Vigonews

Jalan Propinsi Hancur Dibiarkan Tergerus Air Irigasi


Vigonews.com, SOA - Jalan yang kokoh itu akhirnya hancur karena bertahun-tahun tergerus air. Irigasi sawah sebelah-menyebelah jalan di Waepeti, desa Waepana, kecamatan Soa tidak saja menumpahkan air ke sawah petani, tetapi sebagian besar tumpah-ruah ke jalan yang tidak pernah kehausan.

Ironisnya, kondisi ini sudah bertahun-tahun lalu. Namun tidak ada yang mampu mengatasinya. Sekokoh apapun ruas jalan propinsi ini, akhirnya hancur juga karena digerus air tiada henti sepanjang waktu.


Entah  siapa yang harus mengurusi jalan ini. Apakah aparat desa, pemerintah kabupaten, atau pemilik sawah di kiri kanan jalan, masyarakat pengguna jalan? Bukan itu saja, jalan ini juga dilewati oleh banyak orang penting, termasuk para pengambil kebijakan – eksekutif dan legislatif, tingkat kabupaten, propinsi bahkan orang pusat. Semuanya berlalu begitu saja. Besoknya lewat lagi, begitu seterusnya. Kondisi ini juga tak berubah.


Saluran irigasi yang juga berfungsi sebagai drainase jalan tidak mampu menampung air karena kondisi got yang belum permanen itu penuh lumpur ditumbuhi rumput tebal. Itu sebabnya tak banjir pun air dengan mudah meluap ke jalan.


Sejumlah pengguna jalan yang melewati jalan ini memang ekstra hati-hati karena licin. Khusus pengendara sepeda motor harus mengankat kedua kakinya tinggi-tinggi agar hempasan air tidak tempias hingga membasahi celana panjang atau rok. Yang mengenakan rok memang dilema memilih tetap basah atau harus mengangkat kedua kaki lebih tinggi dengan  resiko rok terbuka lebar dan....


Adegan-adegan itu memang menarik bagi sejumlah petani yang biasa duduk-duduk di sebuah deker simpang jalan tani sebelum bekerja atau ketika hendak pulang pada petang hari. Bukan itu saja,  para pemilik kendaraan roda dua dan empat yang biasanya menyita separuh jalan mencuci kendaraan sering kepergok menikmati suasana itu.


Tak jauh dari tempat ini, bahu jalan juga terus terkikis disebabkan aktivitas mencuci kendaraan. Berbagai jenis kendaraan seperti truk, roda empat dan roda dua sering berjejal di pinggir saluran irigasi Witu Watu di Wae Peti ini. Pada saat yang sama air cucian mengalir ke seluruh badan jalan. Kendaraan yang akan lewat pun harus ekstra hati-hati.


Kondisi jalan hotmix yang tergerus air sejak lama diakui dua ibu, masing-masing mama Berna dan mama Ima  yang ditemui vigonews.com sedang sambusai (buruh harian) di sawah milik Daud Sawu, Senin (10/10/2016). Kedua ibu ini juga ikut prihatin karena jalan yang dulunya bagus kini mulai hancur karena terus-menerus tergerus air siang dan malam.


Mama Ima tidak tau persis sejak kapan jalan itu hancur tergerus. Hanya sepintas jalan itu kelihatan berfungsi seperti got saja. Yang dia tau lebih dari 100 meter ruas jalan Soa-Riung itu tidak pernah kering. Mama Berna juga mengamini Mama Ima, karena keduanya bersama teman lain  selalu turun ke sawah sebagai tanaga upahan yang dibayar Rp 10 ribu perjam.


Kondisi jalan bagai anak sungai itu berkisar antara sawah Daud Sawu hingga sawah milik Siprianus Djogo hingga berbelok memasuki hutan bambu ke arah Malatibu.


Ketika melewati ruas jalan propinsi ini, wartawan media ini berjumpa dengan mama-mama yang segera bekerja sebagai tenaga upahan pada sawah dekat lokasi. Kepada vigonews.com, mereka mengaku tidak memiliki sawah. Beberapa di antaranya memiliki sawah tetapi jauh dari tempat itu.


Para mama ini sedang akan menyiang rumput di salah satu sawah. Sejam mereka di bayar Rp 10.000. Tetapi kalau sehari dibayar Rp 50.000. “Tetapi kerja begini tidak tentu. Kalau ada yang minta kita datang kerja. Kalau perlu banyak orang, kita baru hubungi teman-teman lain. Ini memang pekerjaan kami sejak lama untuk membiaya kebutuhan keluarga juga anak sekolah,” kata Mama Berna.(ch)***

Vigonews

Tentang Vigonews -

VIGONEWS.COM “Media Online Lokal – Menulis yang Terlupakan” Vigonews.com, adalah media online berbasis lokal dari tanah Ngada (Flores). Menyajikan informasi, pengetahuan dan edukasi dalam berbagai konten demi mewujudkan masyarakat cerdas – bermartabat; bertindak lokal namun berpikir global. Sebagai kanal informasi, dimana suara-suara lokal dingkat ke permukaan dan diperdengarkan. Mengintepretasikan suara-suara diam membisu dari dusun yang kadang tak dijangkau.

Subscribe to this Blog via Email :