Vigonews

Menunggu Hari Kematian, Mantan Tukang Ini Rampungkan Kuburnya


SOA, vigonews.com - Kata orang, banyak tukang dapat mengerjakan rumah dengan sangat indah, tetapi bukan rumahnya sendiri.  Tukang yang satu ini, jauh-jauh hari sudah membangun rumah peristirahatan terakhir yang bagus. Dia melihat bangunan permanen untuk pembaringan terakhir itu indah adanya. Kini kubur permanen sudah selesai dibangun, tinggal menunggu tanggal kematiannya.

Sebuah kubur dibangun megah di depan sebuah rumah di Wulilade. Unyiknya, kubur itu masih kosong. Konon kubur yang megah ini akan menjadi tempat pembaringan terakhir sang pembuatnya. Mendengar  cerita unik kubur tak berpenghuni, di desa Tarawali, Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada menggugah vigonews.com untuk mencari tahu lebih banyak lagi tentang si empunya kuburan.

Petrus Antonius Soa Baghi namanya. Wulilade adalah desa tempat tinggalnya. Ia lahir pada tahun 1939. Dia  memiliki seorang istri dan mempunyai 10 orang anak, tujuh anak sudah meninggal karena sakit dan tersisa tiga orang putri. Ketiga putrinya sudah menikah dan tidak tinggal serumah lagi dengannya.

Rasa penasaran semakin menjadi-jadi ketika sore itu awak media ini  berjalan menuju kediamannya. Beberapa orang yang ditanyai mengenai alamat rumah kakek Antonius selalu memberikan respon yang membuat rasa ingin tahu semakin besar. Senyum simpul warga pertanda ada sesuatu yang unik dari sudut jalan itu. 

Awak media ini bergegas menghampiri kediamannya ketika alamat rumah sudah didapatkan. Ketika tiba di depan rumah si kakek, nampak sebuah pendopo kecil rapi dengan pagar mengintarinya. Ya, itu sebuah kuburan yang memang dikhususkan untuk dua orang. Memang tak asing karena beberapa rumah pun memiliki pemandangan yang serupa. Kuburan permanen yang sudah dilengkapi dengan atap ini tak ada yang berbeda dari kuburan lain pada umumnya.

Nampak seorang wanita tua renta sedang duduk persis di depan pintu rumah. Awak media ini langsung menyapanya dan raut wajah si nenek terlihat sedikit kebingungan. Rambutnya yang memutih dan kulit yang sudah berkeriput memberi tanda bahwa pendengaran dan pengelihatan si nenek juga memang sudah tidak berfungsi dengan baik lagi.

Ketika vigonews.com masuk ke dalam ruang tamu yang ditata dengan cukup rapi itu, nampak seorang kakek tua dengan punggung yang sudah melenggkung digantung usia, asyik menonton televisi. Raut wajahnya tak jauh berbeda dengan sang istri, ia terlihat bingung dan sungkan akan kedatangan seseorang yang belum dikenal sebelumnya. Sesaat mendengar maksud dan tujuan kedatangan vigonews.com, si kakek spontan berapi-api menceritakan kisahnya yang unik itu.

Suaranya terdengar bergetar dan bicaranya samar. Mungkin karena giginya yang telah keropos dimakan usia. Meskipun begitu, masih ada semangat dalam setiap ucapannya, ketika ditanyai mengenai kisah dan harapannya. “Kuburan itu saya bangun sejak 10 Oktober 2010”, si kakek mulai mengawali kisahnya.

“Saya membangun kuburan itu karena saya ingin kediaman terakhir saya seperti yang saya inginkan. Sebab belum tentu kalau saya sudah meninggal, orang buat kuburan seperti yang saya mau. Mumpung saya ini dulu seorang tukang bangunan, jadi tidak ada salahnya kalau saya memanfaatkan keahlian saya ini,” cerita sang kakek yang tampak antusias menceritakan kuburannya sendiri yang ia bangun itu.

Kakek 76 tahun ini membangun kuburan untuk dirinya dan juga istrinya Helena Na’u Wio yang setia mendampinginya. Suami dari Helena Na’u Wio ini, sejak dulu berprofesi sebagai tukang bangunan. Sosok pekerja keras ini pernah menangani beberapa bangunan yang hingga sekarang masih berdiri kokoh seperti SMP Slamet Riyadi, Gereja Kisol dan puluhan rumah kolong lainnya.

Selain bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, kakek Anton begitu dia biasa disapa, juga bekerja untuk menyekolahkan anaknya yang saat ini sudah berprofesi sebagai guru di SDK Masu, Kecamatan Soa. “Jaman dulu kami mendapatkan uang dengan cara barter. Saya bangun rumah orang kemudian dibayar pakai sapi, kerbau dan padi. Hasilnya itu kami jual lagi ke Bajawa jalan kaki selama dua hari”, ungkapnya dengan bangga.

Tubuh rentanya yang sudah terkikis usia dan tidak seprima dulu tidak menghalangi semangatnya dalam beraktivitas. Ia sosok kakek yang kritis dan teliti. Terlihat dari beberapa dokumen yang ia perlihatkan kepada vigonews.com ketika ditemui. Dokumen tersebut tersusun dengan sangat rapi dengan tulisan tangan yang indah. Walaupun hanya sampai di kelas 6 bangku Sekolah Dasar, kakek Anton masih sering membaca dan menulis.

Menurut pengakuannya, kekurangan hanya pada fisik namun pemikirannya tidak kalah dengan orang yang berpendidikan tinggi. “Saya masih sering membaca dan menulis, kekurangan saya itu hanya karena telinga, mata dan gigi yang sudah tidak berfungsi dengan baik lagi,” sungguh ungkapan yang membuat orang muda bersemangat bila mendengarnya

Usai bercerita, kakek Anton mengajak awak vigonews.com untuk melihat kuburan tak berpenghuni miliknya. Ia memperlihatkan foto yang sudah terpasang permanen pada bagian belakang kuburan. Pada sisi kanan terpasang foto sang istri Helena yang berarti kubur milik sang istri dan pada sisi kiri terdapat fotonya yang berarti kuburan miliknya.

Pada bagian atas foto disediakan tempat khusus untuk menulis nama sang istri dan nama dirinya. Pada kuburan milik nenek Helena yang berukuran 140 x70 dipasang sebuah foto bunda maria pada bagian dinding kepala dan pada kubur miliknya yang berukuran 140 x 80 dipasang sebuah foto Tuhan Yesus sebagai pelindungnya. Kubur dengan tinggi 60 cm ini sudah dibuat permanen dengan keramik kotak-kotak biru di dalam lubang kuburannya. Pada bagian tengah yang memisahkan antara foto keduanya terdapat sebuah ukiran bintang yang bermakna sebagai kelahiran. Sedangkan pada bagian bawahnya disediakan tempat untuk menulis tanggal kematiannya nanti. Tampak begitu unik dan menarik bukan? Karena belum ada yang menempati kuburan itu dan si penghuni yang mengerjakan sendiri.

Bukan Cuma itu saja, kakek Anton juga memaknai tiap detail bangunan. Salah satunya ialah ruang kubur yang memisahkan antara sisi kubur sang istri dan sisi kubur miliknya dipasang kaca. Sungguh merupakan hal yang luar biasa untuk seorang tua renta seperti kakek Anton. Baginya, nenek Helena adalah sebagian dari hidupnya yang selalu mendampingi dalam suka dan duka. Sehingga ketika nanti dimakamkan, keduanya akan dihadapkan untuk tetap dapat saling melihat walaupun sudah tidak bersama lagi di dunia nyata. Merupakan sebuah refleksi bagi kita yang sedang melalui lika-liku kehidupan bukan?

Anak dari pasangan suami istri Baghi Wae dan Menge Lalu ini mendengar  bahwa ada peraturan daerah tentang makam yang tak boleh ada di pekarangan rumah dan harus dimakamkan di pekuburan umum. Ia sedikit kecewa kalau nanti ia tidak dikuburkan di tempat yang sudah  dibangun dengan keringatnya itu. Ia mengungkapkan kekecewaan dan rasa protesnya.

“Bagaimana saya sudah bangun kubur ini sebelum peraturan itu keluar. Apa saya harus bayar denda karena sudah bangun kubur disini? Kalau saya bangun kubur setelah peraturan itu ada, saya memang keras kepala terhadap peraturan”. Ia menyampaikan rasa protesnya dengan sedikit tawa seakan ia merasa menang.

Menurut putri pertamanya yang saat ini sudah menjadi guru di SDK Masu, Ursula Menge, ia mengakui bahwa ayahnya adalah sosok yang keras kepala namun begitu lembut hati dan penyayang kepada ketiga putrinya. Bahkan bukan Cuma itu saja, kakek Anton juga begitu teliti dalam hal keungan dan dokumen-dokumen pribadinya.

“Bapak kami ini masih hebat dalam hal berhitung, ia menjadi bendahara sendiri dalam mengatur keuangannya. Bahkan riwayat hidupnya ia tulis dan disimpan rapi dalam sebuah kamar khusus untuk barang-barang penting miliknya”. Ursula,  begitu ia biasa disapa kakek Anton berkisah, kakek Anton adalah sosok ayah yang tertib dalam hal waktu, baik itu waktu bangun pagi, waktu makan dan waktu untuk beristirahat. Ia juga merupakan sosok yang konsisten dalam melakukan sesuatu.

Ibu satu anak ini juga mengatakan bahwa sempat kaget mendengar kabar bahwa ayahnya membangun sepasang kuburan. Bahkan menurutnya, mama Helena sempat pergi dari rumah karena takut melihat tingkah aneh sang suami yang ketika itu, pagi-pagi sekali saat nenek Helena masih tertidur pulas, diam-diam mengukur tinggi badan nenek Helena untuk dibuatkan ukuran kubur. “Mama takut sekali, dua tahun mama tinggal di rumah saya di Masu karena melihat tingkah aneh Bapak,” papar Ursula dengan sedikit senyum dari wajahnya.

Istri dari Bernadus Ba’i ini juga sedikit bercerita, sejak dulu hingga jaman semakin berkembang ayahnya tidak pernah menggunakan kendaraan untuk bepergian. Kendaraan yang paling setia baginya adalah kedua kaki yang diyakini kakek Anton untuk  menguatkan tulang-tulangnya. Kakek Anton juga sudah memesan peti namun dibatalkan putrinya karena tidak ingin ayahnya itu mempersiapkan kematian karena ia masih terlihat sangat kuat dan sehat, diceritakan Ursula dengan sedikit kekesalan.

Karena rasa cintanya kepada sang ayah, Ursula berjanji akan berusaha bertemu dengan pegawai pemerintahan agar sang ayah diberikan surat ijin untuk dapat dikuburkan di tempat yang sudah ia bangun dengan susah payah itu. Walaupun sudah ada aturan pemerintah Uraula akan tetap berusaha semampunya untuk mendapatkan ijin.


Banyak orang yang mungkin sudah tidak prima lagi fisiknya dan uzur umurnya tetapi masih berupaya kerja keras mencari rejeki dengan kedua tangan mereka sendiri. Tidak manja, tidak malas hanya butuh penghargaan atas usaha keras mereka. Prinsip kakek Anton dalam bekerja adalah tidak merugikan masyarakat lain. Baginya pengalaman lebih berharga dari teori, dibuktikan dengan pengalamannya selama bekerja, hasil karya tangannya dapat ia abadikan dalam bentuk sebuah kubur yang telah ia persiapkan untuk dirinya dan juga untuk sang istri tercinta. (Kethy/vigonews.com)***

Insert foto: Petrus Antonius Soa Baghi dan makam yang sudah dirampungkannya

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :