Vigonews

Opini Bonefasius Zanda: PENDIDIKAN MANDEK, NURANI MATI

Oleh Bonefasius Zanda
Guru Sosiologi SMA Katolik Regina Pacis Bajawa 
& Sekretaris Asosiasi Guru Penulis Indonesia Cabang Ngada

Hingga saat ini kasus seputar kekerasan terhadap anak, seperti hidangan lezat yang disukai banyak orang. Baik media cetak maupun elektronik selalu menyuguhkan berita seputar kekerasan terhadap anak. Dari kancah nasional hingga ke daerah-daerah terpencil sekalipun. Oleh karena itu, semakin naik tingkat kekerasan terhadap anak, semakin pula para pelakunya merajalela dan menyerang keseluruh sendi-sendi kehidupan dunia anak.

Berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia tahun 2017, kasus kekerasan terhadap anak meningkat drastis yakni sebanyak 3849 kasus dan 52%-nya adalah kasus kekerasan seksual terhadap anak.  Angka kekerasan terhadap anak di Indonesia dinilai sudah sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan.

Selain itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari memaparkan, bahwa berdasarkan hasil survei kekerasan terhadap perempuan dan anak pada 2006, secara nasional telah terjadi sekitar 2,81 juta tindak kekerasan dan sekitar 2,29 juta anak pernah menjadi korban kekerasan. Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS), hingga pertengahan 2009 tercatat jumlah anak di Indonesia sebanyak 85.146.600 atau 38,86 persen dari keseluruhan penduduk Indonesia yang berjumlah 231.000.000 jiwa, Kompas.com (19/3/2010).

Menggugat Eksistensi Manusia

Peningkatan kasus kekerasan terhadap anak di atas, semakin mempertegas bahwa kekerasan terhadap anak sangatlah marak dipraktekan oleh orang-orang yang tidak punya hati manusiawi. Dan yang lebih sadis lagi, pelaku kekerasan adalah orang-orang terdekat yang semestinya bertindak sebagai pagar penjaga untuk memberi rasa aman terhadap anak, seperti ayah tiri, ayah, ibu tiri dan signifkan others lainnya.

Pertanyaanya, mengapa selalu orang-orang terdekat? Mengapa korbanya selalu anak-anak? Separah inikah, perilaku manusia melakukan pemandulan terhadap eksistensi manusia sebagai Citra Tuhan dan makhluk sosial?

Penulis mau mengkaji persoalan ini dari dua sisi. Pertama, pendidikan keluarga. Keluaga adalah agen sosialisasi yang paling pertama dan terutama dalam pendidikan anak. Keluarga menjadi rahim sumber kebenaran yang pertama. Di sanalah anak diletakan dasar untuk membedakan mana yang baik dan buruk. Anak mulai bertumbuh dan mengalami pendidikan yang humanis dari orang-orang terdekatnya (signifkan others). Sehingga anak juga mulai meniru hal-hal baik yang dilakukan oleh orang tua dan orang-orang terdekatnya.

Sosiolog berkebangsaan Belanda J.W. Van der Zanden, menyatakan bahwa fungsi keluarga adalah sebagai wahana tumbuh kembanga anak yang baik dan terjadinya sosialisasi antara individu dengan warga dan masyarakat luas. Sama halnya dengan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah RI no.21 tahun 1994 tentang penyelenggaraan pembangunan keluarga sejahtera, dari delapan fungsi, salah satunya adalah sosialisasi dan pendidikan, yaitu fungsi yang memberikan peran kepada keluarga untuk mendidik keturunan agar bisa melakukan penyesuaian dengan alam kehidupannya dimasa mendatang . (http://anisahlubis.blogspot.co.id/2011/11/v-behaviorurldefaultvmlo.html).

Namun, ketika keluarga menjadi wadah hanya untuk menyenangkan anak, seperti menuruti permintaan anak tanpa selektif, minus keteladanan, maka lahirlah generasi-generasi bermental instan dan minus keteladanan pula. Akibatnya ketika mereka beranjak dewasa, berpisah dari orang tua dan mulai hidup berkeluarga, mereka akan jadi pribadi-pribadi yang cepat menyerah dengan tantangan dan berpeluang besar, lahir pribadi, ayah, ibu, dan bahkan tetangga yang destruktif pula.

Ketika hidup diserang oleh tantangan yang berat, sudah pasti solusi yang diambilpun menyimpang. Semisal, ketika tekanan ekonomi keluarga muncul, maka mencuri atau menjual anak atau tetangga adalah solusinya. Selain itu, kedekatan, dan kelemahan anak dan perempuan akan digunakan sebagai solusi yang cepat dan gampang dilakukan untuk kepentingan yang sempit pula.

Kedua, sisi sosial. Mungkinkah para pelaku adalah orang-orang yang lahir dari pendidikan keluarga yang destruktif dan minus keteladanan? Jika dikaji secara sosiologis, bahwa faktor warisan biologis dan lingkungan sangat kaitan erat dengan pembentukan kepribadian, maka saya pun mengamini. Seseorang yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga dan keturunan keluarga yang baik, akan menjadi pribadi yang baik pula. Sebaliknya pribadi yang dibesarkan dalam lingkungan dan keturunan keluarga yang menyimpang, akan menjadi pribadi yang menyimpang pula.

Selain itu akan lahir pribadi yang minus relasi sosial dan penghayatan nilai. Akhirnya, tidak peduli anak kandung, tetangga dekatpun disikat saja. Padahal hakikat makhluk sosial adalah dimana saja kita berada, kita harus menjadi sahabat dan orang tua tanpa pandang bulu. Karena kewajiban saling menghargai tidak dikotomi sebatas, anak kandung dan keluarga kandung lainya, tetapi satu untuk semua dan semua untuk satu. Dan pada aras inilah, kita harus menunjukan hakikat diri kita sebagai makhluk sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Solusi

Untuk mengembalikan kehidupan bermartabat yang akhir-akhir ini diserang oleh berbagai fakta menyimpang, mulai dari teroris, kekersan seksual terhadap anak, perdagangan manusia dan masalah sosial budaya lainnya, adalah dengan terus perkuatkan pendidikan keluarga. Sesibuk apapun orang tua, harus mampu menyiapkan waktu ekstra untuk anak. Dengan begitu, orang tua mampu mengenal potensi anak secara tepat dan memberi kasih sayang tanpa ada batas waktu dan dalam situasi apapun juga. Akhirnya, orang tua dimampukan untuk melayani kemauan anak secara selektif bukan asal orang tua senang atau anak senang yang sesaat.

Dan hal yang tidak kala pentingnya adalah ajar anak dengan keteladanan. Misalnya budayakan doa dan makan bersama dan juga literasi dalam keluarga. Karena dengan keteladanan dan juga menjejali otak dan hati anak dengan hal-hal edukatif, akan dan mampu memblokir mental instan dan juga peluang untuk melakukan hal-hal yang menyimpang. Pada akhirnya, anak akan bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang unggul, kuat dan berkarakter demi kemajuan peradaban kehidupan firdaus di dunia dan akhirat. Akhirnya, akan semakin banyak bertumbuh kembangnya pribadi-pribadi yang sosialis yang dikonkritkan menjadi orang tua, tetangga, sahabat bukan saja bagi keluarga tapi untuk semua orang tanpa pengecualian sebagai bentuk pengagungan terhadap eksistensi sosial dan makhluk citra Tuhan sendiri. Marilah, kita merawat kehidupan secara kolektif tanpa pengecualian, karena kita dilahirkan untuk itu.***

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :