Vigonews

Ubah Kebun Kopi Jadi Perusahaan Petani



BAJAWA, VIGONEWS.COM – Kopi dataran tinggi Bajawa yang mencakup areal seluas 12.000 hektar menjadi mimpi bagi para petani agar mereka sejahtera, karena menjadi tuan atas kopinya sendiri.

Memasuki bulan Juni hingga November setiap tahun adalah waktu yang selalu dinanti para petani untuk menghitung untung dari kebun kopi miliknya. Pada musim ini setiap tahun ketika kopi berubah merah, bagai fajar pagi yang memberi harapan bagi petani.

Berita terkait:
Petani Ngada Kirim 7.500 Liter Kopi AFB HS Basah, di Awal Musim Panen 2018

Meski begitu petani belum menjadi tuan di kebun kopinya, akibat harga kopi belum menggembirakan. Koperasi Sekunder Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) yang diharapkan menjadi wadah bagi petani untuk bermitra dengan proses menurut SOP belum dimanfaatkan banyak petani.

Mestinya melalui Koperasi Sekunder MPIG menjadi wadah tunggal bagi petani kopi di Ngada – yang berhimpung dalam berbagai Unit Pengelola Hasil (UPH)/sub UPH - sehingga tidak terjadi penjualan liar melalui pasar gelap yang nyata-nyata merugikan petani.

Banyak kebocoran kopi di pasar gelap menjadi perhatian Pemerintah Daerah melalui Dinas Pertanian Kabupaten Ngada, Koperasi Sekunder MPIG maupun organisasi MPIG itu sendiri bersama para mitra seperti LSM Lakmas, LSM Rikolto, dan para pengelola UPH.

Kadis Pertanian Paskalis W. Bai dalam diskusi dengan para mitra usai pengiriman kopi, Senin (05/06/2018) menekankan kebersamaan dalam upaya pemasaran kopi melalui satu pintu, dengan tetap menjaga mutu sesuai standar SOP. Meski belum semua terakomodir dalam kebersamaan ini, namun pemerintah melalui dinas memberi apresiasi kepada para petani kopi yang sudah mulai terwadahi.

Terkait dengan ekspor yang selama ini dilakukan melalui kemitraan dengan PT. Indokom di Sidoarjo, Paskalis mengatakan akan terus lakukan upaya agar jumlah maupun kualitas sehinga ada keberlanjutan.

Usahawan kopi di tingkat lokal yang belum bergabung dalam satu wadah, kata Paskalis diharapkan pada saatnya bisa bergabung sesuai dengan standar  demi menjaga  mutu kopi.

Talang Modal Usaha

Salah satu masalah lolosnya kopi melalui pasar gelap karena masyarakat membutuhkan dana cepat untuk berbagai kebutuhan. Karena itu, pada diskusi ini sempat menyoroti upaya memberi talangan modal, baik bagi petani yang telah mengikuti standar pengelolaan kopi sesuai SOP maupun yang belum.

Tentang hal ini, Selasa (05/06/2018) Kadis Pertanian, Koperasi Sekunder MPIG, organisasi MPIG itu sendiri telah melakukan audensi dengan Plt. Bupati Ngada Paulus Soliwoa. Audensi tersebut berkaitan dengan tawaran Bank Indonesia (BI) Perwakilan NTT yang akan memberikan talangan modal kepada petani kopi.

Dalam audensi itu, kata Kadis Pertanian Paskalis W. Bali, BI menawarkan konsep bantu modal bagi petani kopi, peralatan dan pembentukan lembaga. Memang sebelumnya sudah pernah ada bangun kerja sama dengan lembaga keuangan yang lain namun karena proses yang rumit dan perlu jaminan maka banyak petani yang tidak bisa memanfaatkan tawaran itu.

Pada kesempatan itu, pihak BI sebagaimana disampaikan Elvis M. Marunduru – Fungsi Pelaksana Pengembangan UMKM Kantor Perwakilan BI NTT bakal memberi kemudahan kepada petani kopi. Jaminan usaha saja dikatakan sudah cukup untuk mendapatkan talangan dana ini.

Rencananya setelah liburan Idul Fitri akan ada pertemuan lanjutan dengan pihak BI untuk membicarakan lebih intensif perjanjian kerja sama ini. Dengan kerja sama ini diharapkan kesulitan modal petani  menjelang musim panen bisa diatasi. Sementara BI mendorong hal ini setelah melihat program KUR yang digelontorkan pemerintah ternyata belum banyak terserap karena dinilai masih menyulitkan petani dan usaha kecil.
 
Kopi saat dipanen
Perusahaan Petani

Pada diskusi itu, Direktur Lembaga Advokasi dan Penguatan Masyarakat Sipil atau yang dikenal dengan Lapmas Rikardus Nuga, selaku NGO mitra petani kopi,  melihat ada dua hal penting yang perlu mendapat perhatian. Dalam bahasa Rikardus, dua ‘P’ – power dan promosi.

Terkait dengan Power, dijelaskan Rikardus, dalam upaya meningkatkan ekspor kopi dengan standar mutu yang baik perlu kebersamaan. Melalui kebersamaan itu ada kekuatan. Kalau sudah kuat maka akan mampu rebut hak petani. “Tanpa kekuatan maka petani yang punya barang (kopi) tetapi orang yang tentukan harga. Kapan hak petani bisa terpenuhi, kalau petani harus ngemis harga kopi kepada orang lain,” tegas Rikardus.

Terkait dengan promosi, kata Rikardus, perlu ada kerja bersama untuk melakukan promosi kopi ini baik ke luar maupun ke dalam. Bicara tentang promosi, kata dia kita harus juga memikirkan publikasi melalui sinergis dengan media yang ada. “Sejauh ini jarang dilakukan promosi bersama. Dengan media massa kita belum sinergis, sehingga gaung tidak cukup kencang ke berbagai penjuru.

Di bagian lain dia mengatakan, perlu terstruktur dari hulu ke hilir. Kalau tidak terstruktur, maka petani hanya jadi penonton. “Kita akhirnya hanya puas jual kopi gelondongan saja dengan harga seadanya. Padahal jika bisa melakukan proses pasca panen dengan proses yang memenuhi standar akan memberi keuntungan lebih besar kepada petani,” kata Rikardus.

“Kalau sudah memperhatikan proses terstruktur dari hulu sampai ke hilir, maka kita mau supaya kebun itu jadi perusahaan yang punya nilai ekonomi tinggi. Mengikuti proses ini sama halnya kita mulai menjadikan kebun perusahaan kita sendiri, dan petani sebagai pengusahanya demi penguatan ekonomi petani,” urai Rikardus.

Pada diskusi itu hadir juga LSM (NGO) mitra Rikolto, Fransiska Rengo. Lembaga ini, kata dia terus mendorong petani dalam peningkatan kapasitas melalui kelompok-kelompok tani dan kini juga menyasar koperasi serba usaha. “Kita kerja sama dengan mitra lokal Lakmas,” katanya.

Peningkatan kapasitas  petani, Kata Fransiska, berkaitan dengan produksi dan mutu pasca panen dan melakukan link dengan para pembeli (buyers). Untuk link biasanya melalui promosi. Dari sana kita bisa bangun komunikasi dengan banyak buyer, namun dalam kaitan dengan kerja sama perlu kita kaji dan cermati dengan buyer mana yang akan kita jalin kerja sama itu,” katanya.

Peningkatan kapasitas petani oleh LSM ini juga dilakukan dalam hal pelatihan budidaya, dan pengiriman untuk studi banding. (ch)***

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :