilan gender yang bertentangan dengan rencana Allah adalah 'cawan' yang harus kita minum. Seorang pelayan harus minum dari 'cawan' itu," kata Rm. Edu.

Beberapa peserta lokakarya berkomitmen untuk menindaklanjuti hasil-hasil lokakarya dengan aksi nyata. Salah seorang peserta dari Kevikepan Ende, Yuliana Ngole menyatakan RTL yang sudah dicapai bersama ini perlu diimplementasikan baik di tingkat kevikepan maupun di paroki hingga ke komunitas basis.

Yuliana berharap, ada pelatihan katekese khusus tema gender dan KDRT, karena katanya metode katekese dinilai cukup efektif sehingga isu gender dan pemberdayaan perempuan dan perindungan anak dapat lebih cepat diimplementasikan hingga tingkat komunitas basis.

Senada dengan Yuliana, peserta dari Kevikepan Bajawa, Sumiati juga menghendaki pihak Komisi Keadilan dan Perdamaian dalam hal ini Divisi Gender dan Pemberdayaan Perempuan perlu mengadakan lagi kegiatan pelatihan katekese bagi para fasilitator khusus gender.

Sumi begitu dia biasa disapa, sudah pula merancang RTL bersama-sama pegiat gender dari Kevikepan Bajawa untuk menggelar berbagai kegiatan terkait dengan kampanye keadilan gender di berbagai paroki dan sekolah, hingga menyambut Hari Anti Kekerasan 26 November 2018 mendatang.(edjom)***

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :