Vigonews

Keunikan Tinju Adat Perempuan Soa



Tinju adat perempuan di Soa -  

SOA, vigonews.com – Soa di Kabupaten Ngada kaya akan budaya. Salah satu yang unik adalah tinju adat, dalam bahasa setempat sagi. Jika selama ini orang mengenal sagi  adalah dunianya laki-laki dalam masayarakat adat Soa, ternyata perempuan setempat juga punya kebiasaan tinju dalam rangkaian ritual sagi yang disebut masyarakat setempat sagi fine ga’e. Biasanya digelar begitu usai tinju para laki-laki.

Ternyata sagi fina ga’e hanya ada di kampung Piga, dari sejumlah kampung yang punya budaya tinju adat ini. Itu sebabnya mengapa sagi Piga menjadi unik dan dari kampung lain karena ada sagi fina ga’e  itu. Keunikan ini menjadi daya tarik yang bisa menyedot publik khusunya wisatawan untuk datang menyaksikan ritual ini.

Berita terkait:
Ritual ‘Sogo’, Nyepi Sejam di Soa
Kesederajatan Perempuan & Laki-laki dalam Ritual Adat Tinju di Soa
Tinju Adat Soa Daya Tarik Wisata Budaya
Di antara 'Sagi' dan 'Etu' ada Marselinus Ajo Bupu

Ketika gelar sagi Piga, Senin (09/04/2018), enam petinju perempuan bertarung di arena sagi fine ga’e. Ada tiga pasang yang bertinju usai sagi para lelaki. Tiga pasang remaja perempuan tampil dari antara para penonton, segera setelah itu para tua adat mengenakan perlengkapan seperti sarung, ikat kepala dan atribut lainnya. Mereka juga didampingi oleh perempuan saat adu jotos.
 
Lely Meo membelakangi kamera berhadapan degan Tasya Gare adu nyali di tinju adat peremuan di Soa
Di antara tiga pasang petinju itu yang saling berhadapan itu adalah Tasya Gare vs Lely Meo. Keduanya yang semula tampak malu dan canggung tapi kemudian berubah aura siap tarung disemangati nyanyian adat. Begitu turun ke dalam kampung, keduanya pun saling beradu ketangkasan menggunakan lilitan kain pada kepal menyerupai sarung tinju. Tentu berbeda dengan tinju laki-laki yang menggunakan bahan ijuk yang dirajut berbentuk agak lonjong atau disebut masyarakat setempat tai kolo.

Menurut kepercayaan masayarakat Piga, perempuan tak terpisahkan dari laki-laki, dan selalu menjadi kekuatan dalam berjuang. Dalam kebersamaan mereka saling menguatkan dan saling mensuport.

Formasi bertinju di Piga juga seperti menyiratkan makna kekuatan itu. Jika tinju laki-laki kedua kubu datang dari arah utara-selatan – saling  berhadapan, maka saat tinju peremuan posisi pun berubah timur-barat. Bentuknya menyerupai kayu silang (salib), yang menyiratkan bahwa laki-laki dan perempuan adalah kekuatan dalam hidup.
 
Mathias Rema Esi
Tokoh muda asal Piga, Mathias Rema Esi di sela-sela sagi fine ga’e mengatakan, yang membedakan sagi Piga dan Sagi  di kampung lain adalah sagi fine ga’e. “Bagi saya ini keunikan tersendiri. Kalau dilihat maknanya ternyata sangat dalam, bahwa laki-laki dan peremuan sederajat dalam budaya Soa. Keduanya menampakan kekuatan dalam menghadapi hidup,” kata Mathias.

Menurut dia, sagi fine ga’e, ke depan dapat kita kemas sebaik-baiknya. “Karena ini daya tarik yang tidak ada di tempat lain. Hal ini bisa menjadi atraksi memikat bagi wisatawan yang datang ke sini,” kata Mathias yang juga pegiat pariwisata di Bali itu.***

Editor: Emanuel Djomba

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :