Vigonews

Ritual ‘Sogo’, Nyepi Sejam di Soa


SOA, vigonews.com  – Soa bukan hanya dikenal dengan wisata air panas Mengeruda, tetapi juga ritual yang unik, yakni: sogo. Ritual ‘Nyepi’ ala orang soa ini biasanya dirayakan pada bulan April di kampung Piga. Belum banyak wisatawan tau tentang ritual ini, kecuali ritual ‘Nyepi’ di Bali

Sogo atau tahap akhir dari acara syukuran panen ini adalah salah satu ritual para leluhur sejak jaman dulu yang dinilai paling sakral dari semua tahapan acara syukuran panen dan hanya ada di desa Piga. 

Berita terkait:
Kesederajatan Perempuan & Laki-laki dalam Ritual Adat Tinju di Soa
Tinju Adat Soa Daya Tarik Wisata Budaya
Di antara 'Sagi' dan 'Etu' ada Marselinus Ajo Bupu
Keunikan Tinju Adat Perempuan Soa

Sogo adalah ritual adat yang dilakukan usai Sagi  (tinju adat) dan Sagi Fine Ga’e (Tinju Perempuan). Berbeda dengan desa-desa di kecamatan Soa lainnya yang juga melangsungkan Sagi (Tinju Adat), namun ritual sogo hanya berlangsung di desa Piga.

Tahapan ritual ini harus memenuhi dan mengikuti apa yang telah diwariskan leluhur sejak dulu. Jika tidak gelar Sogo, masyarakat sangat percaya akan mendapat hukuman berupa bencana hasil panen tidak melimpah, wabah penyakit yang menyebabkan kematian dan tanaman dimakan hama. Ada ragam kegiatan menarik jelang, saat, dan setelah Sogo.

H-7 masyarakat Desa Piga melaksanakan upacara Oro. Oro adalah tahapan awal atau secara resmi bahwauncul  bulan sabit pertanda dimulainya upacara tinju. Setelah oro, selanjutnya dilaksanakan upacara tinju malam yang berlangsung selama beberapa hari hingga Kosu (peletakan daun pandan). Kosu atau peletakan daun pandan tergantung pada saat bulan purnama ketiga terjadi. 

H-1 jelang sogo dilaksanakan  Sagi Para Kisa atau yang biasa dikenal dengan sebutan Dero. Dero dilakukan pada malam terakhir sebelum dilaksanakan Sagi Wa atau tinju siang hari dan sebagai tanda bahwa telah berakhirnya tinju malam hari. Dero biasanya dilakukan oleh sekelompok orang yang mengelilingi api unggun sembari mengumandakan syair. Hari yang sama sesaat sebelum Sogo

Pada hari yang sama dengan berlangsungnya sogo, upacara sagi wa atau yang dikenal dengan tinju siang juga dilaksanakan sebagai upacara puncak syukuran panen yang berlangsung satu hari itu. 

Tinju siang paling ramai didatangi pengunjung, tidak hanya warga lokal tetapi juga masyarakat dari daerah lain bahkan tak jarang wisatawan asing juga ikut memeriahkan acara ini. Ada yang datang untuk menonton saja tapi tak jarang ada yang juga berpartisipasi langsung dengan menjadi peserta tinju. Selain memang waktunya cukup efisien, masyarakat di kampung Piga juga mengundang tamu ke rumah masing-masing sembari menikmati hidangan yang telah disediakan dengan maksud selain mensyukuri panenan juga sebagai sarana dalam mempererat tali persaudaraan.

Usai upacara puncak, pada sore hari hal unik yang juga tidak dimiliki desa lain yang juga melangsungkan Sagi ialah Sagi Fine Ga’e (Tinju Perempuan). Sagi Fine Ga’e biasanya diisi oleh dua pasangan tinju terdiri dari dua wanita yang sudah Kiki (sudah potong gigi secara adat) dan dua wanita yang belum Kiki.

Hari H - Saat Sogo. Upacara ini dikatakan sakral karena saat ritual berlangsung semua lampu dipadamkan, dalam kegelapan malam, suasana keheningan, tak ada suara dari manapun. Selain  itu tidak ada yang bersuara kecuali suara orang yang ber-pata dan beberapa orang yang mengelilingi orang yang ber-pata (kalimat adat) di dalam lingkaran tersebut.  Oleh karena itulah Sogo dilakukan mulai pukul 22.00 ke atas dan berlangsung sejam saja,  dengan perhitungan bahwa semua bayi dan anak-anak sudah tertidur sehingga tidak ada suara tangisan.
 
Ritual adat Sagi beberapa jam sebelum 'Sogo'
Menurut salah satu tua adat, Zakarias Meo, jika ada yang sengaja menyalakan lampu dan bersuara maka ada hukum karma yakni tanaman seperti padi, sayuran dan buah-buahan bakal dimakan hama.  

Sesaat menjelang Sogo ada beberapa pata (ungkapan syair adat) yang dikumandangkan, adapun pata tersebut antara lain, Piga Neri Reba Uwi (orang berdatangan untuk nonton tinju), Kisa Nata Kita Dia Pui Te Nenga Modhe Olo (kampung kita aman dan tidak ada yang memancing keributan), Zili Sei Zaza Sei Para Ngia Riwu Kita (kita 2 kubu namun tetap bersaudara), Woe Ana Tiwu Woe Loza Ma’e Saga-Saga (kita yang sudah bersatu tidak boleh berpisah lagi), Ana Piko Lau Pubu Polu Te Ma’e Papa Tengo (sudah ada kesepakatan kita tidak boleh bertengkar lagi), Wunu Nata Beke Meze Tuka Te Ma’e Bhale Logo (kita sudah bersepakat jangan ada yang memutar balikkan fakta). Setelah pengucapan pata menjelang sogo dilanjutkan dengan  pengucapan pata saat Sogo yang dikatakan sakral. 

Tahapan paling akhir dan sakral dengan upacara syukuran panen adalah Sogo. Anda tentu bertanya-tanya kenapa ritual ini dikatakan sakral? 

Beberapa pata (kalimat) pada ritual Sogo mengandung makna suci dan sakral yang diucapkan oleh satu orang saja. Orang tersebut dikelilingi 5 orang yang sedang bersyair sambil bergandengan tangan untuk menutupi  satu suara yang sedang mengucapkan pata. Hingga saat ini pata yang sakral tersebut hanya diketahui oleh orang yang secara adat sudah ditentukan leluhur, tidak sembarang orang dan pata yang sangat sakral ini kemudian hanya akan diwariskan kepada orang tertentu saja.

Ketika pata tersebut dibisikkan kepada arwah nenek moyang peserta lainnya berusaha memberikan suara untuk menutupi pata yang sakral itu agar tidak terdengar oleh masyarakat yang hadir pada saat itu. Selain 5 orang yang mengelilingi seorang di dalamnya, ada lagi sebuah lingkaran yang dibentuk untuk melindungi pata yang sedang diucapkan. Lingkaran tersebut terdiri dari 20-25 orang yang bergandengan tangan sambil bersyair tujuannya adalah untuk melindungi satu suara yang sedang ber-pata di dalamnya.

Menurut kepercayaan, apabila ada satu diantaranya yang melepaskan genggaman tangan ketika pata diucapkan maka usianya tidak akan lama lagi bahkan tidak sampai pada bulan April pada tahun berikutnya. 

Usai pengucapan pata sogo, tangan yang bergandengan sudah dapat dilepas dan dilanjutkan dengan upacara belah kelapa dengan sulu (obor) yang digiring masuk ke tengah lingkaran. Sulu (obor) dan kelapa di bawah oleh Mori Buku (Tuan Adat). Ketika sudah sampai di tengah lingkaran, kelapa diletakkan dan Mori Buku mengelilingi kelapa sebanyak 6 kali dan pada hitungan keenam kelapa kemudian dibelah.

Belah Kelapa

Upacara belah kelapa ini sebagai upacara untuk mendapat petunjuk secara adat bagaimana hasil panen di tahun yang akan datang. Apakah tahun berikutnya hasil berlimpah atau kelaparan sehingga masyarakat bisa mengantisipasi berdasarkan petunjuk secara adat.

Petunjuk tersebut baik apabila posisi kelapa Mepa (sisi kelapa yang satu terbuka dan yang satu lagi tertutup), namun apabila keduanya sama-sama tertutup atau terbuka maka akan diulang dengan menggabungkan kedua sisi kelapa dan dilempar ke atas. 

Hari setelah upacara Sogo. Setelah semua tahapan upacara syukuran panen selesai, masyarakat belum diperkenankan langsung bekerja kebun. Satu hari setelah tinju adat, ada upacara yang dinamakan Kega Hobho (panen kacang) artinya masyarakat melakukan upacara makan kacang bersama. Dan hari kedua setelah tinju adat ada sebuah istilah yang dinamakan Pau artinya bahwa masyarakat desa Piga dilarang untuk masuk ke kebun dan sawah karena hari tersebut dimaknai sebagai hari untuk beristirahat. 

Laporan         : Ketty Siba
Editor              : Emanuel Djomba

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :