Vigonews

Budidaya Tanaman Langka Agar Petani Jadi Besar



Penyulingan minyak nilam oleh Puge Figo -  

BAJAWA, vigonews.com - Yayasan Puge Figo yang hadir di Kurubhoko, Desa Nginamanu Kecamatan Wolomeze terus berkomitmen mengampanyekan gerakan melestarikan lingkungan. Gerakan itu bukan hanya di Kabupaten Ngada tetapi juga sudah merambah ke kabupaten tetangga, seperti Nagekeo.

Kampanye cinta lingkungan sebagai salah satu jalan mengatasi masalah 'global warming'  dilakukan melalui gerakan penghijauan serta meredam kebakaran hutan. Salah satu gunung di Kurubhoko kini sedang jadi pilot project reboisasi dan hampir tiga tahun lokasi yang selalu rawan kebakaran ini bisa dicegah dari ‘lahapan’ api. Penghijauan ini didukung pemerintah desa Nginanu dan Komunitas OFM Kurubhoko.

Selain itu, dalam gerakannya, Puge Figo terus memotivasi dan mengajak masyarakat menanam berbagai jenis tanaman lokal yang sudah langka. Untuk tujuan tersebut, yayasan ini terus berburu jenis tanaman lokal berkasiat termasuk jenis-jenis pangan lokal yang sudah langka dan tak banyak dibudidaya petani dewasa ini.

Taman berkasiat yang dapat disuling menjadi bahan dasar minyak wangi, dan aroma terapi lainnya  didorong agar ditanam masyarakat Ngada di berbagai tempat. Juga untuk bahan obat herbal hingga pembuatan sabun dan pasta gigi herbal. Dua tahun terakhir tanaman langkah yang sudah banyak dibudidaya masyaralat diuji coba penyulingan, yang selanjutnya minyak sulingan akan diekspor ke Eropa.
 
Persiapan tempat penyulingan tanaman langka menjadi minyak
Berbagai jenis tanaman langka lokal yang dibudidaya itu seperti cendana, nilam, jeruk lokal, pandan lokal, bangle, dan masih banyak lagi tanaman lokal lainnya, kini dibudidaya kembali warga dengan dorongan yayasan yang didalamnya dimotori Nao Remond sebagai volunteer.

Uji coba

Dua tahun terakhir, Puge Figo mulai melakukan uji coba untuk melakukan penyulingan berbagai tanaman berkasiat itu. Penyulingan tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan minyak murni  yang akan dijadikan bahan dasar parfum dan aroma terapi.

Tahun 2018 ini akan lakukan ekspor perdana minyak murni dari tanaman nilam. Menurut volunteer Yayasan Puge Figo, Nao Remond kepada vigonews.com, Jumat(06/04/2018), ekspor perdana  ke Prancis itu akan dilakun dalam waktu dekat sebanyak 50 kg minyak nilam. Target tahun ini sekitar 150 kg minyak nilam akan diproduksi.

Nilam yang disuling itu merupakan hasi budidaya Yayasan Puge Figo seluas 5 hektar dan nilam dari bernagai kebun masyarakat yang selama ini mendapat pendampingan dari pihak Puge Figo.

Mingkatkan Ekonomi

Dituturkan Nao Remond, minat masyarakat untuk budidaya tanaman nilam terus meningkat. Nilam hasil budidaya warga dibeli kembali oleh Puge Figo yang dilanjutkan dengan proses penyulingan di tingkat lokal. "Jadi yang kita kirim adalah bahan setengah jadi," katanya.

Harga nilam mentah di pasaran Rp 1.000. Karena produksinya di tingkat lokal maka, maka yayasan membeli seharga Rp 2.500 per kg.

Jika petani menanam nilam di lahan seluas satu hektar, maka di atas lahan tersebut dapat ditanam 10.000 rumpun dengan jarak tanam 1x1 meter. Setiap rumpun seberat antara 1 - 2 kg. Jika harga dikalikan sekilo setiap rumpun maka harganya 25 juta perhektar - dalam waktu 3 bulan masa budidaya. Hasil tersebut belum dipotong biaya produksi.
 
Budidaya tanaman Nilam
Selain nilam, Puge Figo sedang menyiapkan uji coba penyulingan cendana, sere dapur, sere wangi/merah, bangle dan beberapa jenis tanaman lainnya. Bahan baku penyulingan ini dibeli dari masyarakat yang selama ini sudah lakukan pendampingan.

Nao Remond menambahkan, pihaknya sedang persiapan pengolahan minyak nabati sebagai bahan dasar pembuatan sabun herbal. Bahan dasar itu dari bahan kelapa, biji kapuk, biji jarak. Untuk produksi sabun herbal,  uji coba sudah dilakukan dan sampel sedang diproses di BPOM.

Dikatakan Nao, pihaknya punya misi memberdaya ekonomi lokal dengan potensi lokal juga.  Nanti yang diekspor dari sini adalah barang jadi yang telah diproses dari bahan baku dari masyarakat.

"Kita tidak bermaksud membuat nama besar lembaga tetapi untuk dukung ekonomi lokal dengan potensi yang ada di masyarakat. Dan bahan baku bisa dibeli dengan harga lebih baik dari masyarakat," jelas Nao.

Dari situ ekonomi masyarakat akan meningkat dan petani menjadi besar bukan lembaga. Terobosan ini sekaligus memberi edukasi kepada maayarakat agar mulai mengolah tanah pertanian dengan sistem organik, tanpa penggunaan pupuk kimia dan pestisida berbahaya. Karena produk yang dilirik masyarakat dunia (global) adalah yang ramah lingkungan. (ed)***

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :