Vigonews

Kesederajatan Perempuan & Laki-laki dalam Ritual Adat Tinju di Soa


SOA, vigonews.com  - Tinju adalah salah satu cabang olahraga yang dikenal cukup ekstrim. Namun, bagaimana jika tinju ini dilakukan oleh kaum wanita? Tentu Anda akan bertanya bagaimana jadinya dan bagaimana prosesnya?

Tinju terbagi dalam dua jenis yaitu tinju modern dan tinju tradisional atau tinju adat, dalam bahasa adat Soa tinju adat dikenal dengan sebutan Sagi. Sedangkan tinju perempuan disebut dengan Sagi Fine Ga’e. Sagi Fine Ga’e ini wajib dilakukan dalam serangkaian upacara adat Sagi setiap tahun di bulan April karena menurut kepercayaan yang dikisahkan oleh tua adat Desa Piga, Zakarias Meo dan Mikael Gaba di tempat yang berbeda, jika Sagi Fine Ga’e tidak dilakukan maka Ule Raga (ulat bertanduk) akan datang. Artinya seluruh hasil panen masyarakat akan dimakan habis Ule Raga.

Berita terkait:
Tinju Adat Soa Daya Tarik Wisata Budaya
Di antara 'Sagi' dan 'Etu' ada Marselinus Ajo Bupu
Keunikan Tinju Adat Perempuan Soa
Ritual ‘Sogo’, Nyepi Sejam di Soa

Yah, Sagi Fine Ga’e atau tinju perempuan adalah upacara adat tinju yang dilakukan usai upacara puncak tinju adat (Sagi) di Desa Piga, Kecamatan Soa. Uniknya Sagi Fine Ga’e hanya terjadi di desa Piga diantara semua desa di Soa yang melakukan Sagi. Konon, Sagi Fine Ga’e ini sudah ada sejak jaman dahulu kala sebelum tua adat lahir. Hal ini memang sudah  mengikuti apa yang telah digariskan leluhur. 

Seperti halnya Sagi laki-laki, Sagi Fine Ga’e ini dilakukan oleh dua kubu yang berlawanan. Petinju dari kedua kubu biasanya para pemudi yang dipilih secara acak dari kerumunan penonton. Aturan pertandingannya sederhana. Setiap pertandingan terdiri dari dua atau lebih pasangan yang terdiri dari 2 wanita yang sudah Kiki (sudah potong gigi secara adat) dan 2 wanita yang belum Kiki. Para petinju dipilih oleh mosa yaitu orang yang biasanya bertugas untuk mencari peserta tinju karena peserta tinju biasanya adalah penonton dari upacara tersebut. 
 
Siap bertarung
Setiap peserta didukung oleh masing-masing kubu sebagai pendukungnya. Pendukung biasanya menyanyikan syair-syair “Gore ine oe, ma’e taku gori”, artinya (tinju ini sulit, tetapi jangan takut  karena semua akan dilalui) begitulah syairnya. Syiar-syair tersebut biasanya diiringi dengan pukulan kayu ke sebuah bambu (melo) yang diletakkan di bagian kaki sama halnya dengan tinju laki-laki. 

Peralatan tinju yang dipakai masih sangat tradisional, jika peralatan tinju yang digunakan kaum lelaki berupa simpul ijuk yang disebut Woe, namun pada Sagi Fine Ga’e ini berupa kain yang dililitkan pada tangan. Sedangkan pakaian yang digunakan  sama dengan laki-laki yaitu berupa Lesu (ikat kepala), selendang untuk menutupi dada dan Ragi sebagai penutup bagian bawah. 

Setiap pertandingan terdapat beberapa ronde tergantung siapa yang sudah lebih dulu menyilangkan tangan tanda salah satu lawan meminta agar pertandingan berakhir. Dalam tiap ronde, setiap peserta berhak memukul lawan apabila mulai mendapat serangan dan berhak menghindar atau balik menyerang.

Setiap peserta diwajibkan untuk mengenakan peralatan tradisional yang sudah dipersiapkan panitia. Setiap ada salah satu peserta yang menyilangkan tangan berarti poin kemenangan bagi si lawan.

Di akhir pertandingan peserta diarahkan untuk berdamai dihadapan penonton, bukti bahwa selain upacara syukuran panen, Sagi merupakan ajang sportifitas sebagai tanda perdamaian dan persaudaraan. 
 
lilitan selendang dijadikan alat tinju
Setiap ronde berlangsung selama kurang lebih 5 sampai 10 menit. Pertandingan ini biasanya merupakan akhir dari upacara adat Sagi. Setelah usai pertandingan pertama, akan dilanjutkan pertandingan selanjutnya dengan peserta yang berbeda namun tetap dalam aturan yang sama.  

Dalam pertandingan dikenal juga apa yang disebut dengan Sike (orang khusus memegang ikat pinggang si petinju agar tidak jatuh) karena menurut mitos, kejatuhan salah satu petinju merupakan hal yang pamali. Menurut kepercayaan, orang yang jatuh umurnya pendek dan tidak akan bertahan lama. Selain itu juga ada yang dikenal dengan Seka (wasit), ia bertugas untuk melerai kedua petinju pada saat saling berangkulan untuk menghindari kekacauan. 

Hal lain yang menarik dari pertandingan ini adalah posisi tanding, jika dalam tinju laki-laki posisi tanding utara & selatan, namun dalam Sagi Fine Ga’e,  posisi tandingnya timur & barat sehingga merepresentasikan tanda silang (salib), tidak terlepas dari agama yang dianut oleh seluruh masyarakat Desa Piga. Posisi silang yang diterapkan ini diartikan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama di muka bumi dan mengartikan pula bahwa kekuatan laki-laki tidak terlepas dari kehadiran seorang wanita yang telah melahirkan atau menghadirkannya di dunia.***

Laporan         : Ketty Siba
Editor              : Emanuel Djomba

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :