Vigonews

Ini Alasan Mendesak KAE Gelar Lokakarya Gender & Pemberdayaan Perempuan


Direktur Puspas KAE, Rm Alex Tabe (Tengah) diapiti Rm. Eduard Raja Para dan Suster Natalia

ENDE – Komisi Keadilan Perdamaian, menggelar Lokakarya Penguatan Kapasitas Para Pengurus Gender dan Pemberdayaan Perempuan tingkat Keuskupan Agung Ende (KAE)  21 – 23 September 2018.

Lokakarya ini dibuka oleh Direktur Puspas KAE, Rm. Alex Tabe, Pr, Jumat (21/09/2018). Kegiatan yang melibatkan para pegiat gender dari berbagai paroki berlangsung di Rumah Bina Kerahiman Ilahi, Ende.

Sebelumnya berlangsung misa kudus yang disemarakkan dengan paduan suara WKRI Ende. Hadir  Rm. Eduardus Raja Para, Pr dan Pater Fridus Derong, OFM dari Paroki Aeramo yang juga tim Komisi Keadilan Perdamaian Migran dan Perantau KAE.

Lokakarya ini menghadirkan para narasumber, yaitu Sr Natalia Sunarmi, OP dan Suryati dari Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan (SGPP) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan narasumber lain dari KAE, Rm. Eduardus Raja Para, Pr, Pater Charles Beraf, SVD, dan Blasius Fonge.

Belajar Peka

Dalam acara pembuka, Suster Natalia dari SGPP KWI memberi apresiasi kepada Komisi Keadilan dan Perdamaian Migran dan Perantau yang telah menyelenggarakan lokakarya ini.

Momen ini, kata Sr. Natalia sebagai wahana bagi para pegiat gender dan pemberdayaan perempuan untuk belajar agar semakin peka dalam mencermati berbagai kasus gender yang merebak di masyarakat.

“Kami hadir bukan untuk mengajari, tetapi dalam rangka memberi dukungan kepada para pengurus gender dalam menyikapi berbagai kasus,” katanya.

Ditegaskan Sr. Natalia, “kita harus bangkit dari keterpurukan atau keprihatinan yang terjadi sekitar kita dan kita segera keluar dari zona nyaman.”
 
Pegiat Gender Kevikepan Ende bersama para narasumber
“Kehidupan di luar kita, sudah menangis yang diakibatkan dari ketidakadilan gender. Karena itu kita perlu buka hati dan memberi sikap peduli terhadap berbagai kasus seperti kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap anak, dan perdagangan orang. “Kalau hal-hal ini masih marak, apa kita masih nyaman dan diam,” tanya Sr. Natalia.

Upaya ini tidak hanya urusan perempuan tetapi juga urusan laki-laki dan semua elemen serta stakeholder lainnya, karena yang mengalami ketidakadilan gender bukan hanya perempuan, tetapi juga laki-laki.

“Kita harus bicara ini. Kita harus bicara soal keseteraan gender, karena esensinya kita adalah manusia laki-laki dan manusia perempuan yang diciptakan Allah setara. Yang menimbulkan keprihatinan perlu segera diperbaiki,” tegasnya.

Di bagian lain Sr. Natalia menegaskan, bicara kesetaraan gender bukan bermaksud menggeser posisi laki-laki. Tetapi sebaliknya kita semakin peka dan memahami sesungguhnya esensi manusia sebagai ciptaan Allah yang setara.

Sementara Direktur Puspas Keuskupan Agung Ende, Rm. Alex Tabe, Pr dalam sambutannya mengatakan, kegiatan ini harus menjadi wahana bagi peserta untuk meningkatkann kapasitas dalam menghadapi kasus ketidakadilan gender.

Dikatakan, perempuan dan laki-laki itu diciptakan setara sebagaiman awalnya. Namun kenyataannya keseteraan ini belum sepenuhnya terwujud, muncul ambifalensi bagi perempuan. Tindakan ini mengabaikan keadilan gender. Hak dan kewajiban tidak seimbang. Rasa setia kawan sering tak tampak.

Kesiapsediaan

Dalam khotbahnya Rm. Alex Tabe, Pr  minta para pegiat gender dan pemberdayaan perempuan agar menyadari panggilan tugasnya. "Kita dipanggil bukan karena kita hebat, melainkan agar kita menjadi hebat di tangan Tuhan untuk mewartakan kerajaan Allah," kata Rm. Alex.


Para pegiat gender dari berbagai paroki di Kevikepan Bajawa bersama narasumber

Karena itu Tuhan memerlukan kesiap sediaan kita untuk menjadi besar di tangan Tuhan, seperti Rasul Matius sang pemungut cukai yang dengan kerelaan hati menyadari panggilan Tuhan. Dan Tuhan mau memakai dan membentuk Matius.

Di bagian lain, Ketua Panitia, Paulina Pede dalam sambutannya menjelaskan, masih banyak kisah sedih, buram, dan memprihatinkan yang dialami kaum perempuan sebagai akibat adanya kesenjangan atau ketimpangan gender.

Membangun Habitus Baru

Kasus-kasus kekerasan seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pelecehan seksual, diskriminasi, serta penindasan terhadap kaum perempuan dan anak, masih sering terjadi di dalam kehidupan sehari-hari.

Situasi ini sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan keterampilan, serta derajat kesehatan dan perekonomian kaum perempuan yang masih sangat rendah. Dalam  berbagai bidang, perempuan sulit menjalankan peran kontrolnya terhadap sumbe rdaya, kewenangan dan pengambilan keputusan.
 
Ketua Panitia Lokakarya, Paulina Pede
Menyikapi persoalan ‘kesenjangan atau ketimpangan gender’ sebagaimana diungkapkan di atas, Divisi Gender dan Pemberdayaan Perempuan Keuskupan Agung Ende merasa dituntut untuk terlibat aktif dalam mewujudkan datangnya Kerajaan Allah di tengah dunia yang ditandai dengan hidup dan mekarnya keadilan, perdamaian, dan kesetaraan gender.

Sudah saatnya, gerakan membangun ‘habitus baru’ dalam rangka kesetaraan perempuan dan laki-laki sebagai citra Allah menjadi “gerakan bersama” seluruh umat Katolik dan harus   diintegrasikan dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat.

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Divisi Gender dan Pemberdayaan Perempuan Keuskupan Agung Ende  (GPP-KAE) lalu mengadakan kegiatan “Lokakarya Penguatan Kapasitas” bagi para Pengurus Gender dan Pemberdayaan Perempuan Keuskupan Agung Ende.

Lokakarya ini menjadi ajang melakukan konsolidasi internal dan penguatan kapasitas para pengurus atau fasilitator yang dipercayakan menangani program Gender dan Pemberdayaan Perempuan di tingkat Keuskupan Agung Ende. Harapannya adalah agar mereka semakin mampu dan optimal menjalankan peran pastoral gender di tingkat keuskupan.

Materi kegiatan ini, yakni Gender dalam Perspektif Theologi, Gender dalam Perspektif Budaya, Keluarga Bespektif Gender, Pembelajaran Modul Gender, Pembelajaran media dan Katekese Gender. (edjom)***

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :