Vigonews

OPINI YOHANES MAU: PELESTARIAN NILAI-NILAI KRISTIANI DARI PERSPEKTIF CURA HOMINUM



Catatan Lepas Terhadap Penyimpangan Seksual - 
Yohanes Mau adalah  Biarawan Misionaris SVD-Warga  Weluli- Belu Utara
Tinggal di Biara St. Konradus

Sangat menarik mengikuti pemberitaan di Koran online Vigonews. Pada tanggal (18/01/2016)  lalu media lokal  ini menurunkan berita, Ayah Predator’: Jajal Anak Kandung Hingga Hamil”.

Pristiwa naas ini menimpa siswi kelas VIII SMPN 3 (Batara) Bajawa Utara. Korban adalah warga Desa Nabelena, kecamatan Batara. Karena digauli seminggu sekali oleh ayahnya sendiri sampai hamil akhirnya (Ros) si gadis kecil ini terpaksa berhenti sekolah demi urus janin ayah kandungnya yang sudah berusia  21 minggu. (Ros) kini terasing dari teman sekolah, dari keluarga, dan dari lingkungan karena dianggap aib bagi kampung secara budaya. (Berita  Vigonews edisi 18 Januari 2016).

Ketika selesai melahap berita ini hati saya sedih. Bahkan malam mau tidur mata ini tak sudi hanyut dalam lelap panjang dan rindu untuk mimpi pun enggan tiba. Alasan karena saya ingat akan nasib dan masa depan anak ini. Dalam hening, saya hanya berdoa agar Tuhan mengampuni dosa sang ayah dan berkat kesembuhan bagi gadis kecil lugu yang tak berdosa itu.

Ah, memang kisah ini sangat sadis. Ayah kandung menghancurkan nasib dan masa depan darah dagingnya sendiri yang Tuhan titipkan dalam rangkulan kasih keluarga. Ayah sebagai kepala keluarga salah memanfaatkan peran kebapaannya. Sebenarnya anak adalah berkat yang Tuhan anugerahkan dan mesti dijaga, dirawat, dididik, dan disiapkan masa depannya secara baik. Namun yang terjadi di Desa Nabelena, kecamatan Bajawa utara tidak demikian. Anak kandung, darah dagingnya sendiri dijajal hingga hamil. Ini adalah perbuatan biadab yang harus dilawan. Artinya manusia yang akal budinya tidak berfungsi lagi.

Pristiwa amoral seperti ini namanya penyimpangan seksual yaitu terjadinya hubungan semendi atau hubungan seks dengan anggota keluarga yang masih sedarah (incest). Tindakan bejat yang dilakukan oleh ayah ini adalah aib dan terkutuk di kalangan masyarakat. Lantas muncul pertanyaan: Penyimpangan seksual tanggungjawab siapa?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ketiga tahun 2008 mendefinisikan Penyimpangan sebagai sikap tindak di luar ukuran (kaida) yang berlaku. Menurut Konsili Vatikan II seksualitas adalah salah satu dimensi pada diri manusia sebagai citra Allah. Melalui seksualitasnya manusia dapat berelasi dengan sesamanya. Maka seksualitas haruslah menjadi ungkapan cinta atau perwujudan cinta antar manusia. Dengan seksualitas manusia dapat merealisasikan dirinya sebagai citra Allah. Di sinilah letak seksualitas sebagai tugas, dengannya manusia mengembangkan dirinya menuju kesempurnaan citranya.[6]. Dari dua pandangan tersebut dapat dilihat tindakan bejat yang dilakukan oleh Ayah ini sebagai penyimpangan yang menodai keluhuran dari seksualitas itu sendiri. Penyimpangan ini terjadi karena sang ayah hanya mampu menempatkan seksualitas itu pada tataran kesenangan/kenikmatan semata. Akibatnya nilai-nilai moral seksualitas diabaikan. Tubuh manusia dijadikan sebagai obyek kenikmatan.

Tindak amoral oleh ayah ini sangatlah bertentangan dengan ajaran iman katolik yang menghargai tubuh sebagai kenisa Allah. Sehingga ini merupakan tindakan penodaan terhadap martabat luhur manusia sebagai ciptaan yang serupa dengan Allah.

Dari perspektif ini maka penyimpangan seksual menjadi tanggungjawab Gereja. Gereja tampil sebagai ‘Cura hominum’ (pemeliharaan manusia seutuhnya, jasmani-rohani). Dalam konteks ini penyimpangan seksual yang terjadi, menjadi tanggungjawab Gereja yang hadir sebagai lembaga yang merangkul mereka yang miskin, lemah, dan tak berdaya secara jasmani dan rohani. Hemat saya dari kasus penyimpangan seksual ayah terhadap anak kandung ini adalah kelalaian dari Gereja yang kurang menyadari akan perannya sebagai ‘cura hominum’. Selama ini Gereja melalui paroki-paroki yang ada di Keuskupan belum menjalankan evangelisasi secara kontekstual dan menyeluruh. Hal ini nampak jelas dari penyimpangan-penyimpangan yang lazim terjadi di kalangan umat.

Menghadapi penyimpangan sosial yang semakin meraja rela ini penulis tawarkan beberapa  tips jitu dari (Perpas regio Nusra 2012). Kiranya Gereja semakin sadar akan perannya sebagai nabi, raja, dan pemimpin yang menghantar manusia kepada keselamatan. Gereja tidak boleh tampil hanya gemanya saja, tapi lebih dari itu adalah keselamatan manusia secara utuh secara jasmani dan rohani serta pemeliharaan jiwa-jiwa menuju transfigurasi yang sejati.

Berikut  tawaran aktual dan kontekstual. Semoga membuka mata dan hati Gereja untuk terlibat secara aktif dalam karya pastoral zaman now. Pertama, ciri komunio yaitu penekanannya pada komunitas basis, misalnya Kelompok Basis Gereja (KBG) itu harus benar-benar dirasakan sebagai komonio, persaudaraan yang dialami. Sering disebut kalau pertemuan (KBG) itu tidak ada yang datang karena ada urusan lain, sebanarnya komunio itu sebagai unsur dasar, tanpa komunio akan lemah. Jadi ciri persekutuan itu perlu ada.

Kedua, ciri hidup dari Sabda harus ada sakramen. Ini penting karena membedakan komunitas itu dari kelompok-kelompok biasa. Kitab suci harus dihidupi, menjadi inspirasi, menjadi Roh, jiwa dan sakramen. Penekanan sakramen di sana, khususnya sakramen ekaristi dan tobat yang menjadi sumber kehidupan dari komunitas itu. Artinya bahwa komunitas perlu memberi penekanan pada sakramen tobat.

Ketiga, Pelayanan yaitu komunitas tidak hanya fokus pada ibadah-ibadah tetapi juga memberi penekanan pada ekspresi iman menemukan aplikasinya dalam pelayanan. Jadi komunitas yang saling melayani: melayani tubuh gereja dan melayani masyarakat.  

Keempat, tetap dalam unitas, persatuan dengan gereja universal. Pemikirannya adalah ketika gencar membangun KBG, bisa saja fokus perhatian kepada KBG saja dan persoalan-persoalan di luar tidak banyak dapat diperhatikan. Semakin KBG kuat, paroki harus kuat, keuskupan dan universal juga harus hidup sehingga yang menjadi upaya baik dari segi pastoral dan juga bagaimana peranan katekese untuk semua pendampingan dengan satu proses penyadaran bahwa komonio itu penting. Sabda dan sakramen itu penting. Bahwa pelayanan itu juga merupakan ciri hidup dari komunitas dan juga unitas dengan gereja universal ini dikemas dalam katekese-katekese untuk membangun penyadaran umat.

Pastoral praktis mesti dilakukan secara terus-menerus, karena dapat membantu mencegah tindakan-tindakan amoral di masyarakat. Gereja sebagai elemen-elemen dari agen pastoral harus tanggap terhadap situasi aktual yang terjadi sebagai bentuk kepedulian terhadap anggota Gereja yang melakukan sikap amoral di kalangan masyarakat.

Mari kita sebagai agen pastoral bereperan aktif dalam mengatasi anekatindakan amoral yang masih meraja dan menggetarkan hati di sekitar kita. Sebagai insan yang memandang sesama sebagai mitra kerja untuk melestarikan nilai-nilai moral kristiani dan turut bersuara agar tindakan amoral yang mencoreng nama baik Gereja tidak terulang lagi. Tawaran tips-tips membantu kita sebagai awasan dalam menegakkan nilai-nilai moral kristiani. Mari pupuk dan lestarikan nilai-nilai kristiani lewat Gereja sebagai cura huminum.***



Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :