Vigonews

Opini Yohanes Mau, SVD: Teroris Kelompok Buta Agama


Penulis, Alumnus Stipar Atma Reksa Ende
Tinggal di Biara St. Konradus Ende -  

Teroris di Indonesia kian meraja lela. Mereka tampil dan bertindak secara biadab mengatasnamakan agama tertentu dan kelompok radikal. Kelompok semacam ini menurut Albert Eistein disebut sebagai kelompok buta beragama (religion without scienc is blind). Kelompok buta ilmu dan agama yang bertopeng agama tertentu dengan kelompok radikalnya. Namun tindakan mereka bukanlah orang  beragama tetapi tindakan mereka adalah orang non beragama. Karena sejatinya kata agama berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari dua kata yaitu a- dan gama yang berarti a: tidak, dan gama: kacau. Jadi secara harafianya agama berarti tata aturan yang mengatur kehidupan manusia agar tidak kacau. Sedangkan tindakan teroris tidak sesuai hakikat inti dari agama itu sendiri. Maka teroris disebut kelompok buta beragama.

Terasa menyayat hati menyaksikan tindakan bom bunuh diri secara brutal yang dilakukan oleh teroris di Surabaya, 13 Mei 2018. Usai kejadian  itu, Presiden Jokowi mengutuk keras tindakan biadab para pelaku dan menghimbau kepada semua elemen masyarakat untuk menuntaskan terorisme sampai akar-akarnya. Karena gerakan ini tidak lain adalah gerakan dari kelompok teroris yang tidak pernah merasa puas dengan kemapanan NKRI yang berdiri kokoh berlandaskan pancasila. Tindakan kelompok teroris atas nama agama tidak mencerminkan wibawa agama tertentu, yang ada malah brutal dan anarkis. Aneh. Atas nama agama kok ada pembunuhan. Padahal tidak ada satu agama di dunia ini yang mengajarkan kepada penganutnya untuk melakukan tindakan brutal, anarkis sampai pembunuhan. Setiap agama hanya mengajarkan tentang nilai-nilai kabaikan dan cinta kasih serta pelestarian hidup yang Tuhan titipkan dalam setiap manusia. Kelompok teroris selalu berjuang membinasakan kelompok-kelompok nasrani yang menurut ajaran mereka digolongkan sebagai kelompok kafir. Padahal orang nasrani mengimani Allah yang satu dan sama sebagaimana para penganut agama lainnya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ketiga tahun 2008 mendefinisikan kafir sebagai orang yang tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya. Orang beragama adalah orang yang percaya kepada Allah dan bertindak sesuai apa yang Tuhan kehendaki. Allah tidak menghendaki manusia binasa dan saling membinasakan tetapi Allah menghendaki agar manusia menjaga dan melestarikan hidup agar hidup itu ada dan tetap bertahan hingga keabadian. Jadi kelompok teroris melakukan pembunuhan secara keji adalah luapan dari candu agamanya yang dimengerti dalam otak mereka. Candunya bahwa para teroris memandang kematian oleh karena berbuat jahat sebagai kemenangan yang digapai untuk mengalami hidup bahagia di surga.

Miris dan menyayat hati menyaksikan serangan bom bunuh diri brutal yang menelan banyak korban jiwa. Miris karena manusia tidak menggunakan akal budinya secara baik dan benar. Unsur kebinatangan lebih mendominasi dari gaya berpikir dan tindakan teroris. Hati tersayat karena anak-anak yang masih polos dan lugu juga dipengaruhi hingga dilibatkan dalam aksi biadab itu akhirnya mati konyol. Hal ini terjadi karena dengan satu ujud mau mengalami hidup bahagia tanpa derita di surga. Sungguh konyol tindakan ini.

Dari pemahaman terhadap agama, dan tindakan non agama yang dilakonkan oleh teroris ini menjadi nyata akan kegagalan yang sedang disandiwarakan oleh agama tertentu di republik ini. Kelompok teroris menunggangi agama tersebut untuk membunuh semua orang nasrani dan pihak keamanan yang menghalang-halangi misi melenyapkan pancasila dan berupaya untuk menegakkan pemerintahan atau negara yang berlandaskan sistem Islam (Khilafah Islamiyah) dengan berpedoman pada prinsip-prinsip jihad global.

Hal yang mesti diperhatikan secara baik dan benar oleh pemerintah Indonesia saat ini dan mendatang dalam berurusan dengan teroris, ISIS dan kelompok radikal adalah menegakkan payung hukum sehingga dapat mengakomodir semua agama dan keyakinan yang tumbuh dan berkembang di Indonesia. Dengan demikian kebebasan beragama sebagaimana yang dijamin oleh negara termakhtub pada pasal 29 ayat (1) dan (2) UUD 1945 benar-benar dialami oleh semua warga negara. Dengan ini menghantar semua penganut pada satu keyakinan dan kesadaran penuh bahwa agama merupakan salah satu jalan untuk mencapai kebenaran hakiki yaitu Tuhan sendiri.

Di sini penulis disadarkan pada titik tertinggi bahwa setiap penganut agama menyembah Tuhan dengan caranya masing-masing dan Tuhan yang disembah itu adalah Tuhan Yang Esa dalam sila pertama pancasila Ketuhanan Yang Maha Esa. Tuhan yang Esa, satu dan sama itu adalah Tuhan yang kuasa atas segala-galanya. Ia tidak perlu dibela karena Ia tidak merasa dinistai dan dicelah. Ia Mahatahu akan segala-galanya. Namun hal yang aneh adalah kelompok-kelompok radikal, teroris, dan ISIS menjadikan Tuhan sebagai milik mereka yang mesti dibela dan dijaga sedemikian rupa agar Tuhan selalu merasa nyaman tanpa ada gangguan dari pihak mana pun. Bukankah Tuhan itu yang menciptakan manusia dan segala yang ada dan yang tiada. Kalau Tuhan mau dibela dan dilestarikan apalah dayamu? Kelompok teroris, ISIS dan kaum radikal apakah kuasa anda melampaui Sang Penguasa segala yang ada itu? Kalau tidak, mengapa anda mati-matian membela Tuhan. Padahal dalam kenyataannya Tuhan tidak pernah mengeluh dan menuntut untuk dibela, dijaga dan dilindungi. Manusia hanyalah debu yang selalu dan senantiasa mengemis kasih di pelataran-Nya untuk setia mengabdi dan terlindung dalam naungan kasih- Nya yang teduh dan damai.

Setiap penganut agama selalu saja meluangkan waktu untuk mengungkapkan syukur kepada Tuhan di rumah ibadatnya masing-masing sesuai dengan ajarannya. Saat itulah manusia menyadari bahwa dirinya adalah makluk lemah tak berdaya yang senantiasa berharap dan terus berharap akan kuasa kasih-Nya. Di sini kita disadarkan bahwa agama yang dianut adalah tata cara kehidupan damai dan menjadi sarana untuk menggapai, mengalami situasi penuh damai tanpa adanya diskriminasi dari kelompok mana pun.
Hemat saya, bahwa kelompok teroris dan ISIS yang tampil atas nama agama tertentu hanyalah bertindak secara membabi buta. Karena kelompok ini tidak memahami secara baik dan benar hakikat inti dari hidup hubungan antar agama. Tindakan eksklusif seperti ini yang mengancam kenyamanan hidup pluralitas umat beragama di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tercinta ini.

Pristiwa nahas 13 Mei 2018 di Surabaya membuka mata negara dan pemerintah Indonesia secara lebar-lebar untuk selalu waspada. Waspada artinya selalu siap-siaga dalam situasi dan kondisi apa pun. Waspada bukan tidur lelap dan baru kaget setelah ada korban besar-besaran. Lebih dari itu siaga memberantas tuntas sel-sel terorisme yang kini sedang bertumbuh dan berkembang di wilayah NKRI. Negara tidak boleh merasa nyaman dengan tragedi surabaya 13 Mei 1018. Karena kalau negara merasa nyaman maka negara membiarkan diri berada di ambang kehancuran. Hal konstruktif yang mesti dikerjakan negara sekarang, kini dan di sini adalah memperkuat barisan tim pengaman dengan alat deteksi bom modern antispasi ancaman teroris serta mengeluarkan undang-undang anti terorisme. Jika hal ini terjadi maka besar kemungkinan Indonesia halal dari terorisme. Dengan demikian nyaman dan tentramlah Indonesiaku.***

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :