Vigonews

OPINI BONEFASIUS ZANDA: MEMAKNAI ARTI KEMENANGAN


Penulis: Pengajar SMA Katolik Regina Pacis Bajawa

Dalam ilmu sosiologi dijelaskan bahwa manusia memiliki dua sifat yakni konformitas (baik) dan nonkonformitas (buruk). Kedua sifat ini adalah kebenaran mutlak. Oleh karena itu, perasaan suka dan tidak suka dan juga perbedaan kepentingan sering menghantui hidup manusia. Apalagi saat musim pemilu. Akibatnya, adalah terciptanya konflik jika perasaan dan kepentingan itu tidak disalurkan secara baik pada tempat dan sasaran yang tepat dan jika juga tidak berbasiskan data dan fakta yang benar dan akurat pulah.

Karl Marx dalam teori konfliknya berujar bahwa konflik dalam kehidupan bersama itu penting untuk membawa suatu perubahan yang lebih baik. Namun haruslah konflik yang punya dasar dan yang membawa keuntungan bagi banyak orang, bukan konflik karena kepentingan yang sempit demi kepentingan diri atau golongan. Semisal, emansipasi kaum perempuan dan juga demontrasi untuk meruntuhkan pemerintahan Orba yang  koersif. Dan untuk sebuah perubahan dan kepentingan banyak orang, bahwa langkah pengendalian sosial koersif harus ditempuh ketika cara pengendalian sosial persuasif tidak didengar oleh para penguasa.

Perhelatan pesta demokrasi untuk Pemilihan Kepala Daerah (Pemilukada) Gubernur Propinsi Nusa Tenggara Timur dan sejumlah Bupati sudah berlangsung pada 27 Juni 2018. Dan pastinnya, sudah memiliki pemimpin baru walaupun belum dilantik secara sah. Demokrasi berarti hak dan kebebasan mutlak ada di tangan rakyat. Jika demokrasi identik dengan hak rakyat maka, Politikpun harus menghargai hak rakyat. Politik itu sendiri  berarti seni atau kesenian. Seni untuk mempengaruhi, meyakini lewat visi dan misi dll. 

Berkaitan dengan demokrasi, kita semua telah melihat, melaksanakan bahkan sebagai pelaku utama. Yang pada akhirnya melahirkan wajah-wajah pemimpin yang baru dan semangat baru. Pemimpin baru berarti pemimpin untuk seluruh masyarakat bukan pemimpin untuk msyarakat mayoritas yang telah memilihnya, bukan untuk tim sukses, keluarga ataupun golongan tertentu dan juga memiliki semangat partisipasi serta kolektivitas dalam kehidupan bermasyarakat. Kelahiran pemimpin baru adalah fakta kemenangan masyarakat yang demokratis secara menyeluruh. Itulah fakta, kita tidak bisa menghindari apalagi berusaha untuk menghilangkan dengan cara yang tidak humanis hanya karena terbawa perasaan suka dan tidak suka atau karena perbedaan kepentingan yang sempit dengan tidak berbasiskan data dan fakta yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan.

Sebagai masyarakat yang baik kita harus menerima bahwa yang menang adalah pemimpin kita semua. Karena kita telah memilih yang terbaik dari yang baik. Semuanya baik dan layak untuk menjadi pemimpin, hanya saja dibedakan oleh waktu dan kesempatan. Keberhasilan masih tertunda oleh waktu. Masih ada kesempatan dan kesempatan itu adalah waktu. Waktu adalah sesuatu yang tak terbendung, ia akan terus bergerak sekalipun kita lelah untuk beranjak dari tempat kita berdiri, ia akan terus melangkah ke depan sekalipun kita telah kehilangan semangat dalam mengarungi kehidupan ini. Waktu adalah emas yang harus terus di cari, dikejar dan dimiliki.

Bagi pemimpin baru, hargailah waktu yang telah diberikan dan dipercayakan oleh rakyat. Waktu yang berlalu biarlah berlalu. Jangan ada dendam dengan kelompok masyarakat yang mungkin memilih paket lain karena itulah demokrasi (hak dan kebebasan ada ditangan rakyat). Jangan menyalahgunakan waktu untuk balas dendam tetapi gunakan waktu untuk meleburkan diri bersama rakyat untuk membangun tanah air kita.

Berpolitiklah yang seni sebelum pemilu dan sesudah pemilu. Mengapa? Tak dapat dimungkiri bahwa banyak pemimpin bersikap dan berpolitik seni hanya sebelum pemilu. Selalu bersikap afirmasi (menyayangi rakyat, dekat dengan rakyat, banyak mendengarkan rakyat, banyak janji yang baik, simpati dan bahkan empati dengan rakyat) hal ini dibuat untuk mengambil hati rakyat. Dan setelah berhasil menjadi pemimpin maka, sikap akan hal-hal yang baik yang ditampilkan sebelum pemilu serentak berubah menjadi pemimpin yang menakutkan, pemimpin represif, koersif dan juga pemimpin yang oposisi. Oposisi berarti Jabatan yang dimandatkan oleh rakyat seringkali digunakan untuk melegitimasi kebijakan-kebijakan yang mengebiri hak-hak rakyat bahkan mematikan masyarakat. Pemimpin yang selalu menjadi biang persoalan yang destruktif bagi masyarakat kecil dan humanis bagi para pemodal, keluarga, golongan dan tim sukses.

Memaknai sebuah kemenangan yang humanis hanya dengan menghidupi serta melakukan slogan berikut secara konkret. “Ingatlah bahwa Rakyat adalah rahim ibu yang melahirkan seorang pemimpin. Pemimpin ada karena ada masyarakat. Bawasanya, tidak ada pemimpin seperti Tuhan yang mampu mengadakan dirinya dan tetaplah ada secara utuh dan sempurna. Status pemimpin (assignet status) merupakan status yang diperoleh dari pemberian atau kepercayaan pihak lain. Status ini diberikan kepada seseorang untuk menjadi pemimpin karena masyarakat meyakini bahwa bisa dan mampu memperjuangkan sesuatu untuk memenuhi, menyejahterakan dan melayani kebutuhan masyarakat secara umum.  

Oleh karena itu, Jangan pernah melukai ibumu (masyarakat) sang pemberi status dan kepercayaan. Ketika anda melukai ibumu (rakyat), maka ibumu (masyarakat) berhak menurunkanmu dari kursi kepemimpinanmu. Buatlah ibumu untuk selalu tersenyum dengan kebijakan yang selalu pro rakyat kecil dan pro lingkungan hidup. Jadilah Pemimpin; satu untuk semua dan semua untuk satu. Mari maknai sebuah kemenangan!***



Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :