Vigonews

Opini Yohanes Mau, SVD: ‘Masyarakat NTT, Pilihlah Pemimpin Idealmu’

Yohanes Mau, SVD - Biarawan Misionaris
Tinggal di Biara St. Konradus Ende

Pada tanggal 27 Juni 2018 mendatang masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) akan memilih gubernur dan wakilnya. Pesta ini lazim dikenal dengan sebutan demokrasi (dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat) menurut Abraham Linchon. Di sini rakyat tampil menjadi raja serentak pelakon dalam pesta demokrasi (pilgub) itu. Tentang sandiwara pesta demokrasi ini telah menjadi bahan diskusi yang hangat di kalangan masyarakat. Entah di forum-forum bergengsi, di sekolah, kampus, pasar, di terminal, di atas mobil, bahkan di mana-mana diperbincangkan. Malah di media sosial pun makin menggila-gila karena masing-masing posting tentang prestasi dan keunggulan dari figur idealnya. Singkatnya para relewan dan tim sukses setiap paslon gubernur dan wakil gubernur 2018-2023, tidak mau kalah saing dalam promosi.

Dari keempat paslon gubernur dan wakil gubernur masing-masing memiliki visi dan misinya untuk membangun NTT ke arah yang lebih baik dari sekarang. Setiap paslon memaparkan visi dan misinya secara meyakinkan. Hal ini terjadi supaya masyarakat NTT bisa hanyut dan tergiur dengan tawaran dan janji-janji manis yang diorasikan itu. Sehingga pada hari H nanti masyarakat tepat menjatuhkan pilihan pada pemimpin idealnya. Pemimpin ideal adalah pemimpin yang bekerja dan mampu merealisasikan visi dan misinya secara baik dan benar. Pemimpin ideal adalah pemimpin yang memimpin secara adil dan benar, bekerja dan merakyat serta mampu membaca tanda-tanda zaman secara tepat sasar berdasarkan perkembangan arus zaman.

Publik tahu baik bahwa visi dan misi yang dikampanyekan para paslon tidak selamanya dilaksanakan tepat sasar, bahkan yang ada hanyalah menumpuk program visi dan misi di laci meja hingga termakan ngengat. Tentang tak terealisasinya visi dan misi dalam masa kepemimpinan sebenarnya bukanlah hal yang baru lagi. Misalnya Anies Baswedan (gubernur DKI) ketika kampanye dan debat menjelang pilgub DKI memaparkan salah satu program kerjanya yaitu membatalkan reklamasi yang dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya. Alasan pembatalan, karena sebagian besar nelayan warga DKI kehilangan mata pencahariannya. Contoh lain seperti Marsel-Jafar (bupati Ende) pada periode sebelumnya tampil dengan visi misinya, “Membangun dari desa dan kelurahan”. Tak terlaksana dengan baik bahkan menumpuk pekerjaan pada masa kepemimpinannya sehingga pada perhelatan pilbup tahun 2018 ini maju lagi dengan visi dan misi baru, “Marsel-Jafar Lanjutkan.. Kerja Sampai Tuntas”. Ini hanyalah sampel kecil dari sandiwara visi dan misi tak tergapai dari pemimpin politik kita di negeri ini.

Sejak bulan januari 2018 para paslon pilgub telah gencar blusukan dari desa ke desa, dari kampung ke kampung, masuk kota dan keluar kota. Pokoknya semua kalangan dan lini masyarakat dijangkau. Mereka buat apa di tengah masyarakat? Sandiwara di tengah masyarakat. Mereka menepuk dada sambil menawarkan slogannya masing-masing. Pasangan Esthon-Christ hadir untuk NTT sejahtera, Marianus-Emi, “Membangun NTT Dari Desa”. BKH hadir dengan program unggulan, “Lima Pilar Menuju NTT Baru”. Viktor-Jos tegas dengan slogannya, “Kita Bangkit, kita Sejahtera untuk NTT Baru”.

Ditelisik lebih dalam tentang slogan dari para paslon ini sungguh menukik dan mendalam. Bagi penulis, slogan ini sungguh melangit melampaui batas kemampuan manusiawi mereka. Orang lebih banyak bicara daripada praktik. Friedrich Engels (1820-1895), Filsuf sosialis Jerman mengatakan bahwa satu ons aksi lebih berharga daripada satu ton teori. Ini artinya tindakan nyata lebih berharga dan mulia dari pada satu ton teori yang dikemas dalam visi dan misi namun tak menyata dalam realisasi. Itu artinya tindakan nyata lebih berkekuatan menarik massa untuk menggugah hati dan kepercayaan masyarakat provinsi NTT ini di atas pemimpin yang demikian. Karena para pemimpin di NTT ini lebih banyak NATO (No Action Talk Only) padahal menjadi pemimpin ideal mestinya Talk And Action.

Masyarakat NTT sudah tahu baik figur keempat paslon pilgub 2018-2023. Dengan cermat dan teliti masyarakat NTT setia mengikuti gerak langkah sandiwara yang telah dan sedang dipentaskan para paslon di panggung NTT. Masyarakat mendengar secara langsung dari blusukan-blusukan dan kampanye yang dikemas rapi dalam satu paket kampanye yang di dalamnya ada janji-janji manis serta harapan dan mimpi-mimpi melangit. Para paslon melebur di tengah masyarakat, masuk dalam budaya setempat sehingga gampang memengaruhinya. Walaupun pengaruh mereka itu hanya sebatas orasi kata-kata mati yang tetap akan mati. Sebenarnya politik ketidakjujuran seperti ini mesti ditiadakan untuk perkembangan dan kemajuan NTT yang lebih baik dan bermartabat. Memang politik ketidakjujuran ini sudah menggurita di NTT bahkan di indonesia pada umumnya. Namun kaum kecil dan sederhana tetaplah lemah di hadapan kaum elite politik.

Kini sandiwara menyongsong pesta demokrasi 27 juni 2018 sudah di ambang pintu. Para tim sukses keempat pasang kandidat gubernur NTT 2018-2023 bekerja ekstra untuk memenangkan figur andalannya. Pelbagai upaya kreatif dilakukan untuk menarik perhatian dan menghipnotis masyarakat NTT untuk menikmati pertunjukannya. Menjelang hari H ini keempat paslon memainkan perannya secara maksimal dengan aneka tawaran strategi yang menggiurkan walaupun belum menyata dalam realisasi. Inikah pemimpin ideal NTT 2018-2023 nanti? Masyarakat NTT, pilihlah pemimpin idealmu agar tidak menyesal di hari esok.***

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :