Vigonews

80 Siswa di Ngada Ikut Sayembara Menulis Gagasan Kampanyekan ‘Go Organic’


BAJAWA, vigonews.com  – Sekitar 80 orang siswa di kota Bajawa, Kabupaten Ngada mengikuti Sayembara Menulis Gagasan yang digelar Dinas Pertanian Kabupaten Ngada bekerja sama dengan Bank NTT Cabang Bajawa, Rabu (04/10/2017) di stand pameran pembangunan lapangan Kartini, Bajawa.

Sayembara menulis gagasan menyasar siswa SMP dan SMA/SMK, sedangkan siswa SD mengikuti sayembara menulis surat kepada Presiden Jokowi, berkaitan dengan keprihatinan mereka terhadap masa depan pertanian yang tidak ramah terhadap kesehatan manusia.

Kegiatan yang dilaksanakan spontan itu merupakan kiat untuk mengampanyekan program ‘Go Organic’ yang dicanangkan Pemerintah Kabupaten Ngada sebelumnya. Menariknya, sayembara yang digagas, Selasa (03/10/2017) petang dilanjutkan dengan menyebarkan informasi melalui media sosial dan pengumuman di arena pameran mendapat respons oleh para siswa dengan mendaftar.

Sayembara dibuka oleh Kasubag Perencanaan Dinas Pertanian Kabupaten Ngada, Gordius W. Tuga, dan diawali dengan kegiatan edukasi tentang pertanian organik kepada para siswa. Di arena pameran ini, para siswa mendapat berbagai informasi tentang pertanian organik yang dipamerkan di stand Dinas Pertanian sebelum sayembara. Selanjutnya, siswa diberi edukasi tentang menulis gagasan oleh Emanuel Djomba, yang juga Pemimpin Redaksi MEDIA CERMAT.

Hujan yang sempat mengguyur kota Bajawa petang itu tidak menyurutkan semangat para siswa. Sedianya lomba ini digelar dilapangan terbuka, namun kemudian para siswa harus berpindah berteduh di stand Dinas Pertanian dan Perindustrian Kabupaten Ngada agar dapat mengikuti sayembara.
 
Siswa SD ambil bagian dalam sayembara menulis surat kepada Presiden Jokowi
Sayembara bertema ‘Kabupaten Ngada Beralih ke Pertanian Organik Menuju Masyarakat Sehat’  berhadiah total Rp 5 juta itu sebagai bentuk kampanye setelah pencanangan ‘Go Organic’ oleh Dinas Pertanian, yang didukung Bank NTT Cabang Bajawa.

Sekretaris Dinas Pertanian, Hubert Jelalu memberi apresiasi kepada para siswa yang antusias mengikuti sayembara ini. Dikatakan Hubert, dari sayembara ini juga diharapkan akan muncul gagasan-garasan kreatif dari generasi muda Ngada, khususnya para pelajar yang bisa menjadi masukan untuk mengembangkan pertanian organik dan menumbuhkan kecintaan pada bidang ini sejak dini. Selain itu, akan tumbuh pemahaman dan kecintaan generasi muda akan produk pertanian berbasis organik. Ini  juga sebagai bentuk partisipasi dalam gerakan Literasi, khususnya literasi pertanian organik.

Gordius W. Tuga, atau yang akrab disapa Man Tuga mengatakan, sayembara menulis gagasan tentang organik yang menyasar generasi muda (anak-anak) memberi dampak besar baik sekarang maupun yang akan datang. Kegiatan ini melibatkan orang tua dan guru mereka, sehingga dampak publikasi sangat bagus untuk terus menggemakan program ‘Go Organik’ yang sudah dicanangkan.

‘Go Organic’, kata Man Tuga, menjadi tema yang kita sarangkan di memori anak-anak muda yang akan mempengaruhi mereka dalam proses pembelajaran melalui aktivitas membaca, menulis – mengenal pertanian organic lebih dalam – bahkan  kelak nanti menanam.

Gagasan

Sayembara ini menggelitik pikiran generasi muda yang saat ini masih duduk di SMP/SMA. Tiga siswa SMAK Regina Pacis Bajawa yang mengikuti sayembara ini secara eksplisit menyampaikan gagasan mereka terhadap masa depan pertanian organik bagi kesehatan dalam karya tulis masing-masing. Salah seorang peserta sayembara, Ricardo C. Elim, dalam tulisannya menggagas lahirnya ‘Kampung Organik’.
 
Man Tuga memberi edukasi tentang pertanian organik kepada para peserta sebelum sayembara
Bagi Riko, gagasan ini akan mendorong percepatan perlakukan organik dalam system pertanian di Ngada. Melalui konsep ‘Kampung Organik’ berbagai program organik dapat dieksplisitkan dan proses edukasi berlangsung lebih intens. Selanjutnya, kampung organik diduplikat sehingga akan muncul kampung-kampung organik baru, dan suatu saat Ngada menjadi kampung besar – rumah roganik bagi semua.

Sementara peserta lainnya, Alfons Berto Turu dalam tulisannya menawarkan perlu menggunakan jaringan siswa yang besar jumlahnya untuk kampanye organik. Di sekolah-sekolah dapat menjadikan kegiatan organic sebagai salah satu kegiatan ekstra kurikuler. Menurut  Berto, siswa tidak hanya mengenal pertanian, tetapi juga bagaimana menerapkan pertanian yang menghasilkan produk untuk kesehatan manusia.

Gagasan Berto ini juga menjadi terobosan untuk memutus mata rantai pemanfaatan lahan dengan system pertanian an organic yang kini sudah merasuk ke desa-desa. Mungkin ini cara ‘memotong generasi’ menuju generasi organik, dimana salah satu strategi yang harus dibangun oleh pemerintah adalah menjadikan sekolah-sekolah kita berbasis organic dan ramah lingkungan.

Sementara peserta sayembara lainnya, Klaudia Anastasia Deda, dalam tulisannya berjudul ‘Surga di Mulut, Neraka di Perut’, mengatakan untuk mencapai masyaraka sehat perlu ada standar harga pangan-pangan berbasis organik,  sehingga mudah dijangkau oleh masyarakat. Karena itu, sejumlah kawasan yang saat ini sudah di-maping menjadi kawasan pertanian berbasis organik menjadi basis produksi  pangan sehat yang dapat didistribusikan ke pasar-pasar. “Sebab, bagaimana mengampanyekan hidup sehat dari pangan organik, kalau produknya tidak tersedia dan harganya sulit dijangkau,” Tanya Klaudia dalam tulisannya.

Klaudia juga memandang bahwa gerakan ini harus menjadi gerakan bersama dan menjadi perhatian semua pihak, tidak hanya pemerintah. Memulai dengan langkah kecil tapi nyata dan menyasar banyak orang akan memberi dampak besar suatu ketika.

Tiga siswa SMP peserta sayembara juga mengemukakan gagasan dalam karya tulis mereka terkait dengan kampanye organik di kabupaten Ngada. Katarina Keo, siswi SMPN 1 Bajawa dalam tulisannya menggagas membentuk organisasi-organisasi petani yang concern terhadap praktik organik. Katarina memberi contoh pengolaan kopi AFB berbasis UPH yang memang sampai ke pasar mancanagera karena dipercaya pengelolaannya berbasis organik.  Itu sebabnya, Katarina menggagas perlu bentuk organisasi sejenis sehingga gerakan ini lebih sistematis, lebih cepat dan tepat sasaran.
 
Peserta sayembara menulis gagasan tentang pertanian organik
Katarina juga menyoroti soal kemandirian petani, mulai dari kemandirian berpikir, hingga kemandirian bertindak. Kemandirian yang teguh sedikit-demi sedikit akan mengurangi ketergantungan petani pada bantuan, bertindak instan dan menyediakan bahan oragnik dalam menumbuhkan kembali pertanian organik  yang juga sudah diwariskan oleh nenek moyang dulu. “Mereka mengasilkan pangan sehat, karena mereka mandiri dalam pengelolaan pertanian dengan menggunakan pupuk alami. Ini kearifan lokal yang harus ditumbuhkan kembali,” beber Katarina dalam tulisannya.

Sementara, siswa SMPN 1 lainnya Gregorio A. Wogo Lado mengungkapkan gagasannya tentang perlu adanya ‘gerakan radikal’ untuk mengubah kondisi saat ini dimana pertanian organik tinggal slogan indah, sementara para petani mengejar produktivitas tanpa memperhitungkan dampak penggunaan pupuk kimia dan pestisida berlebihan. Semua lini harus ubah pola, baik pola pikir maupun pola tindak. Mulai dari berpikir organik kemudian bertindak organik. Sementara itu, pemerintah perlu membantu berbagai pihak menyiapkan kebutuhan petani akan pupuk dan obat-obatan organik, sehingga bisa dijangkau dengan jarak yang dekat untuk mendapatkannya.

Siswa SMPN 2 Bajawa, Stefania Go’o Kowe dalam tulisannya mengatakan, menuju masyarakat yang sehat harus dimulai dari kesadaran diri akan pentingnya hidup sehat. Jika kesadaran macam ini tumbuh maka menuju masyarakat sehat dengan mengonsumsi produk pertanian yang ramah cepat dicapai. Tentu saja kesadaran ini harus dimulai dari petani. Sehat tidak membutuhkan biaya tinggi kalau ada kesadaran mengonsumsi makanan sehat setiap hari. Kalau semua orang punya kesadaran hidup sehat dimulai dari soal makanan, dan akhirnya semua memikirkan itu, bertindak sehat, maka semua orang di Nada hidup sehat. Seorang petani sadar akan hidup sehat, menyediakan produk pangan sehat maka ribuan orang Ngada menjadi orang sehat. (ch)***

Insert foto: Para peserta sayambara menulis gagasan tentang pertanian organik.

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :