Vigonews

Harga Jualnya Rp 7.000/Kg, Kenapa Tidak Tanam Jagung?

Foto: Dok vigonews.com - Panen jagung di penangkaran Seminari Mataloko -  

BAJAWA, VIGONEWS.COM – Tekad Dinas Pertanian menjadikan Ngada sebagai Kabupaten mandiri benih, mulai terwujud. Pada Mei 2018, Dinas Pertanian mengirimkan 10 ton benih kadele yang ditangkar di kabupaten ini pada bulan Mei 2018.

Tahun lalu Ngada sudah mulai dengan penangkaran benih jagung, dan. Diharapkan upaya ini akan terus berlanjut sehingga tidak mengalami kendala menjelang musim tanam dalam mendukung upsus pajale. Selain itu juga sedang dilakukan penangkaran kopi.

Demikian dikemukakan Kadis Pertanian Kabupaten Ngada, Paskalis W. Bai menjawab vigonews.com, Jumat (25/05/208) ketika meninjau lahan penangkaran benih jagung dan kopi di Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Malanuza.

Pada kesempatan itu, Kadis Pertanian kabupaten Ngada yang didampingi Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Ermelinda Moi, Pelaksana Bidang Perkebunan, Bruno Keo Bhghi,  beserta staf lain didampingi Kepala P4S Rm. Martinus Ua, Pr  meninjau lahan penangkaran jagung yang sudah ditanami jagung, dan tempat penangkaran bibit kopi.
 
Penangkaran kopi di P4S Malanuza
Sedangkan penangkaran kopi sebanyak 100 ribu anakan juga berlokasi di P4S. Jumlah itu adalah bagian dari program penangkaran 700 ribu bibit (anakan) kopi, untuk dialokasikan lahan seluas  480 hektar. Penangkaran kopi ini juga akan memenuhi permintaan petani baik di Ngada maupun Ende. Rencana kopi jenis Arabika Sigarar ini akan ditanam si awal musim hujan rahun ini.

Yang dikembangkan di sejumlah penangkaran ini adalah calon benih, yang setelah dipanen akan diproses untuk mendapat sertifikasi. Setelah disertifikasi baru menjadi benih yang siap disebarkan kepada para petani yang memerlukan. Proses sertifikasi biasanya memakan waktu dua pekan sampai sebulan.

”Kita berharap dengan melakukan penangkaran di tingkat lokal, akan terjadi kemandirian benih, dan tidak perlu beli keluar. Seperti halnya juga penangkar benih padi yang sudah dilaksanakan. Dan lebih dari itu bisa mengatasi masalah keterlambatan benih yang selama ini sering dikeluhkan petani memasuki masa tanam,” kata Kabid TPH Ermelinda Moi.

Potensi yang bisa dikembangkan untuk penangkaran benih di Ngada, Kata Kadis Pertanian Paskalis, bisa mencapai 1.000 hektar. Saat ini yang dikembangkan masih terbatas. Minat petani untuk mengembangkan penangkaran benih masih sedikit. Padahal kalau menekuni ini harga jual benih dari penangkaran yang sudah disertifikasi sangat bagus.
 
Panen perdana di penangkaran kedele (Soa)
Tahun ini penangkaran kedele petani mencapai 30 hektar menghasilkan 20 ton. Benih ini dikirim untuk memenuhi permintaan di Kabupaten Ende dan Manggarai. Jika harga jual kedele di pasar bebas Rp 5000/kg, maka calon benih hasil penangkaran sekitar Rp. 8.000. Namun dalam proses hingga pengiriman, harga benih yang sudah disertifikasi antara Rp 10 ribu – 12.000.

Dalam rangka Upsus pajale, Dinas Pertanian terus mendorong melalui pendampingan untuk penangkaran benih di daerah Golewa dan Soa. Potensi cukup bagus untuk penangkaran benih jagung dan kedele juga cukup menjanjikan di Riung Barat, hanya masih perlu sentuhan dengan teknologi dengan dukungan alsintan dan pendampingan yang berkelanjutan.

“Ke depan kita akan mendorong penangkaran benih di Riung Barat, dan kita baru saja melakukan kajian melalui program live in bersama petani di sana,” papar Paskalis.

Penangkaran Jagung

Penangkaran jagung di P4S mencapai 13 hektar, sebagai kelanjutan penangkaran di Seminari tahun lalu seluas 7 hektar. Areal yang diplot untuk penangkaran jagung mencapai 20 hektar.
 
Lokasi penangkaran jagung di P4S Malanuza - dari kiri (Rm. Martinus Ua, Paskalis W. Bai, Ermelinda Moi
Sementara penangkaran jagung tahun lalu di lahan Seminari mencapai 20 ton benih bersertifikat, dengan harga jual Rp 7.000/kg. Sukses itu yang mendorong Pengelola P4S memanfaatkan lahan di Malanuza seluas 13 hektar untuk menangkaran tahun ini, sebagai kelanjutan program tahun lalu. “Kalau benih hasil penangkaran membuat harga jagung lebih bagus dengan Rp 7.000/kg, kenapa tidak tanam jagung,” kata Rm Martinus.

Rm. Martinus mengajak para petani untuk memanfaatkan kesempatan ini, melalui penangkaran jagung di lahan yang belum dimanfaatkan secara efektif. Diharapkan jagung yang menjadi benih bersertifikat akan dijual dengan harga yang bagus dan membawa keuntungan. Saat ini penggarapan lahan 13 hektare, kata  Rm. Martinus, juga melibatkan petani sekitar, yang hasilnya tentu akan mereka dapatkan.

Ditambahkan Kabid TPH Ermelinda, pemanfaatan benih bersertifikat sebenarnya sangat  baik untuk meningkatkan produktifitas komoditi. Petani, kata dia cenderung menggunakan benih turun-temurun, seperti dalam kasus Jagung dan kedele. Bahkan kata Ermelinda lagi, produktivitas akan menurun sekitar 50 persen jika menggunakan benih turunan seperti itu terus-menerus.(edj)***

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :