Vigonews

PTK Itu Pekerjaan Guru Sehari-Hari Namun Dihindari Guru



BAJAWA, VIGONEWS.COM – Ketika hadir di Bajawa, Selasa (05/06/2018) dengan agenda mengukuhkan Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Cabang Ngada, Ketua Agupena Wilayah NTT Thomas Sogen  mengatakan bahwa pemerintah beberapa tahun terakhir, serius dengan membayar tunjangan profesi.

“Pemerintah serius memperhatikan nasib para guru. Mulai dari memperhatikan kesejahteraan dengan mengucurkan dana miliaran rupiah untuk membayar tunjangan profesi guru hingga memperbaiki regulasi tentang kenaikan pangkat guru,” kata Thomas Sogen.

Berita terkait:
Agupena Tempat Belajar, Bukan Wadah Penulis Hebat

“Tuntutan lain dari regulasi teranyar adalah pengembangan keprofesian berkelanjutan yang mencakup aspek pengembangan diri, publikasi ilmiah, dan karya inovatif. “Ini yang diharapkan dapat mengantar guru menjadi lebih profesional dari waktu ke waktu,” jelas Thomas.

Berbeda dengan ketentuan sebelumnya (Keputusan Menpan Nomor 48 Tahun 1995) hanya guru golongan/ruang IV/a yang diwajibkan untuk membuat karya tulis ilmiah. Akibatnya guru gol. IV/a menumpuk. Data Kemdikbud (2014) guru gol. IVb di NTT baru 15 orang. Jumlah terbanyak ada di gol. IV/a. Berbeda dengan saat ini. Guru sejak dini (gol. III) sudah dituntut membuat karya tulis ilmiah. Di dalamnya ada yang wajib seperti PTK untuk guru gol. III ditambah artikel ilmiah di majalah/jurnal untuk gol. IV.

Thomas menambahkan, Mengapa PTK wajib? Karena isinya adalah pekerjaan sehari-hari para guru, pembelajaran dan seluk beluknya. Guru profesional tentu mengetahui secara persis masalah pembelajaran. Masalah tersebut coba dicarikan solusi sehingga bisa diatasi. Pembelajaran dengan penerapkan solusi tersebut lalu dikapling ke dalam siklus-siklus, itulah PTK. Begitupun PTS yang dilakukan oleh para kepala sekolah dan pengawas sekolah.

“Jika dulu kita harus mengusulkan ke Jakarta untuk naik golongan/ruang IV/b, sekarang sudah dilimpahkan ke kabupaten/kota masing-masing. Birokrasi sudah dipangkas menjadi lebih pendek” sambung Thomas.

Menurut Sogen, meskipun wajib, namun  PTK bukan satu-satunya karena masih ada jenis publikasi ilmiah lain dan karya inovatif yang bisa menambah pundi-pundi angka kredit bagi guru, termasuk antologi cerpen dan puisi.

“Saya menyampaikan apresiasi yang tinggi bagi saudara/adik guru muda di Ngada yang sudah memiliki beberaka karya termasuk yang rajin menulis di media masa. Terima kasih saya sampaikan untuk teman-teman media yang berperan dalam hal ini sehingga karya-karya guru kian “getar membahana” ke seluruh persada Flobamora dan bahkan Nusantara tercinta”.
 
Thomas Sogen
Animo Menulis Bertumbuh

Di bagian lain, Thomas Sogen menjawab vigonews.com mengatakan animo guru di NTT untuk menulis terus meningkat. Meski belum merupakan hasil penelitian, namun dari berbagai pelatihan, work shop dan sejenisnya baik yang digelar oleh Agupena wilayah dan Cabang di NTT, serta berbagai lembaga lain menunjukkan tanda-tanda menggembirakan.

Agupena Wilayah NTT sendiri, kata Thomas, sudah melakukan pelatihan dan work shop menulis untuk para guru sejak tahun 2015 lalu. Dan, kata dia, setiap tahun jumlah peserta yang ikut terus meningkat. Tentu saja ini belum seberapa dibanding jumlah guru di NTT yang mencapai ribuan orang.

“Dari tahun 2015 kami mulai gelar kegiatan pelatihan dan work shop (Bimbingan PTK), memang ada kecenderungan meningkat jumlah guru yang ikut. Peserta terus bertambah dari tahun ke tahun,” jelas Thomas.

Setiap semester, lanjut Thomas, Agupena Wilayah NTT selalu menggelar bimbingan PTK di Kupang. Pertama digelar pada tahun 2015 dengan peserta yang ikut 29 orang, tahun 2016 kelas pertama 46 orang dan kelas kedua 60 orang. Tahun 2017 juga digelar bimbingan dua kelas dengan jumlah lebih dari 70 guru. “jadi jumlahnya selalu meningkat setiap tahun,” kata Thomas.

Namun jika dibanding dengan ribuan guru di NTT, jumlah ini masih sangat kecil. Karena itu menjadi tugas Agupena sebagai wadah para guru penulis terus berkampanye sehingga ke depan jumlah guru yang belajar menulis terus meningkat. Bukan hanya di Agupena Wilayah tetapi juga di Agupena Cabang. “Seperti yang dilakukan di Agupena Flotim bisa melibatkan lebih dari 100 guru,” jelasnya.

Thomas juga melihat, bahwa banyak guru yang sekarang kejar meningkatkan kemampuan menulis bukan untuk pengembangan profesi tetapi lebih karena untuk kenaikan pangkat.  Dia berharap, agar para guru memurnikan motivasi belajar menulis untuk mengembangkan profesi. Jadi motivasinya untuk memperbaiki pembelajaran. Itu sebetulnya tujuan PTK/menulis, bukan sekedar persyaratan untuk kenaikan pangkat semata, tetapi lebih karena tuntutan pengembangan profesi. (ch)***

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :