Vigonews

‘Na’a Nepe,’ Harta Warisan Orang Soa

Na'a Nepe Koperasi Kredit-nya orang Soa


SOA, vigonews.com – Na’a Nepe tidak asing bagi orang Soa. Salah satu dari sejumlah koperasi kredit yang berkiprah di daerah lumbung padi, Soa. Di Na’a Nepe, secara ekonomi banyak orang  tersangga, mengatasi masalah ekonomi masyarakat.

Na’a Nepe, bukan sekedar nama dari bahasa setempat yang berarti ‘menyimpan sesuatu – harta karun, tetapi menjadi sebuah lembaga ekonomi yang mampu mengatasi persoalan ekonomi bagi orang Soa dari waktu ke waktu sejak berdiri 37 tahun silam. Dari kelompok arisan para guru, kini menjadi koperasi bagi para petani yang tersebar hingga ke luar cekungan Soa.

Minggu (11/03/2018) Kopdit  ‘Na’a Nepe’ menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) 2017,  Tahun buku 2016 di dengan Tema Urgensitas, Komitmen Aksi Membedah tata Kelola Koperasi Kredit Yang sehat. RAT yang berlangsung di Gedung Koperasi Kredit Naa Nepe, di Desa Libunio, Kecamatan Soa itu dihadiri oleh 300 orang anggota, para pengurus dan manajemen.

Menurut Ketua Koperasi Kredit ‘Na’a Nepe’ Leonardus Meo, RAT kali ini membahas hal hal yang berkaitan dengan Penyerahan Santunan Daperma,  LPJ pengurus dan pengurus Tahun Buku 2017, tanggapan LPJ pengurus dan pengawas Tahun Buku 2017, pengesahan LPJ Pengurus dan Pengawas Tahun Buku 2017, pengesahan program kerja dan RABKOP Tahun 2018, pemilihan dan pengesahan panitia nominasi, pemilihan calon pengurus, dan pengawas periode 2019-2021, serta  pembacaan berita acara RAT Tahun Buku 2017.

Lipus Lusi yang hadir sebagai pejabat dari Puskopdit  Flores Mandiri dalam sambutannya mengatakan, ada empat tugas utama dalam RAT yang harus diemban dalam keseimbangan hak dan kewajiban kita baik pengurus maupun anggota koperasi kredit. pertama tugas pertanggungjawaban dan evaluasi, kedua tugas perencanaan (Program dan Anggaran). ketiga, tugas pengembangan dan keberlanjutan. keempat, membangun komitmen aksi dalam tata kelola Kopdit menuju visi dan tujuan.

"Namun ada dua halyang paling penting yang menjadi perhatian serius saat ini, yakni membangun komitmen aksi dan tata kelola kopdit menuju pendidikan financial anggota dan keluarga yang lebih,” Philipus Lusi.

Sementara Sekcam Soa, Wilson Siga mengatakan bahwa, Rapat Anggota Tahunan merupakan sebuah kesempatan untuk memperkokoh kedudukan koperasi sebagai wadah untuk menghimpun dan menggerakan potensi ekonomi, sosial dan budaya sesuai dengan prinsip prinsip berkoperasi. Sehingga dengn adanya Kegitan RAT ini tentunya menjadi dorongan tersendiri bagi pengurus, pengawas, manajemen dan segenap anggota Koperasi Kredit ‘Na’a Nepe’ untuk terus berbenah diri bahu membahu membangun koperasi ini dalam meningkatkan kesejahteraan anggota. Sehingga koperasi kredit ‘Na’a Nepe’ semakin maju dan anggotanya sejahtera dan bertambah banyak setiap tahun.
Dari kiri: Philipus Lusi, Leonardus Meo dan Wilson Siga

“Koperasi Kredit Naa Nepe setiap Tahun mengalami penambahan Jumlah Anggota hal ini karenakan  kehadirannya  bermanfaat bagi masayarakat apalagi para petani. Dulu koperasi ‘Na’a Nepe’ hanya beranggotakan para guru PNS namun berubahnya waktu dan melakukan evaluasi dan pembenahan secara terus menerus demi kesejahteraan masyarakat makanya kopdit ini memberikan ruang kepada siapapun untuk menjadi anggota,” kata Anas Mau, Staf Manajemen Koperasi Kredit ‘Na’a Nepe.’

Dampak positif dari kehadiran Koperasi Kredit ‘Na’a Nepe’ dirasakan Veronika Fao yang sudah setia menjadi anggota selama 12 Tahun. Menurut dia, Koperasi Kredit ‘Na’a Nep’ sangat membantu sehingga  bisa menyekolahkan anak saya tiga orang menjadi Sarjana. “Saya petani, penghasilan saya pas pasaan bahkan tidak menentu namun berkat kepercayaan dari Kopdit  ‘Na’a nepe’ berupa painjaman uang, maka saya dapat menyekolahkan anak saya, sehingga saya tetap bertahan selama 12 tahun menjadi anggota koperasi ini dan tidak pernah berpaling intinya kita setia dan jujur,” kata Veronika.

Kelompok Arisan

Kopdit ini didirikan  pada 13 November 1981 dengan jumlah anggota kala itu 45 orang. Namun, cikal bakal Kopdit ini ternyata sudah dirintis sebelumnya. Adalah seorang guru bernama Andreas Ngala yang menginisiatif untuk membentuk kelompok arisan guru-guru pada tahun 1979. Kelompok arisan ini memang bertujuan untuk membantu para guru dalam mengatasi masalah ekonomi kala itu sehingga dapat tetap menjalankan tugas keguruan dengan baik.
 
Anggota Kopdit Na'a Nepe
Tidak kurang dari sembilan orang guru menjadi keompok arisan yang dibidani Andreas Ngala ini. Mereka masing-masing Andreas Ngala, Lambertus Wea, Johanes Adhi Keo, Joseph Dhake dan Leonardus Phodi.

Kemudian kelompok arisan ini berkembang menjadi kelompok studi tabungan (KST) Soa. Setelah sempat berlajan setahun kelompok KST berubah menjadi Credit Union (CU) pada tahun 1981, yang ketika itu langsung diberi nama ‘Na’a Nepe’ dari bahasa Soa oleh Andreas Ngala. Na’a berarti simpan (tabung).  Ungkapan bijak bahasa Soa: “Na’a dhu ebu pu’u d’eka renga, na’a masa dhadi dhoghe dhu olo-olo – yang berarti: simpan sebagai warisan untuk turun-temurun sampai selama-lamanya.

Sebagai sebuah Credit Union, Na’a Nepe memiliki visi: sebagai wadah yang aman untuk menghimpun sega;a sumber daya dan memberdayakan agar dapat menolong diri sendiri, saling percaya agar keselarasan hidup spiritual dan material dapat terwujud.

Guna mewujudkan visi itu, Na’a Nepe mengemban misi: selalu menanggapi kebutuhan anggota, melayani berskala luas yang kooperatif dan inovatif, memberi kontribusi pengembangan sumber daya masyarakat, konsisten terhadap prinsip serta partisipasi aktif dalam kegiatan.

Koperasi kredit Na’a Nepe sudah beranggota lebih dari 1.400 orang dengan aset lebih dari Rp 8 miliar. Kehadiran koperasi kredit ini sudah banyak membantu masyarakat di Soa bahkan hingga keluar Soa.***

Oleh: Soa Bai Narisz

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :