Vigonews

Tinju Adat Soa Daya Tarik Wisata Budaya



Sagi, tinju adat Soa yang menjadi daya tarik -  

SOA, vigonews.com – Sekitar 106 petinju tradisional meriahkan ritual tinju adat Sagi di kampung Piga, Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada. Sebanyak 100 petinju adat laki-kali dalam 50 pertarungan dan enam petinju perempuan beradu tangkas di arena kampung adat piga pada ritual tahunan 2018.

Tinjua adat tradisional Soa yang disebut Sagi merupakan bentuk syukur masyarakat setempat  akan hasil panen, dan melalui pagelaran yang baik dan teratur dipercaya akan membawa panenan berlimpah pada tahun berikut. Biasanya berlangsung beberapa ronde, dan jika lawan sudah berdarah – symbol kesuburan – maka  adu tinju antara kedua petinju berakhir. Tinju menggunakan alat ta’i kolo yang keras dan kasar bukan sarung tinju modern pada umumnya.

Berita Terkait:
Di antara 'Sagi' dan 'Etu' ada Marselinus Ajo Bupu
Keunikan Tinju Adat Perempuan Soa
Ritual ‘Sogo’, Nyepi Sejam di Soa
Kesederajatan Perempuan & Laki-laki dalam Ritual Adat Tinju di Soa

Pertemuan antara petinju adat dari Tarawaja, Soa Marianus Suwani dengan penantangnya, Emanuel Gaso dari Boawae, Senin (09/04/2018) mengubah ketegangan pertarungan dengan suasana yang renyah dan menghibur. Itu karena Marianus Suwani mampu menaklukkan lawanannya tidak sekedar kekuatan fisik belaka tetapi juga mengolahnya sebagai  seni.

Dengan gaya bertinju yang kas dan kadang diwarnai goyang pinggul kalau berhasil mendaratkan pukulan. Gayanya yang atraktif dibalut joke-joke itu mengundang penonton riuh dalam tawa. Marianus sama sekali tak menampakan tinju tradisional Sagi itu sebagai adegan yang keras – meski saat mendaratkan pukulan tetap dilakukan dengan keras. Bahkan ketika lawannya menyarangkan pukulan dengan genggaman  tai kolo yang kasar, Marianus justu mengumbar senyum. Jika lawan tidak sabar  justru memancing amarah. Tapi marianus memperlihatkan ekpresi bersahabat.

Marianus, usai Sagi menjawab vigonews.com mengatakan, tinju adat merupakan momen persaudaraan dalam nada syukur. Meski terlihat keras namun dirinya menganggap tetap  harus dikemas dengan nuansa yang berbeda. “Memang kelihatan ini ritual keras tetapi kita tetap harus menunjukkan seni dalam bertinju sehingga menjadi tontonan yang menarik dan menghibur. Orang datang kan mau ingin hiburan jadi tidak perlu saling dendam,” kata Marianus.

Sementara tokoh muda asal Piga Mathias Rema Esi yang berkiprah dalam bidang pariwisata di Bali, memberi apresiasi kepada para petinju yang tetap sportif  dalam bertinju. Menurut dia tinju tradisional Sagi memang terlihat keras adegannya, namun nilai yang mau ditanamkan adalah ucapan syukur. Selain itu, bisa menjadi tempat belajar dalam menyelesaikan masalah di kalangan muda, belajar sabar dan tetap sportif.
 
Marianus (kedua dari kiri) menari-nari setelah memperdayakan lawananya, Emanuel Gaso (kanan) tampak kesal
Mathias memang begitu respek dengan ritual adat Soa yang satu ini karena kaya akan nilai dalam membina kebersamaan antar warga. Belajar dewasa. Tidak ada yang dendam. Semua selesai di arena tinju di dalam kampung. Usai Sagi semua berangkulan dan pulang makan di rumah.

Mungkin karena itu Mathias yang kerja dalam sektor pariwisata di Bali selalu ingin pulang kampung kalau ada upacara adat termasuk tinju. Dia respek dengan kegiatan budaya, karena melalui budaya dapat menanamkan nilai kearifan lokal bagi kehidupan.

“Bukan itu saja, atraksi budaya ini juga potensi yang luar biasa sehingga menjadi daya tarik wisatawan ke Soa. Kalau Air panas sudah ada, kita tinggal kembangkan atraksi-atraksi budaya, sehingga wisatawan yang datang disuguhi dengan kegiatan budaya dan mereka akan betah di sini,” papar Mathias yang juga bakal caleg 2019 dari Soa ini.

Sementara Penjabat Kepala Desa Piga, Henwigis Petrus Mawo Wio menjawab vigonews.com  mengatakan, ke depan kita akan benahi lagi kegiatan untuk ritual budaya ini. Ini potensi yang bisa dikembangkan jadi daya tarik wisata. Henwigis yang akrab disapa Edy Wago itu mengatakan, ke depan akan menata kampung adat Piga yang setiap tahun selalu menjadi arena tinju adat.

Apalagi kata dia, yang unik di Piga juga ada tinju adat untuk perempuan atau dalam bahasa setempat Sagi fina ga’e. Biasanya tinju adat untuk yang laki-laki dimulai pada pk. 15.00 wita hingga pkl. 18.00 wita. Kemudian dilanjutkan dengan sagi fina ga’e  untuk dua atau lebih pasang. Usai tinju perempuan, saat magrib warga pulang ke rumah masing-masing, dan siap menyambut nyepi sejam atau dalam bahasa setempat Sogo.***

Editor: Emanuel Djomba

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :