Vigonews

Triwulan Pertama 2018, Kejahatan Terhadap Anak & Perempuan di Ngada Capai 10 Kasus


Pengurus P2TP2A rapatkan barisan 'perangi' kejahatan kemanusiaan - kekerasan terhadap anak dan perempuan. -  

BAJAWA, VIGONEWS.COM - Pengurus Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2) kabupaten Ngada yang dibentuk akhir tahun lalu, kini sudah disahkan melalui SK Bupati Ngada Nomor 80/KEP/HK/2018.

Wadah yang secara terpadu melibatkan unsur dari berbagai intansi terkait itu,  melakukan advokasi terkait dengan pemberdayaan dan perlindungan perempuan dan anak di Kabupaten Ngada.

Terkait dengan itu para pengurus P2TP2A melakukan rapat kordinasi, Rabu (09/05/2018) guna menyatukan langkah dalam rangka menangani berbagai kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di kabupaten Ngada. Kasus-kasus ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Ini baru kasus yang dilapor dan terdeteksi P2TP2A.

Wadah yang melibatkan 25 personal lintas bidang dan lintas profesi itu masuk dalam empat divisi, masing-masing: divisi kemitraan dan kerja sama; divisi informasi dan dokumentasi; divisi advokasi pendampingan dan pemulihan; dan divisi pemantauan.

Rapat koordinasi dipandu oleh Koordinator P2TP2A, Maria Dolorosa Nay, S.AP dan Wakil Koordinator, Mathilde Paulina Laban, S.Sos. yang juga Kabid P3A Dinas PMD. Dalam rapat ini, Maria Dolorosa Nay yang akrab disapa Ros Nay menyampaikan job deskripsi pengurus dan divisi-divisi.

Namun, pada kesempatan itu juga dilakukan kilas balik terhadap kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan empat bulan pertama tahun 2018. Ros memberi cacatan yang harus menjadi perhatian pengurus bahwa kasus yang muncul awal 2018 sudah mencapai 10 kasus.

 "Kita masih harus kerja keras baik dalam tangani kasus, baik melalui penegakkan hukum maupun upaya edukasi kepada masyarakat," katanya.

Dikatakan Ros, tantangan yang berkaitan dengan kekerasan terhadap anak sangat berat. "Tapi kalau kkerja dengan hati pasti kita mampu melakukan guna memenuhi panggilan kemanusiaan," kata Ros.

Tugas ini, tambah Ros adalah tugas negara dan kita bagian dari negara. Karen negara mempunyai kewajiban melindungi warganya sebagaimana amanat undang-undang. "Karena itu kita diminta memenuhi panggilan kemanusiaan ini, meski di tengah keterbatasan dana," urai Ros.
 
Maju dengan kekuatan doa
Penanganan Kasus

Pada bagian lain, Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dinas PMD P3A Kabupaten Ngada Mathilde Paulina Laban menyampaikan penanganan kasus kekerasan terhadap anak di Kabupaten Ngada. 

Sampai saat ini kasus meningkat, namun penanganan pasca kasus masih perlu perhatian, di antaranya ketersediaan rumah aman demi kenyamanan para korban, yang menurut rencana baru bisa terealisasi tahun depan.

Mathilde juga menyinggung landasan hukum yang menjadi pijakan dalam penanganan kasus kekerasan yang terakhir,  dengan disahkannya UU Perlindungan Anak dengan konsekuensi hukuman berat. Upaya juga dilakukan bukan hanya pada penanganan kasus tetapi juga upaya pencegahan melalui sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat.

Selain itu, pembentukan desa layak anak juga menjadi salah satu strategi untuk menekan kasus dan semakin bertumbuhnya kesadaran terhadap masalah kekerasan  anak dan perempuan.

Hanya terkait dengan itu perlu Perdes sebagai peraturan turunan dari Perda perlindungan anak. Konsekuenainya adalah dapat dianggarkan dari dana desa terkait dengan program desa layak anak. Juga akan diupayakan melibatkan perempuan mulai tahapan pagas, agar program ini mendapat perhatian untuk mendapatkan alokasi anggaran.

Kekerasan Verbal

Pada bagian lain, Ros Nay menyoroti kekerasan verbal dalam keluarga. Anak dalam keluarga tiap saat diwarnai dengan kekerasan ini.  Orang tua hadapi anak-anak malah dengan maki-maki. Ini jelas sangat mempengaruhi anak secara kejiawaan dan mereka kemudian meneladani itu sebagai sesuatu yang biasa saja.

Tidak heran jika anak menjadi tidak betah di rumah. Jangan salahkan anak kalau mereka lebih nyaman berada di luar rumah. Karena memang kondisi di rumah tidak ramah anak.

Terkait dengan itu, Mathilde juga menyoroti kedekatan siswa yang jelang remaja dengan gurunya di sekolah yang dinilai tidak wajar. Bahkan saking dekatnya pernah ada di salah satu sekolah siswa putri yang mengenakan pakaian olah raga belepotan dengan gurunya hingga dipangku.
 
Suasana rapat koordinasi P2TP2A
Di satu sisi mungkin sebagai hal yang lumrah karena anak dekat dengan gurunya. Tapi kalau siswa ini beranjak remaja sangat tidak kondusif dan bukankah ini juga bisa menjadi pemicu awal kekeraaan. Atau juga sinyalemen lain kalau di sekolah anak dekat dengan guru lawan jenis mungkin karena di rumah tidak mendapatkan kasih sayang dari  sosok ayah dan ibu. Hanya memang hal ini perlu dicermati serius oleh para guru di sekolah.

Kasus Meningkat

Dalam presentasi terungkap angka kekerasan terhadap anak dan perempuan pada awal tahun 2018 tergolong mencengangkan karena baru tiga bulan sudah mencapai 10 kasus. Tahun 2016: korban anak (11) kasus seksual, (3) kasus kekerasan fisik - jumlah (11) kasus. Pelaku anak: (4) pelaku kekerasan seksual, (2) pelaku kekerasan fisik - jumlah (6) kasus. Sedangkan kekerasan terhadap perempuan: (5) kekerasan seksual, (4) kekerasan fisik, (5) kasus penelantaran - jumlah (14) kasus.

Tahun 2017;  korban anak (13) kasus seksual, (2) kasus kekerasan fisik, (1) kekerasan priskis/verbal, (3) kasus trafficking - jumlah (19) kasus. Pelaku anak: (2) pelaku kekerasan seksual, (8) pelaku pencurian, (1) pelaku penyalahgunaan IT -  jumlah (11) kasus. Sedangkan kekerasan terhadap perempuan: (3) kekerasan seksual, (1) kasus ingkar janji, (1) kasus perbuatan tidak menyenangkan, (1) kasus penelataran - jumlah (6) kasus.

Tahun 2018;  korban anak (6) kasus seksual, (2) kasus penelantaran - jumlah (8) kasus. Pelaku anak: (6) pelaku kekerasan seksual. Kekerasan terhadap perempuan: (2) kasus kekerasan seksual, (1) kasus kekerasan fisik, (1) kasus penelantaran - jumlah (4) kasus.

Di bagian akhir anggota P2TP2A sepakat perangi kekeraan terhadap perempuan dan anak melalui gerakan bersama lintas instansi dengan  melibatkan semua elemen masyarakat.

Karena itu gerakan kemanusiaan ini harus siviralkan. Jika kejahatan terus menabur benih-benih kejahatan, makanya saatnya orang-orang baik harus turun gunung bergerak bersama menabur benih lebaikan sebagai kompensasi melawan kejahatan kemanusiaan ini.

“Kita harus viralkan perjuangan demi kebaikan ke mana saja, dimana saja dan kapan saja dengan tidak jemu-jemunya,” ajak Ros yang disambut hangat para pengurus.(edj)***

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :