Vigonews

Opini: Ketika Media Serampangan Mereduksi Ritual Semana Santa

(Foto TimurNTT.com)
Oleh: Bonefasius Zanda -  

Akhir-akhir ini media online mewabah. Jumlahnya tak bisa terhitung lagi. Mungkin ini lagi tren. Dan juga sebagai pembuktian bahwa manusia dengan segala otoritasnya mampu mencipta sekaligus mengendalikanya,  harus menjadi tuan atas kemajuan Iptek itu sendiri. Iptek harus sebisa mungkin dikendalikan oleh manusia dan tidak boleh membiarkan Iptek menguasai manusia.

Namun disisi yang lain, sadar atau tidak, saat ini penggunaan media online sedang diuji kapasitasnya sebagai wadah untuk menyuarakan fakta akan kebenaran, menyuarakan untuk lapisan sosial yang tak mampu bersuara. 

Mengapa sedang diuji? ada beberapa fakta miris yang justru dibuat oleh media. Ini berkaitan dengan gebiar Semana Santa di Larantuka. Media online tertentu saat ini sedang memanfaatkan atau mereduksi Semana Santa kedalam hal-hal yang tidak substansi. Menjauhkan manusia dengan realitas yang seharusnya. Padahal, seharusnya media massa harus menjadi wadah mediator dan konstruktor realitas (Budi Kleden, ‘Media dan Realitas dalam kata pengantar, 2012).

Sebagai contoh, pertama, pada moment  Semana Santa tahun 2018 yang bertepatan dengan gawe pilgub, media tertentu mengemasnya dalam balutan nuansa politik. Bahwa baliho ucapan dari para politisi sangat mengganggu kesakralan Semana Santa. Seolah-olah para politisi itu, tidak beragama.

Apalagi media tidak menyertakan identitas informan dan lucunya informan hanya satu dan media membuatnya menjadi perwakilan untuk semua peziara. Dan ini media yang mengartikanya. Padahal bagi saya baliho sangat  tidak mengganggu kesakralan Semana Santa. Dalam kaitan dengan ini media terlihat secara serampangan mereduksi ritual ini dalam balutan politik. Dan disini media membangun cara pandang bahwa seolah-olah agama ditunggangi oleh para politisi. Dan media sedang menciptakan jurang dan pemahaman iman yang keliru. 

Kedua, moment Semana Santa dijadikan santapan lezat oleh media untuk mengangkat pamor para pejabat publik. Kemesraan antara pejabat publik saat Semana Santa diartikan oleh media sebagai moment  emas. Bagi saya pejabat publik tidak diberitakanpun semua orang tahu. Tapi oleh media, katanya itu moment emas. Padahal sebagai orang yang beriman adegan itu sangat manusiawi dan tidak perlu diberitakan. 

Media belum Melek

Selama 10 kali saya mengikuti dan bahkan sebagai pengurus keamanan didepan biara Susteran SSPS Balela yang merupakan jalur utama prosesi, ada banyak fakta yang saya saksikan. Pertama, saya menyaksikan para nelayan sangat bersusah payah mencari nafkah dengan sampan yang sangat tidak layak. Kedua, masih banyak ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) berkeliaran saat prosesi berlangsung. Ketiga, masih ditemukan perumahan yang belum layak. 

Lalu pertanyaanya, mengapa media tidak mengangkat fakta-fakta ini? apakah karena media tidak mendapat keuntungan bisnisnya?  apakah tidak membuat  media menjadi terkenal?***

(Penulis: Guru SMA Katolik Regina Pacis, Bajawa)

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :